เข้าสู่ระบบSuasana di dalam rumah mendadak mencekam. Aroma masakan yang seharusnya menggugah selera justru terasa menyesakkan. Rendra melepas dasinya dengan kasar, melemparnya ke atas sofa, lalu berbalik menatap Alia yang masih berdiri mematung di dekat meja makan.
“Duduk,” desis Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi penuh penekanan yang mengancam. Alia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia duduk, tangannya yang masih sedikit gemetar disembunyikan di bawah meja. “Sudah berapa kali aku bilang, Alia? Jaga martabat keluarga kita,” Rendra mulai berjalan mengitari meja, seperti predator yang mengunci mangsanya. “Kamu itu seorang dosen sekarang. Istri seorang pengusaha. Dan sekarang kamu pulang dibonceng anak ingusan seperti itu? Kamu mau buat aku jadi bahan tertawaan kolega?” “Mobilku bocor, Rendra,” sahut Alia, suaranya berusaha tetap stabil meski hatinya mencelos. “Dia cuman mahasiswa di kampusku, dia hanya berniat menolong karena aku tahu kamu paling tidak suka menunggu.” Rendra tertawa sinis, sebuah tawa kering yang tidak sampai ke mata. “Menolong? Kamu pikir aku bodoh? Laki-laki tidak menolong perempuan secantik kamu tanpa alasan. Dan kamu… kamu menikmatinya, kan? Merasa bebas karena jauh dari pengawasanku?” “Bebas?” Alia mendongak, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang dipendam. “Apa yang bebas, Ren? Bahkan untuk pulang ke rumah sendiri karena keadaan darurat saja aku harus merasa seperti kriminal. Aku merasa dikurung di rumah ini!” “Dikurung?” Rendra berhenti tepat di samping Alia. Ia membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Alia. “Aku memberikanmu segalanya. Nama besar, kemewahan, bahkan izin untuk mengajar. Dan ini balasanmu? Membawa laki-laki lain ke depan hidungku?” “Dia hanya mahasiswa, Rendra! Jangan terlalu agresif!” seru Alia spontan.PLAK! Tamparan keras itu mendarat di pipi Alia, memutus kalimatnya seketika. Kepala Alia tertoleh ke samping. Rasa panas menjalar hebat, disusul denyut perih yang membuat telinganya berdenging. Keheningan yang menyusul jauh lebih menyakitkan daripada bunyi tamparan tadi. Alia menyentuh pipinya yang mulai membengkak. Ia tidak menangis tersedu-sedu; ia justru terdiam, menatap lantai dengan pandangan kosong. Realitas bahwa Rendra benar-benar menggunakan kekerasan fisik menghantamnya lebih keras dari tangan pria itu. Rendra tampak sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan, namun egonya terlalu besar untuk meminta maaf. Ia justru mengeraskan rahangnya. “Itu supaya kamu ingat siapa yang punya otoritas di sini,” ujar Rendra dingin sambil merapikan kemejanya. “Masuk ke kamar. Jangan keluar sampai aku suruh.” Tanpa kata, Alia berdiri. Ia melangkah melewati Rendra tanpa sedikit pun menoleh. Di dalam kamar yang gelap, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin yang remang. -------- Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat kaku. Sisa ketegangan semalam masih membekas jelas di pipi Alia yang kini tertutup rapat oleh foundation tebal dan polesan rambut yang sengaja ia gerai ke depan. Rendra sedang menyesap kopinya saat tiba-tiba ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tajam. “Aku batalkan rapat jam sembilan,” ucap Rendra tanpa menoleh. “Aku yang antar kamu ke kampus hari ini.” Alia menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sendok. “Tidak perlu, Ren. Aku bisa pesan taksi online, mobilku juga belum sempat diperbaiki.” Rendra menatapnya tajam, tatapan yang membuat Alia langsung bungkam. “Aku tidak menerima penolakan. Masuk ke mobil.” Sesampainya di parkiran kampus, suasana masih cukup sepi, namun sebuah motor sport hitam yang sangat Alia kenali baru saja terparkir tak jauh dari tempat mobil Rendra berhenti. Pengendaranya baru saja melepas helm—itu Arhan. Arhan, yang awalnya tampak santai, langsung mematung saat melihat Alia turun dari mobil mewah yang pintunya dibukakan oleh Rendra dari dalam. Rendra sengaja turun dari mobil, berdiri di samping Alia, lalu merangkul bahu istrinya dengan posesif. Ia menatap Arhan dengan tatapan merendahkan. “Pagi, Bu Alia,” sapa Arhan. Suaranya terdengar lebih berat, matanya langsung tertuju pada sisi wajah Alia yang tampak sedikit tidak natural karena polesan makeup yang berlebihan. Rendra menyahut lebih dulu sebelum Alia sempat membuka mulut. “Pagi. Kamu mahasiswa yang kemarin, kan? Pastikan hari ini kamu belajar yang benar, jangan sibuk mengurusi istri orang.” Arhan tidak gentar. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, mengabaikan intimidasi Rendra. Pandangannya terkunci pada Alia. “Ibu… baik-baik saja?” Alia menghindari kontak mata. “Saya baik, Arhan. Terima kasih. Udah jam kelas, kamu masuk dulu.” “Wajah Ibu… agak berbeda hari ini,” gumam Arhan pelan, namun cukup jelas untuk didengar Rendra. Rahang Rendra mengeras. Ia menarik bahu Alia agar lebih mendekat padanya. “Dia hanya kurang tidur karena melayani suaminya. Bukan urusanmu.” Alia merasa dunianya runtuh karena rasa malu. “Rendra, sudah. Nanti kamu terlambat ke kantor.” Arhan tersenyum miring, senyum yang kali ini tidak mengandung keusilan, melainkan kemarahan yang tertahan. “Hati-hati di jalan, Pak. Barang berharga kalau dijaga terlalu keras… bakal bisa pecah.” Rendra hampir saja melangkah maju untuk membalas ucapan itu, tapi Alia menahan lengannya dengan kuat. “Ren, tolong. Ini di kampus.” Rendra mendengus, lalu mengecup kening Alia dengan kasar—sebuah gestur yang lebih mirip penandaan wilayah daripada kasih sayang—sebelum akhirnya masuk kembali ke mobil dan melesat pergi dengan suara decitan ban yang keras. Kini hanya tersisa Alia dan Arhan di parkiran yang mulai ramai. “Dia yang melakukannya, kan?” tanya Arhan langsung, suaranya rendah dan penuh tuntutan. Alia memalingkan wajah, mencoba berjalan pergi. “Bukan urusanmu, Arhan. Masuk ke kelas sekarang.” Arhan menarik pelan pergelangan tangan Alia, menghentikannya. “Jangan bohong padaku, Kak. Aku tahu bedanya makeup cantik dan makeup untuk menutupi luka.” Alia menarik tangannya dengan sentakan kecil. “Di sini, saya adalah dosenmu. Jangan pernah melewati batas itu lagi.” Alia berjalan cepat menuju gedung dosen dengan langkah yang masih sedikit pincang, meninggalkan Arhan yang berdiri diam dengan kepalan tangan yang mengeras di samping motornya. Alia berjalan setengah berlari menyusuri koridor gedung dosen. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketegangan di parkiran tadi. Ia hanya ingin segera masuk ke ruangannya, mengunci pintu, dan menenangkan diri sebelum kelas dimulai.---------
Begitu sampai di depan pintu ruangannya yang bersifat semi-privat, Alia menarik napas panjang. Ia memutar knop pintu, masuk, dan langsung menutupnya rapat. Ia bersandar di balik pintu sambil memejamkan mata, memegang pipinya yang masih terasa berdenyut. "Akhirnya..." bisiknya lirih. Namun, ia merasakan ada kehadiran lain di sana. Hawa dingin dari AC ruangan itu seolah membawa aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali—namun bukan milik Rendra. Alia membuka matanya perlahan. Seorang laki-laki duduk dengan santai di kursi depan meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja biru navy dengan lengan yang digulung hingga siku, sedang membolak-balik salah satu buku referensi milik Alia. Laki-laki itu mendongak, memperlihatkan wajah yang tenang namun memiliki sorot mata yang sulit ditebak. Senyumnya mengembang tipis, namun tidak mencapai matanya yang terlihat dingin. "Selamat pagi, Alia," sapa laki-laki itu. "Lama tidak bertemu." Alia membeku. Tas yang ia pegang nyaris terjatuh dari genggamannya. Suara itu, wajah itu—dia adalah bagian dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam sejak Alia menikah dengan Rendra. "D-Dika?" suara Alia bergetar. "Kenapa... kenapa kamu ada di sini?" Laki-laki bernama Dika itu berdiri, lalu berjalan mendekati Alia. Langkahnya lambat dan penuh perhitungan. Ia berhenti tepat di depan Alia, matanya menyipit saat memperhatikan riasan di pipi kiri Alia yang sedikit terlalu tebal. "Aku dengar universitas ini butuh kepala departemen baru," ujar Dika sambil mengulurkan tangan, hendak menyentuh helai rambut Alia yang menutupi luka itu. "Dan aku tidak menyangka akan menemukanmu dalam kondisi... seperti ini." Di luar ruangan, sayup-sayup terdengar langkah kaki Arhan yang rupanya mengikuti Alia untuk memastikan keadaannya, namun langkah itu berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat.Keesokan harinya, fajar menyingsing di atas lereng bukit dengan warna keemasan yang lembut. Kabut tipis masih membungkus pepohonan karet, membawa aroma tanah basah dan udara pegunungan yang sangat segar. Suara jangkrik malam perlahan berganti dengan cicitan burung liar dan kokok ayam jantan dari kejauhan. Di rumah panggung kayu itu, suasana begitu hangat dan tentram—sebuah kontras yang sempurna dibanding badai yang sedang mengamuk di luar sana. Alia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di teras depan yang menghadap langsung ke hamparan kebun hijau, Bagas sudah duduk santai di atas bangku kayu panjang. Mahasiswa cerdas itu mengenakan kaus polos dan celana kain sederhana, kacamata bingkai hitamnya bertengger rapi saat dia memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Di sampingnya, Pak Danu sedang merapikan beberapa papan kayu bakar. "Pagi, Kak Alia," sapa Bagas dengan nada suara yang tenang dan renyah. Senyuman tipisnya terkembang, senyuman
Empat bulan berlalu sejak tragedi penyisiran hutan perbatasan yang sia-sia itu. Waktu terus berjalan di kota, namun bagi Rendra dan Arhan, hidup mereka seolah telah mati dan membusuk di tempat.Di pusat kota, nama Rendra tak lagi menjadi simbol kejayaan pengusaha muda berprestasi. Pencarian skala besar yang gagal, laporan kepolisian yang menggantung, serta hilangnya sang istri secara misterius perlahan membocorkan skandal keretakan rumah tangganya ke publik. Dewan komisaris perusahaan akhirnya memutus posisinya sebagai CEO demi menyelamatkan saham perusahaan yang merosot tajam.Penthouse mewah milik Rendra kini tak ubahnya seperti makam yang megah. Tirai-tirai jendela raksasa tidak pernah lagi dibuka, membiarkan ruangan besar itu tenggelam dalam remang-remang yang suram. Rendra duduk di sudut sofa, tubuhnya jauh lebih kurus dengan janggut tipis yang tidak terurus. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah lemari kaca, tempat foto pernikahan formalnya dengan Alia masih berdi
Sementara Rendra dan Arhan sedang menyusuri lorong Rumah Sakit Medika untuk mencari rekam medis, di rumah panggung lereng bukit udara pagi terasa begitu sejuk. Matahari bersinar cerah menembus celah-celah daun karet, menyinari teras kayu tempat Bidan Marni seorang bidan desa senior yang ramah dan yang sedang menata peralatan medis sederhananya di atas meja.Alia duduk di tepi tempat tidur kamar utama, mengenakan daster hamil yang longgar. Perutnya yang makin membuncit kini terasa kencang dan bergerak-gerak pelan. Di sampingnya, Bagas berdiri dengan sigap memegang buku catatan kehamilan berwarna merah muda."Coba berbaring santai ya, Mbak Alia," ujar Bidan Marni lembut seraya mengoleskan gel dingin ke permukaan perut Alia.Bidan Marni kemudian menempelkan ujung alat fetal doppler portabel ke perut Alia. Dalam hitungan detik, suara detak jantung janin bergema memenuhi ruangan kayu yang tenang itu—cepat, ritmis, dan sangat kuat.Dug-dug-dug-dug-dug...Bagas yang berdiri di dekat kepala r
Bagas menghela napas panjang. Dia menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di samping tempat tidur Alia, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan nekat yang baru saja dilakukannya."Aku lihat Ibu nangis tiap hari di ruang dosen," lanjut Bagas pelan, kini tatapannya melunak. "Aku tahu Pak Rendra jarang menganggap Ibu, dan aku tahu Arhan cuma bocah egois yang mengira obsesinya adalah cinta. Dan sekarangn ini mereka berdua sedang menghancurkan hidup Ibu. Jadi... kenapa Ibu ngga biarkan mereka bertengkar dan saling menyalahkan aja?"Alia menatap mahasiswa bimbingannya itu dengan napas memburu. "Tapi cara kamu ini gila, Bagas! Penculikan? Pemalsuan? Kamu bisa dipenjara!""Aku sudah memperhitungkan semuanya," balas Bagas mantap. "Aku sudah menyiapkan tempat yang bakal buat Ibu nyaman. Tidak ada seorang pun dari keluarga Pak Rendra yang tahu. Kalau Ibu menghilang secara 'misterius', mereka akan sibuk memburu bayangan dan saling menghan
"Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat
Deru mesin sepeda motor, dia tidak memedulikan angin malam yang menghantam wajahnya tanpa ampun, ataupun beberapa kali bannya selip saat melewati jalanan berbatu yang sepi."Bertahan, Kak... please, bertahan," bisik Arhan di balik helmnya, napasnya memburu.Begitu sampai di koordinat yang dituju, Arhan langsung mengerem keretanya dengan kasar hingga menciptakan bunyi decitan panjang di atas tanah kering. Arhan melompat dari motornya tanpa mencabut kunci. Dia berlari menerobos pintu besi gudang yang sudah berkarat dan setengah terbuka."Kak Alia?! Kak?!" teriak Arhan, suaranya menggema parau di dalam ruangan luas yang pengap dan berdebu itu.Dia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke segala penjuru arah. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi penyergapan atau baku hantam dengan bajingan yang nekat menculik dosennya.Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Gudang itu kosong, sampai akhirnya sorot senter ponselnya menangkap sebuah kursi kayu yang tegak di tengah







