Share

CINCIN TUAH

Author: Deameriawan
last update Last Updated: 2026-02-27 19:36:03

Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.

Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”

Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.

“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua yang ada di tangannya. Ada ukiran bunga melati yang masih jelas terlihat, dan di bagian dalamnya ada tulisan aksara kuno yang tak bisa dia baca.

Tanpa berpikir panjang, Rio memakainya di jari tengah tangan kirinya. Setelah itu, dia menyimpan beberapa surat-surat penting dan barang berharga lainnya ke dalam tasnya, lalu berangkat bersama Pak Karsono untuk melakukan transaksi penjualan sawah yang akan ia terima.

Di kantor notaris yang terletak di tengah kota Sleman, Rio duduk di kursi dan Pak Karsono berdiri di belakangnya, sambil menepuk bahu Rio dengan lembut.

"Mas Rio, ingat gak… dulu Mbah Buyut kamu itu orang terkaya di desa ini,” ucap Pak Karsono dengan mata yang memikirkan masa lalu. “Punya sawah luas, kebun buah, bahkan ada kolam ikan yang banyak. Tapi sejak beliau sakit, harta beliau akhirnya dijual sedikit demi sedikit buat biaya pengobatan.”

Rio mengangguk, “Ya Pak, Mbah dulu memang orang kaya, tapi karena sakit akhirnya sebagian harta dijual satu persatu satu.”

Tiba-tiba, “Mas Rio Norman ya? Saya Notaris Sudirman,” ucap pria itu dengan ramah. “Berikut uang tunai sebesar seratus delapan puluh juta rupiah sebagai pembayaran pembelian sawah seluas 6 hektar dan akta jual beli bisa di tandatangani sekarang.”

Rio merasa kepalanya berputar mendengar angka itu. Selama ini ia hidupnya selalu hemat karena gajinya tidak besar tapi cukup. Rio menerima amplop coklat tebal dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menandatangani beberapa berkas dengan hati-hati.

Setelah transaksi selesai, Rio menarik Pak Karsono ke sudut ruangan. “Pak Karsono, ini untuk bapak ya,” ucapnya sambil mengeluarkan amplop kecil dari saku bajunya. “sepuluh juta rupiah sebagai komisi makelar. Terima kasih sudah membantu proses penjualan ini.”

Pak Karsono terkejut dan mau menolaknya, tapi Rio tetap bersikeras. “Ini sudah janji Mbah Buyut dulu, Pak. Kalau ada transaksi penjualan, makelar harus dapat bagiannya.”

“Baiklah Mas Rio, kalau begitu saya terima saja,” ucap Pak Karsono dengan mata penuh kebahagiaan. “Oh iya, katanya kemaren yang kebun palawija seluas 4 hektar dan tambak lele sama bandeng sebanyak 4 hektar gimana? Mau saya bantu cari pembeli juga?”

Rio berpikir sebentar lalu tersenyum. “Iya Pak. Kalau bisa dicari pembeli yang baik dan harga yang sesuai ya. Saya masih butuh uang buat masa depan. Biar rumah, kebun buah 2 hektar, sawah 2 hektar dan sapi 4 ekor gak usah dijual dulu. Buat tabungan saya disini.”

Setelah menyelesaikan semua urusan di desa, Rio naik bus malam kembali ke Jakarta. Saat naik ke dalam bus, dia merasa ada yang berbeda dengan dirinya.

Bus sudah berjalan beberapa jam, dan sebagian besar penumpang sudah tertidur. Rio sedang asyik membaca koran bekas yang dia temukan di kursi sebelahnya ketika seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang mendekat dan duduk di kursi sebelahnya yang kosong.

“Maaf ya, boleh saya duduk di sini Mas? Kursi lain sudah penuh,” ucap wanita cantik itu dengan suara lembut.

“Tentu saja Mbak, silakan,” jawab Rio dengan senyum ramah.

“Nama saya Dewi,” ucap wanita itu dengan senyum manis sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan. “Saya tinggal di kawasan Cempaka Putih. Kalau Mas kerja dan tinggal dimana?”

“Saya kerja di Supermarket Jaya Makmur Mbak. Cuma beberapa blok dari Cempaka Putih. Dan tinggalnya di Rusun Simpang Tiga,” jawab Rio sambil tersenyum. Ternyata rumah wanita itu dengan tempat kerjanya tidak jauh.

“Wah, dekat sekali” ucap Dewi dengan nada yang semakin hangat. Dia mendekat dan berbisik di telinga Rio. “Mas pulang kemana malam ini? Kalau butuh tempat menginap, bisa kog mampir ke rumah saya kog. Saya janda dan tinggal sendirian disana cuma sama ART.”

Rio merasa seperti dapat jackpot. Wanita cantik seperti Dewi mengajak ke rumahnya adalah hal yang belum pernah terjadi padanya. Tapi ingatan tentang status Dewi yang katanya seorang janda, membuat Rio berpikir dua kali. Ia takut kena grebek tetangga Dewi kalau pulang ke rumah Dewi dan menginap disana.

“Maaf Mbak Dewi, saya harus pulang ke rusun,” jawab Rio dengan sopan. “Karena besok saya harus masuk shift pagi. Dan seragam saya ada di rusun.”

Dewi tertawa ringan dan mengangguk. “Ya sudah deh, kalau begitu kita tukar nomor aja. Besok mas bisa datang ke rumah saya pulang kerja. Karena kebetulan di rumah ada acara pindahan rumah baru."

Rio tak punya pilihan selain memberikan nomor HP jadulnya. Saat bus akhirnya tiba di terminal Jakarta pukul satu pagi, Rio langsung membayar tiket kondektur dan turun dari bus. Dia melihat ke arah Dewi yang masih mengirimkan senyuman dari jendela bus, lalu segera mencari ojek online untuk kembali ke rusunnya.

“Penasaran aku dengan cincin ini, besok apalagi ya yang akan terjadi... ” bisik Rio sambil menyentuh cincin di tangannya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   MAIN API

    Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya. “Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.” “Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan. “Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bi

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   GAK SENGAJA

    Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember. “Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela. “Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat b

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN BERULAH

    Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.” Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, te

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   WANITA BARU DI LANTAI DUA

    Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi. Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhat

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   KEMELUT UTANG

    Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam. “Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi on

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN TUAH

    Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status