LOGINSuasana di dalam rumah mendadak mencekam. Aroma masakan yang seharusnya menggugah selera justru terasa menyesakkan. Rendra melepas dasinya dengan kasar, melemparnya ke atas sofa, lalu berbalik menatap Alia yang masih berdiri mematung di dekat meja makan.“Duduk,” desis Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi penuh penekanan yang mengancam.Alia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia duduk, tangannya yang masih sedikit gemetar disembunyikan di bawah meja.“Sudah berapa kali aku bilang, Alia? Jaga martabat keluarga kita,” Rendra mulai berjalan mengitari meja, seperti predator yang mengunci mangsanya. “Kamu itu seorang dosen sekarang. Istri seorang pengusaha. Dan sekarang kamu pulang dibonceng anak ingusan seperti itu? Kamu mau buat aku jadi bahan tertawaan kolega?”“Mobilku bocor, Rendra,” sahut Alia, suaranya berusaha tetap stabil meski hatinya mencelos. “Dia cuman mahasiswa di kampusku, dia hanya berniat menolong karena aku tahu kamu paling tidak suka menunggu.
Petugas UKS masuk sambil membawa kotak obat dan selembar kapas baru. Tatapannya sempat jatuh pada Arhan yang berdiri terlalu dekat dengan ranjang periksa.“Lukanya tidak dalam kok, Bu,” ujar petugas itu sambil berjongkok di depan Alia. “Tapi sebaiknya jangan banyak jalan dulu.”“Iya, terima kasih,” jawab Alia pelan.Petugas itu lalu menoleh ke Arhan. “Kamu kenapa masih di sini? Bukannya kelas sudah mulai?”Arhan mengangkat bahu santai. “Saya nemenin dosen baru, Bu. Beliau masih belum terlalu hafal lingkungan kampus.”Petugas UKS mengerling tipis, jelas ragu. “Oh ya?”“Iya,” Arhan menyahut cepat, seolah sudah biasa berbohong dengan wajah tenang. “Takut nyasar.”Alia melirik Arhan tajam. “Aku baik-baik saja.”“Iya, tapi kan—” Arhan menyeringai tipis. “Kalau jatuh lagi bakal repot.... Bu dosen.” akhir kata yang ditekan.Petugas UKS mendengus kecil. “Kamu ini memang selalu aja ada alasannya.” Lalu ia berdiri. “Sudah, habis ini kamu balik ke kelas. Jangan bikin masalah lagi.”“Siap,” jawab
Rendra melangkah mendekat dengan langkah lebar. Tatapannya tak lepas dari Arhan, jelas mengenali wajah itu. Rahangnya mengeras.“Kamu,” ucapnya dingin, “orang yang bikin masalah itu.”Arhan hanya mengangguk tipis. “Pak.”Rendra mendengus, lalu berpaling ke Alia. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya, cukup kuat hingga Alia meringis.“Kamu ngapain sama dia?” desisnya. “Belum cukup bikin aku malu di kantor dan di kantor polisi, sekarang nambah urusan lagi?”“Ren, lepasin,” Alia berusaha menarik tangannya. “Aku bisa jelasin.”“Jelasin?” Rendra tertawa sinis. “Kamu selalu punya alasan, ya.”Ia menarik Alia menjauh, langkahnya cepat, seolah tak peduli orang-orang di sekitar mulai melirik. Saat melewati Arhan, Rendra berhenti sejenak.“Jangan pernah dekati istriku lagi,” katanya tajam. “Urus hidupmu sendiri.”Arhan menatap Alia sekilas, ada sesuatu yang tak sempat ia ucapkan, lalu menunduk singkat.Tak jauh dari cafe, Rendra berhenti mendadak. Ia menoleh pada Alia, mat
Beberapa hari terakhir, Alia justru sering berada di luar rumah. Pagi berangkat, siang pulang sebentar, lalu pergi lagi. Kampus baru itu menyita waktunya—berkas, tanda tangan, perkenalan singkat yang melelahkan. Namun anehnya, Alia tidak keberatan. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa… hidup.Rendra tak benar-benar menyadarinya. Alia selalu pergi setelah urusan rumah selesai. Sempat terlintas keinginannya untuk bercerita, tapi ia mengurungkan niat. Diam terasa lebih aman.Saat menunggu pesanan kopi di sebuah kafe di jalan utama, pandangan Alia tanpa sengaja terpaku ke satu sudut ruangan.“Rendra?” Alisnya mengernyit. “Dan itu… Siska?”Tak salah lagi. Suaminya duduk berhadapan dengan perempuan itu—karyawan baru di kantor Rendra. Ingatan Alia langsung melompat pada insiden air minum yang membuatnya dimarahi beberapa hari lalu.Alia menelan ludah. “Kalau aku samperin, pasti dia bilang urusan kerja,” gumamnya. “Tapi…”Kalimatnya terputus saat Siska tertawa kecil dan jemarinya m
“Sebentar….”Langkah Rendra dan Alia terhenti.Arhan berdiri di depan mereka. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya kini berbeda dan lebih tenang, lebih berani dibanding tadi di ruang polisi.“Ada apa lagi?” Rendra menatapnya dingin, jelas tidak sabar.Arhan tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada Alia. Ia melihat pipi perempuan itu yang basah oleh air mata, juga lengan yang masih dicengkeram Rendra.“Maaf, Pak,” kata Arhan akhirnya. “Saya cuma mau bicara sebentar. Sama… Mbaknya.”Rendra tertawa kecil, sinis. “Urusan kita udah selesai. Mobil saya juga nggak kenapa-kenapa.”“Bukan soal mobil,” jawab Arhan pelan.Alia mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Arhan. Ada jeda singkat dan cukup untuk membuatnya bingung dengan orang yang baru pertama kali dia temui.“Saya bersalah karena nabrak mbaknya,” lanjut Arhan. “Dan saya mau tanggung jawab. Tapi barusan—” ia berhenti sejenak, melirik Rendra, “—yang saya dengar tadi agak...... keterlaluan.”Rendra mengeraskan
Rendra pulang lebih cepat dari biasanya. Mobilnya berhenti di depan rumah dengan suara pintu yang ditutup agak keras. Alia yang sedang merapikan ruang tamu menoleh, sedikit terkejut melihat jam di dinding. “Ren? Kamu udah pulang?”Rendra masuk tanpa menjawab. Tas kerjanya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas asal. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Kamu tau hari ini kamu bikin aku kelihatan kayak apa di kantor?” katanya tiba-tiba. Alia terdiam. “Aku… aku cuma mau nganter makan siang.” “Bukan itu masalahnya!” suara Rendra meninggi. “Kamu datang pas aku rapat. Bikin orang-orang mikir apa coba?” “Aku kan nggak tahu kamu lagi rapat—” “Kamu harusnya nunggu aja!” potongnya cepat. “Terus itu di ruangan aku, kamu ngebuat onar. Air tumpah ke meja, ke baju aku. Kamu sadar nggak itu memalukan?” Alia mengepal ujung bajunya. “Aku minta maaf, Ren. Aku cuma refleks.” “Refleks yang bikin aku kelihatan bodoh di depan klien!” Rendra menarik napas kasar. “Kamu tau nggak setelah itu aku harus j







