LOGINLi Jiao pikir, kehangatannya selama dua tahun belakangan cukup untuk melelehkan bongkahan es hati Feng Haoming. Namun nyatanya, dia hanya dianggap sebagai 'teman tidur'. Sakit hati dan kecewa, Li Jiao menyewa model pria dan tidur dengannya. Saat bangun, dia baru menyadari bahwa yang tidur dengannya bukanlah model pria. Dia adalah Fu Si Han, musuh bebuyutan Feng Haoming, sekaligus playboy kelas atas Kota Angin. Bagaimana kelanjutan hubungan Li Jiao dan Haoming, ketika di hati pria itu ada cinta pertamanya dan kehadiran Fu Si Han yang menuntut peetanggungjawaban?
View More“Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?”
Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar debarannya. Jiao Jiao menahan diri untuk tidak masuk, menanti jawaban Haoming dengan penuh harapan. Dia mengintip, melihat Haoming menghembuskan asap rokok sebelum menjawab, “Hanya teman ranjang, tidak untuk dinikahi.” Enam kata saja. Cukup dengan enam kata, Feng Haoming berhasil mematahkan hati Jiao Jiao yang mencintainya selama dua tahun penuh. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi dia dengan cepat mengusapnya sebelum bisa jatuh ke pipinya. Jiao Jiao seketika ingat momen-momen manis bersama Haoming, makan malam romantis, nonton bioskop, liburan bersama bahkan menghabiskan malam-malam yang tak terhitung jumlahnya. Semua itu hanya sekadar permainan baginya? “Haoming, kamu tidak mungkin masih menyimpan bayangan cinta pertamamu, kan?” Suara teman Haoming yang lain muncul dengan nada bercanda namun terdengar sangat serius. “Sudah dua tahun lebih, seharusnya kamu sudah bisa melupakannya, kan?” Cinta pertama? Jiao Jiao merasa kepalanya berdengung seperti ada ribuan lebah yang terbang di dalamnya. Selama dua tahun bersama, Haoming tidak pernah sekali pun menyebutkan bahwa dia pernah memiliki seseorang yang dicintai sebelum mereka bertemu. Bahkan ketika dia bertanya tentang masa lalunya, pria itu selalu mengubah pembicaraan ke topik lain dengan lembut. Jiao Jiao selalu mengira itu karena Haoming adalah tipe pria yang tidak suka membicarakan masa lalu, tapi ternyata ada alasan yang jauh lebih dalam dibaliknya. Haoming diam sejenak, dan Jiao Jiao bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini—matanya yang biasanya dingin tampak melunak sedikit. “Mungkin waktu itu aku tidak memberinya rasa aman, jadi dia ingin berpisah,” ujar Haoming dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Dia bilang dia ingin keluar negeri untuk mengejar mimpi, dan memberikan aku waktu dua tahun untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jika aku masih menyukainya ketika dia kembali, maka kita bisa bersama lagi.” Kata-katanya seperti batu besar yang dilempar ke hati Jiao Jiao, menimbulkan riak besar yang menghancurkan semua ketenangannya. Selama dua tahun, aku selalu mengira berhasil menaklukkannya dan menjadi satu-satunya di hatinya. Ternyata aku hanyalah pengganti untuk mengisi kekosongan menunggu cinta pertamanya? Tubuh Jiao Jiao kaku seperti patung es, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya hampir melukai kulitnya. Semua sentuhan lembut, kata manis, dan janji yang kukira tulus ... semuanya adalah kebohongan yang indah? “Haoming, kau sudah dua tahun bersama Jiao Jiao, jika tidak menikahinya, bukankah kau tidak bertanggungjawab?” Teman Haoming terdengar tidak puas dengan jawaban pria itu. “Jiao Jiao sudah menyerahkan segalanya untukmu. Aku melihat bagaimana dia selalu ada di sampingmu, merawatmu dan menghiburmu ketika kamu rapuh karena ditinggal cinta pertamamu. Bukankah itu cukup untuk membuatmu mencintainya?” “Kalau bukan karena dia penurut dan tahu bagaimana cara membuatku nyaman, mana mungkin aku mau bersamanya selama dua tahun,” jawab Haoming tanpa ragu, membuat Jiao Jiao merasa seperti sedang ditusuk dengan pisau tajam berulang-ulang kali. “Jika dia mulai terobsesi dengan status atau meminta lebih, aku tidak keberatan untuk meninggalkannya. Lagipula ....” Suara pria itu sedikit meningkat dengan nada yang penuh harapan. “Sudah dua tahun, dia seharusnya akan kembali.” “Benar juga, tapi kamu tidak bisa menyangkal kalau tubuh Jiao Jiao sangat seksi, kan?” Salah satu teman lain menyela dengan tawa rendah yang menyakitkan hati. “Pantas saja kamu bisa bertahan lama bersamanya. Aku sendiri pun kagum dengan bentuk tubuhnya yang sempurna.” Haoming kembali menghembuskan asap tebal dari mulutnya. “Kenapa? Kamu menyukainya?” Dia menaikkan alis sebelah dan berkata dengan tak berperasaan. “Kalau kamu suka, aku akan memberikannya untukmu.” Pada saat itu, Jiao Jiao merasa seluruh dunia di sekelilingnya runtuh. Air mata yang sudah lama dia tahan akhirnya menetes deras di pipinya, menyiram riasan wajahnya yang dia susun dengan sangat hati-hati. Dia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara tangisan, tapi tubuhnya tetap bergoyang sedikit karena kesedihan yang luar biasa. Setelah dua tahun mengejar dan mencintai seorang pria dengan sepenuh hati, dia ternyata hanya dianggap sebagai benda yang bisa diberikan kepada siapapun yang menginginkannya? Dengan semua kekuatan yang dimiliki, Jiao Jiao menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan korek api dari dompetnya. Dia menyalakan lilin yang ada di atas kue ulang tahun, kemudian membuka pintu ruangan Lantian dengan kecepatan yang cukup membuat semua orang di dalam terkejut. Cahaya lilin menerangi wajahnya yang masih basah karena air mata, namun dia tetap mengangkat dagunya dengan sikap sombong yang sudah menjadi ciri khasnya selama ini. Ruangan yang tadinya ramai dengan obrolan dan tawa menjadi sunyi total. Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Feng Haoming yang hanya menunjukkan ekspresi tenang tanpa sedikitpun rasa bersalah. Jiao Jiao berjalan dengan langkah yang terasa berat, tapi tetap gagah menuju meja di mana Haoming duduk, lalu menempatkan kotak kue di atas meja dengan lembut. “Haoming ....” Suaranya terdengar jelas dan sedikit bergetar di tengah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Apa bagimu aku hanyalah mainan yang bisa diberikan kepada siapa saja?” Haoming hanya mengerutkan kening, tampak kesal dengan pertanyaan Jiao Jiao. “Kamu mau berulah hari ini?” “Berulah?” Jiao Jiao tertawa, tapi dua baris air mata mengalir di wajahnya. Meski menyedihkan, dia juga tampak penuh martabat dan tidak sedikit pun menunjukkan kerentanan di saat bersamaan. Jiao Jiao melihat sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah teman Haoming yang sekarang hanya menatapnya dengan ekspresi iba. Namun, Jiao Jiao tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Dia hanya peduli pada harga dirinya yang harus diapertahankan! Jiao Jiao mengambil segelas air mineral yang ada di atas meja dengan gerakan anggun, lalu dengan cepat menyiramkannya langsung ke wajah Feng Haoming. “Ini baru berulah! Dan ingat—tidak seorang pun berhak merendahkan aku—Li Jiao!” Semua orang terkejut, beberapa di antaranya bahkan membuka mulut dan mata mereka lebar-lebar menyaksikan tindakan Jiao Jiao yang tidak tak terduga. Air mengalir dari wajah Haoming yang tampak kaget sebentar, sebelum kemudian digantikan oleh kemarahan. Dia mengelap wajahnya dengan tangan gemetar karena menahan amarah, matanya memuntahkan kobaran api yang membuat beberapa orang mengecilkan tubuh. “Jiao Jiao, kamu gila ya?!” Suara Haoming pelan saja, tapi siapa pun bisa merasakan kemarahannya yang berkobar. “Beraninya kamu melakukan ini?!” “Ya, aku gila!” Jiao Jiao menjawab dengan suara yang samkerendah dan tenangnya. “Aku gila sampai rela mencintaimu selama tiga tahun lamanya! Aku gila karena berpikir bahwa kamu benar-benar mencintaiku! Aku gila sampai berharap suatu hari nanti kita akan menikah dan hidup bahagia bersama!” Air mata sudah menutupi pandangannya, tapi dia tetap bisa melihat ekspresi wajah Haoming yang kini tetap dingin seperti es. “Kenapa kamu marah?” tanya Haoming dengan nada remeh, seolah-olah sedang membicarakan hal-hal sepele. "Bukankah dari awal kamu juga hanya melihatku sebagai alat taruhan dengan Shu Yi?"Setelah mematikan panggilan telepon dari ayahnya, Jiao Jiao meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu lanjut menyantap sarapannya dengan gerakan anggun dan tenag seolah panggilan telepon dari Li Wei tidak mengganggu mood-nya sama sekali. Fu Si Han yang tengah memotong roti meletakkan pisau dan garpu dengan perlahan di sisi piring, dia menatap Jiao Jiao. "Apa yang dia inginkan?" tanya Fu Si Han dengan nada tenang, tetap memperhatikan setiap perubahan ekspresi Jiao Jiao. Sejak awal, dia bisa mendengar dengan jelas semua pembicaraan Jiao Jiao dan Li Wei, tapi tetap bertanya hanya untuk mendengarkan langsung dari wanita itu Jiao Jiao menghela napas panjang, menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi sambil kedua tangannya menyilang di depan dadanya. "Dia menyalahkanku karena tidak pernah menjenguknya setelah dia masuk rumah sakit, memangnya dia pantas?" ujarnya dengan suara yang penuh rasa jijik. "Sejak kecil, dia tidak pernah memperlakukanku sebagai anaknya ... sekarang malah menye
Saat membuka matanya kembali, Jiao Jiao menemukan dirinya berada di kamar yang sama seperti terakhir kali—kamar Fu Si Han—tempat dirinya menghabiskan malam panjang dan penuh gairah. Jiao Jiao berbaring tengkurap, luka di tubuhnya sudah diobati dengan sangat hati-hati oleh Fu Si Han. Dia tidak berpindah dari sisi ranjang sejak Jiao Jiao diletakkan di sana. Fu Si Han memang menyuruh dokter pribadi memeriksa kondisi Jiao Jiao, tapi kemudian memutuskan untuk menangani luka-lukanya sendiri. Bagaimanapun, dia tidak percaya orang lain akan melakukan pekerjaannya dengan cermat, takut mereka menyakiti Jiao Jiao tanpa sengaja. Jiao Jiao merasa tubuhnya seolah remuk, terutama saat dia mencoba sedikit menggeser posisi tubuhnya. "Jangan bergerak," kata Fu Si Han tegas, tapi tetap memperlakukannya dengan lembut. "Lukamu baru saja dibalut." Jiao Jiao langsung patuh. "T
Di Fu Group, Fu Si Han tampak sibuk mengamati dokumen di tangannya ketika Ji Ling Shu masuk dengan tergesa-gesa dan melaporkan, "Tuan, sepertinya terjadi sesuatu pada Nona Jiao Jiao." Tanpa bertanya apa pun, Fu Si Han segera menutup dokumen yang ditelitinya. Dia beranjak berdiri, menutup kancing kemeja yang dikenakannya dan keluar dari ruangannya dengan wajah dingin yang telah ditutupi kabut gelap. Langkah Fu Si Han tergesa-gesa, tapi tetap berwibawa dan mantap. Di belakangnya, Ji Ling Shu menyusul bersama beberapa pengawal berpakaian serba hitam dan berwajah datar. "Dalam sepuluh menit aku ingin tiba di Kediaman Li!" Atas titah tak terbantah yang jatuh dari bibir Fu Si Han, mereka berkendara di jalanan yang telah dimanipulasi lampu lalu lintasnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan saat itu tidak begitu padat dan jarak tempuhnya tidak jauh, sehingga mereka hanya butuh sembilan menit untuk membawa Fu Si Han dan Ji Ling Shu yang terlihat seperti ingin memusnahkan
"Coba saja mendekat!" Jiao Jiao menatap orang-orang yang hendak menghampirinya dengan tatapan garang. Matanya seperti menyala dengan rasa marah dan sakit luar biasa.Namun, para penjaga tidak peduli—mereka hanya mengikuti perintah Tuan Li dan cepat menangkapnya dari kedua sisi, membuatnya tidak bisa bergerak bebas.Tuan Li tersenyum puas saat melihat para penjaga berhasil mengendalikan Jiao Jiao, dia menoleh kembali ke arah Haoming yang masih berdiri dengan wajah gelap. "Tuan Feng, apakah menghukumnya berlutut di aula leluhur sudah cukup?"Haoming tidak langsung menjawab. Dia melihat Li Na yang berlumuran darah di pelukannya, lalu perlahan menyapu Jiao Jiao dengan tatapan lebih dingin dari es. "Terlalu ringan untuk apa yang dia lakukan," katanya kejam dan menusuk hati. Dia diam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang jauh lebih dingin dan tanpa belas kasih, seolah tidak pernah ada kasih sayang di antara dirinya dan Jiao Jiao selama tiga tahun belakangan. "Sepertinya aku pernah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.