LOGINDua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh.
Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah.
"Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan di sini. Satu lagi, perilaku Ibu barusan bisa membahayakan nyawa pasien dan Ibu bisa dipidanakan!" ujar penjaga keamanan pada Minah.
Minah melotot pada penjaga keamanan, "Kau bilang aku bisa dipidanakan? Lalu bagaimana dengan dia? Apakah dia bisa dipidanakan juga? Dia telah membunuh cucuku! Aku ingin dia mendapat hukuman!"
"Maaf Ibu, kami tidak tau apa yang telah terjadi. Tapi apapun alasannya, Anda tetap tidak boleh membuat keributan di sini. Itu bisa mengganggu ketenangan pasien yang lain. Dan meskipun yang Anda katakan itu benar, Anda juga tidak boleh main hakim sendiri. Negara kita merupakan negara hukum, jadi Anda tidak boleh menentukan hukum Anda sendiri," jelas salah satu penjaga keamanan, mencoba menenangkan situasi.
"Heh, lalu kenapa memangnya kalau aku mau menentukan hukumku sendiri? Hukum di negara ini terlalu lemah! Jadi, memang aku sendiri harus menghukum wanita ini!" Minah maju lagi dengan tidak sabar, namun langsung dihalangi oleh dua penjaga keamanan itu.
"Minggir! Jangan menghalangiku!" Minah melotot.
"Maaf, tapi jika Ibu tidak bisa tenang. Dengan terpaksa, kami akan menyeret Ibu keluar!" tegas penjaga keamanan.
"Kalian... Berani kalian melakukan itu padaku? Coba saja lakukan kalau berani!" bentak Minah, terlihat semakin emosi.
Salah satu penjaga keamanan lalu menatap Tegar, "Pak, tolong bawa Ibu Anda keluar! Jika tidak, kami akan mengeluarkannya secara paksa!"
Tegar mengerutkan dahi dan menatap tajam pada penjaga keamanan barusan, "Kalian... Berani kalian mengeluarkan Ibuku dengan paksa? Apa kalian sudah bosan bekerja di rumah sakit ini? Aku bisa membuat kalian berdua dipecat, saat ini juga!"
Minah tersenyum sinis dan mengangguk, "Benar! Ayo, Tegar. Hubungi pemilik rumah sakit ini, untuk memintanya memecat dua satpam tak tau diri ini!"
"Maaf Pak, bukan masalah kami sudah bosan atau tidak bekerja di rumah sakit ini. Tapi kami hanya melakukan yang seharusnya kami lakukan. Ibu Anda telah membuat keributan, dan itu membuat pasien lain terganggu. Jika ini terus berlanjut, kami juga yang akan menerima teguran dari atasan. Jadi mohon kerja samanya," jelas penjaga keamanan, berusaha untuk tetap tenang.
Tegar diam beberapa saat untuk berpikir, sebelum dia menghela nafas dan menghembuskannya, "Huh, baiklah. Kita keluar sekarang!"
Minah tentu terkejut dengan keputusan Tegar yang tiba-tiba itu. Dia lalu menatapnya tak percaya, "Hei, apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kita akan mengalah di sini? Tidak, aku tidak mau!" Minah menggelengkan kepalanya.
"Ish, Ibu kita keluar dulu. Nanti aku jelaskan setelah kita di luar. Sekarang, kita harus keluar," jawab Tegar.
"Tapi Tegar, aku tidak bisa..."
"Ayo, keluar dulu!" potong Tegar, yang langsung menyeret Minah keluar.
Minah yang tak berdaya, hanya bisa mengikuti putranya ke luar dari ruangan tersebut. Dinda tentu selalu mengikuti mereka.
"Tegar, sekarang jelaskan! Kenapa kita harus mengalah? Kenapa hanya dua satpam saja sudah membuatmu takut? Bukankah kau mengenal pemilik rumah sakit ini? Jika mereka berani macam-macam pada kita, tinggal kau bilang saja pada pemilik rumah sakit untuk memecat dua satpam bodoh itu," ujar Minah begitu mereka tiba di luar.
"Ibu, dengarkan aku! Apa Ibu lupa? Ini rumah sakit, Ibu. Banyak kamera pengawas di sini. Dan jika kita melampiaskan kekesalan kita pada Anisa di sini, itu sama saja kita cari mati. Aku tidak takut dengan dua satpam itu, tapi akan lebih baik kalau kita cari aman. Kita biarkan Anisa menafas lega dulu untuk sekarang. Nanti, kita bisa lampiaskan semua amarah kita saat wanita itu sudah pulang! Saat itu, aku tidak akan menghalangimu lagi, mau perlakuan Anisa seperti apa," jelas Tegar.
Masih bingung dengan yang dikatakan Tegar, Minah menatapnya dan bertanya, "Hah, kamu masih mau biarkan wanita bodoh itu kembali ke keluarga kita?"
"Ya, itu tidak masalah jika kita bisa melampiaskan semua amarah kita padanya. Lagi pula, dia telah membuat anakku meninggal. Jadi dia harus menerima hukuman langsung dariku!" jawab Tegar, tegas.
Minah mengangguk, "Kau benar. Dia telah membunuh cucuku, jadi aku juga harus menghukumnya langsung!"
***
Widia masuk ke ruang perawatan Anisa. Dia merasa iba, saat menatap wanita yang baru mendapatkan musibah itu, namun suami dan Ibu mertuanya malah memperlakukan dia dengan sangat buruk.
Anisa menatap Widia dengan air mata mengalir di pipinya, "Katakan padaku, Dok! Apakah benar, bayiku tidak bisa diselamatkan?"
Dengan perasaan menyesal, Widia menjawab, "Kami benar-benar minta maaf. Kami sudah berusaha keras untuk menyelamatkan bayi Anda, namun takdir berkata lain. Bersabarlah... Anda masih muda, saya yakin Anda pasti akan bisa mendapatkan bayi-bayi yang lucu lagi di masa depan." Widia tentu mencoba menguatkan.
Air mata Anisa mengalir semakin deras, "Kamu mungkin benar, Dok. Tapi tetap saja. Bagaimana bisa seorang Ibu tidak merasa sedih, saat bayi yang dikandungnya selama hampir 9 bulan harus pergi meninggalkannya untuk selamanya? Jika bisa, aku lebih memilih untuk menggantikan anakku, Dok."
"Iya, memang begitulah pengorbanan seorang Ibu. Dia akan rela kehilangan segalanya, termasuk nyawanya sendiri demi anak. Namun kita sebagai manusia juga tidak bisa melawan takdir. Ibu ikhlaskan dulu saja kepergian anak Ibu dengan lapang dada. Di balik suatu musibah, pasti akan ada hikmahnya. Masa depan Ibu juga masih panjang, jadi bersabarlah untuk sekarang, dan tetaplah kuat. Saya yakin Ibu bisa melalui ujian ini dengan baik," jelas Widia, sambil tersenyum.
Anisa mengangguk sambil menahan isak tangisnya, "Terima kasih Dok, atas nasihatnya. Saya akan mencoba untuk bersabar dan mengikhlaskan semuanya."
Widia tersenyum lembut, "Sama-sama, Bu. Jika butuh bantuan apapun, jangan ragu untuk bicara pada kami. Kami akan selalu ada di sini untuk membantu. Sekarang, istirahatlah! Jangan terlalu banyak berpikir, supaya bisa cepat pulih."
Anisa mengangguk dan mencoba memejamkan kedua matanya. Meskipun itu terasa sangat sulit, namun akhirnya dia bisa benar-benar tertidur setelah sekitar setengah jam memejamkan mata.
Widia juga sudah pergi dari ruangan Anisa, saat wanita ini benar-benar tertidur. Karena dia harus membantu mengurus seluruh biaya administrasi mantan pacar kakaknya ini.
Sudah siang ketika Anisa terbangun dari tidurnya, dan dia terkejut saat melihat bajunya di bagian dada telah basah oleh cairan hangat yang agak lengket.
Melihat ke seorang perawat yang sedang ada di ruangannya, Anisa berkata, "Sus, apa yang terjadi padaku? Kenapa bajuku bisa basah?"
Paginya. Anisa menatap layar ponselnya yang sudah mati sejak tadi malam. Nomor Minah yang terakhir menghubunginya masih terbayang di benaknya. Ancaman itu bukan hal baru, tapi setiap kali terdengar, ada rasa lelah yang menusuk dada. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel di meja kecil di samping ranjang. Jihan masih tertidur pulas di sebelahnya, napas kecilnya teratur, tangan mungilnya sesekali bergerak seperti sedang bermimpi. “Kasihan kamu, Nak,” bisik Anisa sambil mengelus rambut halus Jihan. “Ibu janji, Ibu akan jaga kamu sekuat tenaga.” Pagi itu, matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai. Anisa bangun lebih awal, mandi, lalu menyiapkan sarapan sederhana—nasi goreng sisa semalam yang dihangatkan dan telur mata sapi. Ia makan sambil sesekali melirik jam dinding. Hari ini ia harus ke kantor lebih pagi karena ada rapat evaluasi bulanan. Tepat pukul 07
Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang
Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi
Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus
Meeting usai dengan cepat. Karyawan Tifana Group keluar ruangan sambil berbisik-bisik. Sementara itu, Anisa masih duduk di kursinya, pikirannya kacau. Safak lalu mendekat pelan. "Nisa, kamu baik-baik saja?" Anisa mengangguk pelan. "Aku... tidak menyangka kamu akan sekeras itu." "Aku hanya melindungimu," jawab Safak lembut. "Mereka sudah cukup menyakitimu. Sekarang giliran aku yang akan berdiri di depanmu." Anisa menatap mata Safak lama. Ada kehangatan di sana yang dulu pernah ia rasakan saat mereka pacaran dulu. Tapi ada luka yang masih terlalu dalam. "Aku butuh waktu, Safak. Jangan terlalu dekat dulu." Safak mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menunggu." --- Sore itu, Anisa pulang lebih awal. Jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian di ruang rapat. Di rumah kontra
Ruang rapat yang tadinya tegang kini membeku total. Kata-kata Safak seperti palu hakim yang menghantam meja. Dinda berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya memerah padam campur antara marah dan malu. Tegar di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tapi tak berani bicara. "Apa maksudmu?!" bentak Dinda, suaranya nyaris pecah. "Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama begitu saja! Ini sudah tahap final! Ayahku—" Safak mengangkat tangan, memotong ucapannya dengan dingin. "Ayahmu? Memang kenapa dengan Ayahmu? Setiap hari yang bisa kau banggakan hanyalah Ayahmu. Apa tidak ada orang lain selain Ayahmu yang bisa kau banggakan? Oh iya satu kali lagi kuberi tahu... Apa kau pikir, ayahmu dan perusahaan kecil seperti Sapphire Industries punya hak untuk bekerja sama dengan perusahaan ini? Jika bukan karena kami sedang mengajari dan menuntun karyawan-karyawan baru kami untuk maju dan menambah pengalaman, apa kau pikir kalian berdua masih pantas masuk ke perusahaan
Para perawat di sana segera mengikuti intruksi Widia. Bergegas mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan operasi kecil. Namun saat operasi akan dilakukan, bayi itu sudah tidak mengejang lagi. Lebih tepatnya dia sudah tidak bergerak, detak jantungnya hilang dan tidak bernafas. "Innalillahi..."
Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istr
Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupia
Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-







