공유

Bab 61

작가: Mr. Crawford
last update 게시일: 2026-07-12 23:55:02

Pagi itu, langit Kota Kendal masih diselimuti kabut tipis ketika Anisa melangkah keluar dari rumah kontrakan sederhananya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulitnya, tapi hatinya terasa berat. Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur, pikirannya terus dipenuhi bayangan pertemuan hari ini.

Pertemuan dengan perwakilan Sapphire Industries—perusahaan milik keluarga Dinda, tempat Tegar bekerja. Ia tahu, ini bukan sekadar meeting bisnis biasa. Ini akan menjadi ujian pertama baginya di Tifana Group.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 66

    Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 65

    Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 64

    Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 63

    Meeting usai dengan cepat. Karyawan Tifana Group keluar ruangan sambil berbisik-bisik. Sementara itu, Anisa masih duduk di kursinya, pikirannya kacau. Safak lalu mendekat pelan. "Nisa, kamu baik-baik saja?" Anisa mengangguk pelan. "Aku... tidak menyangka kamu akan sekeras itu." "Aku hanya melindungimu," jawab Safak lembut. "Mereka sudah cukup menyakitimu. Sekarang giliran aku yang akan berdiri di depanmu." Anisa menatap mata Safak lama. Ada kehangatan di sana yang dulu pernah ia rasakan saat mereka pacaran dulu. Tapi ada luka yang masih terlalu dalam. "Aku butuh waktu, Safak. Jangan terlalu dekat dulu." Safak mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menunggu." --- Sore itu, Anisa pulang lebih awal. Jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian di ruang rapat. Di rumah kontra

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 62

    Ruang rapat yang tadinya tegang kini membeku total. Kata-kata Safak seperti palu hakim yang menghantam meja. Dinda berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya memerah padam campur antara marah dan malu. Tegar di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tapi tak berani bicara. "Apa maksudmu?!" bentak Dinda, suaranya nyaris pecah. "Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama begitu saja! Ini sudah tahap final! Ayahku—" Safak mengangkat tangan, memotong ucapannya dengan dingin. "Ayahmu? Memang kenapa dengan Ayahmu? Setiap hari yang bisa kau banggakan hanyalah Ayahmu. Apa tidak ada orang lain selain Ayahmu yang bisa kau banggakan? Oh iya satu kali lagi kuberi tahu... Apa kau pikir, ayahmu dan perusahaan kecil seperti Sapphire Industries punya hak untuk bekerja sama dengan perusahaan ini? Jika bukan karena kami sedang mengajari dan menuntun karyawan-karyawan baru kami untuk maju dan menambah pengalaman, apa kau pikir kalian berdua masih pantas masuk ke perusahaan

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 61

    Pagi itu, langit Kota Kendal masih diselimuti kabut tipis ketika Anisa melangkah keluar dari rumah kontrakan sederhananya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulitnya, tapi hatinya terasa berat. Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur, pikirannya terus dipenuhi bayangan pertemuan hari ini. Pertemuan dengan perwakilan Sapphire Industries—perusahaan milik keluarga Dinda, tempat Tegar bekerja. Ia tahu, ini bukan sekadar meeting bisnis biasa. Ini akan menjadi ujian pertama baginya di Tifana Group.Jihan masih tertidur nyenyak di gendongan Dilla, pengasuh yang Widia sewa khusus untuknya. Anisa mencium kening bayi mungil itu dengan lembut sebelum menyerahkannya kembali. "Jaga dia baik-baik ya, Dilla. Kalau rewel, langsung telepon aku.""Tenang, Nyonya. Nona Widia juga sudah bilang akan mampir sebentar," jawab Dilla sambil tersenyum.Anisa mengangguk, lalu naik taksi online menuju kantor. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, tangannya tanpa sadar mengelus perut yang dulu pernah m

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 7

    Semua orang terdiam mendengar perkataan Tegar. Namun secara tiba-tiba, salah satu dari ibu-ibu di sana dengan sinis berkata, "Hey Tegar. Anisa istrimu? Lalu apakah kau pernah memperlakukan dia sebagai istri? Kami semua yang ada di sini tau, kau memperlakukan Anisa tidak lebih dari seperti seorang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 6

    Perawat di sana juga terkejut melihatnya, "Astaga Ibu... Sepertinya ini air ASI. Dan ini banyak banget...""Air ASI? ASI ku keluar? Tapi..." Anisa terdiam saat mengingat bayinya sudah tiada. Dia menangis dan melanjutkan, "Seandainya saja kamu selamat, Nak. Kamu pasti kenyang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 5

    Dua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh. Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah. "Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 1

    Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupia

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status