Se connecterEvelyn segera mencegat dan menarik tangan Devan tepat setelah pria itu melangkah keluar dari ruang kerja Henry Harrington. "Mas, kenapa kamu membawa pergi Vanya? Apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kamu begitu peduli pada gadis itu!" tuntutnya penuh emosi. Butiran air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn. Devan menatap wajah Evelyn dengan penuh kebencian. Namun, di balik kemarahan itu, terselip sedikit rasa iba. Ia tahu kenyataan sebenarnya di keluarga Harrington yang belum terungkap, bahwa Evelyn bukanlah putri kandung Henry. Devan tidak bisa membayangkan bagaimana nasib gadis di depannya ini jika kebenaran itu terbongkar. Fakta, bahwa segala kemewahan yang ia nikmati saat ini sebenarnya adalah milik Vanya. "Karena aku mencintai Vanya," jawab Devan tegas, menepis tangan Evelyn dengan kasar. "Aku calon istrimu, Mas!" pekik Evelyn tidak terima. "Kalau kamu ingin dicintai, segera akhiri perjodohan ini dan carilah pria yang benar-benar bisa memberikan hatinya untukmu. Jika
Selamat pagi, dok." Suara perawat yang diminta Devan untuk merawat Vanya, baru saja tiba di apartemen Devan dan langsung menuju kamar utama. Mengejutkan mereka yang sedang terbaring bertumpukan di atas tempat tidur. Devan bergegas berdiri dan merapihkan kemejanya yang kusut karena cengkeraman Vanya. "Pa—pagi," Sahut Devan gugup. Wajah Devan memanas, rona merah menjalar hingga ke telinganya. Ia berdeham berkali-kali, berusaha mengembalikan wibawa dokternya yang sempat runtuh dalam sepersekian detik. Sementara itu, Vanya masih terbaring lemas dengan napas yang mulai berangsur tenang, meski sorot matanya masih menyimpan kebingungan mendalam atas kedekatan yang baru saja terjadi. Perawat itu, seorang gadis muda bernama Suster Dila sempat terpaku di ambang pintu. Namun, sebagai seorang tenaga medis yang berpegang teguh pada profesi, dengan cepat menguasai keadaan dan bersikap seolah tidak melihat adegan intim tadi. "Maaf, Dok. Saya tadi dipersilakan masuk oleh Ibu Kemuning. Beliau se
Devan terpaku mendengar cerita Kemuning. Matanya memerah, air mata keluar dari kelopak matanya yang terbuka lebar. "Shinta Harrington adalah penjahat yang sebenarnya, dia telah memisahkan Vanya dari orang tua kandungnya." Lirih Devan dengan perasaan terluka. Kemuning mengusap air matanya setelah mengakhiri cerita panjang 26 tahun silam. " Saya takut, Ny. Shinta akan mencelakai Vanya, dok. Saya yakin, Ny. Shinta tidak akan membiarkan tuan Henry mengetahui kalau Nona Evelyn bukanlah anak kandungnya." Kemarahan yang dingin merayap di sekujur tubuh Devan. Ia mengepalkan tangannya. Kebenaran ini jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Ternyata, wanita yang selama ini ia panggil "Tante Shinta", wanita yang hampir menjadi ibu mertuanya melalui perjodohan paksa, adalah seorang monster yang tega membuang bayi sahabatnya sendiri demi sebuah status dan kekayaan. "Jadi selama ini..." suara Devan bergetar, "Henry Harrington... dia membesarkan anak orang lain yang bahkan t
FLASHBACK 26 TAHUN LALU "Kamu jangan macam-macam Shinta. Orang tuaku tidak akan mengijinkan aku menikah lagi!" Ucap Henry saat sahabat dekatnya itu meminta untuk dinikahi karena sedang mengandung anak dari kekasihnya yang memilih pergi dan tidak mau bertanggung jawab. "Naomi juga sedang hamil. Tidak mungkin aku mengkhianati istriku." "Tapi kamu tahu ayahku, Hen. Dia seorang dokter bedah yang keras dan kaku. Mungkin karena bergabung dengan militer membuatnya sekeras itu. Aku takut. Apa kamu tidak khawatir denganku dan calon bayiku, Hen." Henry menatap perut Shinta dengan wajah masam. Perut yang masih rata karena baru berusia dua bulan, sama dengan usia kandungan Naomi, Istrinya. "Gugurkan saja!" "Tidak!" Jerit Shinta kencang. "Aku hanya butuh status suami untuk menjaga nama baik keluargaku, Hen. Aku janji tidak akan menuntut apapun. Kamu sahabatku satu-satunya, Naomi juga wanita yang baik dan pengertian. Dia pasti mau mengerti." "Aku tidak—" "Henry. Kita sudah bersahaba
"Maafkan ibu, dr. Devan. Sungguh. Ibu tidak mengenal Shinta Harrington." Jawab Kemuning menatap jemarinya yang bertaut gelisah. "Coba di ingat-ingat lagi bu. Mungkin—" "Benar, dok. Ibu tidak kenal" Devan menghela nafas pendek. "Baiklah. Saya tidak akan memaksa kalau ibu tidak mau cerita. Tapi, tolong ibu pahami. Situasi ini sudah sangat berbahaya untuk ibu dan Vanya." Devan terdiam sejenak, "—saran ibu benar. Ibu dan Vanya harus pindah dari sana untuk sementara waktu. Malam ini juga kita akan menuju apartemen saya di Dago." Ambulans melaju membelah dinginnya udara malam Kota Bandung. Di dalam ambulans hanya ada keheningan, menyisakan suara mesin yang menderu pelan dan bunyi monitor jantung Vanya yang mulai kembali stabil. Devan menyandarkan punggungnya pada dinding ambulans, matanya tak lepas dari wajah pucat Vanya, namun pikirannya tertambat pada raut ketakutan Kemuning yang tampak sangat janggal. "Apartemen saya di Dago memiliki sistem keamanan ganda, Bu. Tidak sembarang o
Suasana di dalam kabin ambulans yang semula hanya diisi bunyi ritme monitor berubah menjadi mencekam. Devan menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras, lalu melirik ke spion kecil yang terhubung ke arah jalan raya di belakang mereka. Sebuah mobil SUV hitam dengan lampu redup terus menjaga jarak, membuntuti mereka sejak keluar dari gerbang tol Pasteur. "Pak, injak gasnya! Ada yang mengikuti kita!" seru Devan melalui jendela kecil yang menghubungkan ruang medis dengan kemudi. Ambulans itu meraung, kecepatannya meningkat drastis menembus kegelapan jalur arah Bandung. Namun, mobil SUV di belakang mereka ikut menambah kecepatan. Tak lama kemudian, mobil itu mulai bermanuver nekat, mencoba memepet bodi ambulans dari sisi kanan, berusaha memaksa sopir ambulans untuk menepi ke bahu jalan. "Dokter! Mereka mencoba menabrak kita!" teriak Kemuning histeris sambil berpegangan erat pada brankar Vanya. "Tetap tenang, Bu! Pegangi tangan Vanya, jangan biarkan dia terguncang!" Devan menc
Vanya menyentuh bibirnya tak percaya. "Kami berciuman?dokter Devan membalas ciumanku?" Gumamnya sambil terus berjalan meninggalkan ruang kerja Devan. Bibirnya membentuk senyum manis membayangkan kejadian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Vanya terus berjalan dengan pikiran yan
"Dua hari lagi kita akan bertunangan," ujar Evelyn pagi ini dengan nada penuh penekanan saat mereka baru saja tiba di area parkir rumah sakit. Keduanya turun dari sedan hitam milik Devan. Pagi tadi, Frans dan Vida Alaric memberikan perintah yang tidak bisa dibantah. Devan wajib menjemput Evelyn s
Penerbangan Singapura-Jakarta yang seharusnya hanya memakan waktu satu setengah jam itu terasa seperti siksaan bagi Devan. Tekanan udara di dalam kabin pesawat benar-benar memperburuk kondisinya. Di kursi kelas bisnis, Devan menyandarkan kepalanya, napasnya terdengar pendek dan berat. Keringat ding
Pagi ini adalah hari kepulangan mereka semua dari Singapura ke Indonesia. Devan merasakan demam ditubuhnya akibat insiden perbuatan Evelyn dua hari lalu. Kemarin, ia hanya meringkuk di dalam kamarnya. Hari terakhir yang seharusnya ia gunakan untuk berjalan-jalan, tidak bisa ia lakukan. Vanya yan







