Share

Chapter 2

Author: Scorpio_Girl
last update publish date: 2026-06-23 13:09:56

​"Sya... Asya?!"

​Suara bariton yang familier itu memecah kepanikanku. Aku menoleh ke belakang, dengan napas yang masih memburu karena berlari. Gabriel ... Dia mengejarku? meninggalkan lapangan dan anggota timnya yang lain? Langkahnya yang lebar dengan cepat menyusulku, dan sebelum aku sempat menghindar, telapak tangannya yang hangat menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut.

​Aku tersentak pelan, setengah terkejut.

​"Eh... maaf, aku mengagetkanmu, ya?" Gabriel buru-buru melepaskan tangannya, menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan sekaligus khawatir.

​"Ah, enggak... enggak apa-apa." Aku menggeleng cepat.

​Kehadiran Gabriel di depanku rasanya seperti oase di tengah gurun. Rasa malu, tapi aku juga sangat bahagia. Amarah yang dipicu oleh Nicholas, entah bagaimana perlahan mereda hanya dengan melihat senyumnya. Hariku yang semula berantakan mendadak terasa sedikit lebih baik.

​"Mereka itu cuma sekumpulan orang idiot yang sengaja mau mengacaukan pikiranmu," ucap Gabriel lembut, mencoba menyemangatiku. "Jadi... kamu nggak perlu memasukkan omongan mereka ke dalam hati, ya?"

​Aku terpaku. Sepasang sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis malu-malu. Dia... sedang menghiburku? batinku, merasakan sensasi hangat yang mulai menjalar sampai ke pipi, meninggalkan rona kemerahan di sana.

​"Aku tahu kamu jauh lebih baik dari apa yang mereka bicarakan tadi," lanjut Gabriel lagi. Dia mengulas senyum tulus, lalu menepuk pelan pundakku sebelum akhirnya pergi.

​Dari kejauhan, di balik pilar koridor, Nicholas berdiri mematung. Ia dengan tampang khas berandalan itu menyaksikan seluruh interaksi diantara Asya dan Gabriel. tanpa sadar, Nicholas mengepalkan tangannya dengan sorot mata tidak suka kearah mereka.

​Aku menatap punggung Gabriel yang mulai menjauh, dengan senyum ku yang selalu mengembang.

'Kenapa dia?' batinku yang sempat menoleh kebelakang, menatap ke arah Nicholas yang masih menatapku tanpa berkedip. Aku mendengus pelan, membuang muka dengan acuh. Rasa kesalku pada Nicholas masih sangat besar untuk dimaafkan begitu saja. Tanpa memedulikan tatapannya, aku mengayunkan kaki, berjalan pergi meninggalkan area olahraga.

​**

​Ting! Ting! Ting!

​Ponselku bergetar tanpa henti di atas kasur, memuntahkan rentetan notifikasi dari grup WeChat kelas yang seketika membuat dadaku sesak.

​"OMG... kalian tahu nggak? Si Asya ternyata naksir anak basket!"

"Idih, bodoh banget. Emang dia pikir dia selevel sama mereka?"

"Gadis culun kayak gitu... emang cuma pantes jadi bahan lelucon doang, sih."

​Aku duduk bersandar di lantai kamarnya yang dingin, menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Kalimat-kalimat tajam itu rasanya seperti dihantamkan langsung ke wajahku.

​"Luar biasa... aku jadi topik pembicaraan paling panas hari ini," bisikku getir. Bahuku merosot seketika, kehilangan seluruh energi. "Semua ini gara-gara Nicholas ... dasar bajingan berengsek! "

​Aku menoleh ke arah jendela kamar. Dari posisiku saat ini, rumah Nicholas terlihat sangat jelas di sebelah. Aku menatap kaca jendelanya dengan pandangan nyalang dan penuh dendam, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan menyentak tirai kamarku dengan kasar, menutup akses ke dunia luar.

​Aku berbalik, melangkah gontai menuju cermin besar di sudut kamar. Bayangan seorang gadis dengan seragam kusut, rambut kuncir kuda yang berantakan, dan mata kemerahan menatapku balik.

​Aku melepaskan jaket sekolahku, melemparkannya sembarang ke lantai. "Apa aku memang seburuk itu di mata orang-orang?" tanyaku lirih pada pantulan diriku sendiri.

​Rasa tidak aman, amarah, dan keinginan yang besar untuk membuktikan diri mendadak bergolak menjadi satu di dalam dadaku. Aku menarik kasar dasi yang melingkari leherku, lalu satu per satu menanggalkan pakaian seragam yang mengurungku seharian ini.

​Aku membuka lemari pakaian paling bawah, meraih sepotong pakaian yang selama ini tersimpan di sudut tersembunyi, sebuah lingerie renda berwarna hitam. Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku mengenakannya.

​Saat aku kembali menghadap cermin, sosok gadis culun di sekolah tadi siang seolah lenyap. Pakaian itu membingkai tubuhku dengan cara yang sangat berbeda, mengekspos belahan dada yang pas dan lekuk tubuh yang tersembunyi di balik seragam longgar. Rambut hitamku yang biasanya selalu dikuncir kuda, kini kuurai bebas, jatuh bergelombang di sekitar bahu. Dan di sana, di atas dada sebelah kanan, sebuah tato kecil berbentuk bintang tampak kontras di atas kulit, memberikan kesan berani sekaligus liar.

​Aku menelan ludah, menatap diriku yang tampak begitu asing namun mempesona.

​"Mungkin... Gabriel akan suka kalau melihat ini. Aku harus lebih berani," bisikku pada diri sendiri, mencoba mengusir keraguan yang tersisa di kepala. "Hanya untuk sekali ini saja..."

​Aku segera meraih ponsel, mengatur sudut kamera, dan mengambil beberapa foto tanpa mengekspos wajahku. Hanya fokus pada siluet tubuh dan tato bintang yang menjadi ciri khas rahasiaku.

​Tanpa menunggu akal sehatku kembali mengambil alih, aku membuka aplikasi pesan. Aku mengirimkan foto-foto tersebut ke nomor Gabriel menggunakan akun anonim, akun rahasia yang selama seminggu ini kugunakan untuk bertukar pesan dengannya tanpa dia ketahui siapa aku sebenarnya.

​Sent.

​Sementara itu, di seberang sana, di dalam sebuah kamar yang temaram, sebuah ponsel berdenting. Seorang cowok memungut ponselnya yang tergeletak di atas meja, membuka gelembung pesan yang baru saja masuk. Begitu foto itu termuat sepenuhnya di layar, matanya langsung melebar. Napasnya tertahan sejenak di tenggorokan melihat lekuk tubuh sensual dan tato bintang yang familier itu.

​Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum yang sulit diartikan, cowok itu bergumam lirih, "Woah... Dia benar-benar liar sekali."

Pria itu mengzoom tato kecil berbentuk bintang yang ada di dada Asya, memperhatikannya dengan raut wajah penuh ketertarikan.

*

*

*

*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 7

    "Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" ​Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' ​"Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. ​Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' ​"Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 6

    ​Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. ​Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. ​"Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" ​"Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. ​"Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" ​"Cihhh ... Masih berani lo deketin

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 5

    ​"Ahhhh! Dasar cowok gila!" ​Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. ​"Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. ​Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. ​Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 4

    ​Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. ​Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. ​Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. ​PLAK! ​"Aw!" seruku kaget. ​Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. ​"Nge

  • ANNOYING NEIGHBOR    chapter 3

    Tetesan sisa air mandi beberapa menit lalu masih mengalir di lekuk tubuh Nicholas saat cowok itu melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan selembar handuk kecil di tangan, ia mengusap rambut hitamnya yang basah secara acak. Nicholas berjalan bertelanjang dada melintasi kamarnya yang sejuk oleh AC, berniat meraih pakaian ganti, sampai sebuah bunyi notifikasi yang khas menghentikan langkahnya. Ting! Nicholas menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia mengernyit heran saat melihat layar ponselnya menyala, menampilkan ikon aplikasi yang tidak biasa. "Ah... gue lupa akun WeChat Gabriel masih nyangkut di HP ini," gumam Nicholas pada diri sendiri. meskipun beda sekolah dan sering menjadi musuh saat pertandingan basket, mereka berdua tetap bersahabat. bahkan sudah bersahabat sejak lama. Minggu lalu, Gabriel memang meminjam ponselnya untuk masuk ke akun miliknya karena baterai ponsel cowok itu mati total, dan mereka lupa mengeluarkan akun tersebut. Nicholas awal

  • ANNOYING NEIGHBOR    Chapter 2

    ​"Sya... Asya?!" ​Suara bariton yang familier itu memecah kepanikanku. Aku menoleh ke belakang, dengan napas yang masih memburu karena berlari. Gabriel ... Dia mengejarku? meninggalkan lapangan dan anggota timnya yang lain? Langkahnya yang lebar dengan cepat menyusulku, dan sebelum aku sempat menghindar, telapak tangannya yang hangat menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut. ​Aku tersentak pelan, setengah terkejut. ​"Eh... maaf, aku mengagetkanmu, ya?" Gabriel buru-buru melepaskan tangannya, menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan sekaligus khawatir. ​"Ah, enggak... enggak apa-apa." Aku menggeleng cepat. ​Kehadiran Gabriel di depanku rasanya seperti oase di tengah gurun. Rasa malu, tapi aku juga sangat bahagia. Amarah yang dipicu oleh Nicholas, entah bagaimana perlahan mereda hanya dengan melihat senyumnya. Hariku yang semula berantakan mendadak terasa sedikit lebih baik. ​"Mereka itu cuma sekumpulan orang idiot yang sengaja mau mengacaukan pikiranmu," ucap Gabrie

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status