Masuk“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.
Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.
“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, dilihatnya Anggi hanya manggut. Lagipula, tujuannya ikut ke pantai ini kan memang untuk menenangkan diri, meski sebenarnya, ia agak tergesa, dan memilih untuk tidak mengatakan apa-apa pada Rey yang waktu itu sedang ke Bandung.
“Haaah!” Gadis itu menghembuskan nafasnya keras, seolah ingin mengeluarkan seluruh keluh kesah yang menggantung di hatinya. Ternyata, meski pergi ke tempat yang jauh pun, perasaannya tak kunjung membaik. Apalagi ia membayangkan, seluruh orang-orang yang ia tinggalkan sekarang ini sedang mengkhawatirkan keberadaanya yang tidak jelas.
“Selama ini, aku mengira, kamu sudah bisa melepaskan sifat kekanak-kanakanmu, Ca! Tapi, aku dengar, kau masih mengigau tentang aku.” Mata Ica membelalak mendengar ucapan kakaknya Faisal, lalu mendongak ke arah Rey yang berada tak begitu jauh. Saat itu Rey hanya menatap tak mengerti.“Aku…aku kan cuma mimpi, kak. Kenapa dibesar-besarkan begini. Aku gak ngerti jadinya!”kilahnya agak kesal.Ia ingat lagi kejadian tempo hari saat bertemu Faisal. Kesal juga karena Rey membicarakan hal itu pada kakaknya yang dirasanya sudah berubah. Kesal karena baru saja sampai, ia sudah mendengar hal-hal yang tidak mengenakan hatinya. Kejadian sore itu masih tampak jelas dalam pikirannya.
Apakah aku hanya sebuah alat saja? Apakah semua ini nyata atau hanya sebuah mimpi? Tidak adakah yang mengerti perasaannya yang sejak dulu begitu tertahan, terkekang oleh sesuatu, yang entah apa itu, seolah terombang-ambing ke sana kemari, menanti sesuatu menghentikan lelahnya yang bertahun-tahun ini membuat tidurnya tak nyenyak.
“Ca! Ica!” Suara yang tak lain Anggi membuyarkan lamunannya.“Kenapa Ca? Pusing ya?” Tanyanya lagi. Gadis itu seolah memahami situasi yang sedang Ica hadapi.
“Enggak, aku gak papa kok! Oya, sorry banget, aku malah ganggu liburan kamu sama Leo.” Ica berusaha mengalihkan perhatian.
“Yee…ganggu apaan? Justru, gua seneng lo ikut, lagian kita ke sini buat refreshing lah, habis UAS. Kalo cuma gua berdua ma Leo, wah bisa gawat kalo terjadi hal-hal yang….yaa lo taulah. Makanya gua ngajak lo! Lo juga kayaknya lagi kusut, butuh healing ya, Ca?” Anggi menimpali panjang lebar. Tapi, tetap saja, Ica tak terpengaruh, mukanya yang murung makin terlihat khawatir.
“Ca, kalo elo mo pulang, kita pulang aja besok. Kayaknya elo banyak masalah, bukannya lari ke sini.” Ucapan Anggi itu begitu mengena di hatinya. Semua ada benarnya, tapi entahlah, dia tidak terlalu yakin.
“Sebenarnya, aku ke sini juga, Rey gak tau, makanya aku rada khawatir gitu!” Ica jujur.
“Hah! Serius, Ca!" Pekik Anggi.
"Pantesan aja, sejak dateng, lu seharian murung, lu ternyata kabur, ye? Alah Ca, masak sih, gara-gara yang namanya Rey itu, lu jadi kusut gini?” Ica tersenyum mendengar itu.
“Dia suami aku, Nggi!"
"Gua kaget pas kemaren lo bilang kalo udah nikah. Beneran itu, kan!" Tegas Anggi dibalas anggukan Ica dibalut senyum tipis.
"Pantes lu gak mau pacaran. Jadi, waktu kamu masuk kampus, kamu tuh sebenarnya udah nikah, udah gak perawan, dong!"
"Huss...sst...Gi, kamu apaan sih, berisik!" Ica membekap mulut ember Anggi. Anggi hanya cekikikan.
"Yang jelas, aku nikah sebelum UMPTN. Trus data diri yang aku pakai waktu itu juga masih KTP lama, belum kawin."
"Kok, lu bisa lolos sih?"
"Maksudnya lolos apaan?"
"Lolos dari interogasi senior, dekanat juga."
"Kan waktu itu, surat-surat nikahnya belum lengkap semua."
"Lu nikah siri, gitu ya?"
"Ya, enggak juga. Ada kok buku nikah juga!"
"Eh, mana-mana? Gua pengen lihat, dong!"
"Ya, entar lah, masa aku bawa-bawa. Kemarin sih dibawa Rey, buat ditunjukin ke ibu kos. Habisnya Rey datang gak bilang-bilang, malam lagi. Paginya aku digedor orang sekos." Ungkap Ica sambil memberengut. Anggi malah makin terbahak-bahak mendengar cerita Ica.
"Aslinya, Ca! Temen gua yang polos ini dilabrak ibu kos, dikira zina!"
"Anggi, berisik ah!" Ica membekap mulut Anggi lagi. Meski akhirnya mereka cekikikan.
“Tapi bener, Ca! Kamu berarti udah ‘gituan’, kan!”
“Anggi!!” Pekik Ica tertahan sambil membekap dan mencubit sohibnya yang ember itu. Anggi hanya menahan cekikikannya.
"Bisa jadi, ini perjalanan terakhir kita, Gi! Besok-besok, aku pasti bareng Rey terus.” Terang Ica ditanggapi Anggi langsung memberengut.
“Iye juga, ya! Awas ya, kalau lu ngelupain gua. Jangan sampe di Bandung gua kena damprat laki lo!” Sungut Anggi disambut tawa Ica. Namun beberapa saat kemudian wajahnya kembali datar.
“Enggak lah, Nggi! Dia orangnya baik, kok!”
“Eh…jangan-jangan…lo udah kangen, ya? Pengen ada yang belai-belai sama peluk-peluk.”Anggi kembali mencandai sambil mengelus-elus rambut panjang Ica.
“Apaan sih?” Wajah Ica merona seketika. Ya, mungkin saja.
Setelah kedatangan Rey, kesendiriannya kini terasa berbeda. Keberadaan Rey beberapa hari kemarin membuat perasaannya tak sebebas ketika Rey berada di German. Apa mungkin karena perhatian-perhatian dari Rey? Walau hanya perhatian kecil, Ica bisa merasakan ketulusan dari lelaki itu.
Hampir tengah malam, Anggi dan pacarnya Leo menurunkan Ica di muka jalan depan kostan. Ica berjalan menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.
Ia hanya membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tiba-tiba berhenti pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.
Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin cowok itu sengaja meninggalkannya di sini, pikirnya.
“Darimana saja?”
"Ayah, Bunda, kami pergi dulu, ya! Maaf, gak bisa nginep dulu. Rey udah ada janji sama orang.""Ya, sudah gak pa pa. Kenapa gak ajak Ica? Ica kasihan kan, ditinggal sendirian di rumah," protes Sherly saat mengantar anak dan menantunya itu ke depan rumah. "Enggak, bun! Ica gak pa pa, kok! Lagian sampe rumah paling Ica masuk kamar,"terang Ica."Atau, Ica nginep aja di sini, gimana?" tawar Sherly.Rey langsung berbalik,"Bun, please deh! Jangan ganggu honeymoon aku sama Ica!" Rey menarik bahu Ica mendekat ke arahnya. Ica hanya terkekeh. "Ciyeee, yang masih honeymoon, gak mau diganggu segala. Awas, jangan kelewatan!" Ucapan Sherly itu sambil mengedipkan sebelah mata menggoda. Ica menahan geli melihat ibu dan anak di hadapannya itu saling bercanda. Pemandangan yang untuk sesaat membuatnya bahagia. Namun, setelah berada di mobil, Ica kembali duduk terdiam. Malam itu, Rey sengaja meminjam mobil ayahnya untuk mengantar Ica pulang dan janji menemui kawannya. "Sayang, kamu kenapa? Perasaan,
Setelah Dzuhur, Ica tampak merapikan make-upnya dan Rey baru keluar dari ruang ganti. "Nanti kita mampir ke kios buah dulu, ya!" pinta Ica. "Terserah. Kalau aku bilang enggak, nanti kamu ngambek!" jawab Rey seperti enggan. Ica memperhatikan sikap Rey yang terlihat aneh dari pantulan cermin. Padahal biasanya cowok itu akan merangkul atau segera menempel padanya. Apa dia masih kelelahan hanya karena menjemur pakaian? pikirnya. "Ngapain aku ngambek. Cuma gak enak aja, kalau bunda ke sini segala dibawa, masa kita ke sana gak bawa apa-apa," terang Ica lalu segera mengambil tas slempangnya.Rey tak menjawab dan hanya melengos menuju pintu, "Ayo! Aku panasin mobil dulu, ya!""Hah, mobil? Mobil yang mana?" Ica kaget. Baik Ica maupun Rey saling berpandangan. "Eh, iya! Kita kan belum punya mobil," lontar Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mobil yang biasa mereka pakai sebelumnya adalah mobil ayah bundanya, yang kemarin setelah syukuran, mobil itu dibawa kembali sang ayah."Kan, kemarin
"Hari ini, kita mau ke mana?" tanya Rey tiba-tiba setelah menghabiskan sarapannya. Ica menarik napasnya sambil menggelengkan kepala."Aku mau mencuci baju. Pakaian kotor udah numpuk banget.""Eem, gimana kalau kita ambil ART? Aku gak mau kamu kecapean hanya gara-gara urusan rumah.""Rey, kita kan cuma berdua di rumah ini. Belum butuh ART. Aku sih berharap bisa belajar melakoni jadi istri kamu apa adanya. Lagian sekarang aku kan sedang libur," terang Ica lalu meneguk gelas susunya.Rey hanya mengangguk-angguk kepalanya saat Ica mulai membereskan piring dan gelas kotor.Benar juga kata Ica. Dia dan Ica masih baru bersatu setelah menikah. Pekerjaan di rumah itu belum terlalu banyak dan repot jika dilakukan berdua, sehingga belum butuh ART. Lagipula, mereka masih harus menikmati quality time berdua sebagai suami istri. Dia dan Ica masih harus membiasakan diri menjadi pasangan suami istri di rumah mereka yang baru.Hanya saja, tingkah Ica pagi ini agak aneh, pikir Rey.Derrrt. Ponsel Rey be
Ica tengah membereskan sisa makan malam lalu hendak mencuci piring saat Rey tiba-tiba merangkul dan menahan tangannya. "Udah, kamu duluan ke atas. Biar aku yang bersih-bersih!" Rey mencuci tangan Ica, lalu menggeser tubuh Ica ke sampingnya. Ica hanya melongo heran. "Ya, udah, aku mau shalat Isya duluan, ya! Pintu-pintu sudah dikunci, kan?""Iya. Tenang aja, setelah makan malam urusan di bawah serahkan sama aku. Kamu udah, sana istirahat!Tunggu aku, ya!"Deg. Ica seketika tersentil mendengar Rey mengatakan itu. Apalagi urusan paket siang tadi lumayan membuatnya terkaget-kaget. Tak mau menduga-duga, Ica buru-buru naik ke atas sambil sesekali menengok ke arah Rey yang tengah serius mencuci piring. "Rey, siapa yang mengirimkan paket barang seperti ini?" pekik Ica siang tadi."Itu… itu hadiah prank dari temanku di Jerman. Mereka tahu aku sudah menikah, dan tahu aku pulang pasti menemui kamu. Jadi, ya ... begitulah! Mereka hanya bercanda, Ca!""Bercanda tapi kok begini?""Ca, mereka cum
“Gua gak percaya, dia bakal lebih sukses dari gua. Padahal usaha gua udah mulai lebih dulu dari dia.”Faisal memukul tangannya ke dinding kamarnya. Asap tebal mengepul dari mulutnya. Beberapa hari sejak ia kembali dari Batam, emosinya mencuat. Ia tak menyangka Rey akan sesukses sekarang.Memang tak banyak yang tahu bahwa Rey sudah mendirikan perusahaan sejak kuliah kecuali kedua orang tuanya. Rey dan beberapa kawan kampusnya mulai membangun usaha di bidang IT. Perusahaan bernama WebIndo adalah perusahaan yang bergerak di bidang Website Development, Cloud Hosting Provider dan Digital Marketing. Sebagai pencetus dan penggeraknya, Rey dipercaya kawan-kawan seperjuangannya untuk menjadi CEO.Saat Rey melanjutkan studinya ke Jerman, Rey juga sengaja belajar mengembangkan bisnisnya di luar negeri dengan mencari rekanan dan peluang baru. Tak sampai satu tahun, ia sudah berhasil mendapatkan investor sehingga perusahaannya kini berkembang pesat. Ia juga sedikit demi sedikit membangun kantor kh
“Assalamu’alaikum, dek!" Ica segera menoleh ke asal suara. Baru saja ia akan membuka pintu, seorang ibu menghampirinya dari arah jalan. “Wa’alaikumsalam. Ya bu!”“Maaf, mengganggu sebentar. Perkenalkan, saya Bu Ina. Saya dari DKM masjid di belakang rumah mbanya. Saya mau menyerahkan undangan pengajian rutin. Untuk undangan kemarin, kami ucapkan terima kasih ya, dek!”“Oh, iya, Bu, maaf, silakan masuk dulu!”“Ah, tidak usah, dek! Nanti malam Jumat ditunggu kedatangannya, ya! Apalagi adek orang baru, nanti bisa kenal dengan ibu-ibu pengajian di kompleks ini.”“Baik, Bu! Terima kasih atas undangannya.”“Saya pamit dulu ya, dek! Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam.”Ica pun akhirnya masuk dan menutup pintu sambil memegangi paket dan membuka lembaran undangan di tangannya.“Siapa sayang!” tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas.“Itu ibu-ibu pengajian masjid sini. Katanya nanti malam Jumat ada pengajian.” Ica duduk di sofa sambil membaca isi undangan, disusul Rey yang ikut duduk







