Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 6 : Jadi Dosen

Share

Bab 6 : Jadi Dosen

Author: Kim Hwang Ra
last update Last Updated: 2026-02-10 00:21:23

Rendra melangkah mendekat dengan langkah lebar. Tatapannya tak lepas dari Arhan, jelas mengenali wajah itu. Rahangnya mengeras.

“Kamu,” ucapnya dingin, “orang yang bikin masalah itu.”

Arhan hanya mengangguk tipis. “Pak.”

Rendra mendengus, lalu berpaling ke Alia. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya, cukup kuat hingga Alia meringis.

“Kamu ngapain sama dia?” desisnya. “Belum cukup bikin aku malu di kantor dan di kantor polisi, sekarang nambah urusan lagi?”

“Ren, lepasin,” Alia berusaha menarik tangannya. “Aku bisa jelasin.”

“Jelasin?” Rendra tertawa sinis. “Kamu selalu punya alasan, ya.”

Ia menarik Alia menjauh, langkahnya cepat, seolah tak peduli orang-orang di sekitar mulai melirik. Saat melewati Arhan, Rendra berhenti sejenak.

“Jangan pernah dekati istriku lagi,” katanya tajam. “Urus hidupmu sendiri.”

Arhan menatap Alia sekilas, ada sesuatu yang tak sempat ia ucapkan, lalu menunduk singkat.

Tak jauh dari cafe, Rendra berhenti mendadak. Ia menoleh pada Alia, matanya penuh amarah.

“Kamu tahu kelihatan kayak apa barusan?” katanya menekan. “Pegangan tangan sama laki-laki lain di tempat umum.”

“Itu bukan seperti yang kamu pikir—”

“Stop!” potong Rendra. “Aku nggak mau dengar. Kamu memang nggak pernah bisa jaga diri.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Alia kira. Ia terdiam, dadanya naik turun menahan emosi.

Rendra berbalik, melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Alia berdiri di belakangnya.

Alia baru melangkah satu langkah menyusul Rendra dan ponselnya bergetar di tangannya.

Nomor tak dikenal.

Ia sempat ragu, lalu mengangkatnya.

“Kak Alia.”

Suara di seberang membuat langkahnya terhenti dan kali ini bukan sebutan "Mbak" yang biasanya sopan namun berubah dengan panggilan "kak".

Itu… Arhan.

“Kamu dapet nomorku dari mana?” tanyanya cepat, suaranya ditekan rendah.

“Aku minta di kantor polisi waktu itu,” jawab Arhan tenang. “Awalnya nggak dikasih. Tapi akhirnya boleh, setelah aku jelasin kalau ada urusan penting.”

Alia menghembuskan napas panjang. Dadanya masih sesak, amarah dan lelah bercampur jadi satu.

“Kamu nggak seharusnya—”

“Aku cuma mau pastiin soal kerjaan tadi,” potong Arhan, nadanya lebih serius. “Kalau kakak setuju, aku bisa mulai besok. Kakak bisa kirim alamat rumah kalau perlu.”

Alia menutup mata sebentar. Bayangan wajah Rendra barusan kembali muncul, lengkap dengan nada suaranya yang dingin dan tatapan penuh tuduhan.

“Jangan sekarang,” ucap Alia akhirnya. “Aku belum bisa kasih alamat.”

Di seberang, Arhan terdiam beberapa detik.

“Baiklah,” katanya kemudian. “Kalau begitu, kabari aku aja kapan mulai kerja.”

“Iya,” jawab Alia singkat. “Nanti aku hubungi.”

Panggilan terputus.

Alia menurunkan ponselnya perlahan. Di depan sana, punggung Rendra sudah hampir menghilang di balik keramaian jalan.

------------

Makan malam berlangsung dalam senyap. Hanya bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring, selebihnya hening yang menekan. Rendra makan tanpa banyak ekspresi, sementara Alia beberapa kali menarik napas, ragu ingin memulai.

Akhirnya, ia bicara.

“Ren,” ucapnya pelan. “Aku mau ngomong sesuatu.”

Rendra mengangkat wajah sekilas. “Hm?”

“Aku… sudah dapat kerjaan,” kata Alia. Jarinya saling menggenggam di bawah meja. “Sebagai dosen dan besok aku sudah mulai ngajar.”

Untuk sesaat, Rendra berhenti mengunyah. Ia menatap Alia, datar. Tidak terkejut, tidak juga terlihat senang.

“Oh,” katanya singkat.

Alia melanjutkan, berusaha tenang. “Soal yang di didepan kafe tadi… Arhan itu cuma sopir. Aku memang butuh bantuan buat antar-jemput ke kampus buat kedepannya.”

Rendra menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya lurus, suaranya dingin tapi terkontrol.

“Terserah kamu.”

Alia menelan ludah.

“Asal kamu tahu batas,” lanjut Rendra. “Dan jangan bikin masalah yang bisa ganggu pekerjaanku.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata seolah sedang memberi nasihat, bukan berbicara pada istrinya.

“Selama masih saling percaya, rumah tangga itu akan baik-baik saja.”

Alia mengangguk pelan. “Iya.”

Tapi di dalam hatinya, ada senyum pahit yang tak terlihat.

Saling percaya?, pikirnya.

Padahal dalam pernikahan mereka, Rendra bahkan tak pernah mau tahu bagaimana keadaannya.

-------------

Pagi itu Alia berangkat sendiri. Rumah masih terasa sunyi saat ia menutup pintu, Rendra sudah lebih dulu pergi ke kantor. Di perjalanan, Alia berusaha menenangkan diri. Ini hari pertamanya mengajar. Ia tak ingin ada masalah. Sesampainya di kampus, Alia langsung menuju kantor utama untuk memastikan jadwal dan kelas yang akan ia pegang. Seorang staf menyerahkan map tipis.

“Bu Alia mengajar semester enam, jurusan kesenian,” katanya ramah.

Alia mengangguk. “Baik pak, terima kasih.”

Ia tersenyum kecil. Semester enam. Ia pikir dirinya siap.

Namun senyum itu memudar saat ia tiba di depan kelas.

Suara ribut terdengar dari dalam. Bukan tawa biasa, melainkan nada tinggi yang penuh emosi. Alia melangkah masuk dan seketika tubuhnya terkejut.

Di sana, di barisan depan, seorang mahasiswa berdiri dengan wajah merah padam.

Dan di hadapannya… Arhan.

“Ada apa ini?” suara Alia berusaha tegas, meski jantungnya berdegup lebih cepat.

“Kamu nggak bisa seenaknya—” mahasiswa itu masih melanjutkan ucapannya, lalu berhenti saat melihat Alia.

“Duduk,” kata Alia. “Kita selesaikan baik-baik.”

Ia melangkah mendekat, berniat melerai. Tapi semuanya terjadi terlalu cepat.

Mahasiswa itu bergerak mundur dengan kasar—dan tanpa sengaja, bahunya menghantam tubuh Alia.

“Bu—!”

Alia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjatuh, lututnya menghantam lantai dengan suara cukup keras.

Kelas langsung senyap.

“Kak!” Arhan refleks berteriak.

Tanpa sadar, Arhan mendorong keras mahasiswa itu hingga terhuyung. “Jaga sikap kamu!”

Semua mata tertuju pada mereka. Tak ada satu pun yang berani bersuara.

Arhan berlutut di hadapan Alia. “Kakak bisa berdiri?” tanyanya cemas.

Alia mengangguk pelan, menahan perih. Arhan membantunya bangkit, tangannya sedikit gemetar.

“Cukup,” kata Alia lirih. “Semuanya bubar dan kembali ke tempat duduknya.”

Hari pertama mengajarnya berakhir lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Beberapa menit kemudian, Alia duduk di UKS kampus. Lututnya sudah dibersihkan, perihnya masih terasa. Ia menatap perban kecil di kakinya, dan menarik napas panjang.

Pintu UKS terbuka pelan.

Arhan masuk, berdiri tak jauh dari sana.

“Maaf,” cicit Arhan. “Harusnya tadi aku bisa nahan diri.”

Alia menoleh. “Bukan salahmu juga.”

Hening sejenak menyelimuti ruangan.

"Kamu kuliah di sini?"

"I-iya Mbak, eh maksudnya kak" jawabnya setengah ragu.

"Kenapa sekarang panggilamu berubah?"

Arhan menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, sebenarnya dia juga bingung karena ini pertama kalinya dia berkenalan tak sengaja dengan perempuan yang lebih tua darinya.

"Kemarin karena kita belum kenal, dan sekarang kayaknya udah"

"Tapi---" Ucapan Arhan menggantung, dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Alia.

"Apa suami kakak tidak tahu kalau istrinya bakal sering bertemu denganku, daripada dirinya?"

Alia memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang yang sepertinya Arhan mulai mendekat, spontan kedua tangan Alia mendorong bahu Arhan.

"Semua ada batasnya, di sini aku dosen mu dan di luar kau cuman sopirku" ucap Alia sedikit menekan.

"Siapa bilang cuman, kalau aku maunya lebih?"

Alia mengernyitkan keningnya, perkataan Arhan sulit dia artikan. Karena bagaimanapun pertemuan mereka tidak di sengaja, apalagi mereka tidak dekat dan tidak terlalu saling mengenal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 8 : Hai, Masa Lalu

    Suasana di dalam rumah mendadak mencekam. Aroma masakan yang seharusnya menggugah selera justru terasa menyesakkan. Rendra melepas dasinya dengan kasar, melemparnya ke atas sofa, lalu berbalik menatap Alia yang masih berdiri mematung di dekat meja makan.“Duduk,” desis Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi penuh penekanan yang mengancam.Alia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia duduk, tangannya yang masih sedikit gemetar disembunyikan di bawah meja.“Sudah berapa kali aku bilang, Alia? Jaga martabat keluarga kita,” Rendra mulai berjalan mengitari meja, seperti predator yang mengunci mangsanya. “Kamu itu seorang dosen sekarang. Istri seorang pengusaha. Dan sekarang kamu pulang dibonceng anak ingusan seperti itu? Kamu mau buat aku jadi bahan tertawaan kolega?”“Mobilku bocor, Rendra,” sahut Alia, suaranya berusaha tetap stabil meski hatinya mencelos. “Dia cuman mahasiswa di kampusku, dia hanya berniat menolong karena aku tahu kamu paling tidak suka menunggu.

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 7 : Kenapa Perduli?

    Petugas UKS masuk sambil membawa kotak obat dan selembar kapas baru. Tatapannya sempat jatuh pada Arhan yang berdiri terlalu dekat dengan ranjang periksa.“Lukanya tidak dalam kok, Bu,” ujar petugas itu sambil berjongkok di depan Alia. “Tapi sebaiknya jangan banyak jalan dulu.”“Iya, terima kasih,” jawab Alia pelan.Petugas itu lalu menoleh ke Arhan. “Kamu kenapa masih di sini? Bukannya kelas sudah mulai?”Arhan mengangkat bahu santai. “Saya nemenin dosen baru, Bu. Beliau masih belum terlalu hafal lingkungan kampus.”Petugas UKS mengerling tipis, jelas ragu. “Oh ya?”“Iya,” Arhan menyahut cepat, seolah sudah biasa berbohong dengan wajah tenang. “Takut nyasar.”Alia melirik Arhan tajam. “Aku baik-baik saja.”“Iya, tapi kan—” Arhan menyeringai tipis. “Kalau jatuh lagi bakal repot.... Bu dosen.” akhir kata yang ditekan.Petugas UKS mendengus kecil. “Kamu ini memang selalu aja ada alasannya.” Lalu ia berdiri. “Sudah, habis ini kamu balik ke kelas. Jangan bikin masalah lagi.”“Siap,” jawab

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 6 : Jadi Dosen

    Rendra melangkah mendekat dengan langkah lebar. Tatapannya tak lepas dari Arhan, jelas mengenali wajah itu. Rahangnya mengeras.“Kamu,” ucapnya dingin, “orang yang bikin masalah itu.”Arhan hanya mengangguk tipis. “Pak.”Rendra mendengus, lalu berpaling ke Alia. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya, cukup kuat hingga Alia meringis.“Kamu ngapain sama dia?” desisnya. “Belum cukup bikin aku malu di kantor dan di kantor polisi, sekarang nambah urusan lagi?”“Ren, lepasin,” Alia berusaha menarik tangannya. “Aku bisa jelasin.”“Jelasin?” Rendra tertawa sinis. “Kamu selalu punya alasan, ya.”Ia menarik Alia menjauh, langkahnya cepat, seolah tak peduli orang-orang di sekitar mulai melirik. Saat melewati Arhan, Rendra berhenti sejenak.“Jangan pernah dekati istriku lagi,” katanya tajam. “Urus hidupmu sendiri.”Arhan menatap Alia sekilas, ada sesuatu yang tak sempat ia ucapkan, lalu menunduk singkat.Tak jauh dari cafe, Rendra berhenti mendadak. Ia menoleh pada Alia, mat

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 5 : Pertemuan Kedua

    Beberapa hari terakhir, Alia justru sering berada di luar rumah. Pagi berangkat, siang pulang sebentar, lalu pergi lagi. Kampus baru itu menyita waktunya—berkas, tanda tangan, perkenalan singkat yang melelahkan. Namun anehnya, Alia tidak keberatan. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa… hidup.Rendra tak benar-benar menyadarinya. Alia selalu pergi setelah urusan rumah selesai. Sempat terlintas keinginannya untuk bercerita, tapi ia mengurungkan niat. Diam terasa lebih aman.Saat menunggu pesanan kopi di sebuah kafe di jalan utama, pandangan Alia tanpa sengaja terpaku ke satu sudut ruangan.“Rendra?” Alisnya mengernyit. “Dan itu… Siska?”Tak salah lagi. Suaminya duduk berhadapan dengan perempuan itu—karyawan baru di kantor Rendra. Ingatan Alia langsung melompat pada insiden air minum yang membuatnya dimarahi beberapa hari lalu.Alia menelan ludah. “Kalau aku samperin, pasti dia bilang urusan kerja,” gumamnya. “Tapi…”Kalimatnya terputus saat Siska tertawa kecil dan jemarinya m

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 4 : Sabar Juga Ujian

    “Sebentar….”Langkah Rendra dan Alia terhenti.Arhan berdiri di depan mereka. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya kini berbeda dan lebih tenang, lebih berani dibanding tadi di ruang polisi.“Ada apa lagi?” Rendra menatapnya dingin, jelas tidak sabar.Arhan tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada Alia. Ia melihat pipi perempuan itu yang basah oleh air mata, juga lengan yang masih dicengkeram Rendra.“Maaf, Pak,” kata Arhan akhirnya. “Saya cuma mau bicara sebentar. Sama… Mbaknya.”Rendra tertawa kecil, sinis. “Urusan kita udah selesai. Mobil saya juga nggak kenapa-kenapa.”“Bukan soal mobil,” jawab Arhan pelan.Alia mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Arhan. Ada jeda singkat dan cukup untuk membuatnya bingung dengan orang yang baru pertama kali dia temui.“Saya bersalah karena nabrak mbaknya,” lanjut Arhan. “Dan saya mau tanggung jawab. Tapi barusan—” ia berhenti sejenak, melirik Rendra, “—yang saya dengar tadi agak...... keterlaluan.”Rendra mengeraskan

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 3 : Keresahan Awal

    Rendra pulang lebih cepat dari biasanya. Mobilnya berhenti di depan rumah dengan suara pintu yang ditutup agak keras. Alia yang sedang merapikan ruang tamu menoleh, sedikit terkejut melihat jam di dinding. “Ren? Kamu udah pulang?”Rendra masuk tanpa menjawab. Tas kerjanya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas asal. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Kamu tau hari ini kamu bikin aku kelihatan kayak apa di kantor?” katanya tiba-tiba. Alia terdiam. “Aku… aku cuma mau nganter makan siang.” “Bukan itu masalahnya!” suara Rendra meninggi. “Kamu datang pas aku rapat. Bikin orang-orang mikir apa coba?” “Aku kan nggak tahu kamu lagi rapat—” “Kamu harusnya nunggu aja!” potongnya cepat. “Terus itu di ruangan aku, kamu ngebuat onar. Air tumpah ke meja, ke baju aku. Kamu sadar nggak itu memalukan?” Alia mengepal ujung bajunya. “Aku minta maaf, Ren. Aku cuma refleks.” “Refleks yang bikin aku kelihatan bodoh di depan klien!” Rendra menarik napas kasar. “Kamu tau nggak setelah itu aku harus j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status