Share

Ada Kembar Empat Di Balik Selimut
Ada Kembar Empat Di Balik Selimut
Penulis: Luisana Zaffya

Part 1 Presdir Baru

Penulis: Luisana Zaffya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 08:58:12

“Anak baru!” Panggilan tersebut mulai terdengar familiar di telinga Rhea yang menoleh ke samping.

“Buat 17 salinan dokumen ini dalam 15 menit. Berikan padaku di ruang pertemuan di lantai 9.”

“S-sekarang?” Rhea tak bisa menahan matanya untuk tidak melotot. 15 menit, sementara ia masih harus menyelesaikan laporan tuan Henri yang akan dibawa keluar dalam sepuluh menit.

“14 menit?” Wanita tinggi semampai tersebut menunjukkan jam tangannya dengan angkuhnya. “Sebaiknya tidak ada kesalahan dalam halamannya. Kau ingat kalau perusahaan ini baru diakuisisi dan untuk pertama kalinya presdir kita akan menghadiri pertemuan penting ini, kan?”

“Akan kukerjakan sekarang.” Rhea bergegas mengambil map tersebut dan berjalan terburuk menuju mesin fotokopi yang ada di sisi lain ruangan. Merasa sangat bersyukur masih ada satu mesin fotokopi yang tidak digunakan.

“Shalen?” cibir Genna dengan satu alis terangkat.

Rhea mengembuskan napas. “Aku harus menyelesaikan laporan tuan Henri.”

“Aku akan membantumu memeriksanya.”

“Benarkah?”

“Hanya karena aku penasaran siapa presdir baru kita.” Mata Genna mengerling genit. “Ada banyak gosip yang beredar dan aku ingin membuktikan salah satunya benar atau tidak?”

Rhea mengangguk sebagai ucapan terima kasih untuk bantuan Genna yang datang tepat pada waktunya.

“Kau tidak?”

“Aku lebih tertarik Shalen tidak membuat keributan yang membuat gajiku dipotong. Bulan ini kebutuhanku sangat banyak dan aku benar-benar putus asa harus mencari tambahan di mana lagi.”

“Hanya ada satu cara.”

Rhea tak benar-benar berharap jalan keluar yang diucapkan Genna akan menghentikan masalah keuangannya yang tak pernah berhenti. 

“Menikahi duda kaya.”

“Kau bilang akan membantuku.”

“Aku sudah melakukannya.”

Rhea yang tengah menghitung lembaran yang baru keluar dari mesin mengernyit, menolah menatap teman sesama karyawan barunya tersebut.

“Tuan Henri hanya ingin menghabiskan waktu denganmu saja, Rhea. Percayalah, dia bahkan tidak akan tahu kalau kau tidak memeriksa ulang laporanmu.”

“Maksudmu?”

“Ck, aku tak akan membuang waktu untuk menjelaskannya. Ambil saja map merah di mejaku dan letakkan di ruangannya. Lalu kau bisa memberikan semua ini pada Shalen di lantai 9, kan?”

Rhea melirik jam di pergelangan tangannya. Waktunya hanya tersisa 4 menit. “Aku akan menghitung ulang di lift. Terima kasih banyak, Genna.”

“Aku akan menyusulmu.”

Rhea tak benar-benar mendengarkan, wanita itu mengambil map merah di meja Genna dan meletakkannya di ruangan sang manager yang kosong, kemudian masuk ke dalam lift dengan langkah terburunya.

Wanita itu selesai menghitung salinan yang ke 17 tepat ketika pintu lift terbuka, berbelok ke kanan dan menuju ruang pertemuan yang ada di ujung lorong. Dua pria besar berjaga di kedua sisi pintu, memasang muka garang saat ia mendekati pintu ganda tersebut.

Tak biasanya ada penjaga di tengah pertemuan, mengabaikan rasa takut oleh tatapan dingin kedua pria itu, Rhea mendekati pintu dan bersamaan seseorang membukanya dari dalam.

“Kau terlambat,” sergah Shalen dengan bibir yang menipis dan mata melotot tajam. Menarik lengan Rhea dan membawa wanita itu masuk ke dalam ruangan luas tersebut. Berjalan di sisi ruangan dengan pencahayaan paling minim dan mendorongnya ke satu-satunya kursi kosong di sana. “Cepat duduk,” perintahnya kemudian kembali duduk di deretan depan kursi. Bersama para kepala divisi yang duduk mengelilingi meja bundar, di samping tuan Henri.

Rhea memberikan seulas senyum tipis pada tuan Henri yang menatapnya sekilas karena teralih oleh Shalen yang berbisik pada pria itu. Sementara pandangan Rhea beralih ke layar proyektor di ujung meja, yang menampilkan video gedung bertingkat tinggi.

Begitu video selesai diputar, lampu dinyalakan dan seorang direksi berdiri untuk memulai wacananya, ponsel di saku blazernya tergetar pelan. Satu pesan dari Anin, yang membuat kedua bahunya jatuh dengan lunglai.

“Stt, apa yang kau lakukan, hah? Cepat bagikan salinannya.” Shalen menyentakkan Rhea, yang kemudian tersadar dan beranjak dari duduknya. Mulai membagiku setiap salinan di depan masing-masing kepala divisi. Memutari meja dari ujung ke ujung dengan keheningan yang menyelimuti. Semua orang menunggu ia menyelesaikan tugasnya ketika suara dingin dan berat tersebut memecah keheningan.

“Kau dipecat.”

Wajah wanita muda yang berdiri tak jauh dari Rhea tampak memucat dan gelas di tangannya jatuh ke lantai. “M-maafkan saya, Tuan. Saya …”

“Pergi.” Si wanita merapatkan bibirnya dan beringsut menjauh. Dengan kepala tertunduk dalam dan menahan isak tangisnya, wanita itu berbalik dan melewati Rhea yang membeku di tempatnya berdiri.

Seluruh tubuh Rhea membeku dan bisa merasakan wajahnya yang lebih pucat dari siapa pun wanita muda yang baru saja kehilangan pekerjaan tersebut. Pegangannya pada salinan di dadanya menguat dan bahkan dirinya tak berani menggerakan pandangannya ke mana pun selain meja yang ada di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan, mana salinan untukku?” Wanita yang duduk di sampingnya menyentuh siku Rhea yang masih mematung.

Rhea tersadar, memberikan salah satu dari tiga salinan terakhir yang tersisa. Berjalan dua langkah ke samping dan meletakkan dua salinan tersebut di meja sebelahnya lalu berbalik.

“Tunggu.”

Rhea belum mendapatkan satu langkah penuhnya ketika suara familiar yang membuatnya tenggelam ke dasar lautan tersebut kembali terdengar. Padanya.

“Kau bisa membereskan kekacauan ini?”

Wajah Rhea masih tertunduk dalam ketika kembali membalikkan tubuh. Menatap pecahan gelas yang berserakan di sekitar kakinya. Salah satu pecahan menelusup di sela sepatu sandalnya dan ia baru merasakan perih yang menusuk di ujung jari kakinya.

“Pertemuan ditunda.” Mata pria itu menyipit dengan seringai di ujung bibir. Ujung jarinya menunjuk Rhea ketika melanjutkan perintahnya. “Kecuali kau, semuanya keluar.”

Kecuali suara kursi yang didorong mundur dan langkah semua orang meninggalkan ruang pertemuan. Tak ada satu suara pun yang membantah perintah tersebut.

“Aku sudah mengatakan, jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku.”

Rhea tak berani mengangkat wajahnya. Tubuhnya menggigil merasakan tatapan menusuk pria itu. Dari sekian banyaknya tempat di negara ini, kenapa mereka harus dipertemukan di tempat ini?

“Aku akan mengundurkan diri.” Rhea menahan sekuatnya getaran di dalam dirinya. Mengabaikan masalah keuangan yang menjerit dengan pernyataannya tersebut.

“Tidak hari ini,” dengus pria itu mencemooh. “Aku baru saja memecat asistenku yang tak becus itu di hari pertamaku datang ke tempat ini.”

Mata Rhea terpejam erat. Tetapi telinganya bisa mendengar gerakan pria itu yang bangkit dari kursi, menginjak pecahan gelas di lantai di antara mereka dan berhenti tepat di depannya. Napasnya tertahan, seolah tangan besar mencengkeram paru-parunya.

Rhea sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi dalam satu menit ke depat. Namun tetap saja ia tidak siap ketika wajahnya dicengkeram pria itu dan tubuhnya didorong hingga punggungnya membentur meja dengan keras. Saat matanya terbuka, wajah pria itu membayang di atasnya dengan nyala amarah menghiasi dua manik hijau gelap tersebut.

“M-maafkan aku, Dario.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 50 Sumpah Enrio

    ‘Bagaimana cara dia terlibat dengan proyek itu?’ Rhea menarik napas dengan perlahan. ‘Awasi saja perkembangannya. Pastikan saja dia tidak mengambil manfaat yang tak dibutuhkan hanya karena pernikahan Angela dan Enrio.’Rhea mengetuk pintu setelah Dario mengakhiri panggilan tersebut. Mendorong pintu dan berjalan masuk dengan ketenangan yang terjaga. “Makan malammu.”Dario menutup berkas dan mematikan layar komputer. Menyingkirkan semua yang ada di depannya untuk nampan yang dibawa Rhea. “Anak-anak?”“Sudah tidur setelah makan.”Dario mengangguk singkat. Menangkap lengan Rhea sebelum membalikkan badan. “Temani aku.”Rhea membeku, memberikan satu anggukan dan duduk di kursi di depan meja. Tak ada perbincangan apa pun selama Dario menandaskan isi piring dan cangkir kopinya. “Aku akan membawanya ke dapur.”“Biarkan saja.”Rhea kembali duduk di kursinya. Dario meletakkan nampan tersebut ke sudut meja, menatap lurus p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 49 Ibu Enrio

    Angela mengernyit, menatap Enrio yang memberinya anggukan singkat sebelum kemudian berpaling pada Rhea. Yang sama terkejutnya dengan Angela.Rhea menatap wanita paruh baya tersebut. Sejak mengenal Enrio dan berhubungan dengan pria itu, Enrio memang cukup tertutup tentang ibunya. Dan dari gosip yang pernah didengar dan tak sepenuhnya ia percaya, mengatakan bahwa ibu Enrio sudah mati dalam sebuah kecelakaan. Bahkan ada yang mengabarkan kalau wanita itu telah bunuh diri.Hubungan ibu Dario dan ibu Enrio memang tidak cukup baik. Sama seperti pertikaian antara Dario dan Enrio. Selebihnya, dirinya tak tahu apa pun.“Saya sangat senang bertemu dengan Anda, nyonya Renata.”“Panggil saja mama.” Renata merangkum wajah Angela dengan lembut. “Kau sangat cantik. Lebih cantik dari yang kubayangkan.”Rhea seketika merasa berada di tempat yang tidak tepat. Sejenak ia membalas tatapan Enrio lalu melangkah ke samping. Dan ia baru mendapatkan langkah p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 48 Wanita Itu

    Dengusan dingin yang membalasnya tentu saja bukan milik Enrio. Wajah Rhea terdongak dan meneguk ludahnya yang terasa pekat dengan ketegangan di wajah Dario. "D-dario?""Ya, sangat jelas ini aku, istriku.""A-aku ... kupikir kita salah kamar.""Ini memang kamar untuk kita.""T-tapi ...""Kenapa? Kau tak suka kejutannya?" Dario menelengkan kepalanya ke samping. Ya, memang ia sudah memesan ruangan ini dengan pengaturan sebaik mungkin untuk pasangan yang baru menikah."J-jadi ini memang ..." Rasa panas menyebar ke seluruh permukaan wajah Rhea.Dario tersenyum, sedikit merundukkan wajah untuk menyapukan ciuman di bibir Rhea. Bersamaan dengan denting pintu lift yang terdengar di belakangnya. "Aku harus mengurus sesuatu. Kau bersiaplah.""B-bersiap?"Dario mengambil kantong putih yang tepat berada di samping mereka. Menggenggamkan kantong tersebut di tangan Rhea.Rhea tak perlu membuka kanto

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 47 Ancaman Paul

    Rhea tercekat napasnya sendiri. Menatap keraguan yang melekati tatapan Seth. "Kenapa dengan golongan darahmu?""Golongan darahku A-, dan mereka B. B+, B-, atau B saja tapi mereka memiliki golongan darah yang sama. Apakah mungkin aku anak angkat keluarga ini?""Apa yang kau bicarakan, Seth? Kau tidak mabuk, kan?"Seth menggeleng dengan lesu, kemudian menjatuhkan kepalanya di punggung sofa sambil memasang muka cemberut yang dibuat-buat. "Pikiranku lebih aneh lagi saat mabuk.""Oh ya?""Hanya pemikiranku saja. Aku selalu menjadi orang yang asing di tengah paman Enrio dan Dario. Mereka ... seolah tidak sama denganku.""Apa maksudmu?""Kau tahu, kakek dan nenek memiliki mata hijau. Itulah sebabnya paman Dario, paman Enrio dan papaku juga memilikinya. Dan kau bisa lihat mereka." Seth menunjuk keempat kembar. Yang memang memiliki manik hijau meski dengan cara yang berbeda. Ada yang terang seperti milik Caiiley, sediki

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 46 Permohonan Rhea

    “Kau terlihat seperti bersungguh-sungguh,” gumam Dario tak peduli.“Aku memang.” Rhea merasakan matanya yang mulai perih dan kembali terbatuk. “Meskipun Enrio berusaha membujukku, aku sudah memutuskan keputusanku dan tak akan merubahnya. Aku tak mungkin menukar cintaku dengan si kembar. Aku akan mulai melupakan perasaan cintaku padanya.”Mata Dario memicing tajam.“Kumohon percayalah padaku.”“Kau terlalu banyak memohon, Rhea. Kau tak berpikir aku akan bosan mendengarnya?”“Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan?”“Apa pun?”Rhea mengangguk dengan cepat.“Tak masalah jika aku ingin anak darimu, kan?”Rhea membelalak. “A-anak?” Suaranya tercekat keras.“Kau tahu, anak adalah ikatan yang tak akan diputuskan dengan mudah. Yang akan selalu mengingatkan batasan untukmu saat kau lupa diri.”“T-tapi …”Dario melepaskan pegangannya, tubuh Rhea kembali tenggelam dan berusaha

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 45 Pengaturan Diam-Diam Angela

    Dario melirik tak tertarik pada wanita yang sudah berdiri telanjang di hadapannya tersebut. Jubah tidurnya teronggok di lantai, melingkari kedua kaki jenjang tersebut. Well, harus diakuinya, wanita itu memiliki tubuh yang sempurna. Lekukan yang begitu menggoda dan ukuran dada yang membuat pria manapun meneteskan air liur. Tak lebih kecil dari yang dimiliki Rhea, tetapi milik Rhea terasa pas di tangannya.Sial, kenapa dia memikirkan Rhea? Matanya kembali menatap manik si wanita yang berpose memamerkan kesempurnaan tubuh dan wajahnya. Sangat tahu bagaimana cara menyenangkan seorang pria, dan lagi-lagi ia tak suka berselera pada wanita yang terlalu menginginkannya. Kepolosan Rhea selalu memberinya kepuasan dan saat ini juga, dirinya membayangkan membawa wanita itu ke tempat tidur. Dan sebaiknya bayangan ini tidak bertahan lama karena ia ingin segera melaksanakannya.“Berapa dia membayarmu?”Senyum si wanita membeku, dan seketika menyadari ketidak tertari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status