LOGINSuasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. "Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja
Suara decit ban mobil yang beradu tajam dengan aspal parkiran rumah sakit memecah keheningan parkir rumah sakit siang itu. Devan keluar dari mobilnya bahkan sebelum mesin benar-benar mati sempurna. Ia mengabaikan setelan jas mahalnya yang kini tampak berantakan, satu-satunya fokus di kepalanya hanyalah bangsal nomor dua di ruang ICU. Langkah kakinya yang lebar dan terburu-buru menggema di koridor rumah sakit lama itu. Saat ia hampir mencapai pintu otomatis ICU, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari, orang-orang suruhan Henry Harrington, mencoba menghadang jalannya. "Maaf, Dokter Devan. Tuan Henry meminta Anda untuk tetap berada di Wellness Hospital," ucap salah satu dari mereka dengan suara dingin yang tak bersahabat. "Minggir!" desis Devan. Sorot matanya begitu tajam dan penuh amarah, membuat kedua pria itu sempat tertegun. "Jangan pernah menghalangi seorang dokter yang akan menyelamatkan pasiennya jika kalian tidak ingin berurusan dengan hukum!" Tanpa menunggu
Suasana di dalam ruang ICU bangsal nomor dua, Vanya masih belum sadarkan diri. Bram dengan setia mematuhi perintah Devan untuk terus memantau kondisi gadis itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang Vanya, suara langkahnya menggema di atas lantai ICU rumah sakit yang dingin. Di ruangan itu, hanya terdengar suara dari mesin monitor jantung yang menampilkan grafik hijau yang stabil namun lemah. Bram menghela napas panjang, menatap wajah residen juniornya yang kini tampak begitu pucat di bawah sinar lampu neon yang temaram. Ia mengeluarkan senter medis dari saku jas putihnya, lalu dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia membuka kelopak mata Vanya satu per satu. "Vanya, bisa dengar suara saya? Ini Dokter Bram," bisiknya lirih, meski ia tahu kesadaran gadis itu masih tertidur lelap dalam pengaruh trauma pasca operasi. Ia mengarahkan cahaya senter ke pupil mata Vanya untuk mengecek refleks cahaya. Pupil itu mengecil, sebuah tanda yang memberikan sedikit rasa lega di dada Bram. Jemari
"Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. "Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar. "Nak Aurel temannya Vanya?" tanyanya sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa wanita cantik dengan pembawaan anggun di depannya ini benar-benar mengenal putri kesayangannya. Aurelia tersenyum lembut dan mengangguk pasti. "Iya, Bu. Kedatangan saya ke Bandung khusus untuk menemui Ibu." Kemuning segera melebarkan pintu rumahnya, mempersilakan Aurel masuk dengan tangan gemetar karena haru. "Mari, Nak. Silakan masuk. Maaf, rumahnya agak berantakan karena Ibu memang sedang kurang sehat akhir-akhir ini." Aurel melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sederhana namun terasa hangat. Aroma minyak kayu putih menyeruak, mempertegas kondisi kesehatan Kemuning yang memang sedang menurun, persis
"Aku tidak menyangka, ternyata tunanganku masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya," sindir Devan sembari melangkah lebar menghampiri mereka. Evelyn dan Adam tersentak hebat. "Mas—" Belum sempat Evelyn menyelesaikan kalimatnya, Devan sudah mencengkeram kerah kemeja Adam dan menghempaskan tubuh laki-laki itu hingga membentur tembok dengan keras. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, hah?! Kamu sengaja ingin mencelakakan Vanya?! Jawab!" teriak Devan murka. Suaranya menggelegar tepat di depan wajah Adam yang mulai pucat dan gemetar. "Mas Devan, lepaskan!" Evelyn berusaha sekuat tenaga menarik tangan kekar Devan yang masih mencengkeram erat leher Adam, membuat laki-laki itu mulai kesulitan bernapas. Dengan satu hentakan kasar, Devan melepaskan cengkeramannya. Adam ambruk ke lantai sambil terbatuk-batuk. Devan menatap penuh kebencian pada sisa-sisa luka di wajah Adam, luka akibat kecelakaan mobil yang melibatkan Vanya. Evelyn segera pasang badan, menahan tubuh Devan yan
Acara pertunangan itu digelar di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Harrington, sebuah tempat yang tampak seperti istana kristal. Karangan bunga mawar putih setinggi dua meter berjejer di sepanjang koridor, namun bagi Devan, tempat itu terasa seperti ruang tunggu eksekusi mati. Devan berdiri di tengah kerumunan tamu elit, mengenakan setelan jas tuxedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Wajahnya yang pucat dan memar di pipinya telah disamarkan dengan concealer oleh perias MUA yang mereka sewa, namun sorot matanya tetap kosong. Ia merasa seperti arca yang dipajang untuk memuaskan ambisi orang lain. Evelyn berdiri di sampingnya, tampak memukau dengan gaun couture berwarna perak yang berkilau di bawah lampu gantung raksasa. Ia merangkul lengan Devan dengan erat, seakan ingin menunjukkan pada dunia, kalau ia telah berhasil menaklukkan dokter tampan dan dingin itu. "Senyumlah, Mas," bisik Evelyn dengan nada manis yang terdengar berbisa. "Banyak kamera dan investor papa di sa







