MasukIca tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.
Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.
Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.
“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.
“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.
“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”
Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan meninggalkan perih di kemaluannya.
Ica memandang Rey sambil mengelus dada kekar pria itu. “Apakah akan sesakit dulu?” tanyanya polos.
Meski telah berlalu dua tahun lamanya sejak malam pertamanya dulu, Ica masih ingat, ia harus berjalan pelan dan tertatih setelah mengantar Rey pergi.
Rey mengecup hidung Ica gemas.
“Aku pelan-pelan, sayang, asal kamu gak teriak.” Bisik Rey dengan nafas yang menderu dan langsung kembali melancarkan aksinya.
Ica hanya mengkerut dan memejamkan matanya. Mau bagaimana lagi? Ia tak bisa menolak keinginan lelaki yang telah menjadi suaminya itu, bahkan malam itu ia menarik setiap helai kain di tubuhnya, dan siap dengan senjata ampuhnya. Ia pasrah dan kembali terbuai dengan permainan bibir Rey di depan tubuhnya yang membuat perut bawahnya berdesir geli dan mengharap sentuhan lebih.
Ia kini menikmati gerakan pria itu yang terus membubuhi bibirnya dengan hisapan yang memabukkan. Tak lagi ia rasakan sakit tatkala lelaki itu bermain di bawah tubuhnya, bahkan ia mencapai kenikmatan yang membuatnya pusing untuk kesekian kalinya, meski ia harus menggigit spray demi menutupi setiap erangannya.
Rey mendekap tubuh Ica yang terkulai lemas. Diciuminya rambut dan tengkuk gadis itu sepuasnya. Akhirnya malam itu ia bisa merasakan kembali hormon oksitosin memenuhi tubuhnya.
Paginya, Ica hampir kesiangan, jika saja Rey tak membangunkannya dengan ciuman di lehernya. Setengah malu, ia menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Hari ini, aku sudah memesan jasa pindahan. Jadi kamu pergi saja ke kampus seperti biasa, biar mereka yang beres-beres. Sore nanti, aku jemput kamu di kampus dan kita pindah ke rumah kita.”
“Rumah kita?” Rasa penasaran memaksa Ica terduduk sambil mengusap matanya. Rey setengah tertawa lalu mengelus kepala Ica sambil mengangguk. Senyum Ica pun merekah.
“Kalau gitu, aku mandi dulu.” Ica langsung melompat dari ranjang menuju kamar mandi, tanpa mempedulikan lagi tubuh tak berkainnya di depan Rey yang melongok tak percaya dengan tingkah istri polosnya itu.
Ica masuk ke dalam sebuah mobil Avanza hitam di pelataran parkir dekanat. Ia hapal betul mobil itu milih mama mertuanya di Bandung.
“Maaf, sudah lama nunggu?”
“Enggak. Ada sepuluh menitan. Kamu sudah makan?”
Ica menggeleng halus.
“Mau makan apa?” Rey menyalakan mesin mobil.
“Eeeem…yang jelas nasi. Soalnya tadi pagi cuma sempet makan roti. Oh iya, kalau nasi padang langganan aku mau gak. Di jalan keluar kampus.”
“OK!” Rey segera menjalankan mobilnya.
“Di German ada juga nasi padang gak?”
“Ada. Semua makanan khas di sini ada, Cuma harus pintar-pintar cari tempatnya. Kalau pun ada, harganya lumayan.”
“Ooh, gitu!” Ica manggut-manggut.
“Seatbeltnya dong, sayang!”
“Oh, iya!” Ica segera mengenakan seatbeltnya meski wajahnya merona karena belum terbiasa dipanggil ‘sayang’.
“Kenapa? Kok, muka kamu merah gitu?”
“Enggak, kok! Mungkin tadi kepanasan.”
“Tadi masuk mobil gak merah, kok!”
“Udah lihat ke depan, Rey!”
Rey pun hanya tertawa geli.
Saat mereka tiba di rumah makan padang langganan Ica, mau tak mau mereka harus mengantri karena tepat jam makan siang dimana banyak kalangan mahasiswa yang makan siang di tempat itu.
“Kamu cari meja kosong. Aku pesankan! Kamu mau apa?”
“Aku rendang aja. Sambalnya sambal hijau.” Sahut Ica sambil lalu mencari kursi yang masih kosong di dalam.
Tak berapa lama, Rey datang dengan dua piring di tangannya.
“Wow, sepertinya enak, makanya penuh begini, ya!” Puji Rey.
“Makasih!”
“Ayo, makan, sayang!”
Deg. Ica kembali merona. Lagi-lagi, Rey memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Mau tak mau, beberapa mahasiswa yang sedang makan menoleh ke arah mereka.
Ica hanya menunduk.
“Rey, please! Stop calling me like that!” Ica berbisik di bahu Rey sambil menarik lengan kemejanya.
“What?” Rey menaikkan alisnya tak mengerti. Ica akhirnya menarik kembali tubuhnya dan buru-buru menyantap makanannya.
Selesai makan, Rey menuju kasir diikuti Ica.
“Sayang, tunggu di mobil, ya!”
Ica langsung buru-buru keluar rumah makan. Ia tak tahan melihat mata orang-orang yang melirik ke arahnya karena panggilan ‘sayang’ Rey yang begitu mencolok itu.
Duh, Rey! Kenapa sih, pakai panggil-panggil begitu. Ica menunggu di sisi jalan karena mobil masih terkunci.
Di dalam mobil, Ica memilih diam merapat ke sisi pintu. Awalnya Rey pikir tidak terjadi apa-apa dan ia mengemudi dengan tenangnya. Namun lama-lama ia penasaran. Tak seperti biasanya Ica berubah jadi pendiam seperti itu.
“Kok, diam aja! Kenapa?”
Ica masih enggan menjawab dan hanya menggeleng.
“Kalau masih ngantuk, tidur aja, sayang!”
“Rey, jangan panggil-panggil aku gitu, dong!” Nada Ica terdengar sewot.
“Hah…apa?”
“Panggil aja aku Ica, seperti biasa. Jangan pake, sayang sayang?”
Rey tiba-tiba tertawa.
“Oooh, jadi itu tadi maksud kamu di rumah makan?”
Ica mengangguk sambil manyun.
Rey yang masih tertawa mengelus kepala Ica.
“Itu tuh sunah lho, Ca!”
“Iya, tapi jangan di tempat umum juga. Aku tadi dilihatin orang-orang kampus.”
“Ca, kalau di luar negeri, kata-kata itu malah lumrah di tempat umum.”
Ica menunduk lalu melirik ke arah Rey.
“Tapi kita ini kan di Indonesia. Masyarakatnya masih awam dan kamu tahu sendiri. Pernikahan di kalangan mahasiswa aja dianggap terlalu aneh.”
Rey hanya tersenyum mendengar penjelasan Ica sambil tetap memperhatikan jalanan.
“Terus kamu mau dipanggil apa? Aku senang kok, sekarang bisa panggil kamu, sayang, honey, baby! Kamu pilih salah satu!’
“Itu mah sama aja!” Ica kembali memberengut lantas membuang muka.
Rey tertawa kecil. Ia dan Ica memang masih harus saling membiasakan diri karena mereka baru memulai hidup bersama. Meski pun mereka telah mengenal sejak kecil, namun kehidupan sebagai suami istri barulah dimulai. Hal-hal kecil seperti ini bisa jadi penyulut masalah di antara mereka. Rey masih harus belajar memahami perempuan di sampingnya itu, minimal melihat dari kacamata Ica sebagai seorang istri.
Ica terbangun ketika Rey menyentuh pundaknya.
"Dimana ini, Rey?"
Ica tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan menin
Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.“Darimana saja?”Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu diken
Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menun
“Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil."Tunggu aku di mobil, ya!"Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.*Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh.“Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey.“Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan, ini kan habis shalat. Gara-gara kamu juga, aku nggak bisa tidur!” sungut Ica sambil membenahi mukenanya. Rey hanya tersenyum mendengar Ica yang bersungut-sungut sejak bangun tidur tadi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Ica yang merebahkan dirinya kembali ke ranjang.Suara ribut-ribut diluar dan ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Ica melompat dari ranjangnya. Dengan enggan ia membuka pintu tanpa tahu apa yang terjadi.“Keluar….sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini. Saya tidak mau menerima mahasiswa model kamu! Saya tidak bisa terima!!” Sebuah suara sentakan dari wanita setengah baya di luar pintu kamar sontak membuat Ica terperanjat. Ucapan itu terlontar dari ibu k
Masih memandangi sebuah bingkai foto di atas kasurnya, mata Ica menerawang seolah ingin memasuki dunia di dalam foto itu. Sesekali ia mengusap ujung matanya yang basah sejak ia duduk di ranjangnya. Pensil yang ia pegang sedari tadi tidak menggoreskan kata sedikit pun di lembaran diari mungilnya.Flashback InPrang!!“Huuu…….huwaaaa……!”Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan.“Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil sesenggukan.“Aduh mas Rey, hati-hati!” Teriak seorang asisten rumah tangga yang tergopoh-gopoh masuk dari arah dapur. Ia segera mengambil pecahan kaca yang dipegang Rey.“Aduh!” Jari manis Rey tiba-tiba tergores.“Aduh, mas, cepet dikasih obat merah!” Wanita baya itu menggiring Rey dan Ica duduk di sofa. Ica memegangi tangan Rey yang masih mengeluarkan darah. Tiba-tiba, Ica memasukan jari Rey itu kedala







