Share

11. Serenada Senja

Author: Rumi Cr
last update Huling Na-update: 2025-08-15 08:15:21

"Alhamdulillah kenyang." Aldory bersendawa usai meneguk habis air putih dalam botol minum yang dibawanya.

"Wuenak tenan. Makan ikan segar gini. Dibakar sebentar disiram sambal dabu-dabu. Habiskan nasi sewakul, pokoknya." Kekeh Agus masih asyik makan ikan. 

"Di sini, sumber protein melimpah. Harusnya anak-anak pada cerdas 'kan, ya ... Tapi, realita di lapangan. Ngajarin mereka, lebih sering pakai otot." Aldory berkomentar mengenai anak didik mereka. 

"Mereka susah nangkap pelajaran karena tidak mau belajar. Itu poin pentingnya. Bukan karena makanan berprotein tinggi atau rendah. Anak kelas tiga kemarin kutanya. Kenapa kok, enggak semangat belajar, padahal sebentar lagi ujian. Apa enggak mau lanjutin sekolah. 

Mereka jawabnya begini, kami pinter pun tetap saja nanti cari uangnya berlayar atau pergi ke ladang, Bu Guru. Sekarang kami sudah bisa melakukan itu tanpa pergi ke sekolah. Kalau sudah orientasi begitu, kita ngasih semangat kayak bagaimana lagi, coba."

Agus dan Aldory hanya tertawa mendengar cerita Amalia. "Guru yang mengajar di sini 'kan, semua dari luar daerah. Hanya Renata yang asli sini. Itupun hanya sebagai tenaga pembantu. Orang ijazahnya masih SMP, sekarang ikut kejar paket C. Semoga nanti dia ada kemauan kuliah sarjana pendidikan. Supaya bisa jadi guru beneran di sini."

"Hmm ... siapa tahu dia jodohnya si Marmit. Karena enggak mungkin, sampean mau sama dia 'kan, Bu Alia." Agus nimpali ucapan Amalia.

Amalia hanya menanggapi dengan senyuman. Gurauan dari rekannya itu. Matahari semakin mengelincir, waktu Dhuhur berganti Ashar. Amalia memperhatikan sepuluh muridnya yang mengerjakan tugas dan ulangan harian di dalam perahu yang ditepikan di daratan.

"Mereka sebenarnya polos banget. Kadang kasihan kita melihatnya. Ingatkan saat kita datang. Dengan gaya sok akrab mereka menyapa kita, 'Hai, Bro!' ... baju anak-anak gadis pada kurang bahan semua. Yang mereka lihat di TV, dikira seperti itulah gaya hidup orang modern. Mereka enggak mau ketinggalan. Makanya, berpakaian dan ngomong bahasa gaul." Amalia mengalihkan pandangan ke hamparan lautan ketika ombak datang.

"Iya, bener Bu Alia. Mereka polos banget, untuk ukuran anak seusianya. Paling ngeri kalau sudah Pak Martin main buluh sama anak-anak itu. Dan sampean kalau anak-anak lagi dibuluh, langsung pergi ke UKS nungguin mereka di sana sambil pegang minyak tawon."

"Jujur aku enggak tega, Pak Agus. Pernah nanyak, apa orang tuanya enggak marah anaknya dipukuli kayak gitu. Lha bapaknya sendiri malah yang nyerahkan bambu untuk mukul anaknya."

Aldory berdiri saat dilihatnya tiga anak menghampiri mereka bertiga dengan membawa tumpukan kertas ulangan dan buku tulis. 

"Sudah selesai semua temannya?" ucap Aldory menerima tumpukan buku. Sedangkan Agus menerima bagian lembaran.

Amalia yang berada dibelakang mereka, membereskan bebas bakaran ikan dan wadah bekal yang dibawa tadi. Selesai membereskan semuanya, Ia masukan semua dalam kantong plastik.

"Asyik sekali, ya ... Kita belajar di alam terbuka," ucap Yosep disambut anggukan kedua temannya.

"Besok, kita belajar di sini lagi, ya Ibuk Guru," rayu Firda pada Amalia. Anak rambut pirang itu memegangi lengan Amalia.

"Boleh. Kita besok belajar di taman dekat sekolah." Jawaban Amalia tak urung membuat muridnya cemberut.

"Kita tidak sanggup kalau setiap hari ke sini, Firda. Besok kalian pada masuk, ya ... hari Senin ujian kenaikan kelas. Belajar yang rajin." Agus menepuk bahu Yosep dan Firda.

Akhirnya kegiatan yang diagendakan mereka bertiga berjalan lancar sesuai angan. Tempat bekal yang telah habis isinya pun dipenuhi oleh cumi pemberian dari salah satu orang tua murid.

"Wah, kita ambil foto dulu, Bu Alia. Pemandangan yang bagus banget ini." Agus membidikkan kamera di ponselnya saat mereka berada di atas bukit paling akhir menuju rumah Batumawira. "Dory, cepat ambil fotoku dengan gaya nangkap matahari." 

Aldory tergopoh-gopoh mengambil ponsel Agus, kemudian bak fotografer profesional dia mengarahkan berbagai macam gaya dari pengambilan gambar di setiap tempat yang menurutnya bagus.

"Indah banget pemandangan di lihat dari sini, Pak Agus, Dory." Amalia juga mengarahkan kamera di ponselnya untuk mengambil gambar pemandangan di waktu senja itu.

"Hampir semua momens perayaan kita rayakan di sini dari idul Adha, Natalan, Tahun baru, sebentar lagi puasa dan lebaran. Setelahnya sayonara. Niat awal untuk menghindari tanggung jawab, mengurus orang di kampung halaman. Sekalinya di sini kita memiliki banyak tanggung jawab yang harus kita selesaikan."

"Eh, tumben anak ini. Agak bener ngomongnya Bu Alia," sahut Agus membuat Aldory menabok bahunya.

"Alhamdulillah kalau dia sudah dewasa, Pak Agus. Pulang kampung, tinggal ijab qabul, nanti." Gurau Amalia menimpali.

"Masih lama itu, setahun lagi. PPG dulu kita, Bu Alia. Lagian sudah mantep memang, Dory. Menikah itu tanggung jawab yang besar, lo. Kalau memang dirimu belum siap, mendingan jangan dulu." Agus mencoba menasehati rekannya.

Aldory muda setahun dari Amalia, dan dua tahun lebih muda dari Agus. Karena itulah dirinya dianggap adik diantara mereka bertiga.

Di keluarganya Aldory Febrian anak pertama dari bertiga saudara. Laki-laki sendiri. Oleh sebab itulah, harapan besar berada di pundak pria itu. Dalam keluarga besarnya di Lampung. Kekerabatan amat dijunjung tinggi, karenanya ia sudah diwanti-wanti oleh ibunya tidak boleh pacaran.

Jodohnya sudah disiapkan yang tak lain sepupunya dari pihak ibunya sendiri. Berhektar-hektar hamparan sawit akan diwariskan untuk dikelola olehnya nanti, saat dirinya kembali ke kampung halaman.

 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   75. Ending

    Saka memperhatikan gambar-gambar bayi di sekitar ruangan, juga ibu-ibu hamil yang tampak berlalu-lalang. Hal itu membuatnya penasaran hingga ia bertanya pada sang ayah yang memangkunya. “Papa, kenapa ada gambar adik bayi banyak? Ibu-ibu hamilnya juga?” “Karena ini namanya bagian obgyn, tempat khusus dokter memeriksa ibu-ibu hamil,” jawab Satria, lalu tersenyum ketika melihat anaknya mengerjapkan mata—jelas mulai tersadar. Kanaya kemudian meraih tangan Saka, menempelkan telapak hangat itu ke perutnya. “Tadinya Papa dan Mama mau memberi tahu pas ulang tahun Saka yang ke-7. Tapi Saka selama ini jadi anak baik, enggak banyak nangis walaupun Papa sering kerja lama, sudah begitu pintar belajarnya … jadi hadiahnya Mama dan Papa kasih lebih cepat.” Satria tersenyum, lalu menunduk untuk berbisik, “Ini hadiahnya hebat banget, lho.” Saka menyimak, kemudian memperhatikan tangannya yang menempel di perut sang ib

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   74. Jangan Menguji

    "Mama ngapain?” tanya Kanaya setelah mandi dan mendapati bundanya antusias di depan lemari, mengeluarkan setelan pakaian formal. “Fran keluarkan mobilnya kakek. Satria mau pakai dan katanya sudah izin untuk antar kamu periksa.” Kanaya mengerjap. “Serius? Kakek izinkan?” “Iya. Semalam dia minta izin waktu mereka nonton bareng. Mbak Heni jam sebelas masih bangun, lalu keluarkan almond panggang sama bikinin teh hangat ... paginya bersih, enggak ada sisa di bak cuci.” Bu Syaiba mendekat. “Satria juga sudah kasih resume e-jurnal ke Kakek. Lima lembar dan semuanya tulisan tangan. Lumayan bisa dibaca, enggak berantakan.” “Masak sih, Mas Satria bisa begitu?” Kanaya sulit percaya. Bu Syaiba terkekeh. “Ya, nyatanya dia bisa melakukan itu, Nay ... Suamimu, menantu lelaki satu-satunya Bunda, papanya Sangsaka.” Kanaya berusaha tidak terlalu tersenyum. Ini jelas kemajuan. “Terus Mama kenapa keluarkan baju formal?” “Kamu enggak mau tampil cantik lagi?” “Mau ... tapi jangan yang fo

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   73. Tidak Terlalu Buruk

    YAYA’S TEAM > GHEA “Gimana, ? Berhasil?” >DAFFA “Enggak ada foto pamer. Berarti gagal.” “Ckckckk, sudah diduga emang.” > GHEA “Siapa tahu lupa ngasih kabar karena keburu asyik ☺.” >DAFFA “Asyik dicuekin maksudnya? Wkwkwk!” >GHEA “Jangan jahat gitu! Kita, kan sudah janji bantuin Kaka.” >DAFFA “Ya kita bantu, tapi Yaya ini mentalnya belum sanggup. Enggak bisa strategi tarik-ulur, dia maunya langsung ikat-ikat merapat.” >GHEA “Ikat-ikat? Ih, bikin kangen. Udah lama kita enggak ☺.” >DAFFA “Yuk, Bby ☺.” “Cari kata aman dulu.” >DAFFA (Sticker acak) >Satria Mandala “KAMU MAU KU IKAT LEHERNYA BEGITU PULANG YA, FA!!!” >Satria Mandala “KAMPRET!!!” Satria mengirimkan lebih banyak emoji jari tengah ke chat pribadi Daffa, diikuti puluhan voice note makian yang tidak layak dengar. Daffa membalas satu menit kemudian. >DAFFA “Udah jelas gagal kamu ya. Ckckck.” Sialan! Satria memaki dalam hati, lalu beralih ke kontak Kanaya. Tadi ia menitipk

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   72. Kamar Tamu

    "Ya ampun, pulas banget itu,” sapa Bu Syaiba saat Satria turun dari mobil dengan menggendong Saka.Jam segini, memang jam tidur siangnya Saka. Ditambah efek rindu karena sepuluh hari terpisah, Saka bahkan tidak mau duduk sendiri, ia langsung memeluk erat bahu kemeja Satria. “Belum lima menit jalan udah tidur,” jelas Kanaya sambil keluar mobil. “Yang ini udah minta makan lagi.” Ia mengelus perutnya. Bu Syaiba tertawa kecil dan memeluk Satria. “Sehat, Satria?” “Iya, Ma.” “Ayo masuk. Mama baru selesai goreng Chicken Kiev.” Satria masuk dan menoleh ke ruang tamu yang sepi. “Kakek sama Fran enggak di rumah, Ma?” “Kakek terapi lanjutan ditemani Fran. Malam pulang," jawab Bu Syaiba. “Eh, Saka mau dicoba dibaringkan dulu?” tanya Bu Syaiba. “Dia pegangan Ma. Tidurnya,” jawab Kanaya. “Kalau dilepas, rewel.” “Satria belum makan, Nay.” Satria tersenyum. “Kanaya bisa suapin aku, Ma.” “Idih. Orang anaknya dipangku bisa. Tangannya ada dua, juga!” balas Kanaya, matanya melirik tajam

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   71. Trik

    “Semua baik-baik saja, Ma … aku pamit langsung tengok mereka,” ujar Satria memberi tahu. Bu Laras kembali memeluknya. “Apa pun yang terjadi, kamu masih punya Mama, Ya ....” “Iya,” jawab Satria sambil membalas pelukan itu beberapa detik. Ghea ikut-ikutan memeluk, membuat Satria tertawa ketika Daffa sudah benar-benar dekat. “Kamu mau ikut peluk juga, Fa?” tawarnya. “Aku normal, cukup peluk adik kamu aja. Sini, Bby,” kata Daffa sambil merentang tangan, dan Ghea benar-benar langsung berpindah memeluknya. “Pamer terus!” Ghea terkekeh, menggeleng sembari bernyanyi, “Jangan iri … jangan iri … jangan iri dengki.” Satria memaki dalam hati. Sialan! Namun ia memutuskan fokus. Waktunya tidak banyak karena ia harus segera ke rumah keluarga Santosa. “Ck! Cepetan, Fa! Mana kopernya?” “Ish, santai napa ... sebenarnya enak barengan kita naik pesawatnya, berangkat sore, kan syahdu. Siapa tahu, langsung bisa ajak Kanaya ke rumah kalian untuk bermalam," canda Daffa, meski ia tetap mendek

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   70. Konsultasi

    Kanaya menyipitkan mata karena foto terbaru yang dikirim suaminya lewat email. Ada Fran berdiri di belakang Kakeknya, keduanya tersenyum di samping tong pembakaran yang jelas dipenuhi abu. >satriamandala Selamat pagi dari kami. Gantian PAP dong. Kangen muka bangun tidurnya istriku :) “Dih,” sebut Kanaya. “Kenapa, Bu?” tanya Fran. Kakek Rahmat yang sedang mengaduk susu untuk Saka ikut melirik. “Papanya Saka kirim foto,” kata Kanaya sambil menunjukkan layar tablet. “Oh, masih pagi juga,” ucap Fran tersenyum. “‘PAP’ itu apa, Nak?” tanya Kakek Rahmat setelah membaca sekilas. “Post a picture, kirim foto,” jawab Fran sambil mencondongkan tubuh ke layar cucu majikannya. “Ciyeee… ‘kangen muka bangun tidur istriku’.” “Cheesy banget, kan?” ucap Kanaya sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status