Beranda / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 1. Bersatu Untuk Berpisah

Share

AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK
AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK
Penulis: DNOV

Bab 1. Bersatu Untuk Berpisah

Penulis: DNOV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-02 22:31:36

Seorang pemuda melepas lumatan bibirnya dari gadis lugu di rengkuhannya yang menatap sendu.

“Besok aku harus pergi! Kamu baik-baik, ya!”

“Tapi aku gak mau sendirian. Aku maunya sama kamu.”

“Ssst, aku tahu.” Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. Sekali lagi ia menciumi rambut hitam wangi gadis yang kini tengah sesenggukan di dadanya.

Sebuah keputusan berat harus mereka lewati setelah acara pesta yang berlangsung beberapa hari lalu. Keduanya baru saja dipersatukan dalam sebuah ikatan sakral dalam sebuah pernikahan yang sederhana. Namun kebersamaan mereka hanya singkat, karena esok hari mereka harus hidup saling berjauhan.

"Rey, kenapa kamu ngajak nikah, tapi terus aku ditinggal pergi?"

Reyhan, nama pemuda itu, hanya bisa merengkuh erat gadis itu. Ia tak bisa mengatakan alasan sebenarnya kenapa ia memutuskan menikahi kawan masa kecilnya itu.

"Ca, itu karena aku gak mau kamu diambil orang!" Tuturnya singkat.

Gadis bernama Ica itu mencubit dada Rey gemas. Ia memang menyukai Rey dari ia sejak kanak-kanak. Rey adalah anak dari kawan dekat mama papanya yang juga kawan main kakaknya  semasa di komplek.

Ica masih tak percaya kalau Rey juga ternyata menyukainya dan pernikahan mereka menjadi bukti bahwa perasaan mereka  laksana gayung bersambut.

Malam itu, mereka saling berpandangan lama di atas bantal di kamar hotel bintang empat di pusat kota Jakarta. Keduanya baru saja tiba sore tadi dari Bandung setelah menyelesaikan segala administrasi dan dokumen penting sebelum Reyhan berangkat esok hari untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. 

“Sebelum aku pergi, aku ingin menjadikan kamu milikku sepenuhnya, Ca!” Ujar lelaki itu sambil membelai pipi gadis di sampingnya pelan. Sang gadis hanya balas menatapnya sayu tanpa mengerti apa yang akan terjadi berikutnya.

Ia baru sadar maksud Rey, tatkala bibir lelaki itu kembali bermain di bibirnya dengan ritme yang lebih dalam dan intens. Tak hanya itu, dengan nafasnya yang menderu tangan Rey sudah merambah ke area tubuhnya yang tersembunyi, membuatnya meremang seketika.

"Rey! Arg!" Rasa asing itu membuat Ica kaget dan mulai meronta, namun juga tak mengelak. Apalagi Rey terus menghujani lehernya dengan ciuman basah yang membabi buta sambil mencengkeram kedua tangannya.

Ini kali pertama Ica tidur bersama seorang lelaki dan Rey sudah menyentuhnya seperti itu. Jangankan tidur bersama dan melakukan kontak fisik sedekat ini, berpacaran pun belum pernah ia lakukan sebelumnya.  

'Ingat, Ca! Rey sudah jadi suami kamu, bukan teman main kamu lagi. Jadi jangan bertingkah seperti anak kecil!' 

Begitu peringatan Faisal kemarin-kemarin sebelum ia berangkat ke Jakarta. 

"Rey! Tunggu, kamu mau apa?" Ica menahan dada Rey yang mulai membuka kancing piyamanya. 

"Aku mau kamu, Ca!" Ujar Rey serak dan tatapan seolah mendapatkan hewan buruan.

Entah kenapa, setelah memutuskan menikah dan kini berduaan dalam satu kamar bersama Ica, dadanya selalu berdesir hangat dan jantungnya berdetak kencang. Padahal selama ini gadis mungil bernama Ica itu adalah sosok yang selalu ia anggap adik kecilnya yang menggemaskan. Namun kini setelah merasakan manisnya bibir Ica usai prosesi akad, keinginannya untuk mencicipi tubuh polos gadis itu makin menjadi.

Ica hanya menelan ludahnya saat Rey terus melucuti bajunya menyisakan dua gunung miliknya yang hanya terbalut pakaian yang minim.

“Rey!” Ica mencoba menutupi tubuhnya, namun tenaganya tak sebanding tubuh kekar Rey dengan hasratnya yang tengah bergemuruh.

“Aaahg!” Pekik gadis itu meremas sprei karena menahan sakit tak terperi di bawah tubuhnya. Butir bening di ujung matanya yang sedari tadi menumpuk kini telah tumpah ruah. Ia tak menyangka jika malam pertamanya harus diwarnai rasa sakit dan juga rasa takut kehilangan di saat bersamaan. 

“Maafin aku, Ca!” Ucap Rey sambil terus mengecup leher Ica yang menegang.

Meski tahu gadis itu kesakitan karena ulahnya, ia tak berniat berhenti menembus pertahanan gadis itu demi menjadi miliknya seutuhnya.

Ica hanya berbaring pasrah dan memandang sayu Rey yang terus melakukan gerakan-gerakan asing di atas tubuhnya hingga ia sendiri mulai merasakan kenyamanan dan kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tak berapa lama, mereka melenguh bersamaan hingga suara mereka memenuhi seluruh isi ruangan.

"Ca, aku cinta sama kamu!" Ucap Rey di sela nafasnya yang terengah sembari mengecup pelan kening Ica yang terbaring lemas di dadanya. Gadis itu hanya diam memeluk pinggang pria yang baru saja menyetubuhinya malam itu. 

Suara derasnya shower membangunkan Ica dini harinya. Rey rupanya sudah bergegas merapikan semua perlengkapan dan kopernya. Mata Ica kembali berkaca-kaca.

Sepanjang perjalanan menuju bandara, Ica masih terlihat sesenggukan dalam pelukan Rey. Meski kini mereka telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan, ternyata mereka juga tak bisa langsung bersatu. Dua tahun ke depan akan menjadi sebuah perjuangan bagi keduanya. Ica harus melepas kepergian Rey demi melanjutkan kuliahnya di German.    

“Jaga diri baik-baik, ya, sayang! Tunggu aku pulang. Kita akan bersama nanti!” Ujar lelaki itu sembari mencium kening dan bibir gadis tercintanya sesaat sebelum ia memasuki embarkasi keberangkatan di bandara Soeta pagi itu.

Mata Ica menatap kosong di sepanjang perjalanan pulangnya menuju Bandung. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa beberapa bulan lalu.

Waktu itu, papanya sudah tak bisa bekerja lagi seperti biasa. Kesehatannya menurun drastis akibat stroke yang dideritanya. Bahkan mereka harus menjual rumah di kawasan komplek dan membeli rumah yang lebih kecil demi bisa membiayai pengobatan sang papa.

Namun ujian keluarga mereka tak berhenti sampai disitu. Usai pindahan sang papa dipanggil yang Maha Kuasa. Kehidupan keluarga Ica pun berubah 180 derajat. Mamanya yang mengelola salon kecil, hanya bisa membantu membiayai kebutuhan sehari-hari dan juga kuliah kakaknya Faisal yang hampir lulus.

“Mama nggak tau Ca, apa kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi! Mungkin, kalau kalau kakak kamu Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu untuk bisa sekolah lagi!” Curahan hati mamanya satu hari setelah kelulusan SMA membuat Ica terpaksa mengurungkan niatnya untuk meminta biaya pendaftaran UMPTN yang seminggu lagi ditutup.

Gadis itu hanya bisa menangis di pojokan kamarnya yang kecil, tanpa bisa mengeluh pada siapa-siapa.

Biasanya Faisal akan menemaninya jika ia sedih. Tapi sejak papanya sakit dan Faisal mulai menjalankan usaha, waktu bersamanya berkurang. Mungkin karena bertambahnya tanggung jawab, hubungan kakak beradik itu pun mulai renggang. Faisal jarang pulang karena disibukkan dengan skripsinya.

Sosok Ica mulai menjalani kehidupannya dengan menyendiri di kamarnya, meski ia tak bisa menutupi kerinduannya pada sosok-sosok yang sebelumnya ia jadikan sandaran.

“Papa, kakak, apa yang harus kulakukan!” keluhnya seorang diri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

    "Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 24. Rasa Penasaran Yang Mengusik

    Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 23. Pagi Yang Sibuk

    "Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 22. Salah Paham

    Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

    “Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 20. Undangan Pengajian

    “Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status