Share

Bab 3. Labirin kebohongan

Penulis: Razi Maulidi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 19:22:09

Bab 3: Labirin Kebohongan

Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu.

Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung.

Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gelisah, sesekali melirik Alessia dengan tatapan curiga, seolah ingin tahu apakah Alessia sudah mengetahui sesuatu. Namun Alessia hanya membalasnya dengan senyum misterius, membuat Adrian semakin tidak nyaman.

"Aku akan pergi ke acara amal sore ini, Adrian," ucap Alessia saat Adrian hendak keluar. "Untuk Yayasan Anak Yatim. Kamu tidak lupa, kan?"

Adrian mengerutkan kening. "Oh, ya, yang itu. Aku lupa. Kamu bisa pergi sendiri, kan? Aku ada meeting penting sore ini."

"Tentu saja. Aku akan menyetir sendiri. Kamu tidak perlu khawatir," Alessia mengangguk pelan, tatapannya dingin. Dalam hatinya, ia tahu Adrian sedang berbohong lagi. Tidak ada meeting di apartemen itu. Hanya ada kebohongan dan pengkhianatan.

Adrian akhirnya pergi, dan Alessia segera beraksi. Ia tidak mengenakan gaun amal, melainkan pakaian kasual yang tidak mencolok: celana panjang gelap, blus sederhana, dan kacamata hitam besar. Ia mengambil kunci mobilnya—mobil kecil yang jarang ia pakai karena lebih sering diantar supir—dan meninggalkan rumah.

Ia memarkir mobilnya agak jauh dari kantor Adrian, di sebuah tempat yang memberinya pandangan jelas ke arah pintu masuk gedung. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan, namun ia harus siap.

Satu jam berlalu. Dua jam. Ketegangan mulai menggerogoti Alessia. Ia memegang kemudi dengan erat, mencoba mengatur napasnya. Tepat pukul empat sore, mobil Adrian keluar dari area parkir kantor. Alessia segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengikuti dari jarak yang aman.

Adrian menyetir dengan santai, seolah tidak ada beban. Mobilnya melaju mulus melewati jalanan kota yang ramai, menuju ke arah kawasan elit yang terkenal dengan deretan gedung apartemen mewah. Alessia terus membuntuti, melewati setiap lampu merah dengan hati-hati, memastikan Adrian tidak menyadari kehadirannya.

Akhirnya, Adrian berbelok masuk ke gerbang Apartemen The Grandia. Alessia menunggu sejenak, membiarkan gerbang tertutup, lalu ia pun masuk, berdalih ingin mengunjungi temannya di tower lain. Petugas keamanan tidak curiga.

Ia memarkir mobilnya di area pengunjung, lalu berjalan kaki menuju Tower C. Langkahnya terasa berat, setiap detiknya seperti melambat. Ia naik lift, jarinya gemetar saat menekan tombol lantai 15. Di dalam lift, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tegang, matanya memancarkan campuran ketakutan dan tekad.

Lift berdenting, menandakan ia telah tiba di lantai 15. Lorong apartemen itu sunyi, karpet tebal meredam setiap suara langkah kaki. Alessia berjalan perlahan, mencari nomor unit 1503.

Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti ribuan jarum yang menusuk hatinya. Jantungnya berdebar kencang, suaranya menggelegar di telinganya sendiri. Ia merasa mual, ingin muntah. Ia ingin berbalik, pulang ke rumah, berpura-pura tidak pernah menemukan struk itu, berpura-pura tidak pernah melihat anting mutiara itu, berpura-pura tidak pernah mencium aroma parfum Dania di kemeja suaminya.

Namun, kakinya terus melangkah. Ia tahu ia tidak bisa lari lagi. Ia harus menghadapi monster ini.

Akhirnya, ia berdiri di depan pintu unit 1503. Pintu kayu mahoni yang kokoh, dihiasi dengan ukiran minimalis. Di sana, di balik pintu ini, kebenaran yang paling mengerikan menunggunya.

Keraguan menyelimuti hatinya lagi. Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika Adrian hanya menyewakan apartemen ini untuk klien? Atau untuk investasi? Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba mencari alasan, mencoba untuk tidak percaya pada apa yang hatinya sudah ketahui.

Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Ini demi dirimu, Alessia," bisiknya pada diri sendiri. "Ini demi martabatmu."

Tangannya terangkat, gemetar hebat, lalu mengetuk pintu itu. Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan.

Hening. Tidak ada jawaban.

Alessia merasakan sedikit kelegaan. Mungkin Adrian tidak ada di dalam. Mungkin ia sudah salah. Mungkin...

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam. Suara yang familiar. Jantung Alessia seolah berhenti berdetak.

Kuncian pintu berputar. Perlahan, pintu itu terbuka.

Dania berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan lingerie sutra tipis yang Alessia kenali—bahkan mungkin itu adalah lingerie milik Alessia sendiri. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya bengkak, dan wajahnya memerah, seolah baru saja...

Wajah Dania berubah dari terkejut menjadi panik, lalu menjadi senyum sinis yang menusuk.

"Kak... Alessia?" Dania tergagap, namun senyum kemenangan itu tidak bisa ia sembunyikan.

Di belakang Dania, dari balik bahunya, Adrian muncul. Ia hanya mengenakan celana tidur, rambutnya acak-acakan. Matanya melebar, wajahnya pucat pasi saat melihat Alessia berdiri di depan pintu.

"Alessia! Apa yang kamu lakukan di sini?" Adrian berseru, suaranya penuh kepanikan.

Alessia tidak menjawab. Matanya menatap Adrian, lalu beralih ke Dania, yang kini justru memeluk lengan Adrian dengan erat, seolah ingin menunjukkan kepemilikannya. Pemandangan itu menghancurkan seluruh dunianya seketika. Sebuah belati menancap tepat di jantungnya, lalu diputar perlahan, tanpa ampun.

Ia merasakan darahnya mengering, napasnya tercekat di tenggorokan. Ini bukan mimpi buruk. Ini adalah kenyataan. Dua orang yang paling ia cintai, yang paling ia percaya, telah bersekongkol menghancurkannya.

"Jadi... ini yang kalian sebut meeting penting?" Suara Alessia terdengar serak, hampir tidak bisa dikenali.

Adrian mencoba mendekat, melepaskan pelukan Dania. "Alessia, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan"

"Tidak seperti yang kupikirkan?" Alessia tertawa hambar, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku melihatnya, Adrian. Dengan mata kepalaku sendiri. Adikku. Di apartemen ini. Denganmu. Apa lagi yang harus kupikirkan?"

Dania, yang awalnya tampak panik, kini justru menunjukkan seringai kemenangan. Ia tidak menangis, tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru menatap Alessia dengan pandangan menantang, seolah berkata, "Aku menang."

"Kakak jangan munafik," Dania berkata dengan suara tenang, mengejutkan Alessia. "Adrian memang sudah lama bersamaku. Hanya Kakak saja yang terlalu buta untuk melihatnya."

"Dania!" Adrian menegur, namun Dania tidak peduli.

Dania justru semakin merapatkan diri pada Adrian, memeluk lengannya dengan erat, menatap Alessia dengan senyum yang kejam. "Adrian memang sudah lama menginginkanku, Kak. Sejak Kakak sibuk dengan semua kesempurnaan dan acara sosialmu itu. Dia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya."

Kata-kata Dania bagaikan racun yang menyebar di setiap pembuluh darah Alessia. Bukan hanya pengkhianatan, tapi juga penghinaan. Ia dipermalukan oleh adiknya sendiri, di depan suaminya yang kini tampak seperti pengecut.

Alessia mengangkat tangannya, seolah ingin menampar Dania, namun ia menahan diri. Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh serendah itu. Ia tidak akan memberikan kepuasan pada Dania dengan melihatnya hancur.

"Aku... aku tidak percaya kalian bisa melakukan ini padaku," Alessia berbisik, suaranya bergetar menahan tangis.

"Percaya atau tidak, ini kenyataannya, Kak," Dania membalas, senyumnya semakin lebar. Ia mengusap pipi Adrian, sebuah gestur yang membuat perut Alessia bergejolak. "Adrian sudah memilihku."

Adrian hanya diam, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Alessia. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya, namun ia tidak melakukan apa-apa untuk membela Alessia.

Alessia menatap Adrian sekali lagi, lalu beralih ke Dania. Ada rasa jijik yang luar biasa. Ia tidak lagi melihat adiknya yang manja dan lugu, melainkan seekor ular berbisa yang selama ini bersembunyi di balik senyum manisnya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Kalian... menjijikkan," ucapnya dengan suara datar, penuh kebencian.

Ia berbalik, tidak sanggup lagi melihat pemandangan di depannya. Setiap langkahnya terasa seperti ribuan pecahan kaca yang menusuk kakinya. Ia berjalan keluar dari apartemen itu, meninggalkan Adrian dan Dania di belakangnya.

"Kakak mau ke mana?" teriak Dania dari belakang.

Alessia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju lift, air mata mengalir deras di pipinya.

Saat pintu lift hampir tertutup, ia mendengar suara Dania yang menusuk, penuh kemenangan.

"Aku tidak akan meminta maaf, Kak. Karena Adrian memang sudah lama menginginkanku."

Suara itu bergema di kepala Alessia, mengoyak sisa-sisa hatinya. Pintu lift tertutup, memisahkan Alessia dari labirin kebohongan yang baru saja menghancurkan seluruh hidupnya. Ia menekan tombol lantai dasar, ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini. Air mata mengalir tanpa henti, membasahi wajahnya. Dunia yang dulu sempurna, kini hanya tinggal puing-puing.

Di dalam lift yang bergerak turun, Alessia bersandar pada dinding cermin, menangis tanpa suara. Ia merasa hancur, dikhianati oleh dua orang yang paling ia sayangi. Namun, di tengah kehancuran itu, ada percikan api yang mulai menyala. Api kemarahan, api dendam. Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Sebuah awal yang akan mengubah Alessia selamanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 6. Siasat Sang Ular

    Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 5. Darah Lebih Dingin Dari Air

    Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 4. Belati di Balik Senyuman

    Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 3. Labirin kebohongan

    Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 2. Aroma Pengkhianatan

    Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 1. Kecurigaan yang kuat

    Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status