Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 133. Ada-ada Saja 1

Share

133. Ada-ada Saja 1

last update publish date: 2026-10-21 14:02:55

AKAN KUTUNGGU

- 50 Ada-ada Saja

"Apa kabar, Mbak Nindi?" sapa Billy ramah, langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman begitu tiba di meja mereka.

Nindiya berdiri sejenak, menyambut uluran tangan itu dengan gestur yang amat sopan. "Alhamdulillah, kabar saya baik, Pak Billy."

Pak Affa memandang bingung ke arah mereka berdua. "Oh, jadi Mbak Nindiya dan Pak Billy ini sudah saling kenal sebelumnya?"

Nindiya mengangguk seraya kembali duduk di kursinya. "Iya, Pak. Pak Billy dulu pengacara yang memb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
sabar dong Mas Khai Nindiya gk akan beepaling kelain hati setelah kembali bersamamu....
goodnovel comment avatar
Adfazha
Menyala Mas Khai duh gegana sendirian ya gegara BS bikin hati gk tenang liat istri tercinta dikelilingi cogan rivalnya Khai
goodnovel comment avatar
Adya Maharga
fokus Khai fokus, jgn tergoda melihat meja tetangga, bisa oleng ntar, wkwkwk modusnya Khai mau salaman dgn pak affa sekalian mendekati istri yg duduk diantara para eksekutif. panaasss bro, wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKAN KUTUNGGU   135. Ada-ada Saja 3

    Khaisar memenjarakan Nindiya di antara tubuhnya dan dinding kamar. Sorot matanya tampak lekat menatap sang istri. "Kamu tahu aku cemburu sama mantan pengacaramu itu, Nin?" bisik Khaisar. Dia tidak suka menutupi apa yang dirasakannya.Nindiya tersenyum. "Aku harus profesional kan, Mas. Pak Affa dan Pak Billy bicara panjang lebar tentang urusan perusahaan. Aku tidak berani memegang ponsel apalagi untuk membalas pesan. Lagian mereka mengira aku masih amnesia.""Aku tahu.""Mas, juga bersama Amara tadi." Raut wajah Nindiya juga menunjukkan rasa cemburu."Ya. Kami tim kerja.""Harus profesional, kan?"Khaisar menatap lekat manik mata Nindiya. "Billy menjadi pengacara di kantormu?""Ya.""Kalian akan sering bertemu. Kamu resign saja."Nindiya kaget. "Mas, jangan lupa dengan apa yang sudah kita rencanakan. Percayalah padaku kalau aku nggak akan macam-macam. Dia juga nggak ngomong suka sama aku."Khaisar menarik napas panjang, kemudian menggandeng Nindiya untuk duduk di pembaringan. "Tapi dia

  • AKAN KUTUNGGU   134. Ada-ada Saja 2

    "Saya senang bertemu dengan pria muda yang hebat," puji Pak Affa saat bersalaman dengan Khaisar.Menanggapi itu Khaisar tersenyum. "Pak Affa, bisa saja. Saya duluan ya, Pak."Kemudian ia menyalami rekan bisnis mereka, baru memandang Billy yang tersenyum ramah padanya. Pria itu menyambut tangan Khaisar tanpa tahu kalau dia ini suami dari perempuan yang disukainya. Dan Khaisar juga menyalami Nindiya dengan erat. Wanita itu hanya mengangguk sopan, tanpa membalas tatapannya.Padahal ia juga ingin menoleh saat sang suami keluar dari pintu kaca. Namun tak dilakukannya. Kemudian ia kembali fokus pada percakapan dengan Billi dan bosnya.Jarak beberapa menit kemudian, ada pesan masuk. Namun Nindiya tetap mengabaikan. Ia fokus dulu pada pertemuan itu. Sebab dia hanya staf biasa yang harus menghormati atasannya saat pertemuan penting begini.Nindiya juga bersikap biasa saja saat tatapan Billy padanya yang terasa sungguh berbeda.🖤LS🖤Tatapan mata Khaisar terus-menerus tertuju pada layar ponsel

  • AKAN KUTUNGGU   133. Ada-ada Saja 1

    AKAN KUTUNGGU- 50 Ada-ada Saja "Apa kabar, Mbak Nindi?" sapa Billy ramah, langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman begitu tiba di meja mereka.Nindiya berdiri sejenak, menyambut uluran tangan itu dengan gestur yang amat sopan. "Alhamdulillah, kabar saya baik, Pak Billy."Pak Affa memandang bingung ke arah mereka berdua. "Oh, jadi Mbak Nindiya dan Pak Billy ini sudah saling kenal sebelumnya?"Nindiya mengangguk seraya kembali duduk di kursinya. "Iya, Pak. Pak Billy dulu pengacara yang membantu mengurus proses perceraian saya."Pak Affa manggut-manggut. "Pantas saja tidak merasa asing." Atasan Nindiya itu lantas tersenyum lebar menatap sang pengacara. "Pak Billy ini memang memiliki kompetensi hukum yang luar biasa. Perusahaan kita sudah beberapa tahun selalu mempercayakan urusan penyusunan kontrak, sengketa bisnis, hingga penanganan perkara hukum pada timnya Pak Billy. Beliau punya tim yang sangat solid.""Ya, benar, Pak. Beliau memang hebat," sahut Nindiya lugas. Ia mendengarkan

  • AKAN KUTUNGGU   132. Tak Sengaja 3

    "Khai."Mendengar suara tajam yang memanggil namanya, langkah Khaisar yang semula santai langsung terhenti seketika. Padahal ia sudah berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar bisa langsung melarikan diri ke kamar. Sial, insting mamanya benar-benar luar biasa. Di hadapan Bu Juliana yang memandangnya, ia diperlakukan bagaikan anak kecil yang ketahuan pulang larut malam. Sebuah ironi besar di benaknya, mengingat sekitar empat puluh jam lalu ia sukses meresmikan hubungan sah dan meniduri anak perempuan orang sebagai seorang suami.Bu Juliana melangkah mendekat dengan dagu terangkat, matanya menyipit penuh selidik. Hidungnya mencium aroma asing. Ini wangi parfum perempuan yang begitu lembut dan khas, jelas bukan aroma parfum yang biasa dipakai putranya."Are you going traveling with a girl, Khai?" tanya Bu Juliana dengan tatapan menyelidik. "Who is she?""No. Aku pergi sama teman laki-laki, Ma.""Kamu punya pacar? Makanya nolak Amara," cecar mamanya."No," sahut Khaisar

  • AKAN KUTUNGGU   131. Tak Sengaja 2

    Dan dirinya sendiri juga bertanya-tanya, siapa yang menjemput Nindiya tadi? Sopir taksi? Tidak mungkin, cara bicara pria tadi terlalu siap dan sigap. Apa saudara dekatnya? Atau pria lain? Pertanyaan demi pertanyaan itu mengendap tajam, menyisakan sesak yang kian menghimpit dadanya. Walaupun dalam dada menyangkal, tidak mungkin laki-laki tadi kekasihnya Nindiya. Terlihat dia sangat sopan dan menghormati wanita itu.🖤Pintu samping Ford Ranger gagah itu terkuak pelan. Nindiya segera menyelinap masuk ke jok penumpang, tepat di samping kursi kemudi. Di balik kemudi, Khaisar duduk bersandar dengan raut wajah kaku dan rahang mengeras."Mas, yang mau mengantarku pulang?" tanya Nindiya heran, menatap suaminya yang tampak begitu gusar di zona parkir resmi itu. "Tadi Mas Manto mendadak mengajakku naik ke sini."Hening sejenak. Pria itu berusaha memendam gejolak panas yang mendadak membakar dadanya usai menyaksikan Indra dan kedua orang tuanya menemui Nindiya di bawah tadi."Nin," Khaisar akhir

  • AKAN KUTUNGGU   130. Tak Sengaja 1

    AKAN KUTUNGGU- 49 Tak SengajaLangkah kaki Nindiya terhenti saat dua sosok yang sangat dikenalnya melangkah menghampiri. Pak Ikram dan Bu Cahya berdiri di hadapannya dengan pakaian rapi, khas orang baru selesai bepergian jauh.Dari jarak beberapa meter di belakang, Khaisar memperhatikan itu. Dadanya menegang, menyaksikan istrinya bertemu dengan orang tua Indra. Namun karena keadaan, ia menahan diri untuk tidak menghampiri. Ia tidak ingin keadaan menjadi kacau. Orang tua Indra jelas saja mengenalnya.Sedangkan Nindiya dengan tenang dan sopan, mengulurkan tangan untuk menyalami Pak Ikram dan Bu Cahya."Kamu dari mana, Nin?" tanya Bu Cahya ramah, mengamati lelaki asing yang membawakan koper dan sedang berdiri di samping Nindiya."Saya baru pulang dari Bangka, Bu. Dari rumah Mbak Nila. Bapak sama Ibu sendiri dari mana?" Panggilan papa dan mama dulu, sekarang sudah berubah menjadi bapak dan ibu. Nindiya tetap bersikap tenang. Selama Indra tidak membeberkan fakta sebenarnya kepada kedua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status