LOGIN"You're mine now and your body is mine, even your acclaimed cursed soul all mine and no one else!!" Alpha Darwin roared as he pushed his finger inside me as my wetness drooled, warming his fingers. "Breeder or Mate, either one, you're dead!! . . The heartless and devilishly hot alpha, Alpha Darwin lays claim of her for breaching the portal which brought back an old enemy, a werewolf hunter subdued by magic. She's stuck in a trio love triangle as three powerful alphas lays claim of her as their rightful mate, but what happens when the alpha she once forbade turns out to be her rightful mate? Lured by a deceitful lie, will she erase Alpha Darwin's imprint on her soul just to save her mother or will she hold on to the him as their love is like an inferno??
View MoreKOTA A
Di sebuah Mansion Mewah berwarna dasar Black White.
Tampak seorang gadis cantik berkulit mulus sedang mengenakkan pakaiannya.
“Haruskah kau pergi?” tanya Leon pada pujaan hatinya.
“Em, aku sudah meninggalkan adikku selama dua hari. Dia pasti akan mengamuk jika aku tak muncul dalam 3X24 jam.” jawab Rose santai sambil memakai jeans hitamnya.
“Uch. Hanya seorang adik. Kau setakut itu kah?” Leon terus merajuk sambil berpose seksi di atas ranjang.
“Um. Akan sangat merepotkan jika dia mengamuk.” Rose mengernyitkan hidungnya sembari mengangguk.
“Hah. Kau selalu seperti ini. Tak pernah lebih dari 3 jam setiap kali bersamaku. Apa kau sungguh mencintaiku? Ini sudah 2 tahun sayang.” Leon yang putus asa membanting tubuh bugilnya terlentang.
Rose yang sadar ucapan Leon ada benarnya, merasa bersalah.
Rose yang sudah berpakaian lengkap rapi pun mendekati ranjang Leon.
Sambil menindih tubuh bugil Leon, Rose berkata:
“Kau akan tau apakah aku mencintaimu jika saat nya tiba nanti. Bersabarlah.” Rose lalu mencium kilat bibir Leon.
Tapi bukan Leon namanya jika menerima begitu saja ciuman singkat Rose. Leon yang sejatinya macan lapar, dengan cepat meraih tengkuk Rose yang mulai menjauh.
Leon menyambar lembut bibir seksi Rose tanpa jeda. Saat senjata Leon mulai mengeras kembali, tiba-tiba Rose menarik diri dan berlari ke kamar mandi.
Leon yang mengira Rose butuh persiapan menatap mesum punggung pujaan hatinya.
Namun salah besar, 5 menit berlalu dan Rose tak kunjung kembali ke atas ranjang.
“HAIS!!! SIAL!!!” maki Leon yang sadar ada yang tak beres pada Rose.
Leon secepat kilat meloncat dari ranjangnya, tanpa benang sehelai pun.
Dan benar saja, Rose...
Sudah menghilang dari mansion Leon.
“AKH!!! ROSEEEE!!!” teriak Leon kesal bukan main.
*
Masih di kota yang sama, namun di tempat yang berbeda.
"Selamat malam nona." sapa puluhan pria berjas hitam sembari membungkuk hormat di sisi kanan dan kiri jalan.
Hentakan high heel begitu tegas, memasuki mansion mewah berwarna dasar gold itu. Seorang gadis belia berwajah dingin dengan sorot mata tajam, tampak celingukkan mencari sesuatu di dalam mansion.
Tak lama kemudian.
“Kakak.” teriak seorang gadis berwajah cantik nan hangat sambil berlari dari ruang tengah.
Bruk! "Aku merindukan mu kak.” ucap Jasmine sembari pasang tampang bayi.
Gadis berwajah dingin itu pun mengernyitkan dahinya.
“Benarkah, serindu apa?” tanya ramah Rose yang secepat kilat merubah ekspresi wajah kaku nya.
*
Ya! Dialah Rose. Gadis cantik berusia 19 tahun. Dan adalah putri pertama seorang “RAMOS FRIKSTOS” Mafia paling berkuasa di kota A.
Sedangkan Jasmine, adalah putri kedua dari Ramos.
Rose dan Jasmine adalah dua bersaudara yang terlahir dari ibu yang berbeda. Meski begitu, Rose yang adalah putri dari istri pertama sangat menyayangi Jasmine yang terlahir dari rahim istri kedua Ramos.
Bisa di katakan, Rose dan Jasmine seperti sepasang kembar yang cantik. Mereka lahir di hari, tanggal dan tahun yang sama. Hanya saja Rose yang melihat dunia 15 detik lebih awal daripada Jasmine, menjadikan dirinya sebagai putri sulung seorang Ramos.
Karakter kedua nya pun bagai langit dan bumi. Sangat berbeda. Rose yang merasa sebagai sulung di keluarga, terlihat lebih tegas dan berwibawa.
Soal kebengisan di dunia hitam, jangan di tanya lagi. Rose yang adalah pemimpin organisasi gelap yang dibangun Ramos, memiliki cukup pengaruh di kalangan para penguasa dunia bawah tanah. Usia nya boleh belia, namun sepak terjang nya di dunia underground.
“SIAPA BERANI PANDANG SEBELAH MATA!!!”
Selalu muncul dengan setelan hitam dan topeng yang menutup sebagian wajahnya, nyaris tak pernah meninggalkan jejak saat memulai dan usai membantae lawannya, membuat para penguasa dunia hitam memanggil Rose dengan sebutan “SHADOW!”
Dan sementara Jasmine, lebih cenderung menjadi princess di kerajaan yang di ciptakan Rose dan Ramos.
Jasmine memang sangat di manjakan papa dan kakak perempuan nya. Meski sudah berusia 19 tahun. Pribadi jasmine masih seperti balita polos yang lugu.
*
“Kakak, Kau pergi selama dua hari. Mana ganti ruginya?” Jasmine menatap polos kakak nya sembari menengadahkan tangan nya.
“Em. Ganti rugi apa ya?” Rose pura-pura bodoh.
“His! Kakak.” Jasmine mengerucutkan bibirnya, sok marah.
Rose yang sangat mengenali luar dalam adik nya lalu menyodorkan sebuah kotak kecil tepat di hadapan adik kesayangan nya.
Jasmine melotot kaget.
“Hm! Yes. Apa ini kak?” tanya Jasmine sembari tersenyum senang.
“Em. Bukalah.” ucap Rose membalas senyuman adiknya.
Jasmine tak buang waktu, dengan semangat perang, Jasmine membuka kotak pemberian kakaknya.
“Wuah~ Kakak. Ini cantik sekali,” seru Jasmine yang terlihat takjub dengan hadiah Rose.
“Kau menyukainya?” tanya Rose.
“Em. Sangat. Aku mencintai mu kak. CUP!” Jasmine lalu mencium pipi mulus kakak kesayangannya.
“Kakak juga mencintai mu sayang. Jangan di hilangkan ya. Benda ini hanya ada satu di muka bumi. Kau mengerti kan.” Rose mengusap lembut kepala adik yang memiliki wajah sama dengannya.
“Em.” Jasmine mengangguk, polos.
“Lalu, bagaimana dengan papa. Tak ada yang menyayangi papa lagi kah?” Ramos tiba-tiba muncul dengan senyum tampannya.
Rose dan Jasmine menoleh.
“Papa,” teriak Jasmine lalu berlari kepelukan papa nya.
“Papa pulang. Pah, liat ini. Kakak memberikan nya padaku” Jasmine menunjukan liontin kalung berbentuk kristal melati pemberian Rose.
Sedetik mata Ramos tampak terkejut saat melihat liontin ditangan Jasmine. Sebelum akhirnya tatapannya beralih pelan ke arah putri sulungnya.
“Jadi, inikah pilihanmu sayang?” batin Ramos tak melepas pandang dari wajah cantik Rose.
“Setidaknya akan lebih aman bersamanya kan papa?” Rose menyeringai iblis.
Ramos paham betul arti tatapan dan senyum putri sulungnya.
*
Malam hari pun tiba.
Suasana hangat di ruang makan mansion Ramos begitu terasa.
Ada sebuah aturan!
Diluar, Ramos dan Rose boleh menjadi sepaket ayah dan anak iblis yang tak berperasaan. Tapi di rumah, keduanya hanya boleh memainkan peran sebagai seorang ayah dan kakak yang baik untuk Jasmine.
“Kak, habis makan nonton yuk,” ajak Jasmine pada kakaknya.
“Papa ikut ya,” Ramos menawarkan diri.
“Tidak. Papa tak boleh ikut. Papa temenin Mama (ibu Jasmine) sama Mami (ibu Rose) saja di rumah.” Jasmine menolak tegas tawaran papanya.
“Heyeuh, mama kan sudah sama mami. Papa ikut anak-anak papa saja ya,” Ramos merayu lagi anak bungsunya.
“Tidak! Sekali tidak ya jangan nawar! Kasian mama dan mami kalo kita semua pergi pah, nanti mama sama mami kesepian.” Jasmine kekeh pada penolakannya.
Rose tersenyum lucu melihat tingkah adiknya.
Ramos pura-pura takut.
“Baiklah, baiklah. Papa dirumah saja.” Ramos mengalah.
“Gitu dong. Yaudah Jasmine mau siap-siap dulu.” Jasmine yang kenyang lalu meninggalkan meja makan.
Tinggalah Ramos dan Rose berdua saja di meja makan. Bersama kepergian Jasmine, suasana ruang makan yang tadinya hangat berubah panas tegangan tinggi.
Sorot mata tajam, dingin dan mematikan terpancar jelas dari wajah Ramos dan Rose.
“Black Mamba mulai bergerak, bersiaplah!” ucap Ramos sembari menatap serius Rose.
“Aku mengerti.” jawab singkat Rose sambil meletakkan alat makannya dan beranjak dari duduknya.
Ramos menatap dalam-dalam punggung Rose yang berjalan meninggalkannya.
Dengan wajah yang berubah sendu, Ramos lalu ikut beranjak dan berjalan pelan menuju ruang keluarga.
Dihadapan sebuah foto besar dirinya yang diapit dua istri kesayangannya, mata Ramos mulai berkaca-kaca.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Kenangan buruk tentang tewasnya kedua istri yang sangat dicintainya, mulai melitas di pelupuk matanya.
“Sudahlah pah, bukankah kita baik-baik saja sekarang. Tidakkah ini cukup.” tiba-tiba Jasmine muncul dan memeluk satu lengan papanya.
“Benar, meski tak bisa melihat mama dan mami. Kurasa mereka yang bisa melihat kita, pasti sedang tersenyum saat ini.” Rose pun ikut memeluk satu lengan Ramos yang lainnya.
“Kalian...” Ramos lalu mencium kening kedua anak kembarnya.
*
Satu jam kemudian, di gedung pencakar langit yang ada di pusat kota.
“Kak, ramai sekali,” beo Jasmine yang melihat antrian panjang di loket penjualan tiket film.
“Cih!” Rose melirik sekilas wajah cantik adiknya sambil merogoh tas jinjingnya.
“Aku di depan.” ucap Rose yang ternyata menelepon seorang teman, sejenis orang dalam gitu lah.
“Em. Kakak telepon siapa? Calo ya. Ais! Mahal kak. Udah ngantri aja yuk.” Jasmine dengan polosnya menarik-narik lengan Rose.
Belum lagi Rose bergerak dari posisinya, tiba-tiba.
“BANGSAT!!!” maki Rose lalu menarik tangan Jasmine dan memeluknya.
Dan benar saja, sebuah timah panas melobangi dinding beton di belakang Jasmine, rupanya. Jasmine kaget setengah mati. Rose pasang mata elang menyelidik area sekitar gedung.
“KEPARAT!!!” maki Rose sembari meraih senjata dipaha kirinya. Jasmine gemetaran.
Sedetik kemudian, rentetan timah panas kedap suara menghujani Rose dan Jasmine. Ratusan orang yang ada di sekitar Rose dan Jasmine kocar kacir cari selamat.
Rose dengan sigap melindungi adiknya.
Sniper yang di perkirakan lebih dari satu, terang-terangan mengincar nyawa Rose dan Jasmine.
“Tetap disini dan jangan bergerak.” Perintah Rose pada Jasmine yang berlindung dibalik batang pohon besar. Jasmine mengangguk, cepat.
“Disana kau rupanya, bangsat!” Rose yang menemukan posisi dua sniper sekaligus, dengan gesit dan lincah menembaki targetnya.
Dua sniper tumbang!.
Tapi timah panas masih berlomba menembus daging segarnya. Rose dengan lincah menghindari tiap peluru terbang.
Saat Rose sibuk menghabisi para sniper, tanpa Rose sadari di sisi yang berlawanan. Jasmine, sudah tersungkur bersimbah darah dengan perut berlobang.
Rose melotot tak percaya.
“JASMINE!!!” teriak Rose seolah dunianya runtuh.
Rose yang melihat kondisi Jasmine lalu berlari ke arah adik kesayangannya.
“Sayang, sayang, ini kakak. Kakak disini.” Rose memeluk erat tubuh lemah adiknya. Jasmine mulai hilang kesadaran.
“Tidak sayang, tidak! Jangan. Jangan menatapku seperti itu. Kau akan baik-baik saja. Aku berjanji padamu. Kau akan baik-baik saja.” Rose yang hampir gila terus memeluk adik kesayangannya.
“K-kak, Ja-Jasmine nga-ngantuk. Ukh!” ucap Jasmine terbata-bata sembari muntah darah.
“Akh! Tidak sayang. Tidak. Jangan menutup matamu. Dengar kata kakak ya, kakak disini. Kau tak boleh menutup matamu. Bertahanlah sayang. Semua akan baik-baik saja, oke!” Rose terus menangis sembari berteriak tak jelas.
Jasmine mulai menutup matanya.
“Akh! Jasmine! Tidak. Tidak. Tidak. TIDAK!” Rose menggila sembari memeluk erat tubuh Jasmine yang bersimbah darah. “JASMINE!!!” teriak Rose sekuat tenaga.
Dan...
“DOR!!!” Sebutir peluru yang melesat cepat berhasil menembus jantung sehat Rose.
*
*
*
To be continued...
Heading back to my office, I had so much that I couldn’t stop thinking about. All I needed right now was a successful project and this was definitely going to be a long lasting union between me and Darwin and I wasn’t ever going to allow anything ruin that for me. I was certain that things were definitely going to end well between me and her. It all started with a kiss and I accept that but definitely it was going to blossom than anyone’s expectation. As I kept on having the thoughts rushing in, I was brought back to my sanity as I saw my reflection, I was already wearing a broad smile on my face.I had received a call from Evelyn saying she really needed me badly unless she was going to end her life. “If you don’t show up tonight, then this would surely be the last time you will ever come across me!!” The message popped up as I was returning back to my office.I have been avoiding Evelyn for some time now, I couldn’t help balance the whole love thingy because I knew what my heart ba
Yifa's POV:"Your service is no longer needed here!!" Mr. Pep mumbled as he ordered me out of the office. "Thank you, Geez!!" I muffled as I walked out with the scarf and trash can in my hand. I felt really weak inside but then, there was absolutely nothing that I could do right now, I needed to stay all strong as far as I was still inside here. I saw how Mr. Pep looked at me. "Why was he giving me such glares?? Or does he think I have a different world of my own??" I scoffed as I looked away.I did my best to avoid having eye contacts with him because I know the slightest eye contact I have with him, that would be me, saying goodbye to this world!!I stepped out of his office and then I had this f*cking annoying look from his personal secretary, what was even her name?? I scowled within as I continued moving."Such a cheap, dirty sl*t!!" I heard her curse as I walked passed her."Such a p*ssy!!" I cursed also as I ignored her. I guess Jane was her name, I don't care to know but a
"You have always tasted nice when it comes to feeding from your blood vessels." I licked my upper lips which had blood on it. I have pierced around her collarbone axis which made her to bleed and now, all I did was to suck her blood. Jack growled but I could tell that he was far from getting satisfied. Neither was I near getting the satisfaction that I badly needed right now. I grabbed her as I placed her on the desk, "You shouldn't even think of resisting me!!" I snapped, whispering into her ears. "You know how deadly and aggressive I can be during moments like this, right?? So I advise that you f*cking play along till I am done with you." I growled as I went down on my knees. I took her gown up to her waist, exposing the black net panties she was wearing and her thighs were all sweating and the wounds she had uncured from my sharp claws was bleeding.I licked her wounds as I caressed her thighs. "Oh!! I love it!!" I growled. "This is the food that I have been f*cking craving sin
A Month Later.How time flies, we can't fully tell but within a month, a lot has happened. A new enemy who had resurfaced a month back had caused so much disaster than anyone could ever have imagined. The election was conducted yesterday and everyone has been jeering and jubilating. Once again, we know who the winner is already and that's no other person than the Chicago's Democratic Party's candidate, Reynolds. He was still away enjoying the whole heat of winning and tonight there will be a party in the Mayor's residence but here I am, I will be away in Hawaii to conclude everything as we would be having a reunion. The elders are yet to find out the truth behind the Casino and the spar. The launching was successful and I had Dumbledore make it possible for them to be special guests at the opening.But then, there was one more thing and that was Dumbledore and Yifa's secret affair right under my nose. It all happened 3 weeks back....3 Weeks Ago.Lakes Hotel and Suites.Chicago. 6
I walked into the base, the big hall where meetings were usually conducted.Not official meetings. This was called a hall of doom, formerly it was the grand and luxurious palace of my great grandfathers and as civilization washed through human veins, so did things also changed.The mansion was located
"Okay, this is bullshit!!" I cursed as I paced about my study room. I couldn't just think straight because I know that I had exceeded so much amount. I was building three things all together, the hotel, the law firm and the publishing industry.They couldn't find out about the publishing industry or
I could no longer suppress how badly I wanted him dead. If I had known, I wouldn't have trashed my plans of being the next alpha.It all felt different this time around. His heart remained cool, it never went high, it didn't race despite my gun being pressed against his forehead."I see, you are not s
"Ermmm....mmmm??" I stuttered as I stood up immediately.Fridolf also stood up hurriedly as he turned around, standing upright as he bowed his head to greet Pep. "Good morning, Elder!!" He mumbled in a low tone as he remained his position for a while, waiting for Pep's response."Yes, good morning Fri












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews