MasukBeberapa pria di kurungan-kurungan sekitarnya mulai berteriak, ada yang mundur ke sudut kurungannya, ada yang mencengkeram bilah kayu di depannya sampai otot-otot tangannya mengencang. Ash tidak bergerak, matanya mengikuti sosok-sosok Banshee yang turun satu per satu melalui lubang itu, cakar-cakar mereka mendarat di tepian batu dengan suara keras yang bergema di seluruh gua.Tapi Banshee-banshee itu tidak mendekati kurungan yang berisi manusia hidup.Mereka bergerak langsung ke kurungan-kurungan yang isinya sudah tidak bergerak, cakar-cakar panjang mereka membuka pintu kurungan dengan gerakan yang terbiasa dan terlihat mudah. Satu per satu mereka masuk dan suara yang keluar dari dalam kurungan-kurungan itu membuat beberapa pria berhenti berteriak dan memilih diam."Ugh, membuatku mual saja," gumam Ash memalingkan wajah saat makhluk-makhluk itu menyantap bangkai dengan cara yang menjijikan.Seorang pria di kurungan yang berhadapan dengan Ash mengamati cara Banshee membuka pintu kuru
Rynn tidak bergerak dari posisinya.Ia berdiri di antara akar-akar pohon besar, satu tangannya masih di gagang busur, kepalanya mendongak ke langit di antara celah-celah pepohonan. Suara kepakan sayap yang tadi memenuhi udara mulai mengecil, semakin jauh ke timur, sampai yang tersisa hanya angin malam yang bergerak di antara daun-daun.Para prajurit di sekitarnya menunggu dengan cara yang sama, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak tanpa perintah."Kyra." Rynn tidak menoleh, matanya masih di langit. "Berhasil?"Seorang perempuan muncul dari balik batang pohon di sebelah kiri, rambutnya hitam tebal dipotong pendek rata di bawah telinga, tepat seperti garis yang diukir dengan penggaris. Kyra mengangguk satu kali, singkat dan pasti.Shiva melihat percakapan itu dari tempatnya berdiri. "Apa yang berhasil?" tanyanya. "Apa yang kalian tunggu tadi?"Rynn baru menoleh ke arahnya sekarang. "Kami sedang berburu." Ia berbicara dengan nada yang sama seperti saat memberi perintah, dat
Cakar itu sudah setengah jalan ke arahnya saat tali di tubuh Shiva terputus.Bukan terlepas, bukan terbuka simpulnya, tapi benar-benar terpotong oleh sesuatu yang bergerak cepat dari samping. Tubuh Shiva jatuh ke depan dari batang pohon dan ia menangkap dahan di bawahnya dengan kedua tangan. Ayunan tubuhnya itu membawa kakinya melewati ruang kosong tepat saat cakar itu menyambar tempat ia berdiri tadi dan hanya mendapatkan serpihan kulit kayu.Rynn ada di cabang sebelahnya, pisau pendek di tangannya masih mengarah ke bawah dari gerakan memotong tadi. "Kau berada di waktu dan tempat yang tidak tepat, elf.""Aku tahu itu." Shiva menarik dirinya ke atas dahan dan langsung berdiri. "Sekarang beri aku sesuatu untuk melawan."Rynn menatapnya satu detik, lalu melempar pisau cadangan dari ikat pinggangnya. Shiva menangkapnya tanpa melihat, matanya sudah kembali ke makhluk yang tadi menukik ke arahnya. Banshee itu membalikkan tubuhnya d
Pakaiannya adalah campuran warna tanah dan hijau tua, potongannya tidak beraturan dengan anyaman rumput dan daun kering yang dijahit di permukaannya sehingga mudah tersamarkan di dalam hutan. Di wajahnya ada goresan-goresan hitam tebal, bukan luka, melainkan coretan yang disengaja, membentuk pola yang memecah bentuk wajah sehingga sulit dibaca dari jarak jauh. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip.Shiva melihat ke kanan dan kiri. Di cabang-cabang pohon sekitar mereka, minimal empat sosok lain berdiri dengan postur yang sama, masing-masing dengan busur terangkat."Apa yang dilakukan seorang elf di hutanku." Wanita itu bukan bertanya dengan nada ingin tahu, lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan ingin memastikannya sendiri. "Tidakkah kau terlalu jauh bermain?""Bukan urusanmu." Shiva tidak menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang bergerak ke arah area terbuka di bawah. "Lepaskan temanku."Perempuan itu menoleh ke bawa
Shiva berdiri di jendela selama dua detik penuh. Orang yang sedang berjalan dalam tidur tidak mendarat seperti itu. Mereka terhuyung, mereka tidak mengkalkulasi ketinggian dan sudut jatuh dengan cara yang benar. Sesuatu yang lain sedang mengendalikan tubuh itu, dan Shiva tidak bisa lagi merasa semuanya normal.Ia berlari ke kamar Maren.Pintunya ia ketuk dua kali, keras. "Maren. Maren, bangun, ada sesuatu yang terjadi pada Ash."Tidak ada jawaban.Shiva mengetuk lagi, lebih keras, tiga kali. "Maren."Keheningan dari balik pintu itu berbeda dari keheningan tidur. Tidak ada suara napas yang terganggu, tidak ada suara orang yang bergerak kaget, tidak ada suara kaki yang turun dari ranjang. Shiva meletakkan telinganya ke pintu dan mendengar sesuatu yang sangat pelan, napas yang terlalu terkendali untuk seseorang yang sedang tidur, dan di bawahnya, suara yang lebih rendah lagi, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.Di balik pintu itu, Maren sedang terjaga. Ia tahu itu.Shiva ber
Ranjang di tengah kamar itu bukan dari kayu, bukan dari besi, bukan dari apapun yang biasanya digunakan untuk membuat ranjang. Rangkanya dari dahan-dahan yang sudah mengering, melengkung dan terhubung satu sama lain dengan cara yang terlihat seperti tumbuh alami bukan dibentuk. Kedua mata Ash dan Shiva terkunci pada bagian di atasnya, dimana terbentang jaring laba-laba yang dipadatkan berlapis-lapis sampai terlihat seperti kain, putih keabu-abuan dan sedikit berkilau di bawah cahaya lentera.Shiva menatapnya cukup lama. "Itu terbuat dari apa?""Jaring Arakvein," kata Maren, nada suaranya seperti menyebut sesuatu yang sudah semua orang tahu. "Lebih hangat dari wol dan lebih kuat dari kulit. Kalian bisa beristirahat dengan nyaman."Shiva menoleh ke Ash. Ash sudah melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang itu, tangannya menekan permukaannya dua kali, lalu berbaring dengan satu lengan di belakang kepala."Empuk," katanya.







