Share

Bab 49

Author: Mr. Crawford
last update publish date: 2025-04-17 14:12:24

"Tegar, tunggu Tegar! Apa maksudmu dengan melakukan semua itu? Apa kau rela harta dan aset yang selama ini kau kumpulkan serumai, dibagi dengan mantan istrimu itu? Dia yang tidak pernah melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri di rumah bagaimana bisa mendapatkan separuh dari harta dan aset milikmu?" Dinda berkata sambil menarik tangannya dari cengkeraman tangan Tegar. 

Tegar berhenti dan menghela nafas, "Meskipun aku tidak rela, memang apa yang bisa kulakukan? Melawa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 69

    Malam itu, Anisa sama sekali tidak bisa tenang. Setelah Tegar pergi, kata-katanya terus terngiang di telinga. Kamu bahkan belum tahu bayi itu sebenarnya siapa. Anisa duduk di tepi kasur sambil menatap Jihan yang sudah tertidur. Safak dan Widia tadi sempat berusaha menenangkannya, tapi dia memilih masuk rumah lebih dulu dan tidak banyak bicara. Kini, saat suasana sudah sunyi, pikirannya justru semakin ramai. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Widia menelepon. Anisa mengangkatnya. “Ya?” “Kak... kamu belum tidur?” “Belum.” “Masih mikirin omongan Tegar?” Anisa diam sebentar. “Widia, aku mau tanya jujur sama kamu.” Dari seberang terdengar napas kecil. “Tanya apa?” “Kenapa Tegar ngomong begitu?” “Aku juga gak tahu. Dia kan suka ngaco.” “Jangan bohong sama aku.”

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 68

    Pagi itu, suasana di rumah kontrakan Anisa terasa lebih tenang dari biasanya. Jihan yang baru selesai menyusu sedang tertidur pulas di pangkuannya, sementara dari dapur terdengar suara air mendidih.Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.Tok tok tok!Anisa menoleh. “Siapa?”“Orang yang bawa sarapan,” jawab suara laki-laki dari luar.Anisa langsung menghela napas. “Masuk saja, Safak. Pintunya tidak dikunci.”Safak membuka pintu sambil membawa dua bungkusan makanan dan satu kantong plastik berisi buah. Begitu masuk, dia tersenyum lebar. “Pagi.”“Pagi,” jawab Anisa datar.“Hei, wajah begitu apaan? Aku datang pagi-pagi bawa makanan, loh.”“Aku belum sempat ngomel, kok. Jadi jangan ge-er dulu.”Safak terkekeh. “Baiklah. Aku anggap itu sambutan hangat.”Anisa memutar bola matanya. “Simpan saja di meja. Jihan baru tidur.”Safak menoleh ke arah bayi kecil itu, lalu suaranya otomatis mengecil. “Dia tidur nyenyak ya.”“Iya. Tadi rewel sebentar, habis itu menyusu dan langsung tidur.”Saf

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 67

    Paginya. Anisa menatap layar ponselnya yang sudah mati sejak tadi malam. Nomor Minah yang terakhir menghubunginya masih terbayang di benaknya. Ancaman itu bukan hal baru, tapi setiap kali terdengar, ada rasa lelah yang menusuk dada. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel di meja kecil di samping ranjang. Jihan masih tertidur pulas di sebelahnya, napas kecilnya teratur, tangan mungilnya sesekali bergerak seperti sedang bermimpi. “Kasihan kamu, Nak,” bisik Anisa sambil mengelus rambut halus Jihan. “Ibu janji, Ibu akan jaga kamu sekuat tenaga.” Pagi itu, matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai. Anisa bangun lebih awal, mandi, lalu menyiapkan sarapan sederhana—nasi goreng sisa semalam yang dihangatkan dan telur mata sapi. Ia makan sambil sesekali melirik jam dinding. Hari ini ia harus ke kantor lebih pagi karena ada rapat evaluasi bulanan. Tepat pukul 07

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 66

    Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 65

    Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 64

    Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 7

    Semua orang terdiam mendengar perkataan Tegar. Namun secara tiba-tiba, salah satu dari ibu-ibu di sana dengan sinis berkata, "Hey Tegar. Anisa istrimu? Lalu apakah kau pernah memperlakukan dia sebagai istri? Kami semua yang ada di sini tau, kau memperlakukan Anisa tidak lebih dari seperti seorang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 6

    Perawat di sana juga terkejut melihatnya, "Astaga Ibu... Sepertinya ini air ASI. Dan ini banyak banget...""Air ASI? ASI ku keluar? Tapi..." Anisa terdiam saat mengingat bayinya sudah tiada. Dia menangis dan melanjutkan, "Seandainya saja kamu selamat, Nak. Kamu pasti kenyang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 5

    Dua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh. Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah. "Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 4

    Para perawat di sana segera mengikuti intruksi Widia. Bergegas mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan operasi kecil. Namun saat operasi akan dilakukan, bayi itu sudah tidak mengejang lagi. Lebih tepatnya dia sudah tidak bergerak, detak jantungnya hilang dan tidak bernafas. "Innalillahi..."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status