Home / Romansa / ALARICK / Alarick Part 7

Share

Alarick Part 7

last update Petsa ng paglalathala: 2021-05-26 15:17:36

“Jadi mulai dari mana kau akan bercerita?” Ya, Lovetta datang ke rumah sakit setelah Nerissa menghubunginya. Tangannya sibuk mengupas buah jeruk yang barusan dia bawa.

“Rasanya aku tak perlu mengatakan apapun padamu.” Dengan tenang Nerissa mengambil sepotong jeruk yang diberikan Lovetta.

“Kau ingin mati?!” Raut wajah Lovetta sukses membuat Nerissa terkekeh.

“Ya benar. Bagaimana kau bisa tahu jika aku ingin mati?” Untuk kesekian kalinya Lovetta dikejutkan dengan perkataan Nerissa.

“Apa maksudmu?” Tak hanya memberikannya pada Nerissa, gadis itu juga memakan buah jeruk yang sudah dia kupas.

“Apa lagi yang bisa ku lakukan selain bunuh diri untuk menggagalkan perjodohan ini?” Lovetta benar-benar tak habis pikir dengan temannya ini.

“Lakukan saja, pernikahan itu. Lagipula kau bisa bercerai jika sudah memiliki beberapa bukti kekasaran Alarick padamu.” Dengan lancarnya gadis itu memberikan saran pada Nerissa. Hal itu juga pernah terlintas di pikirannya. Jika sekarang dia tak memiliki alasan untuk menolak pernikahannya maka jika dia telah menikah dan Alarick melakukan sesuatu yang tak sepantasnya, dia bisa dengan mudah menggugat pria itu.

“Haruskah?” Netra Nerissa beradu dengan pandangan Lovetta. Kedua gadis itu terkekeh kemudian.

Pintu terbuka menampilkan sosok cantik dengan perban kecil di pelipisnya. Gadis itu tersenyum canggung ke arah Nerissa. Entah bagaimana dia harus memulai percakapannya.

Nerissa dan Lovetta sendiri memandang gadis itu bingung. Mereka tak mengenalnya.

“Permisi Nona. Mohon maaf sebelumnya, saya orang yang menabrak Anda. Nama saya Raquil, sekali lagi saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini.” Gadis bernama Raquil itu membungkukan badannya.

“Ah kau? Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku yang melompat ke arah mobilmu dan menyebabkanmu terluka. Katakanlah jika aku harus menganti rugi padamu.” Nerissa berusaha mendapatkan maaf dari gadis itu.

“Tak apa Nona, apakah keadaan Anda sudah membaik?” Raquil sudah mulai tebiasa dengan Nerissa, mungkin karena kepribadian gadis itu yang gampang bergaul atau mungkin karena dia seorang dokter?

“Hmm aku baik-baik saja dan bisakah kau berbicara santai saja? Aku pikir usia kita tak terpaut begitu jauh,” ucap Nerissa tersenyum.

“Ah baiklah Nerissa.” Gadis berkulit putih itu tersenyum walau sedikit canggung.

“Kau mengenalku?”

“Tentu saja. Kau seorang penulis terkenal, bagaimana bisa aku tidak mengenalmu,” kekehnya.

“Jika kau mengenal Nerissa sebagai seorang penulis, kalau begitu kau juga pasti mengenalku.” Dengan percaya diri Lovetta berkata demikian.

Raquil tak menjawab Lovetta. Dia ragu karena dia tak tahu siapa gadis yang barusan berbicara padanya itu. Lovetta memutar bola matanya kesal.

“Namaku Lovetta, aku temannya dan aku seorang EDITOR di perusahaan penerbitan,” ucap Lovetta dengan penekanan di kata editor.

“Ah baiklah Lovetta, namaku Raquil.” Pada akhirnya mereka bertiga berbincang membahas berbagai topik yang menurutnya menarik.

***

 “Bisakah kau mendengarkanku dulu?” ucapnya pada orang dalam sambungan telepon. Langkahnya tak tentu arah. Kini Alarick tengah berjalan sangat cepat di tengah ramainya ibu kota. Kepalanya menengok ke sana kemari untuk mencari seseorang.

“Aku mohon setidaknya bertemulah denganku sebelum kau pergi.” terhenti. Pria itu benar-benar kehilangan jejak dan merasa sangat putus asa.

Haleth, Alarick melihat gadis itu beberapa menit lalu. Itu sebabnya dia langsung mengikuti gadis itu dan segera menelponnya. Namun apalah daya, kini dia kehilangan jejak gadis itu dan dalam sambungan telepon gadis itu juga mengatakan bahwa dirinya tak ingin bertemu dengan Alarick.

“Baiklah, aku di belakangmu.” Sebuah kalimat singkat yang sukses membuat Alarick dengan cepat membalikan badannya. Akhirnya sosok yang dia cari sedari tadi kini ada di hadapannya.

Dengan sigap Alarick menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Bagaimana pun ini sudah lama sejak Haleth memutuskan hubungannya dan kali ini mereka bertemu kembali.

“Aku hampir mati merindukanmu,” ucap Alarick terengah. Sementara gadis yang saat ini ada dalam pelukannya tak sedikitpun membalas pelukan Alarick. Tangan lentik gadis itu mendorong tubuh Alarick mencoba melepaskan pelukannya.

“Kau tahu? Aku lebih merindukanmu, tapi aku bisa apa jika saat ini kau akan menjadi milik orang lain.” Benarkah? Tentu saja tidak. Semua yang dikatakan gadis itu hanya sebuah bualan.

“Tak bisakah kita pergi dari sini dan menikah?” Pertanyaan Alarick sukses membuat Haleth tersenyum sinis.

“Lalu kau akan membiayaiku dan bayimu nanti dengan apa? Jika saat ini kau saja masih bergantung pada keluargamu?” Skak. Semua yang dikatakan Haleth benar. Dia masih belum bisa berdiri jika tak ada dukungan dari keluarganya.

Alarick memilih tak menjawab pertanyaan Haleth. Pria itu menunduk lemah. Rasanya semua yang ada di semesta ini tak ada yang berpihak padanya.

“Lakukanlah pernikahan itu jika itu mau kedua orang tuamu, mungkin itu yang terbaik untukmu. Aku pergi, jangan mencariku lagi.” Haleth melepaskan genggamannya tangannya pada Alarick.

Alarick sudah tak bisa mencegah kepergian Haleth, bagaimana pun itu adalah keputusan Haleth dan Alarick tak berhak lagi untuk melarangnya. Kepala pria itu menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang saat ini sudah menumpuk di pelupuk matanya. Rasanya, hidupnya sudah tak berarti lagi.

Haleth pergi meninggalkan luka mendalam pada hati Alarick. Perlahan gadis itu menjauh dan kemudian hilang dari pandangannya.

***

Hari ini adalah hari kepulangan Nerissa. Gadis itu merasa jauh lebih baik dari beberapa hari lalu, bahkan perasaannya sangat membaik melihat banyak orang yang datang untuk menjemputnya. Lovetta temannya seperti biasa dia datang sendiri, ayahnya, Fillan, Tuan Mauricio dan bahkan Raquil juga ada di sini, namun mengapa gadis itu menggunakan snelly? Apakah dia seorang dokter? Pertanyaan itu muncul di benak Nerissa.

“Kali ini kau akan pulang denganku.” Sosok pria berjas hitam datang dari arah sampingnya. Ya kini mereka telah ada di lobby rumah sakit. Mata Nerissa membulat melihat siapa yang datang. Gadis itu secara spontan berjalan cepat ke arah pria tampan itu.

Nerissa memeluk erat pria itu begitupun sebaliknya. Orang-orang yang ada di sana menatap heran pada Nerissa kecuali Tuan Frore dan Lovetta. Mereka berdua tersenyum melihat kebahagiaan Nerissa.

“Kapan kau datang? Kenapa tak memberi kabar?” Pria itu melepaskan pelukannya dan tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala Nerissa.

“Justru aku pulang karena kau membuat ulah.” Dengan gemas pria itu mencubit pipi Nerissa yang memang sedikit chubby.

“Kau tak perlu pulang jika hanya untuk memarahiku.” Bibir Nerissa sedikit maju karena kesal.

“Aku tak memarahimu, tapi aku ingin meminta penjelasan padamu.” Tangan Nerissa di genggam begitu saja sebelum kemudian ditarik menuju mobil pria tampan itu.

“Ayah kita duluan.” Lambaian tangan menjadi tanda perpisahan mereka dengan orang-orang yang masih setia berdiri menyaksikan moment manis Nerissa dan pria itu.

“Ayah?” tanya Tuan Mauricio menanyakan kejelasan perihal panggilan itu pada Tuan Frore.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • ALARICK   Alarick Part 39

    "Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba

  • ALARICK   Alarick Part 38

    Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin

  • ALARICK   Alarick Part 37

    Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,

  • ALARICK   Alarick Part 36

    Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena

  • ALARICK   Alarick Part 35

    Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi

  • ALARICK   Alarick Part 34

    Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya

  • ALARICK   Alarick Part 23

    “Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Kau tahu jika aku mengatakan yang sebenarnya apa yang akan terjadi,” bujuk Alarick sambil berjalan menjauh dari sana. Dia khawatir Nerissa akan mendengar apa yang dia bicarakan. Pria jangkung itu memindahkan ponselnya ke telinga sebelah kiri. Terden

  • ALARICK   Alarick Part 22

    Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Nerissa mulai menghubungi satu persatu kontak yang diberikan Lovetta. Dia memang tak berharap banyak pada cara ini, namun tak salah juga jika dia mencoba. Nerissa tak mau mengambil resiko jati dirinya diketahui oleh orang-orang me

  • ALARICK   Alarick Part 21

    “Kau? Sedang apa kau di sini?” Seseorang masuk begitu saja ke dalam ruangan Tuan Frore. “A-Aku sedang berbicara dengan Ayahmu,” jawab Alarick. Pria itu sedikit tergagap karena kedatangan istrinya yang tiba-tiba. “Kau sendiri sedang apa di sini?” lanjut Alarick. “Ada sesuatu y

  • ALARICK   Alarick Part 19

    “Setidaknya kau bilang padanya, bukannya membiarkan orang berharap atas kedatanganmu!” Emosi Lovetta sudah tak terbendung. Awalnya dia akan membiarkan Nerissa yang mengurus rumah tangganya sendiri. Lovetta tahu dia tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga seseorang, tapi sahabat mana ya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status