مشاركة

BAB 7

مؤلف: Nay Azzikra
last update تاريخ النشر: 2026-09-12 11:44:05

BAB 7

Nizar diam belum memberikan jawaban. Aku melirik jam sudah pukul lima sore.

“Aku pamit, Pak Nizar. Salam untuk Aurell,” ucapku sambil bangun dari kursi.

“Dua puluh lima persen, deal, Nara?”

“Saya permisi, Pak.”

“Tiga puluh persen.” Pak Nizar terus menaikkan angka, tetapi aku tetap pada pendirian.

Aku mengangguk sopan, lalu melangkah pergi.

“Nara, aku tidak menyangka kalau kamu punya niat sejauh itu ingin memanfaatkan keadaan ini.”

“Aku memanfaatkan keadaan? Bukan aku yang mengajak kerjasa
Nay Azzikra

Jika ada yang mengikuti cerita ini, mohon beri komentar ya ....

| إعجاب
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 8

    BAB 8Kami berdua berangkat ke kantor notaris naik mobil Nizar. Sepanjang perjalanan aku diam, mendengarkan Nizar yang sibuk dengan telepon dari beberapa kontraktor.Sampai di kantor notaris, Nizar menyampaikan keinginan dia dan rencana kami. Tidak ada yang berubah angkanya. Tetap lima puluh lima puluh.“Boleh lihat sertifikat tanahnya. Harus saya periksa agar tidak terjadi masalah di kemudian hari,” kata Notaris yang bernama Pak Angga itu.Nizar menyodorkan sertifikat. Lama kami menunggu. Pak Angga berkali-kali mengetik sesuatu di layar komputer.“Tanah ini dulunya satu sertifikat, tetapi sekarang sudah dipecah jadi tiga ya?”“Iya mungkin, Pak. Saya tidak tahu karena itu tanah hasil pemberian mertua saya. Sebelah kanan dan kiri memang sudah jadi milik adik dan mertua saya,” jawab Nizar.Aku pura-pura santai, padahal dadaku bergemuruh ingin mengetahui tentgang informasi penting lainnya.“Sertifikat atas nama Hendro Rahmawan, tetapi awalnya bukan itu namanya. Sertifikat awal atas nama

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 7

    BAB 7Nizar diam belum memberikan jawaban. Aku melirik jam sudah pukul lima sore.“Aku pamit, Pak Nizar. Salam untuk Aurell,” ucapku sambil bangun dari kursi.“Dua puluh lima persen, deal, Nara?”“Saya permisi, Pak.”“Tiga puluh persen.” Pak Nizar terus menaikkan angka, tetapi aku tetap pada pendirian.Aku mengangguk sopan, lalu melangkah pergi.“Nara, aku tidak menyangka kalau kamu punya niat sejauh itu ingin memanfaatkan keadaan ini.”“Aku memanfaatkan keadaan? Bukan aku yang mengajak kerjasama ini, Pak. Anda yang menawarkan. Jika iya, sepakat, maka terjadi. Jika tidak, aku tidak merasa rugi.”Langkah ku percepat meninggalkan caffe menuju jalan besar untuk mencari taxi. Tak ku sangka, Nizar berlari mengejar.“Ikut aku ke rumah sakit. Tolong, Nara. Adisti sadar. Aku tidak bisa menghadapi situasi ini sendiri. Aku aku butuh teman ....” Nizar menunduk dengan wajah yang menangis.“Aku tidak mau Anda mengatakan aku sedang memanfaatkan situasi. Hadapi sendiri, Pak! Jangan libatkan orang la

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 6

    BAB 6“Wanita pilihanku adalah Adisti. Gadis cantik, pintar, dan ulet. Dia tinggal dengan neneknya karena ibunya sudah meninggal, sementara ayahnya pergi menikah lagi. Aku tidak bisa meninggalkan Adisti karena selain cinta, aku juga sangat kasihan. Dia kuliah dengan bekerja sendiri dan mengandalkan beasiswa. Adisti tahu jika aku dijodohkan. Dia ikhlas jika kami akhirnya tidak bersama,” ucap Nizar sambil menoleh memandangku.Nizar berhenti bercerita. Ia menangis sesenggukan.“Ayah mengancam akan membuat hidup Adisti sengsara jika aku menolak. Aku masih berhubungan dengan Adisti meski sudah dijodohkan. Aku berharap ada keajaiban yang membuat perjodohan itu batal. Suatu ketika nenek Adisti meninggal, dan yang lebih parah dia divonis terkena kanker paru-paru.”Aku masih diam.“Aku menikahi Adisti tanpa sepengetahuan keluarga. Adisti menolak, tetapi aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan serapuh itu. Aku membawa dia ke luar pulau Jawa. Hidup berdua di sana dan keluargaku tidak tahu

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 5

    BAB 5Ternyata kami menuju lantai yang sama. Saat aku keluar dari lift, Nizar memandangku dengan pandangan yang seperti memohon untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikannya. Aku cuek, pura-pura tidak saling kenal.“Papa, Mama, nanti kita akan berenang bersama. Papa, jangan pergi-pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Aurell terus. Kasihan Mama sering nangis sendirian kalau Papa enggak pulang.”Aurell masih kecil, tetapi berbicaranya jelas sekali.Aku masuk kamar dan pikiran ini sibuk menerka tentang status Nizar. Tasya, tidak ada hidup yang sempurna. Kamu menganggap jika dirimu sudah mendapatkan semua, tetapi ternyata, lelaki yang menikah denganmu dia menyembunyikan rahasia besar. Aku yakin, setelah ini Nizar akan menceritakan tentang apa yang ia sembunyikan.Udara di luar sepertinya sejuk. Aku berjalan menuju balkon untuk menikmatinya. Saat berpaling ke arah kanan, tak disangka, Nizar berdiri di sana mengamati. Wajahku segera berpaling ke arah lain.Kenapa kamu ada di hotel ini?Kamu tid

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 4

    BAB 4Pagi aku sudah sampai kantor. Menata meja, membersihkan ruangan, lalu duduk santai sambil mengerjakan administrasi yang berkaitan dengan bagianku.Cleaning servis yang baru datang kaget, melihat ruangan sudah bersih.“Mbak ngepel sendiri?”Aku mengangguk sambil tersenyum.“Mbak, lain kali jangan ya! Nanti aku dimarahi Pak Adnan.”“Aku tidak akan lapor.”“Aku sudah mendengar.” Pak Adnan tiba-tiba masuk ruangan.“Jangan marah sama dia. Marah sama aku saja!” ucapku memasang wajah kesal.“Kamu beli furniture untuk ruangan bos yang baru selesai direnovasi.”“Baik, Pak. Mohon share alamat toko yang Bapak inginkan.” Aku menjawab sambil merapikan tas untuk dibawa pergi.“Kamu akan membeli sama aku.”“Jika saya yang harus memilih barangnya, saya bisa pergi sendiri atau diantar Pak Abdul. Tetapi kalau harus Pak Adnan yang memilih barangnya, mohon maaf, Pak, cukup Bapak yang pergi sendiri sepertinya.”Aku kembali duduk.“Ok, kamu berangkat sama Pak Abdul.” Pak Adnan berlalu pergi.Akhirnya

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 3

    BAB 3Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.“Tapi pasti datang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status