LOGIN"Sya... Asya?!"
Suara bariton yang familier itu memecah kepanikanku. Aku menoleh ke belakang, dengan napas yang masih memburu karena berlari. Gabriel ... Dia mengejarku? meninggalkan lapangan dan anggota timnya yang lain? Langkahnya yang lebar dengan cepat menyusulku, dan sebelum aku sempat menghindar, telapak tangannya yang hangat menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut. Aku tersentak pelan, setengah terkejut. "Eh... maaf, aku mengagetkanmu, ya?" Gabriel buru-buru melepaskan tangannya, menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan sekaligus khawatir. "Ah, enggak... enggak apa-apa." Aku menggeleng cepat. Kehadiran Gabriel di depanku rasanya seperti oase di tengah gurun. Rasa malu, tapi aku juga sangat bahagia. Amarah yang dipicu oleh Nicholas, entah bagaimana perlahan mereda hanya dengan melihat senyumnya. Hariku yang semula berantakan mendadak terasa sedikit lebih baik. "Mereka itu cuma sekumpulan orang idiot yang sengaja mau mengacaukan pikiranmu," ucap Gabriel lembut, mencoba menyemangatiku. "Jadi... kamu nggak perlu memasukkan omongan mereka ke dalam hati, ya?" Aku terpaku. Sepasang sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis malu-malu. Dia... sedang menghiburku? batinku, merasakan sensasi hangat yang mulai menjalar sampai ke pipi, meninggalkan rona kemerahan di sana. "Aku tahu kamu jauh lebih baik dari apa yang mereka bicarakan tadi," lanjut Gabriel lagi. Dia mengulas senyum tulus, lalu menepuk pelan pundakku sebelum akhirnya pergi. Dari kejauhan, di balik pilar koridor, Nicholas berdiri mematung. Ia dengan tampang khas berandalan itu menyaksikan seluruh interaksi diantara Asya dan Gabriel. tanpa sadar, Nicholas mengepalkan tangannya dengan sorot mata tidak suka kearah mereka. Aku menatap punggung Gabriel yang mulai menjauh, dengan senyum ku yang selalu mengembang. 'Kenapa dia?' batinku yang sempat menoleh kebelakang, menatap ke arah Nicholas yang masih menatapku tanpa berkedip. Aku mendengus pelan, membuang muka dengan acuh. Rasa kesalku pada Nicholas masih sangat besar untuk dimaafkan begitu saja. Tanpa memedulikan tatapannya, aku mengayunkan kaki, berjalan pergi meninggalkan area olahraga. ** Ting! Ting! Ting! Ponselku bergetar tanpa henti di atas kasur, memuntahkan rentetan notifikasi dari grup WeChat kelas yang seketika membuat dadaku sesak. "OMG... kalian tahu nggak? Si Asya ternyata naksir anak basket!" "Idih, bodoh banget. Emang dia pikir dia selevel sama mereka?" "Gadis culun kayak gitu... emang cuma pantes jadi bahan lelucon doang, sih." Aku duduk bersandar di lantai kamarnya yang dingin, menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Kalimat-kalimat tajam itu rasanya seperti dihantamkan langsung ke wajahku. "Luar biasa... aku jadi topik pembicaraan paling panas hari ini," bisikku getir. Bahuku merosot seketika, kehilangan seluruh energi. "Semua ini gara-gara Nicholas ... dasar bajingan berengsek! " Aku menoleh ke arah jendela kamar. Dari posisiku saat ini, rumah Nicholas terlihat sangat jelas di sebelah. Aku menatap kaca jendelanya dengan pandangan nyalang dan penuh dendam, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan menyentak tirai kamarku dengan kasar, menutup akses ke dunia luar. Aku berbalik, melangkah gontai menuju cermin besar di sudut kamar. Bayangan seorang gadis dengan seragam kusut, rambut kuncir kuda yang berantakan, dan mata kemerahan menatapku balik. Aku melepaskan jaket sekolahku, melemparkannya sembarang ke lantai. "Apa aku memang seburuk itu di mata orang-orang?" tanyaku lirih pada pantulan diriku sendiri. Rasa tidak aman, amarah, dan keinginan yang besar untuk membuktikan diri mendadak bergolak menjadi satu di dalam dadaku. Aku menarik kasar dasi yang melingkari leherku, lalu satu per satu menanggalkan pakaian seragam yang mengurungku seharian ini. Aku membuka lemari pakaian paling bawah, meraih sepotong pakaian yang selama ini tersimpan di sudut tersembunyi, sebuah lingerie renda berwarna hitam. Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku mengenakannya. Saat aku kembali menghadap cermin, sosok gadis culun di sekolah tadi siang seolah lenyap. Pakaian itu membingkai tubuhku dengan cara yang sangat berbeda, mengekspos belahan dada yang pas dan lekuk tubuh yang tersembunyi di balik seragam longgar. Rambut hitamku yang biasanya selalu dikuncir kuda, kini kuurai bebas, jatuh bergelombang di sekitar bahu. Dan di sana, di atas dada sebelah kanan, sebuah tato kecil berbentuk bintang tampak kontras di atas kulit, memberikan kesan berani sekaligus liar. Aku menelan ludah, menatap diriku yang tampak begitu asing namun mempesona. "Mungkin... Gabriel akan suka kalau melihat ini. Aku harus lebih berani," bisikku pada diri sendiri, mencoba mengusir keraguan yang tersisa di kepala. "Hanya untuk sekali ini saja..." Aku segera meraih ponsel, mengatur sudut kamera, dan mengambil beberapa foto tanpa mengekspos wajahku. Hanya fokus pada siluet tubuh dan tato bintang yang menjadi ciri khas rahasiaku. Tanpa menunggu akal sehatku kembali mengambil alih, aku membuka aplikasi pesan. Aku mengirimkan foto-foto tersebut ke nomor Gabriel menggunakan akun anonim, akun rahasia yang selama seminggu ini kugunakan untuk bertukar pesan dengannya tanpa dia ketahui siapa aku sebenarnya. Sent. Sementara itu, di seberang sana, di dalam sebuah kamar yang temaram, sebuah ponsel berdenting. Seorang cowok memungut ponselnya yang tergeletak di atas meja, membuka gelembung pesan yang baru saja masuk. Begitu foto itu termuat sepenuhnya di layar, matanya langsung melebar. Napasnya tertahan sejenak di tenggorokan melihat lekuk tubuh sensual dan tato bintang yang familier itu. Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum yang sulit diartikan, cowok itu bergumam lirih, "Woah... Dia benar-benar liar sekali." Pria itu mengzoom tato kecil berbentuk bintang yang ada di dada Asya, memperhatikannya dengan raut wajah penuh ketertarikan. * * * *"Jadilah pacar gue!" Hah? Ekspresi kesal yang tadi menguasai wajahku seketika berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Aku yakin raut mukaku saat ini terlihat sangat bodoh di depannya. Apalagi siasat cowok berengsek ini? batinku berteriak frustrasi. "Jangan bercanda!" sahutku tajam. Aku sama sekali tidak menganggap serius ucapan gilanya itu. Aku menatap manik mata Nicholas dengan tatapan tidak percaya. Tanpa berpikir panjang, aku segera mendorong dada bidang cowok itu sekuat tenaga agar dia bergerak menjauh dariku. Namun, baru saja aku beranjak beberapa langkah untuk kabur, Nicholas dengan cepat kembali menarik tanganku. Dia memutar tubuhku dan menekan pinggangku rapat-rapat ke dinding yang dingin, mengunci seluruh pergerakanku hingga aku tidak bisa berkutik. "Minggir nggak, lo!" kesalku setengah berteriak, kembali berusaha mendorong dadanya agar menjauh. Jujur saja, aku juga cemas jika Olivia melihat kebersamaanku dengan Nicholas dan membuatnya salah paham. Ni
Begitu aku melangkah mendekati gerbang rumah, suara siulan yang sangat kukenal mengalihkan perhatianku. Aku menoleh dan menemukan Nicholas sedang berdiri diambang gerbang rumahku, dengan gaya bad boynya. "Dia lagi..." gumamku jengah, memutar bola mata saat melihat Nicholas yang berjalan santai menghampiriku. "Ngapain lo ke sini?" "Gue mau bicara sama lo!" ucap Nicholas. Namun, sebelum aku sempat membalas atau mengusirnya, pintu rumahku mendadak terbuka dari dalam. Mama keluar dengan raut wajah tegang. Tanpa basa-basi, Mama langsung menarik lenganku dengan kasar, memaksaku menjauh dari Nicholas, cowok yang di matanya tak lebih dari seorang berandal yang harus dihindari. Lagipula, gaya dan penampilan Nicholas memang jauh dari kesan murid baik-baik. "Putriku tidak perlu berbicara denganmu. Dan tidak ada hal apa pun yang perlu dibicarakan, Anak Muda!" tegas Mama dengan suara menekan sebelum membanting pintu rumah rapat-rapat. BRAK! Di luar sana, Nicholas hanya membalasn
"Gue... gue nggak percaya!" seruku, masih saja berusaha menyangkal kenyataan pahit ini. Gumpalan air mata membuat pandanganku kabur. Aku hampir saja lupa seperti apa sosok Nicholas yang sebenarnya. Bisa saja ini semua hanyalah salah satu rencana liciknya untuk mempermainkan dan menghancurkan mentalku di sekolah! "Lo masih butuh bukti?" tanya Nicholas dingin. Sepertinya dia sadar kalau sekadar memperlihatkan ruang obrolan di layar ponsel tidak cukup untuk membongkar benteng pertahananku. Nicholas menarik bagian bawah kaos tim yang dikenakannya ke atas, memperlihatkan kulit perutnya yang kencang hingga ke bagian pinggang sebelah kiri. Di sana, terukir sebuah tato berukuran sedang yang sangat khas. Tato yang selalu muncul setiap kali akun itu mengirimkan photo/pap bagian tubuhnya padaku di malam hari. Deg. Mataku terbelalak lebar. Tanganku gemetar hebat. Aku teringat jelas pada foto sexting yang dikirimkan akun itu beberapa hari lalu. Gambar tato, bentuk, dan letak tato di ping
Beberapa minggu berlalu dengan cepat, hingga hari yang paling kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku duduk di bangku tribun penonton dengan perasaan luar biasa antusias, menyaksikan pertandingan basket yang berlangsung sangat sengit antara tim sekolah Gabriel melawan tim sekolah Nicholas. Atmosfer di dalam gedung olahraga terasa sedikit panas. Setiap kali tim lawan membawa bola, aku tidak bisa menahan diri. "Gabriel, semangat! Kamu pasti bisa!!" teriakku lantang, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitarku. Teriakanku yang terus bergema ternyata berdampak buruk di lapangan. Nicholas berkali-kali melirik tajam ke arah tribun penonton. Fokusnya pecah, wajahnya mengeras menahan amarah, dan dia bahkan hampir kalah karena sempat mengalami cedera ringan akibat permainannya yang mendadak kacau. Begitu peluit tanda sesi istirahat berbunyi, Nicholas langsung berjalan cepat meninggalkan lapangannya. Alih-alih menuju bangku timnya, cowok tampan dengan rambut sedikit berantak
Malam semakin larut, namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Rasa gugup tentang rencana pertemuanku dengan Gabriel minggu depan membuat pikiranku carut-marut. Untuk mencari udara segar dan menenangkan debaran jantungku, aku memutuskan untuk melangkah keluar menuju balkon kamar. Kriettt. Suara derit pintu kaca balkonku yang terbuka memecah keheningan malam. Begitu aku melangkah keluar, hembusan angin malam langsung menerpa kulitku. Namun, sedetik kemudian langkahku membeku.'malam-malam begini, dengan penampilan seperti itu ...' batin ku dengan kening berkerut. Tepat di balkon rumah sebelah yang hanya berjarak beberapa meter, Nicholas sedang berdiri bersandar. Cowok itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana santai selutut, membiarkan otot dada dan perutnya yang atletis terekspos bebas di bawah sinar rembulan. Jari-jarinya yang kokoh, terlihat tengah menjepit sebatang rokok yang menyala. Glek. 'Nicholas sialan,' Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku seolah ter
"Oh, shit..." Nicholas mendesis lirih di sudut tribun lapangan basket. Sepasang matanya masih terpaku lekat pada layar ponsel, memandangi foto sensual dari teman sexting online-nya yang baru saja ia kunci di folder pribadi. Nicholas memperbesar gambar di bagian dada, mengamati lekat-lekat tato berbentuk bintang berukuran kecil di sana. Tato khusus yang telah menyalakan gairahnya sejak pertama kali foto itu terkirim. "Gue nggak pernah ngebayangin kalau cewek liar semalam itu ternyata..." Nicholas bergumam pelan pada dirinya sendiri. Fokusnya terlalu tersedot ke dalam layar hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa Gabriel dan Chalvin sudah melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya sejak tadi. "Woah... apa itu, Nic?" seru Gabriel tiba-tiba, langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Nicholas dan mencondongkan kepala, berusaha mengintip apa yang sedang dilihat sahabatnya hingga seserius itu. "Pantesan belakangan ini lo selalu pulang sore pas latihan. Ada mainan baru rupany







