Beranda / Romansa / AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK / Bab 2. Kenapa Harus Menikah?

Share

Bab 2. Kenapa Harus Menikah?

Penulis: DNOV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-03 18:48:18

Beberapa hari setelah kelulusan SMA-nya, Reni-sang mama menerima telepon dari tante Sherly, kawan dekat keluarga mereka saat di komplek, mengundang keluarga Ica ke acara syukuran putra tunggal mereka Reyhan yang baru lulus kuliah di ITB. Reyhan yang biasa dipanggil Rey itu memang mengenal Ica dan Faisal sejak kecil, bahkan ia satu angkatan dengan Faisal.

“Wah, Ica sudah lulus SMA ya, mau diteruskan kemana?” pertanyaan tante Sherly itu terasa begitu menghujamnya. 

“Belum tahu, Tante!” Ica membalas dengan wajar, meski hatinya terasa ciut.

“Ical juga sebentar lagi lulus. Jurusan Managemen Unpad, ya?”

Ica hanya mengangguk mengiyakan. Jujur saja, ia sangat menginginkan untuk kuliah seperti kakaknya. Namun, ia tahu kondisi keuangan keluarganya saat ini sangat tidak memungkinkan.

Di ujung ruangan, dilihatnya Rey dan kakaknya Faisal sedang bersendau gurau. Mereka memang kawan bermain di komplek.

Gadis itu hanya melihat sesaat dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka karena takut mengganggu. Bagaimana pun situasinya kini telah berbeda jauh saat mereka kecil dulu.

Ica menuju halaman belakang, dan duduk menyendiri di sisi kolam ikan yang kini tampak lebih cantik dari terakhir kali ia sambangi. Ikan-ikan koi beraneka warna di kolam itu pun sudah bertambah besar dan nampak riuh menyambutnya.

Tanpa ragu ia mencelupkan jari-jarinya ke dalam air yang disambut mulut-mulut ikan yang menghampiri jemarinya dengan cepat layaknya makanan ikan. Senyumnya mengembang saat  gerombolan ikan itu seolah mengenali kehadirannya. Tanpa ia sadari, keasyikannya itu menarik perhatian.

“Kok, sendirian disini, Ca?”

Ica terperanjat dengan suara yang berhembus dekat telinganya. Saat menoleh sosok asal suara itu tengah berada di belakangnya.

“Eh, Rey!” Suaranya tercekat tatkala matanya bersirobok. Entah sejak kapan, hatinya bergetar jika berada dekat cowok itu. Cepat-cepat ia membuang pandangannya ke arah lain saat cowok itu menatapnya lekat.

“Udah makan?” tanya Rey mencairkan suasana. Gadis itu cuma mengangguk pelan. Tampak gurat kegelisahan di wajah gadis itu, meski ia mencoba tutupi dengan senyum manisnya.

“Besok aku mulai mengurus surat-surat ke kantor imigrasi!” Terang Rey mencoba membuka pembicaraan. Ia pun kini selalu merasa grogi dan merasakan perasaan lain bila berada di dekat gadis itu.

“Oh, memangnya kamu mau kemana? Mau keluar negeri?” tanya Ica penasaran dan salah tingkah. Jarang-jarang ia bisa ngobrol lagi dengan Rey. Sejak keluarganya pindah rumah, ia dan kakaknya Faisal jarang main ke rumah itu.

“Rencananya, pengen ngelanjutin S2 ke Jerman sesuai bidang yang aku mau. Kamu sendiri, mau ngelanjutin kuliah kemana?” Tanya Rey sambil menebar pakan ikan ke kolam.

Ica hanya mengendikan bahunya menjawab pertanyaan Rey, yang terang membuat dadanya sedikit sesak.

Dalam hati, ia iri pada Rey yang bisa hidup enak dengan segala yang ia miliki. Selain karena dia anak laki-laki tunggal, ia bisa meminta apapun yang ia inginkan tanpa khawatir. Sedangkan dia, hanya seorang gadis yang dilahirkan dalam keluarga sederhana, dengan ayah yang baru saja tiada dan kini pun tak tahu arah dan tujuan.

“Heh, jangan ngelamun, ke dalam yuk!!” Ajakan Rey itu membuyarkan lamunan Ica.

Namun dari sorot matanya, Rey bisa menangkap gurat kesedihan yang tak terungkap dari wajah gadis itu

Dan saat itu pun tiba, Ica hanya bisa menatap wajahnya di cermin dengan pasrah.

Sehari setelah acara syukuran itu, kedua orang tua Rey tiba-tiba datang ke rumah .

“Selama ini keluarga kita sudah sedemikian dekat. Bahkan sebelum kita punya anak, hubungan keluarga kita sudah terjalin baik. Saya juga menyayangi Ica dan Ical seperti anak-anak saya sendiri.” Papar Sherly, mama Reyhan memulai pembicaraan.

“Iya betul, Jeng! Saya kesini juga melihat keluarga kita layaknya saudara dekat. Karena itu, kami bermaksud menjadikan ikatan keluarga kita makin erat lagi.” Tambah Yoga dengan wajah sumringah sambil melirik ke arah putranya yang duduk tegang.

Reni, Ica dan Faisal yang mendengar itu mulai bertanya-tanya.  

“Jeng Reni juga tahu dan hapal, bagaimana Rey dan Ica sudah tumbuh bersama dari kecil. Dan beberapa hari lalu, setelah acara syukuran, Rey menyampaikan permintaannya kepada kami.”

“Permintaan? Permintaan apa, ya? Saya belum paham.” Tanya Reni sambil menduga-duga.

“Reyhan sebenarnya sudah suka dengan Ica. Rey ingin meminang Ica, Jeng! Itu kalau boleh, sebelum Rey pergi ke Jerman, Rey ingin menikahi Ica.”

“Apa? Menikah dengan Ica?” Reni langsung menoleh ke arah Ica yang melongo tak percaya.

“Waah, itu bagus sekali. Kita bisa jadi saudara ya om, tante!” Seru Faisal yang langsung berdiri karena senang.

“Tapi Ica baru lulus SMA? Dia masih kecil, belum tahu apa-apa?” Sanggah Reni.  Meski ia juga sebenarnya senang mendengar maksud keluarga Rey itu. Minimal ia tak harus menanggung beban hidupnya terlampau berat jika Ica menikah nanti.

Reni dan Faisal tentu saja menyambut baik maksud keluarga Rey untuk menjadikan Ica sebagai menantu mereka. Hal itu menjadi berita gembira bagi mereka setelah menghadapi ujian pahit beberapa waktu sebelumnya.

“Abang yakin, kamu bisa menjaga nama baik keluarga, Ca! Abang berharap, keputusan yang terbaiklah yang keluar dari mulut kamu!” Ucapan Faisal mirip sebuah doktrin dan sama sekali tak membantunya untuk memilih. Toh pada akhirnya ia harus menerima keputusan lamaran mendadak itu.

"Tapi Ica kan baru lulus SMA, ma! Masa Ica langsung nikah? Kenapa coba bukan abang duluan yang nikah? Kenapa harus Ica?" Protes Ica setelah keluarga Rey pulang. Dia merasa keputusan itu adalah keputusan sepihak sang mama dan kakaknya Faisal.

"Ca, Ica, dengarkan mama, sayang! Setelah menikah, kamu bisa daftar kuliah, seperti cita-cita kamu. Mereka akan membiayai kuliah kamu. Mama juga jadi gak pusing memikirkan segala biaya. Faisal juga bisa kerja lebih tenang, skripsi dan usahanya. Ya, Ca! Nurut sama mama?"

Ica sudah tersedu mendengar hal itu dari mulut sang mama.

"Tapi Ica kan belum siap, Ma! Memangnya Rey suka sama Ica. Ica kan masih kecil, belum ngerti apa-apa, apalagi jadi istri." Tuturnya merajuk sambil duduk meringkuk di ranjang. Dia tak bisa membayangkan jika setelah menikah nanti akan seperti apa hidupnya.

"Kamu tenang aja, Ca! Rey itu udah suka sama kamu. Percaya deh sama abang!"

"Iya, Ca! Rey suka sama kamu. Lagipula nanti setelah menikah, Rey langsung pergi ke kuliah ke luar negeri. Semua gak ada yang berubah. Kamu masih bisa tinggal sama mama dan kamu bisa kuliah, Ca!" Sang mama mencoba meyakinkan.

Ica belia hanya bisa sesenggukan menatap mama dan abangnya. Dalam hati ia masih bimbang, kenapa dia yang harus menikah di saat krusial seperti ini. Apakah mereka tidak memikirkan perasaannya sedikit pun? Meski dia nanti bisa kuliah, namun akal sehatnya masih terus berpikir tentang alasan di balik keputusan itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 25. Merajuk Berakhir Sebuah Kompensasi

    "Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 24. Rasa Penasaran Yang Mengusik

    Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 23. Pagi Yang Sibuk

    "Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 22. Salah Paham

    Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 21. Awal Mula Rasa Iri

    “Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 20. Undangan Pengajian

    “Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status