LOGINPara perawat di sana segera mengikuti intruksi Widia. Bergegas mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan operasi kecil.
Namun saat operasi akan dilakukan, bayi itu sudah tidak mengejang lagi. Lebih tepatnya dia sudah tidak bergerak, detak jantungnya hilang dan tidak bernafas.
"Innalillahi..." Seorang perawat menatap Widia, "Dok?"
Widia menghela nafas, "Mau bagaimana lagi? Kita sudah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi takdir berkata lain." Dia lalu mendekat dan mengelus kepala bayi yang sudah tak bernyawa itu, "Kasihan sekali kamu, Nak. Tapi takdirmu hanya sampai di sini saja."
Widia menatap salah satu perawat dan memerintahkan, "Beri tau Ayah bayi ini pelan-pelan! Sepertinya dia sangat berharap pada anak ini. Aku cuma khawatir, kalau dia tidak akan mampu menerima kenyataan."
Perawat mengangguk, "Baik, Dok. Saya akan coba bicara perlahan."
Perawat itu lalu keluar dari ruangan dan langsung berhadapan dengan Tegar.
"Sus, bagaimana anakku? Dia baik-baik saja kan?" tanya Tegar.
Belum sempat perawat itu menjawab, tiba-tiba seorang wanita setengah baya datang entah dari mana dan langsung bertanya, "Di mana cucuku, Tegar? Aku ingin melihat cucuku!"
"Ibu, Bapak, maaf... Kami sudah berusaha sebisa kami, tapi..."
"Tapi apa? Jangan bicara yang tidak-tidak tentang anakku! Dia pasti tidak akan kenapa-napa! Anakku tidak akan kenapa-napa! Kamu sebaiknya jangan bicara ngawur!" potong Tegar dengan tegas.
"Maaf Pak, tapi..."
Kembali Tegar memotong ucapan perawat itu, "Jangan bicara! Aku mau melihat anakku, minggir!"
Tegar mendorong perawat itu ke samping, sebelum dia menerobos masuk ke ruangan yang tadi akan dijadikan tempat operasi kecil. Minah dan Dinda juga mengikutinya masuk ke ruangan tersebut.
Widia dan perawat yang lain masih ada di sana untuk mengurus proses pasca kematian bayi Anisa. Mereka terdiam saat melihat Tegar dan dua wanita itu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Anakku..."
"Cucuku..."
Tegar dan Minah berseru bersamaan. Sementara untuk Dinda, dia hanya diam karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Terduduk di sebelah bayi yang sudah tak bernyawa, Minah menjerit, "Sialan, Anisa benar-benar tidak berguna! Bagaimana dia bisa kecelakaan? Dia telah membuat cucuku meninggal. Aku akan berurusan dengannya setelah ini!"
"Ya Ibu, aku sangat berharap dia tidak akan pernah mendapatkan pendonor, agar dia cepat mati!" sahut Tegar.
Menoleh ke arah putranya, Minah bertanya, "Apa maksudmu, Tegar?"
"Wanita itu masih belum bangun sampai sekarang, karena kehabisan banyak darah. Dan di rumah sakit ini tidak ada darah yang cocok untuknya. Seharusnya dia saja yang mati! Bukan anakku!" jawab Tegar penuh kekesalan.
"Oh, jadi begitu? Ya, semoga saja wanita tidak tau diuntung itu cepat-cepat mati. Sejujurnya, aku juga sudah muak dengannya. Jika bukan karena dia sedang mengandung cucuku, pasti dia sudah lama kutendang dari rumah!" tegas Minah.
Kedua orang ini sepertinya lupa, sedang berada di mana mereka sekarang. Sehingga mereka bicara, tanpa menyaring dulu apa yang akan dikeluarkan lewat mulut mereka.
Widia hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya, saat mendengar yang dikatakan dua orang itu. Bukan hanya Widia saja, namun semua perawat juga sama-sama tidak mempercayai yang baru mereka dengarkan.
Saat itu, seorang perawat datang ke ruangan tersebut, "Dengan keluarga Ibu Anisa? Pasien sudah siuman sekarang. Meskipun kondisinya masih lemah."
Tegar dan Minah tentu terkejut mendengar kabar itu. Tegar kemudian menatap perawat tersebut dan bertanya, "Sudah siuman katamu? Bukankah dia belum mendapatkan darah yang cocok untuknya? Bagaimana dia bisa sadar secepat ini?"
Perawat barusan tersenyum, "Ohh, maaf lupa memberitahu Anda, Pak. Tadi ada seseorang yang sudah mendonorkan darah untuk Ibu Anisa. Dan Ibu Anisa telah berhasil melewati masa kritisnya."
"Apa? Ada yang mendonorkan darah untuk wanita seperti itu? Sungguh beruntung sekali wanita seperti dia!" Tegar berdiri sambil mengepalkan telapak tangannya, "Ayo Ibu, kita lihat wanita itu!"
"Ya, ayo kita lihat! Kalau perlu, aku akan memberinya pelajaran!" jawab Minah tidak sabar.
Begitu saja, Tegar dan Minah meninggalkan ruangan tersebut, dan Dinda tentu mengikutinya.
Seorang perawat yang khawatir bertanya ke Widia, "Bagaimana ini, Dok? Pasien masih dalam kondisi lemah, dan setelah mendengar dari semua yang dikatakan keluarganya barusan, saya khawatir mereka akan berbuat kasar ke pasien."
"Aku juga sepemikiran denganmu. Baiklah, untuk lebih amannya kamu panggil penjaga keamanan saja! Minta penjaga keamanan untuk berjaga di luar ruangan tempat pasien dirawat! Jika terjadi keributan dan orang-orang itu menyakiti pasien, biarkan penjaga keamanan yang melerai," ujar Widia.
"Baik, Dok," jawab perawat barusan, sebelum pergi untuk memanggil penjaga keamanan.
Sementara Widia, melanjutkan tugasnya untuk mengurus proses pasca kematian bayi Anisa.
Setelah selesai, dia berbalik untuk pergi, namun dikejutkan Safak yang masih ada di sana. "Kakak? Kau ada di sini dari tadi? Aku pikir kau sudah pulang."
"Aku telah melihat dan mendengar semuanya dari awal sampai akhir. Seperti yang kau katakan tadi, Tegar memang tidak peduli lagi pada Anisa." Safak lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam dari sakunya, "Gunakan saja uang ini untuk mengurus semua biaya rumah sakit Anisa. Melihat dan mendengar yang dikatakan orang-orang itu, aku yakin, tidak mungkin mereka akan mengeluarkan uang untuk membayar biaya rumah sakitnya."
Menghela nafas, Widia berkata, "Ya, baiklah. Sebenarnya aku berniat menggunakan uangku. Tapi karena Kakak sudah mengeluarkan punya Kakak, jadi aku tidak boleh menolaknya." Widia memamerkan giginya, sebelum dengan cepat mengambil kartu hitam dari tangan Safak.
"Heh, dasar. Bisa saja kau ini... Sudah ya, aku benar-benar pergi sekarang. Kamu, tolong jaga Anisa buatku. Kalau memungkinkan dan dia bisa terima aku lagi, dia akan menjadi Kakak iparmu. Jadi, kau harus perlakukan dia dengan baik!" jelas Safak.
Widia terkekeh, "He he... Beres Kak..."
***
Di tempat lain.
Tegar membuka pintu ruangan tempat Anisa dirawat. Dia dan Minah bergegas mendekati Anisa dengan mata melotot.
Anisa yang masih lemah, terkejut melihat suami dan mertuanya yang datang dengan ekspedisi marah padanya.
Sehingga saat itu, dia langsung bertanya dengan suara lirih, "Tegar, Ibu... Ada apa? Di mana anakku?"
"Bagus ya, bagus! Kau enak-enakan tidur di sini. Lihat, akibat keteledoranmu membuat cucuku kehilangan nyawa! Kau memang tidak berguna, tidak berguna!" Minah lalu mencekik leher Anisa.
Anisa sangat terkejut dengan yang dikatakan Ibu mertuanya, sehingga dia tidak dapat merespon saat dia dicekik begitu saja.
"Kenapa bukan kau saja yang mati? Sekarang, matilah! Matilah kau wanita tak berguna! Aku akan membunuhmu dengan tanganku!" teriak Minah.
Anisa memegangi kedua tangan Minah, berusaha untuk melepaskan cekikan itu. "Ibu, lepaskan aku! Aku tidak bisa bernafas Ibu. Lepaskan aku, Ibu..."
Saat itu, dua penjaga keamanan bergegas masuk, "Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan! Cepat lepaskan!"
Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang
Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi
Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus
Meeting usai dengan cepat. Karyawan Tifana Group keluar ruangan sambil berbisik-bisik. Sementara itu, Anisa masih duduk di kursinya, pikirannya kacau. Safak lalu mendekat pelan. "Nisa, kamu baik-baik saja?" Anisa mengangguk pelan. "Aku... tidak menyangka kamu akan sekeras itu." "Aku hanya melindungimu," jawab Safak lembut. "Mereka sudah cukup menyakitimu. Sekarang giliran aku yang akan berdiri di depanmu." Anisa menatap mata Safak lama. Ada kehangatan di sana yang dulu pernah ia rasakan saat mereka pacaran dulu. Tapi ada luka yang masih terlalu dalam. "Aku butuh waktu, Safak. Jangan terlalu dekat dulu." Safak mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menunggu." --- Sore itu, Anisa pulang lebih awal. Jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian di ruang rapat. Di rumah kontra
Ruang rapat yang tadinya tegang kini membeku total. Kata-kata Safak seperti palu hakim yang menghantam meja. Dinda berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya memerah padam campur antara marah dan malu. Tegar di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tapi tak berani bicara. "Apa maksudmu?!" bentak Dinda, suaranya nyaris pecah. "Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama begitu saja! Ini sudah tahap final! Ayahku—" Safak mengangkat tangan, memotong ucapannya dengan dingin. "Ayahmu? Memang kenapa dengan Ayahmu? Setiap hari yang bisa kau banggakan hanyalah Ayahmu. Apa tidak ada orang lain selain Ayahmu yang bisa kau banggakan? Oh iya satu kali lagi kuberi tahu... Apa kau pikir, ayahmu dan perusahaan kecil seperti Sapphire Industries punya hak untuk bekerja sama dengan perusahaan ini? Jika bukan karena kami sedang mengajari dan menuntun karyawan-karyawan baru kami untuk maju dan menambah pengalaman, apa kau pikir kalian berdua masih pantas masuk ke perusahaan
Pagi itu, langit Kota Kendal masih diselimuti kabut tipis ketika Anisa melangkah keluar dari rumah kontrakan sederhananya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulitnya, tapi hatinya terasa berat. Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur, pikirannya terus dipenuhi bayangan pertemuan hari ini. Pertemuan dengan perwakilan Sapphire Industries—perusahaan milik keluarga Dinda, tempat Tegar bekerja. Ia tahu, ini bukan sekadar meeting bisnis biasa. Ini akan menjadi ujian pertama baginya di Tifana Group.Jihan masih tertidur nyenyak di gendongan Dilla, pengasuh yang Widia sewa khusus untuknya. Anisa mencium kening bayi mungil itu dengan lembut sebelum menyerahkannya kembali. "Jaga dia baik-baik ya, Dilla. Kalau rewel, langsung telepon aku.""Tenang, Nyonya. Nona Widia juga sudah bilang akan mampir sebentar," jawab Dilla sambil tersenyum.Anisa mengangguk, lalu naik taksi online menuju kantor. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, tangannya tanpa sadar mengelus perut yang dulu pernah m
Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-
Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istr
Perawat di sana juga terkejut melihatnya, "Astaga Ibu... Sepertinya ini air ASI. Dan ini banyak banget...""Air ASI? ASI ku keluar? Tapi..." Anisa terdiam saat mengingat bayinya sudah tiada. Dia menangis dan melanjutkan, "Seandainya saja kamu selamat, Nak. Kamu pasti kenyang
Dua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh. Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah. "Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan







