LOGINBerbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-repot mencari darah ke mana-mana."
Menghembuskan nafasnya cepat, Safak berkata, "Sudahlah, cepat bawa aku ke tempat pendonoran darah. Kita tidak punya banyak waktu. Anisa butuh darah ini secepatnya."
Widia terkejut mendengar kakaknya mengetahui nama pasien, "Kak, kamu mengenal wanita itu?"
"Kau ini, jangan banyak tanya! Ceritanya lain kali saja. Sekarang yang paling penting selamatkan Anisa!" Safak berkata dengan tidak sabar.
Widia terkekeh, "He he, iya iya... Ya sudah, ayo ikut aku!"
Widia lalu membawa Safak ke ruang donor darah di dekat sana. Setelah melakukan prosedur pemeriksaan kesehatan singkat, Safak diminta naik ke tempat tidur yang tersedia untuk melakukan pendonoran darah.
"Aku akan mulai proses pengambilan darah sekarang. Harap tetap tenang dan rileks, ini hanya akan berlangsung sesaat," ucap Widia.
"Lakukan saja," jawab Safak.
Darah berwarna merah pekat mulai mengalir keluar dari lengan Safak, diserap oleh tabung yang terhubung dengan kantong plastik di sampingnya. Suasana ruangan donor darah terasa hening, hanya terdengar suara mesin penyedot darah yang teratur.
Beberapa waktu berlalu, kantong darah sudah terisi penuh. Widia kemudian menutup suntikan, sambil memberikan ujung kantong darah ke perawat yang siap menyalurkannya ke tubuh Anisa.
"Sebelumnya aku ucapkan terimakasih, Kak. Kamu sungguh telah menjadi pahlawan hari ini. Ohh iya, aku penasaran, bagaimana kamu bisa mengenal wanita, Anisa ini? Jangan bilang dia termasuk mantan pacarmu dulu?" tanya Widia main-main.
Namun Widia terkejut begitu mendengar jawaban dari Safak. "Dia memang mantanku. Kenapa? Aku tidak boleh membagi darahku untuk mantan pacarku?"
"Apa? Jadi wanita itu beneran mantan pacarmu?" tanya Widia tak percaya.
Safak mengangguk, "Tentu saja benar. Kau ingat? Orang yang sampai sekarang masih selalu aku pikirkan?"
Membuka kedua mata dan mulutnya lebar-lebar, Widia lalu menutup mulut itu dengan telapak tangannya.
Menarik telapak tangannya ke bawah, Widia berkata, "Astaga... Jadi dia orangnya?" Widia menghela nafas sebelum melanjutkan, "Ya, sayang sekali dia sudah menikah. Jika saja belum, mungkin bisa menjadi Ibu dari Jihan."
Jihan adalah anak Safak yang masih berusia 4 bulan. Dia harus kehilangan ibunya saat berusia 2 bulan, karena ibunya mengalami kecelakaan.
"Hushh... Lupakan itu. Bahkan jika Anisa belum menikah, dia juga gak bakalan mau sama aku," ujar Safak.
"Hemm... Iya aku tau itu. Tapi sekarang beda lo Kak. Oh iya, dari yang aku amati... Suami Kak Anisa ini sepertinya tidak terlalu peduli padanya. Aku bisa mengatakan ini, karena aku sudah mengamatinya sejak mereka sampai di rumah sakit, tadi. Dia selalu meminta pada kami untuk menyelamatkan anaknya, sementara istrinya tidak pernah dia katakan pada kami untuk menyelamatkannya. Huh, aku heran. Kok bisa ada ya, laki-laki seperti itu," Widia sampai menggelengkan kepala.
"Kau tidak perlu berpikiran atau ikut campur rumah tangga orang. Sebaiknya kau fokus saja pada tugasmu untuk menyembuhkan Anisa. Aku mau pulang sekarang," ujar Safak.
"Emm, iya iya. Sekali lagi terimakasih ya, Kak. Hati-hati..." ucap Widia.
Safak mengangguk sebelum menyentil hidung adiknya itu. Dia kemudian berdiri dan mulai berjalan keluar dari ruangan.
Saat Safak sudah pergi, barulah Widia ingat masih ada sesuatu yang belum dia tanyakan. "Huh, dia sudah pergi. Padahal aku mau tanya ke dia, dari mana dia tau kalau rumah sakit ini membutuhkan pendonor, dan bagaimana dia bisa tiba-tiba berada di rumah sakit di jam segini?"
***
Safak sendiri, sebelum benar-benar keluar dari rumah sakit, dia menyempatkan diri untuk melihat ke bangsal tempat Anisa dirawat.
Melihat tubuh lemahnya yang masih pucat dan tak sadarkan diri, membuat dadanya terasa sakit.
Dalam keadaan seperti itu, Safak memaksakan senyumnya dan bergumam, "Semoga sedikit darahku ini bisa menolongmu. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, sekarang."
Saat Safak berbalik dan bersiap untuk pergi, tiba-tiba dia mendengar teriakan, "Tolong! Tolong! Tolong anakku! Dia muntah-muntah, tolong!"
Melihat ke arah sumber suara, itu adalah tempat perawatan bayi prematur. Atau tempat di mana bayi Anisa di rawat saat ini. Dan tentu saja, yang baru berteriak itu adalah Tegar sendiri, suami Anisa.
"Sial, apa yang terjadi?"
Karena penasaran, Safak pun segera bergegas mendekat ke tempat itu.
Tegar yang panik dan tidak tahu harus berbuat apa, segera bertanya pada perawat yang sedang menangani anaknya. "Apakah anakku baik-baik saja? Apa yang terjadi?"
Perawat mencoba menenangkan Tegar, "Bapak tenang, muntah-muntah adalah hal yang biasa terjadi pada bayi prematur. Tidak perlu khawatir, kami akan terus memantau keadaannya."
Meski mengatakan itu, perawat juga merasa panik, karena bayi itu terus muntah. Bahkan dia semakin pucat dan lemah.
"Sus, bagaimana aku bisa tenang? Lihat, anakku muntah terus tidak mau berhenti! Dia juga semakin pucat!" pekik Tegar, terdengar begitu khawatir.
"Cepat panggil dokter Hendra! Hanya dokter spesialis yang bisa menangani ini!" teriak salah satu perawat pada perawat lain.
"Tapi ini masih terlalu pagi, bahkan masih gelap. Apakah dokter Hendra bahkan sudah bangun?" ujar salah satu perawat lain.
Tegar yang tidak sabar, berbalik untuk menatap tajam perawat barusan. "Aku tidak peduli apakah dia sudah bangun atau belum. Panggil dia sekarang! Aku tidak mau tau, dia harus datang sekarang juga!" teriaknya.
"Sabar Pak, baik kami akan mencoba menghubungi dokter Hendra," ucap perawat dengan nada cemas.
Perawat itu kemudian pergi, untuk mencoba menghubungi dokter Hendra menggunakan telepon rumah sakit. Namun setelah berkali-kali mencoba, usahanya sia-sia belaka.
Lagi pula, jarang sekali ada orang yang sudah bangun di jam 3 pagi. Kecuali orang itu sedang bekerja atau berkepentingan.
Karena tidak berhasil menghubungi dokter Hendra, perawat itu mencari Widia, "Dokter Widia, kami sudah berusaha menghubungi dokter Hendra namun tidak berhasil. Meskipun bukan dokter spesialis, tapi hanya Anda yang saat ini bisa menolong anak itu."
Widia mengerutkan dahinya dan mengangguk, "Baiklah, ayo kita ke sana!"
Widia dan perawat itu dengan cepat menuju ke ruang perawatan bayi prematur tempat anak Anisa dirawat. Begitu tiba di sana, Widia cukup terkejut karena melihat kakaknya masih ada di sana.
Namun keterkejutannya tidak berhenti di situ saja, dia kembali terkejut saat melihat bayi Anisa terus muntah berbusa dan mengejang hebat.
"Dok, tolong selamatkan anakku, Dok! Selamatkan anakku!" Tegar terlihat sangat putus asa saat itu.
"Baik, Bapak yang tenang, ya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, untuk menyelamatkan bayi ini!" jawab Widia mencoba menenangkan." Dia kemudian menatap para perawat di sana dan melanjutkan, "Lakukan persiapan untuk operasi kecil pada anak ini. Sepertinya dia mengalami masalah pada saluran pencernaan. Kita harus segera mengatasi hal ini sebelum menjadi lebih parah."
Paginya. Anisa menatap layar ponselnya yang sudah mati sejak tadi malam. Nomor Minah yang terakhir menghubunginya masih terbayang di benaknya. Ancaman itu bukan hal baru, tapi setiap kali terdengar, ada rasa lelah yang menusuk dada. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel di meja kecil di samping ranjang. Jihan masih tertidur pulas di sebelahnya, napas kecilnya teratur, tangan mungilnya sesekali bergerak seperti sedang bermimpi. “Kasihan kamu, Nak,” bisik Anisa sambil mengelus rambut halus Jihan. “Ibu janji, Ibu akan jaga kamu sekuat tenaga.” Pagi itu, matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai. Anisa bangun lebih awal, mandi, lalu menyiapkan sarapan sederhana—nasi goreng sisa semalam yang dihangatkan dan telur mata sapi. Ia makan sambil sesekali melirik jam dinding. Hari ini ia harus ke kantor lebih pagi karena ada rapat evaluasi bulanan. Tepat pukul 07
Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang
Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi
Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus
Meeting usai dengan cepat. Karyawan Tifana Group keluar ruangan sambil berbisik-bisik. Sementara itu, Anisa masih duduk di kursinya, pikirannya kacau. Safak lalu mendekat pelan. "Nisa, kamu baik-baik saja?" Anisa mengangguk pelan. "Aku... tidak menyangka kamu akan sekeras itu." "Aku hanya melindungimu," jawab Safak lembut. "Mereka sudah cukup menyakitimu. Sekarang giliran aku yang akan berdiri di depanmu." Anisa menatap mata Safak lama. Ada kehangatan di sana yang dulu pernah ia rasakan saat mereka pacaran dulu. Tapi ada luka yang masih terlalu dalam. "Aku butuh waktu, Safak. Jangan terlalu dekat dulu." Safak mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menunggu." --- Sore itu, Anisa pulang lebih awal. Jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian di ruang rapat. Di rumah kontra
Ruang rapat yang tadinya tegang kini membeku total. Kata-kata Safak seperti palu hakim yang menghantam meja. Dinda berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya memerah padam campur antara marah dan malu. Tegar di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tapi tak berani bicara. "Apa maksudmu?!" bentak Dinda, suaranya nyaris pecah. "Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama begitu saja! Ini sudah tahap final! Ayahku—" Safak mengangkat tangan, memotong ucapannya dengan dingin. "Ayahmu? Memang kenapa dengan Ayahmu? Setiap hari yang bisa kau banggakan hanyalah Ayahmu. Apa tidak ada orang lain selain Ayahmu yang bisa kau banggakan? Oh iya satu kali lagi kuberi tahu... Apa kau pikir, ayahmu dan perusahaan kecil seperti Sapphire Industries punya hak untuk bekerja sama dengan perusahaan ini? Jika bukan karena kami sedang mengajari dan menuntun karyawan-karyawan baru kami untuk maju dan menambah pengalaman, apa kau pikir kalian berdua masih pantas masuk ke perusahaan
Semua orang terdiam mendengar perkataan Tegar. Namun secara tiba-tiba, salah satu dari ibu-ibu di sana dengan sinis berkata, "Hey Tegar. Anisa istrimu? Lalu apakah kau pernah memperlakukan dia sebagai istri? Kami semua yang ada di sini tau, kau memperlakukan Anisa tidak lebih dari seperti seorang
Perawat di sana juga terkejut melihatnya, "Astaga Ibu... Sepertinya ini air ASI. Dan ini banyak banget...""Air ASI? ASI ku keluar? Tapi..." Anisa terdiam saat mengingat bayinya sudah tiada. Dia menangis dan melanjutkan, "Seandainya saja kamu selamat, Nak. Kamu pasti kenyang
Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istr
Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupia







