Share

Aluna Mabuk

Author: SweetWater
last update publish date: 2026-10-04 18:00:00

Menikah.

Entah sudah berapa kali Aluna memikirkan hal itu. Permintaan orang tua Sebastian agar mereka segera menikah benar-benar membuat kepalanya pusing sejak tadi malam.

Meskipun Sebastian sudah mencarikan jalan keluar, Aluna tetap saja tidak bisa berhenti memikirkannya. Terlebih ketika ia mengingat percakapannya dengan Sarah semalam.

Sarah adalah orang yang sangat baik. Aluna jadi merasa tidak tega jika harus membohonginya. Apalagi, Ibu Sebastian tampaknya benar-benar berharap besar pada pernikahan mereka.

“Ah, rasanya aku bisa gila!”

Aluna langsung membanting baju yang hendak ia lipat. Kebetulan sore ini ia memang tengah membereskan kamar kosnya.

Harusnya Sebastian itu mencari wanita yang benar-benar ia cintai. Kemudian menikah dan membuat orang tuanya bahagia. Bukan malah menyeret Aluna ke dalam kebohongan seperti ini.

Saat Aluna masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba suara melengking membuyarkan konsentrasinya.

“Aluna!”

Gadis itu langsung menoleh. Tatapannya tertuju pada kamar kosnya yang memang sedang terbuka. Kevin, sahabatnya, sudah muncul di sana.

Pria bergaya feminim itu tampak berlari tergopoh-gopoh memasuki kamar kosnya.

Aluna mengernyit melihat kedatangannya yang tiba-tiba. “Kenapa kamu? Di kejar massa?”

“Sembarangan!” Kevin langsung mengomel.

Sementara itu Aluna hanya terkekeh sebelum kembali melanjutkan kegiatannya. Namun, Kevin tiba-tiba duduk di hadapannya dan menatapnya serius.

“Aku dengar, kamu mau nikah sama Sebastian Narendra? Si Duda tampan itu? Serius, Aluna?!” Pekik Kevin, merasa tidak percaya. “Kamu habis mimpi ketiban durian atau emas, ha?!”

“Ketiban sial,” sahut Aluna datar.

Kevin berdecak dengan gaya manja. “Ih, serius!” Ia mulai cemberut. “Sekarang juga ceritain, gimana kamu bisa mau nikah sama duda tampan itu?”

Aluna diam sejenak. Pura-pura berpikir. Padahal aslinya ia hanya sedang mengerjai Kevin.

“Ah, panjang banget kalau di ceritain. Takutnya otakmu yang lembek itu nggak akan sanggup.” Kata Aluna.

“Ih, sialan!” Kevin memekik, lalu mendorong bahu Aluna yang tengah tertawa. “Udahlah. Kalau kamu nggak mau cerita. Mending aku pergi lagi aja.”

“Mau ke mana?” Aluna bertanya cepat.

Kevin menjawab santai, “Club.”

Aluna mengamati Kevin yang kini sibuk membenarkan tatanan rambutnya.

“Aku udah janjian sama Sansa dan Reihan juga,” imbuh Kevin kemudian. “Mau ikut?”

Aluna terdiam sebentar.

Sebenarnya ia tahu pergi ke club bukan solusi untuk masalahnya. Tapi setidaknya, di sana ia bisa melupakan sejenak soal tuntutan pernikahan, Sebastian, dan segala masalah yang sedang memenuhi pikirannya.

“Mau.” Tanpa pikir panjang Aluna langsung mengangguk.

“Bayar sendiri tapi.”

“Ih, perhitungan banget sama temen!” Protes Aluna.

Kevin memutar bola mata. “Ya lagian kamu bentar lagi nikah sama duda kaya itu, kan. Udah nggak miskin lagi kamu nanti. Banyak duitnya.”

Aluna hanya mendengus. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun pergi bersama Kevin.

Club juga bukan tempat yang asing lagi bagi Aluna. Sejak merantau dan tinggal di kota, ia cukup sering pergi ke sana bersama teman-temannya. Untuk sekedar senang-senang atau mencari hiburan semata.

Begitu memasuki club, dentuman musik langsung menyambut mereka. Lampu warna-warni berkelap-kelip di atas dance floor yang dipenuhi orang-orang yang tengah menikmati malam.

Kini, tubuh Aluna sudah bergoyang mengikuti irama musik di tengah dance floor. Gerakannya begitu lincah, meliuk dengan indahnya.

“Minta satu gelas lagi!” teriak Aluna kepada bartender.

“Kamu udah habisin lima gelas, Aluna,” peringat Sansa. “Kamu bisa teler!”

“Nggak peduli. Aku cuma mau senang-senang malam ini!” teriak Aluna sambil tertawa. Ia lalu kembali menggoyangkan tubuhnya, kali ini bersama Kevin.

Goyangan Kevin bahkan jauh lebih heboh daripada Aluna.

Reihan yang tengah duduk di dekat Sansa langsung mengingatkan. “Biarin ajalah, Sa. Lagi banyak masalah dia.”

Sansa hanya mendengus.

Masalahnya, Sansa sudah tahu betul bagaimana jadinya kalau Aluna mulai kehilangan kendali karena alkohol.

Beberapa saat kemudian, Aluna sudah berada di kamar mandi dengan Sansa yang menemaninya. Aluna sedang muntah-muntah, benar-benar sudah mabuk berat sampai untuk sekadar berjalan pun tidak sanggup.

“Kubilang juga apa!” Sansa mulai mengomel. “Habis ini mending kamu langsung pulang. Biar Reihan yang antar.”

Tapi Aluna tidak menggubris. Ia masih sibuk menahan rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya. Setelah muntahnya reda, Aluna menyeka bibirnya. Satu tangannya masih memegangi kepala yang terasa berkunang-kunang

Dengan gerakan yang masih sempoyongan, Aluna kemudian meraih tasnya. Namun, tanpa sengaja ponselnya ikut terjatuh. Layarnya menyala, menampilkan nama seseorang yang tengah menghubunginya.

“Ada telepon, nih,” kata Sansa sambil membaca nama yang tertera di layar ponsel Aluna. “Dari Sebasti—Aluna!”

Sansa langsung memekik. Gadis itu tiba-tiba ambruk dan tidak sadarkan diri.

“Astaga! Pakai pingsan segala ini anak!”

**

Pagi harinya, Aluna terbangun karena getaran ponsel sekaligus suara gedoran pintu yang berasal dari kamar kosnya.

Benar-benar digedor, seperti seseorang sengaja ingin mendobrak pintu kamar kosnya dari luar.

“Apa, sih?!” Gadis itu menggerutu sambil berusaha membuka matanya yang berat.

Sesaat, Aluna memegangi kepalanya. Rasanya masih pusing sekali. Ia lalu menatap sekeliling dengan dahi berkerut. Samar-samar, ia mulai mengingat kejadian semalam.

Club. Musik yang begitu keras. Minuman yang entah sudah berapa gelas ia habiskan. Lalu muntah-muntah di kamar mandi.

Setelah itu … kosong.

Aluna mengernyit. Entah bagaimana ia bisa sampai berada di kamar kosnya pagi ini. Mungkin teman-temannya yang membopongnya pulang, lalu menggeletakkannya begitu saja di kamar.

DOK! DOK!

Suara gedoran pintu itu kembali terdengar, bahkan jauh lebih keras.

“Ah, sial! Siapa juga sih yang datang?”

Aluna berusaha bangun, mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan menuju pintu.

Begitu pintu dibuka, Sebastian sudah berdiri di sana sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya, seolah baru saja mencium sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

“Sebastian?” Kedua mata Aluna langsung terbuka begitu saja. “Ngapain kamu disini?!”

Namun, pria itu hanya mengernyit sambil menatap Aluna heran. “Kamu mabuk?”

Aluna balas mengernyit. “Kenapa emangnya?” Ia melipat kedua tangannya, tampak malas meladeni Sebastian. “Ada masalah?”

Sebastian mengangkat sebelah alis. “Kupikir kamu gadis polos yang suci. Ternyata …”

Pria itu sengaja menggantung kalimatnya, membuat Aluna yang mendengar langsung mendelik.

“Apa maksudmu?” Aluna tampak tidak terima. “Asal kamu tahu, aku ini memang suci. Buktinya, aku masih perawan,” ujarnya tanpa pikir panjang.

Sebastian seketika berdeham sambil mengalihkan pandangan ke sekitar.

Aluna hanya mengernyit, lalu mengikuti arah pandang Sebastian. Sialnya, ia baru menyadari sesuatu. Kosnya yang dihuni para wanita itu sedang cukup ramai. Jangan-jangan mereka tadi mendengar percakapannya dengan Sebastian?

Aish!

“Mending kamu masuk dulu,” ujar Aluna kemudian.

“Nggak usah. Kita harus pergi sekarang.”

“Hah? Kita?” Aluna mengernyit heran.

“Cepat siap-siap. Aku kasih waktu sepuluh menit, setelah itu kita pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Mama minta kita pergi buat fitting baju pengantin,” jawab Sebastian datar.

“Fitting baju peng—“ Aluna langsung membelalak. “Sekarang?!”

“Hm. Cepat. Aku tunggu di mobil.”

Setelah mengatakan itu, Sebastian langsung pergi begitu saja.

Aluna hanya bisa menatap punggung pria itu dengan tatapan tidak percaya.

Fitting baju pengantin?

Dalam kondisi kepala masih berputar seperti ini, jangankan memilih baju pengantin. Berdiri saja rasanya masih perlu perjuangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Mengingatkan Batas Aluna

    Aluna tertegun. Ia tidak menyangka Sebastian akan menanggapi ucapannya seserius itu. “Kenapa kamu malah marah?” protes Aluna. “Aku nggak peduli kamu mau nyimpen foto atau cincin itu. Aku cuma kasihan sama kamu.” “Kamu bilang apa?” Aluna sempat ragu, tetapi akhirnya melanjutkan, “Kamu terlalu cinta sama mantan istrimu sampai nggak sadar kalau kamu terus bikin Mama Sarah kecewa. Padahal, Mama Sarah cuma pengen kamu move on. Makanya, selama ini dia sering jodoh-jodohin kamu.” Aluna teringat obrolannya dengan Sarah beberapa waktu lalu. Awalnya, ia mengira Sebastian memang tidak tertarik menjalin hubungan atau punya standar tinggi dalam memilih pasangan. Namun, setelah menemukan foto dan cincin pernikahan itu, Aluna mulai berpikir bahwa Sebastian mungkin memang belum sepenuhnya melupakan masa lalunya. Sebastian melangkah mendekat. Ia menundukkan kepala hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. “Aku nggak butuh dikasihani, apalagi dinasihati,” ujar Sebastian dingin. Alu

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Sebastian Dan Masa Lalunya

    Tubuh Aluna tergeletak lemas di sofa ruang keluarga penthouse Sebastian. Siang tadi, setelah membahas rencana ulang tahun Reihan bersama Kevin dan Reihan, ia langsung mengajak keduanya memindahkan barang-barangnya dari kos ke penthouse. Ia bahkan sudah melunasi tunggakan sewa kos menggunakan uang pemberian Sebastian. Sekarang, resmilah Aluna tinggal satu atap dengan pria itu. Aluna melirik jam dinding. Pukul enam sore, tetapi Sebastian belum juga menunjukkan batang hidungnya. “Ah, pegel banget badanku!” keluhnya sambil meregangkan tubuh. Dengan malas, Aluna bangkit dari sofa. Masih ada beberapa barang yang belum dibereskan. Kalau terus bermalas-malasan, bisa-bisa Sebastian pulang saat kamarnya masih berantakan. “Nanti cowok nyebelin itu ngomel lagi,” gerutu Aluna sambil menyeret koper ke kamar. Sebastian tidak memberitahu Aluna di mana harus menyimpan barang-barangnya. Karena itu, Aluna berinis

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Teman Setan

    “Kamu mau berangkat kerja?” tanya Aluna saat Sebastian memasuki ruang makan.Pagi ini, Sebastian sudah berpakaian rapi dengan setelan jas kerjanya. Padahal, Aluna mengira pria itu masih akan libur setelah mereka menikah kemarin.“Hm. Ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum cuti buat bulan madu minggu depan.”Mata Aluna langsung membulat. Bulan madu? Kata-kata itu membuatnya berpikir beberapa saat.“Maksudmu … kita bakal bulan madu kayak pengantin sungguhan?” tanya Aluna, masih tak percaya. Sebastian hanya mengangguk singkat sebelum menarik kursi dan duduk.Aluna terdiam. Kenapa ia dan Sebastian perlu melakukan bulan madu? Jangan bilang alasan Sebastian mengajaknya bulan madu supaya bisa fokus mengajaknya untuk membuat anak. Ah, sial! Membayangkannya saja sudah membuat Aluna merinding.“Kamu yang masak ini?”Pertanyaan Sebastian sontak membuyarkan lamunannya. Aluna buru-buru mengangguk.

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Rockie?

    Hari semakin larut, tetapi Aluna masih terjaga di sofa kamar Sebastian. Pria itu sedang membersihkan diri di kamar mandi, sementara pikiran Aluna sibuk membayangkan apa yang akan terjadi setelah mereka berdua tidur nanti. Jangan-jangan, mereka benar-benar akan langsung membuat anak? “Nggak!” Aluna menunduk sambil menjambak rambutnya. “Aku belum siap, Tuhan ….” Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Aluna spontan menoleh dan langsung membeku saat melihat Sebastian keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambut pria itu masih basah, begitu pula tubuhnya. Aluna bahkan bisa melihat bulir-bulir air menetes di tubuh atletis itu. Aluna menelan ludah. Entah kenapa, kamar yang tadi terasa dingin mendadak membuatnya gerah. Sebastian berjalan menuju lemari. Mata Aluna tanpa sadar terus mengikutinya, sampai pria itu meraih ujung handuk di pinggangnya. “Tunggu!” Aluna buru-buru berdiri.

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Kontrak Baru

    Kontrak baru?!Aluna langsung melotot. “Apa? Nggak! Aku nggak mau!” tolaknya panik. Mengingat kontrak sebelumnya saja sudah membuat Aluna pusing. Sekarang, Sebastian malah ingin membuat kontrak baru?“Terus, kamu punya usul lain?” Sebastian menatap Aluna santai.Aluna terdiam sejenak. Ia menatap Sebastian dengan raut gelisah sebelum akhirnya menjawab, “Nggak punya. Kepalaku buntu. Lagian, gimana caranya kita bisa punya anak? Emangnya bisa aku sama kamu—”Kalimatnya terhenti.Bayangan tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memiliki anak mendadak melintas di kepala Aluna. Ia buru-buru menggeleng, berusaha mengusir pikiran itu.Sebastian justru tersenyum miring. “Bisa.”Aluna menatapnya tak percaya. “Yang benar aja?! Bisa?”Sebastian mengangguk. “Kita cuma perlu—““Sebastian!” Aluna langsung berteriak geli.Pria itu terkekeh pelan, membuat Aluna semakin kesal.“Aku nggak ma

  • ASAL TARIK JADI MENIKAH   Harus Punya Anak

    Acara pernikahan Aluna dan Sebastian ternyata belum selesai. Jika pemberkatan tadi hanya dihadiri beberapa anggota keluarga, resepsi malam ini dihadiri oleh semua keluarga besar Narendra, tanpa tamu dari luar keluarga.Dekorasi maroon yang senada dengan gaun Aluna membuat pesta sederhana itu tetap terlihat mewah dan elegan.Sejak tadi, Aluna sibuk tersenyum, menyapa kerabat Sebastian dan berfoto. Untungnya, ia tidak harus menghafal semua nama mereka. Kalau iya, bisa-bisa kepalanya pusing sebelum pesta berakhir.“Keluargamu kayaknya baik-baik banget, ya,” ujar Aluna sambil memperhatikan beberapa kerabat Sebastian yang sedang berbincang.“Nggak semuanya.”Aluna langsung menoleh. “Serius?” Ia tampak ragu. “Tapi dari tadi nggak ada kok yang ngehina aku. Makanya aku pikir semuanya baik.”Sebastian mengalihkan pandangan ke seorang pria yang berdiri tidak jauh dari ayahnya. “Itu Paman Frans. Sebisa mungkin, jangan cari masalah sama dia,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status