Mag-log inLi Jiao pikir, kehangatannya selama dua tahun belakangan cukup untuk melelehkan bongkahan es hati Feng Haoming. Namun nyatanya, dia hanya dianggap sebagai 'teman tidur'. Sakit hati dan kecewa, Li Jiao menyewa model pria dan tidur dengannya. Saat bangun, dia baru menyadari bahwa yang tidur dengannya bukanlah model pria. Dia adalah Fu Si Han, musuh bebuyutan Feng Haoming, sekaligus playboy kelas atas Kota Angin. Bagaimana kelanjutan hubungan Li Jiao dan Haoming, ketika di hati pria itu ada cinta pertamanya dan kehadiran Fu Si Han yang menuntut peetanggungjawaban?
view moreKRAK! DENTANG! BRUK!Gelas sampanye meledak menghantam lantai, anggur merah membanjir seperti darah, kue-kue cantik berceceran terinjak, bunga-bunga hiasan berantakan tercampur serpihan kaca. Suara hancur itu bergema di seluruh aula — memekakkan telinga, menggetarkan lantai, membuat semua orang menahan napas karena gemetar.Jiao Jiao tidak berhenti. Dengan telapak tangannya, dia menyapu sisa barang yang masih bertahan — vas kristal tinggi jatuh pecah beribu keping, lampu meja jatuh padam, seluruh kemewahan yang disusun Li Na dengan bangga berubah menjadi tumpukan reruntuhan kotor dalam hitungan detik.Fu Si Han hanya tersenyum miring — senyum yang justru makin mengerikan saat melihat kekasihnya meledak. Dia tidak menahan, malah memberi isyarat pada Ji Ling Shu dengan jempol berputar pelan. Bawahan-bawahannya segera bergerak bukan seperti pelayan, tapi seperti pasukan pembinasaan.Tirai sutra tebal ditarik hingga gantungan besinya lepas — BRUK! jatuh menimpa meja belakang. Kursi-kursi
"Kau tuli?" Sebuah suara dari arah pintu masuk tiba-tiba menginterupsi, langkah kaki yang mendekat membawa aura dingin hingga membuat suasana di sekitar berubah hening dan terasa begitu mencengkam. "Jiao Jiao juga bilang, dia tidak menyukaimu!" Fu Si Han berjalan masuk dengan gagah, wajahnya dipenuhi awan gelap dan tatapan tajam yang menusuk Haoming—menandakan kemarahannya tengah meluap. Dia berhenti tepat di depan Jiao Jiao, lalu melepaskan jas luarnya dan menyelimutkan dengan hati-hati di bahu wanita itu untuk menutupi gaunnya yang robek. Jari-jari Fu Si Han menyentuh lembut pipi Jiao Jiao yang memerah bekas tamparan, tatapan tajamnya beralih ke arah Li Na, Liu Lanfen, hingga akhirnya berhenti pada Li Wei. "Apa pelajaran terakhir kali masih belum cukup?" Suara Fu Si Han rendah, tapi gemanya mampu membuat siapa pun merinding. Rahang Fu Si Han mengeras, kedua tangannya mengepal erat, napasnya tampak turun naik teratur dan tatapannya kian menajam. "Kalian berani memukulnya?!" Ora
"Itu dia! Dia yang mecuri cincin Nona Li!!" Saat Jiao Jiao baru saja kembali ke aula, tiba-tiba seorang wanita berpakaian pelayan yang berdiri di antara Li Na dan Haoming menodongkan jari telunjuk ke arahnya dengan disertai tuduhan keji. Jiao Jiao mengerutkan kening, dia kemudian melihat sekeliling dan mendapati semua orang menatapmya dengan tatapan hina, bahkan ada yang terang-terangan mencemoohnya. Jiao Jiao tentu saja bingung. Dia pergi hanya sebentar, tapi sebuah tuduhan sudah jatuh ke atas kepalanya begitu kembali. Kebingungan semakin menghiasi wajahnya ketika Li Na tiba-tiba menyerbu ke arahnya dan menggenggam tangannya dengan kasar. "Adik, jika kamu menyukai cincinku katakan saja, tidak perlu menggunakan cara hina seperti mencuri!" Wajah Li Na tampak garang, dia seperti predator yang siap melahap Jiao Jiao. "Mencuri apanya?" Jiao Jiao menepis kasar tangan Li Na dari pergelangan tangannya. "Jangan biacara sembarangan!" tambahnya memperingati dengan tegas. "Aku hany
Jiao Jiao memutar bola mata dan menatap Li Na yang mengenakan gaun lebih terbuka lagi. "Aku tidak boleh, dia boleh?" sinisnya pada Li Wei, sebelum melanjutkan dengan nada sarkas. "Selama ini kau tidak pernah membelikanku satu gaun pun, jadi jangan coba-coba mengaturku!" "Tidak diduga, Tuan Li begitu pilih kasih ...." "Benar, bahkan tidak pernah membelikan satu gaun pun untuk putri bungsunya." "Padahal mereka sama-sama putrinya... kenapa harus pilih kasih begitu" Para tamu di sekitar mulai bergosip dengan berbagai ekspresi, bahkan ada yang sampai menggelenglan kepala seolah menyayangkan sikap Li Wei. Melihat itu, Li Wei menggertakkan gigi menahan amarah yang semakin bergejolak. Li Na mendekat dengan nada lembut. "Adik, mana mungkin ayah tidak membelikanmu gaun? Bukankah tadi kemarin aku mengirimkan satu gaun padamu?" Jiao Jiao mengerutkan kening dengan ekspresi mengejek. "Gaun tua yang tidak kau inginkan, kau kira aku mau? Aku bukan kau yang suka memungut sampah!" Wajah Li Na
Jiao Jiao makin malu, segera memalingkan wajah dan mendorong Fu Si Han dengan lebih kuat. "Jangan bicara omong kosong!""Aku tidak menggodamu lagi," ucap Fu Si Han dengan nada lebih tenang, sedikit menarik diri dan mengambil kursi kecil di dekat ranjang. "Aku bawa makanan, ayo makan dulu. Tubuhmu b
Saat bangun, Jiao Jiao sudah berada di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih bersih dan bau alkohol yang khas memenuhi setiap sudut ruang perawatan yang tidak besar itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, dan bagian dahinya yang terluka masih begitu menyakitkan jika sedikit saja digerakkan.P
Taksi terus melaju melewati jalan-jalan yang tidak begitu ramai. Jiao Jiao masih menyandarkan wajahnya pada kaca jendela, matanya kosong menatap pemandangan luar yang lewat begitu saja. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi rasa sakit di hatinya tetap saja ada—seperti duri yang terus menusuk dalam
Cahaya matahari pagi menyinari wajah Jiao Jiao, memyilaukan matanya yang masih tertutup rapat. Dia mengerutkan kening saat merasakan sakit di kepalanya, seperti ada paku besar yang tertancap di dalamnya. Tubuhnya terasa lelah dan sedikit sakit, terutama di bagian pinggangnya. Jiao Jiao perlahan me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.