LOGINBeberapa hari setelah kelulusan SMA-nya, Reni-sang mama menerima telepon dari tante Sherly, kawan dekat keluarga mereka saat di komplek, mengundang keluarga Ica ke acara syukuran putra tunggal mereka Reyhan yang baru lulus kuliah di ITB. Reyhan yang biasa dipanggil Rey itu memang mengenal Ica dan Faisal sejak kecil, bahkan ia satu angkatan dengan Faisal.
“Wah, Ica sudah lulus SMA ya, mau diteruskan kemana?” pertanyaan tante Sherly itu terasa begitu menghujamnya.
“Belum tahu, Tante!” Ica membalas dengan wajar, meski hatinya terasa ciut.
“Ical juga sebentar lagi lulus. Jurusan Managemen Unpad, ya?”
Ica hanya mengangguk mengiyakan. Jujur saja, ia sangat menginginkan untuk kuliah seperti kakaknya. Namun, ia tahu kondisi keuangan keluarganya saat ini sangat tidak memungkinkan.
Di ujung ruangan, dilihatnya Rey dan kakaknya Faisal sedang bersendau gurau. Mereka memang kawan bermain di komplek.
Gadis itu hanya melihat sesaat dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka karena takut mengganggu. Bagaimana pun situasinya kini telah berbeda jauh saat mereka kecil dulu.
Ica menuju halaman belakang, dan duduk menyendiri di sisi kolam ikan yang kini tampak lebih cantik dari terakhir kali ia sambangi. Ikan-ikan koi beraneka warna di kolam itu pun sudah bertambah besar dan nampak riuh menyambutnya.
Tanpa ragu ia mencelupkan jari-jarinya ke dalam air yang disambut mulut-mulut ikan yang menghampiri jemarinya dengan cepat layaknya makanan ikan. Senyumnya mengembang saat gerombolan ikan itu seolah mengenali kehadirannya. Tanpa ia sadari, keasyikannya itu menarik perhatian.
“Kok, sendirian disini, Ca?”
Ica terperanjat dengan suara yang berhembus dekat telinganya. Saat menoleh sosok asal suara itu tengah berada di belakangnya.
“Eh, Rey!” Suaranya tercekat tatkala matanya bersirobok. Entah sejak kapan, hatinya bergetar jika berada dekat cowok itu. Cepat-cepat ia membuang pandangannya ke arah lain saat cowok itu menatapnya lekat.
“Udah makan?” tanya Rey mencairkan suasana. Gadis itu cuma mengangguk pelan. Tampak gurat kegelisahan di wajah gadis itu, meski ia mencoba tutupi dengan senyum manisnya.
“Besok aku mulai mengurus surat-surat ke kantor imigrasi!” Terang Rey mencoba membuka pembicaraan. Ia pun kini selalu merasa grogi dan merasakan perasaan lain bila berada di dekat gadis itu.
“Oh, memangnya kamu mau kemana? Mau keluar negeri?” tanya Ica penasaran dan salah tingkah. Jarang-jarang ia bisa ngobrol lagi dengan Rey. Sejak keluarganya pindah rumah, ia dan kakaknya Faisal jarang main ke rumah itu.
“Rencananya, pengen ngelanjutin S2 ke Jerman sesuai bidang yang aku mau. Kamu sendiri, mau ngelanjutin kuliah kemana?” Tanya Rey sambil menebar pakan ikan ke kolam.
Ica hanya mengendikan bahunya menjawab pertanyaan Rey, yang terang membuat dadanya sedikit sesak.
Dalam hati, ia iri pada Rey yang bisa hidup enak dengan segala yang ia miliki. Selain karena dia anak laki-laki tunggal, ia bisa meminta apapun yang ia inginkan tanpa khawatir. Sedangkan dia, hanya seorang gadis yang dilahirkan dalam keluarga sederhana, dengan ayah yang baru saja tiada dan kini pun tak tahu arah dan tujuan.
“Heh, jangan ngelamun, ke dalam yuk!!” Ajakan Rey itu membuyarkan lamunan Ica.
Namun dari sorot matanya, Rey bisa menangkap gurat kesedihan yang tak terungkap dari wajah gadis itu
Dan saat itu pun tiba, Ica hanya bisa menatap wajahnya di cermin dengan pasrah.
Sehari setelah acara syukuran itu, kedua orang tua Rey tiba-tiba datang ke rumah .
“Selama ini keluarga kita sudah sedemikian dekat. Bahkan sebelum kita punya anak, hubungan keluarga kita sudah terjalin baik. Saya juga menyayangi Ica dan Ical seperti anak-anak saya sendiri.” Papar Sherly, mama Reyhan memulai pembicaraan.
“Iya betul, Jeng! Saya kesini juga melihat keluarga kita layaknya saudara dekat. Karena itu, kami bermaksud menjadikan ikatan keluarga kita makin erat lagi.” Tambah Yoga dengan wajah sumringah sambil melirik ke arah putranya yang duduk tegang.
Reni, Ica dan Faisal yang mendengar itu mulai bertanya-tanya.
“Jeng Reni juga tahu dan hapal, bagaimana Rey dan Ica sudah tumbuh bersama dari kecil. Dan beberapa hari lalu, setelah acara syukuran, Rey menyampaikan permintaannya kepada kami.”
“Permintaan? Permintaan apa, ya? Saya belum paham.” Tanya Reni sambil menduga-duga.
“Reyhan sebenarnya sudah suka dengan Ica. Rey ingin meminang Ica, Jeng! Itu kalau boleh, sebelum Rey pergi ke Jerman, Rey ingin menikahi Ica.”
“Apa? Menikah dengan Ica?” Reni langsung menoleh ke arah Ica yang melongo tak percaya.
“Waah, itu bagus sekali. Kita bisa jadi saudara ya om, tante!” Seru Faisal yang langsung berdiri karena senang.
“Tapi Ica baru lulus SMA? Dia masih kecil, belum tahu apa-apa?” Sanggah Reni. Meski ia juga sebenarnya senang mendengar maksud keluarga Rey itu. Minimal ia tak harus menanggung beban hidupnya terlampau berat jika Ica menikah nanti.
Reni dan Faisal tentu saja menyambut baik maksud keluarga Rey untuk menjadikan Ica sebagai menantu mereka. Hal itu menjadi berita gembira bagi mereka setelah menghadapi ujian pahit beberapa waktu sebelumnya.
“Abang yakin, kamu bisa menjaga nama baik keluarga, Ca! Abang berharap, keputusan yang terbaiklah yang keluar dari mulut kamu!” Ucapan Faisal mirip sebuah doktrin dan sama sekali tak membantunya untuk memilih. Toh pada akhirnya ia harus menerima keputusan lamaran mendadak itu.
"Tapi Ica kan baru lulus SMA, ma! Masa Ica langsung nikah? Kenapa coba bukan abang duluan yang nikah? Kenapa harus Ica?" Protes Ica setelah keluarga Rey pulang. Dia merasa keputusan itu adalah keputusan sepihak sang mama dan kakaknya Faisal.
"Ca, Ica, dengarkan mama, sayang! Setelah menikah, kamu bisa daftar kuliah, seperti cita-cita kamu. Mereka akan membiayai kuliah kamu. Mama juga jadi gak pusing memikirkan segala biaya. Faisal juga bisa kerja lebih tenang, skripsi dan usahanya. Ya, Ca! Nurut sama mama?"
Ica sudah tersedu mendengar hal itu dari mulut sang mama.
"Tapi Ica kan belum siap, Ma! Memangnya Rey suka sama Ica. Ica kan masih kecil, belum ngerti apa-apa, apalagi jadi istri." Tuturnya merajuk sambil duduk meringkuk di ranjang. Dia tak bisa membayangkan jika setelah menikah nanti akan seperti apa hidupnya.
"Kamu tenang aja, Ca! Rey itu udah suka sama kamu. Percaya deh sama abang!"
"Iya, Ca! Rey suka sama kamu. Lagipula nanti setelah menikah, Rey langsung pergi ke kuliah ke luar negeri. Semua gak ada yang berubah. Kamu masih bisa tinggal sama mama dan kamu bisa kuliah, Ca!" Sang mama mencoba meyakinkan.
Ica belia hanya bisa sesenggukan menatap mama dan abangnya. Dalam hati ia masih bimbang, kenapa dia yang harus menikah di saat krusial seperti ini. Apakah mereka tidak memikirkan perasaannya sedikit pun? Meski dia nanti bisa kuliah, namun akal sehatnya masih terus berpikir tentang alasan di balik keputusan itu.
"Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men
Rey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena
Rey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po
“Siapa?”“Maaf, bu! Room service!”Ica tak serta-merta membuka pintu, tapi mengaitkan kunci rantai.Setelah memastikan, ia baru membuka pintu dan mengambil pesanan makan malamnya.“Terima kasih. Ini tipnya.”Ica segera menutup dan mengunci pintu kamar.Malam ini ia ingin menjauh sejenak dari rutinitas barunya sebagai istri Rey dan menikmati malam dengan kesendiriannya yang terasa lain dari biasanya.“Haaah!” Napas panjangnya tanpa sadar keluar dari mulutnya.Biasanya saat di rumah, ia menanti waktu sendiri seperti itu dengan menonton drama sambil makan camilan dengan bebas. Namun, saat ini hati dan pikirannya seolah tak tenang.“Ayah bunda pasti khawatir,”gumamnya lalu mengubah posisi rebahan menjadi duduk.“Diiih, tapi aku masih gak terima kalau Rey beneran bohong. Lagian, ngapain si Cindy itu bisa ada di sini juga? Cis, bikin rusak suasana aja!” gerutunya lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan mengganti channel dramanya.“Duuh, sebel, sebel, sebel. Nyebelin!” teriaknya lalu me
Dari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l
Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari







