Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 8 : Hai, Masa Lalu

Share

Bab 8 : Hai, Masa Lalu

Author: Kim Hwang Ra
last update Last Updated: 2026-02-13 02:33:57

Suasana di dalam rumah mendadak mencekam. Aroma masakan yang seharusnya menggugah selera justru terasa menyesakkan. Rendra melepas dasinya dengan kasar, melemparnya ke atas sofa, lalu berbalik menatap Alia yang masih berdiri mematung di dekat meja makan.

“Duduk,” desis Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi penuh penekanan yang mengancam.

Alia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia duduk, tangannya yang masih sedikit gemetar disembunyikan di bawah meja.

“Sudah berapa kali aku bilang, Alia? Jaga martabat keluarga kita,” Rendra mulai berjalan mengitari meja, seperti predator yang mengunci mangsanya. “Kamu itu seorang dosen sekarang. Istri seorang pengusaha. Dan sekarang kamu pulang dibonceng anak ingusan seperti itu? Kamu mau buat aku jadi bahan tertawaan kolega?”

“Mobilku bocor, Rendra,” sahut Alia, suaranya berusaha tetap stabil meski hatinya mencelos. “Dia cuman mahasiswa di kampusku, dia hanya berniat menolong karena aku tahu kamu paling tidak suka menunggu.”

Rendra tertawa sinis, sebuah tawa kering yang tidak sampai ke mata. “Menolong? Kamu pikir aku bodoh? Laki-laki tidak menolong perempuan secantik kamu tanpa alasan. Dan kamu… kamu menikmatinya, kan? Merasa bebas karena jauh dari pengawasanku?”

“Bebas?” Alia mendongak, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang dipendam. “Apa yang bebas, Ren? Bahkan untuk pulang ke rumah sendiri karena keadaan darurat saja aku harus merasa seperti kriminal. Aku merasa dikurung di rumah ini!”

“Dikurung?” Rendra berhenti tepat di samping Alia. Ia membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Alia. “Aku memberikanmu segalanya. Nama besar, kemewahan, bahkan izin untuk mengajar. Dan ini balasanmu? Membawa laki-laki lain ke depan hidungku?”

“Dia hanya mahasiswa, Rendra! Jangan terlalu agresif!” seru Alia spontan.

PLAK!

Tamparan keras itu mendarat di pipi Alia, memutus kalimatnya seketika. Kepala Alia tertoleh ke samping. Rasa panas menjalar hebat, disusul denyut perih yang membuat telinganya berdenging. Keheningan yang menyusul jauh lebih menyakitkan daripada bunyi tamparan tadi.

Alia menyentuh pipinya yang mulai membengkak. Ia tidak menangis tersedu-sedu; ia justru terdiam, menatap lantai dengan pandangan kosong. Realitas bahwa Rendra benar-benar menggunakan kekerasan fisik menghantamnya lebih keras dari tangan pria itu.

Rendra tampak sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan, namun egonya terlalu besar untuk meminta maaf. Ia justru mengeraskan rahangnya.

“Itu supaya kamu ingat siapa yang punya otoritas di sini,” ujar Rendra dingin sambil merapikan kemejanya. “Masuk ke kamar. Jangan keluar sampai aku suruh.”

Tanpa kata, Alia berdiri. Ia melangkah melewati Rendra tanpa sedikit pun menoleh. Di dalam kamar yang gelap, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin yang remang.

--------

Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat kaku. Sisa ketegangan semalam masih membekas jelas di pipi Alia yang kini tertutup rapat oleh foundation tebal dan polesan rambut yang sengaja ia gerai ke depan.

Rendra sedang menyesap kopinya saat tiba-tiba ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tajam.

“Aku batalkan rapat jam sembilan,” ucap Rendra tanpa menoleh. “Aku yang antar kamu ke kampus hari ini.”

Alia menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sendok. “Tidak perlu, Ren. Aku bisa pesan taksi online, mobilku juga belum sempat diperbaiki.”

Rendra menatapnya tajam, tatapan yang membuat Alia langsung bungkam. “Aku tidak menerima penolakan. Masuk ke mobil.”

Sesampainya di parkiran kampus, suasana masih cukup sepi, namun sebuah motor sport hitam yang sangat Alia kenali baru saja terparkir tak jauh dari tempat mobil Rendra berhenti. Pengendaranya baru saja melepas helm—itu Arhan.

Arhan, yang awalnya tampak santai, langsung mematung saat melihat Alia turun dari mobil mewah yang pintunya dibukakan oleh Rendra dari dalam.

Rendra sengaja turun dari mobil, berdiri di samping Alia, lalu merangkul bahu istrinya dengan posesif. Ia menatap Arhan dengan tatapan merendahkan.

“Pagi, Bu Alia,” sapa Arhan. Suaranya terdengar lebih berat, matanya langsung tertuju pada sisi wajah Alia yang tampak sedikit tidak natural karena polesan makeup yang berlebihan.

Rendra menyahut lebih dulu sebelum Alia sempat membuka mulut. “Pagi. Kamu mahasiswa yang kemarin, kan? Pastikan hari ini kamu belajar yang benar, jangan sibuk mengurusi istri orang.”

Arhan tidak gentar. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, mengabaikan intimidasi Rendra. Pandangannya terkunci pada Alia. “Ibu… baik-baik saja?”

Alia menghindari kontak mata. “Saya baik, Arhan. Terima kasih. Udah jam kelas, kamu masuk dulu.”

“Wajah Ibu… agak berbeda hari ini,” gumam Arhan pelan, namun cukup jelas untuk didengar Rendra.

Rahang Rendra mengeras. Ia menarik bahu Alia agar lebih mendekat padanya. “Dia hanya kurang tidur karena melayani suaminya. Bukan urusanmu.”

Alia merasa dunianya runtuh karena rasa malu. “Rendra, sudah. Nanti kamu terlambat ke kantor.”

Arhan tersenyum miring, senyum yang kali ini tidak mengandung keusilan, melainkan kemarahan yang tertahan. “Hati-hati di jalan, Pak. Barang berharga kalau dijaga terlalu keras… bakal bisa pecah.”

Rendra hampir saja melangkah maju untuk membalas ucapan itu, tapi Alia menahan lengannya dengan kuat. “Ren, tolong. Ini di kampus.”

Rendra mendengus, lalu mengecup kening Alia dengan kasar—sebuah gestur yang lebih mirip penandaan wilayah daripada kasih sayang—sebelum akhirnya masuk kembali ke mobil dan melesat pergi dengan suara decitan ban yang keras.

Kini hanya tersisa Alia dan Arhan di parkiran yang mulai ramai.

“Dia yang melakukannya, kan?” tanya Arhan langsung, suaranya rendah dan penuh tuntutan.

Alia memalingkan wajah, mencoba berjalan pergi. “Bukan urusanmu, Arhan. Masuk ke kelas sekarang.”

Arhan menarik pelan pergelangan tangan Alia, menghentikannya. “Jangan bohong padaku, Kak. Aku tahu bedanya makeup cantik dan makeup untuk menutupi luka.”

Alia menarik tangannya dengan sentakan kecil. “Di sini, saya adalah dosenmu. Jangan pernah melewati batas itu lagi.”

Alia berjalan cepat menuju gedung dosen dengan langkah yang masih sedikit pincang, meninggalkan Arhan yang berdiri diam dengan kepalan tangan yang mengeras di samping motornya.

Alia berjalan setengah berlari menyusuri koridor gedung dosen. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketegangan di parkiran tadi. Ia hanya ingin segera masuk ke ruangannya, mengunci pintu, dan menenangkan diri sebelum kelas dimulai.

---------

Begitu sampai di depan pintu ruangannya yang bersifat semi-privat, Alia menarik napas panjang. Ia memutar knop pintu, masuk, dan langsung menutupnya rapat. Ia bersandar di balik pintu sambil memejamkan mata, memegang pipinya yang masih terasa berdenyut.

"Akhirnya..." bisiknya lirih.

Namun, ia merasakan ada kehadiran lain di sana. Hawa dingin dari AC ruangan itu seolah membawa aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali—namun bukan milik Rendra.

Alia membuka matanya perlahan.

Seorang laki-laki duduk dengan santai di kursi depan meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja biru navy dengan lengan yang digulung hingga siku, sedang membolak-balik salah satu buku referensi milik Alia.

Laki-laki itu mendongak, memperlihatkan wajah yang tenang namun memiliki sorot mata yang sulit ditebak. Senyumnya mengembang tipis, namun tidak mencapai matanya yang terlihat dingin.

"Selamat pagi, Alia," sapa laki-laki itu. "Lama tidak bertemu."

Alia membeku. Tas yang ia pegang nyaris terjatuh dari genggamannya. Suara itu, wajah itu—dia adalah bagian dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam sejak Alia menikah dengan Rendra.

"D-Dika?" suara Alia bergetar. "Kenapa... kenapa kamu ada di sini?"

Laki-laki bernama Dika itu berdiri, lalu berjalan mendekati Alia. Langkahnya lambat dan penuh perhitungan. Ia berhenti tepat di depan Alia, matanya menyipit saat memperhatikan riasan di pipi kiri Alia yang sedikit terlalu tebal.

"Aku dengar universitas ini butuh kepala departemen baru," ujar Dika sambil mengulurkan tangan, hendak menyentuh helai rambut Alia yang menutupi luka itu. "Dan aku tidak menyangka akan menemukanmu dalam kondisi... seperti ini."

Di luar ruangan, sayup-sayup terdengar langkah kaki Arhan yang rupanya mengikuti Alia untuk memastikan keadaannya, namun langkah itu berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 8 : Hai, Masa Lalu

    Suasana di dalam rumah mendadak mencekam. Aroma masakan yang seharusnya menggugah selera justru terasa menyesakkan. Rendra melepas dasinya dengan kasar, melemparnya ke atas sofa, lalu berbalik menatap Alia yang masih berdiri mematung di dekat meja makan.“Duduk,” desis Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi penuh penekanan yang mengancam.Alia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia duduk, tangannya yang masih sedikit gemetar disembunyikan di bawah meja.“Sudah berapa kali aku bilang, Alia? Jaga martabat keluarga kita,” Rendra mulai berjalan mengitari meja, seperti predator yang mengunci mangsanya. “Kamu itu seorang dosen sekarang. Istri seorang pengusaha. Dan sekarang kamu pulang dibonceng anak ingusan seperti itu? Kamu mau buat aku jadi bahan tertawaan kolega?”“Mobilku bocor, Rendra,” sahut Alia, suaranya berusaha tetap stabil meski hatinya mencelos. “Dia cuman mahasiswa di kampusku, dia hanya berniat menolong karena aku tahu kamu paling tidak suka menunggu.

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 7 : Kenapa Perduli?

    Petugas UKS masuk sambil membawa kotak obat dan selembar kapas baru. Tatapannya sempat jatuh pada Arhan yang berdiri terlalu dekat dengan ranjang periksa.“Lukanya tidak dalam kok, Bu,” ujar petugas itu sambil berjongkok di depan Alia. “Tapi sebaiknya jangan banyak jalan dulu.”“Iya, terima kasih,” jawab Alia pelan.Petugas itu lalu menoleh ke Arhan. “Kamu kenapa masih di sini? Bukannya kelas sudah mulai?”Arhan mengangkat bahu santai. “Saya nemenin dosen baru, Bu. Beliau masih belum terlalu hafal lingkungan kampus.”Petugas UKS mengerling tipis, jelas ragu. “Oh ya?”“Iya,” Arhan menyahut cepat, seolah sudah biasa berbohong dengan wajah tenang. “Takut nyasar.”Alia melirik Arhan tajam. “Aku baik-baik saja.”“Iya, tapi kan—” Arhan menyeringai tipis. “Kalau jatuh lagi bakal repot.... Bu dosen.” akhir kata yang ditekan.Petugas UKS mendengus kecil. “Kamu ini memang selalu aja ada alasannya.” Lalu ia berdiri. “Sudah, habis ini kamu balik ke kelas. Jangan bikin masalah lagi.”“Siap,” jawab

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 6 : Jadi Dosen

    Rendra melangkah mendekat dengan langkah lebar. Tatapannya tak lepas dari Arhan, jelas mengenali wajah itu. Rahangnya mengeras.“Kamu,” ucapnya dingin, “orang yang bikin masalah itu.”Arhan hanya mengangguk tipis. “Pak.”Rendra mendengus, lalu berpaling ke Alia. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya, cukup kuat hingga Alia meringis.“Kamu ngapain sama dia?” desisnya. “Belum cukup bikin aku malu di kantor dan di kantor polisi, sekarang nambah urusan lagi?”“Ren, lepasin,” Alia berusaha menarik tangannya. “Aku bisa jelasin.”“Jelasin?” Rendra tertawa sinis. “Kamu selalu punya alasan, ya.”Ia menarik Alia menjauh, langkahnya cepat, seolah tak peduli orang-orang di sekitar mulai melirik. Saat melewati Arhan, Rendra berhenti sejenak.“Jangan pernah dekati istriku lagi,” katanya tajam. “Urus hidupmu sendiri.”Arhan menatap Alia sekilas, ada sesuatu yang tak sempat ia ucapkan, lalu menunduk singkat.Tak jauh dari cafe, Rendra berhenti mendadak. Ia menoleh pada Alia, mat

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 5 : Pertemuan Kedua

    Beberapa hari terakhir, Alia justru sering berada di luar rumah. Pagi berangkat, siang pulang sebentar, lalu pergi lagi. Kampus baru itu menyita waktunya—berkas, tanda tangan, perkenalan singkat yang melelahkan. Namun anehnya, Alia tidak keberatan. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa… hidup.Rendra tak benar-benar menyadarinya. Alia selalu pergi setelah urusan rumah selesai. Sempat terlintas keinginannya untuk bercerita, tapi ia mengurungkan niat. Diam terasa lebih aman.Saat menunggu pesanan kopi di sebuah kafe di jalan utama, pandangan Alia tanpa sengaja terpaku ke satu sudut ruangan.“Rendra?” Alisnya mengernyit. “Dan itu… Siska?”Tak salah lagi. Suaminya duduk berhadapan dengan perempuan itu—karyawan baru di kantor Rendra. Ingatan Alia langsung melompat pada insiden air minum yang membuatnya dimarahi beberapa hari lalu.Alia menelan ludah. “Kalau aku samperin, pasti dia bilang urusan kerja,” gumamnya. “Tapi…”Kalimatnya terputus saat Siska tertawa kecil dan jemarinya m

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 4 : Sabar Juga Ujian

    “Sebentar….”Langkah Rendra dan Alia terhenti.Arhan berdiri di depan mereka. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya kini berbeda dan lebih tenang, lebih berani dibanding tadi di ruang polisi.“Ada apa lagi?” Rendra menatapnya dingin, jelas tidak sabar.Arhan tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada Alia. Ia melihat pipi perempuan itu yang basah oleh air mata, juga lengan yang masih dicengkeram Rendra.“Maaf, Pak,” kata Arhan akhirnya. “Saya cuma mau bicara sebentar. Sama… Mbaknya.”Rendra tertawa kecil, sinis. “Urusan kita udah selesai. Mobil saya juga nggak kenapa-kenapa.”“Bukan soal mobil,” jawab Arhan pelan.Alia mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Arhan. Ada jeda singkat dan cukup untuk membuatnya bingung dengan orang yang baru pertama kali dia temui.“Saya bersalah karena nabrak mbaknya,” lanjut Arhan. “Dan saya mau tanggung jawab. Tapi barusan—” ia berhenti sejenak, melirik Rendra, “—yang saya dengar tadi agak...... keterlaluan.”Rendra mengeraskan

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 3 : Keresahan Awal

    Rendra pulang lebih cepat dari biasanya. Mobilnya berhenti di depan rumah dengan suara pintu yang ditutup agak keras. Alia yang sedang merapikan ruang tamu menoleh, sedikit terkejut melihat jam di dinding. “Ren? Kamu udah pulang?”Rendra masuk tanpa menjawab. Tas kerjanya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas asal. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Kamu tau hari ini kamu bikin aku kelihatan kayak apa di kantor?” katanya tiba-tiba. Alia terdiam. “Aku… aku cuma mau nganter makan siang.” “Bukan itu masalahnya!” suara Rendra meninggi. “Kamu datang pas aku rapat. Bikin orang-orang mikir apa coba?” “Aku kan nggak tahu kamu lagi rapat—” “Kamu harusnya nunggu aja!” potongnya cepat. “Terus itu di ruangan aku, kamu ngebuat onar. Air tumpah ke meja, ke baju aku. Kamu sadar nggak itu memalukan?” Alia mengepal ujung bajunya. “Aku minta maaf, Ren. Aku cuma refleks.” “Refleks yang bikin aku kelihatan bodoh di depan klien!” Rendra menarik napas kasar. “Kamu tau nggak setelah itu aku harus j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status