LOGINBab 3: Labirin Kebohongan
Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gelisah, sesekali melirik Alessia dengan tatapan curiga, seolah ingin tahu apakah Alessia sudah mengetahui sesuatu. Namun Alessia hanya membalasnya dengan senyum misterius, membuat Adrian semakin tidak nyaman. "Aku akan pergi ke acara amal sore ini, Adrian," ucap Alessia saat Adrian hendak keluar. "Untuk Yayasan Anak Yatim. Kamu tidak lupa, kan?" Adrian mengerutkan kening. "Oh, ya, yang itu. Aku lupa. Kamu bisa pergi sendiri, kan? Aku ada meeting penting sore ini." "Tentu saja. Aku akan menyetir sendiri. Kamu tidak perlu khawatir," Alessia mengangguk pelan, tatapannya dingin. Dalam hatinya, ia tahu Adrian sedang berbohong lagi. Tidak ada meeting di apartemen itu. Hanya ada kebohongan dan pengkhianatan. Adrian akhirnya pergi, dan Alessia segera beraksi. Ia tidak mengenakan gaun amal, melainkan pakaian kasual yang tidak mencolok: celana panjang gelap, blus sederhana, dan kacamata hitam besar. Ia mengambil kunci mobilnya—mobil kecil yang jarang ia pakai karena lebih sering diantar supir—dan meninggalkan rumah. Ia memarkir mobilnya agak jauh dari kantor Adrian, di sebuah tempat yang memberinya pandangan jelas ke arah pintu masuk gedung. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan, namun ia harus siap. Satu jam berlalu. Dua jam. Ketegangan mulai menggerogoti Alessia. Ia memegang kemudi dengan erat, mencoba mengatur napasnya. Tepat pukul empat sore, mobil Adrian keluar dari area parkir kantor. Alessia segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengikuti dari jarak yang aman. Adrian menyetir dengan santai, seolah tidak ada beban. Mobilnya melaju mulus melewati jalanan kota yang ramai, menuju ke arah kawasan elit yang terkenal dengan deretan gedung apartemen mewah. Alessia terus membuntuti, melewati setiap lampu merah dengan hati-hati, memastikan Adrian tidak menyadari kehadirannya. Akhirnya, Adrian berbelok masuk ke gerbang Apartemen The Grandia. Alessia menunggu sejenak, membiarkan gerbang tertutup, lalu ia pun masuk, berdalih ingin mengunjungi temannya di tower lain. Petugas keamanan tidak curiga. Ia memarkir mobilnya di area pengunjung, lalu berjalan kaki menuju Tower C. Langkahnya terasa berat, setiap detiknya seperti melambat. Ia naik lift, jarinya gemetar saat menekan tombol lantai 15. Di dalam lift, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tegang, matanya memancarkan campuran ketakutan dan tekad. Lift berdenting, menandakan ia telah tiba di lantai 15. Lorong apartemen itu sunyi, karpet tebal meredam setiap suara langkah kaki. Alessia berjalan perlahan, mencari nomor unit 1503. Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti ribuan jarum yang menusuk hatinya. Jantungnya berdebar kencang, suaranya menggelegar di telinganya sendiri. Ia merasa mual, ingin muntah. Ia ingin berbalik, pulang ke rumah, berpura-pura tidak pernah menemukan struk itu, berpura-pura tidak pernah melihat anting mutiara itu, berpura-pura tidak pernah mencium aroma parfum Dania di kemeja suaminya. Namun, kakinya terus melangkah. Ia tahu ia tidak bisa lari lagi. Ia harus menghadapi monster ini. Akhirnya, ia berdiri di depan pintu unit 1503. Pintu kayu mahoni yang kokoh, dihiasi dengan ukiran minimalis. Di sana, di balik pintu ini, kebenaran yang paling mengerikan menunggunya. Keraguan menyelimuti hatinya lagi. Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika Adrian hanya menyewakan apartemen ini untuk klien? Atau untuk investasi? Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba mencari alasan, mencoba untuk tidak percaya pada apa yang hatinya sudah ketahui. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Ini demi dirimu, Alessia," bisiknya pada diri sendiri. "Ini demi martabatmu." Tangannya terangkat, gemetar hebat, lalu mengetuk pintu itu. Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. Hening. Tidak ada jawaban. Alessia merasakan sedikit kelegaan. Mungkin Adrian tidak ada di dalam. Mungkin ia sudah salah. Mungkin... Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam. Suara yang familiar. Jantung Alessia seolah berhenti berdetak. Kuncian pintu berputar. Perlahan, pintu itu terbuka. Dania berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan lingerie sutra tipis yang Alessia kenali—bahkan mungkin itu adalah lingerie milik Alessia sendiri. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya bengkak, dan wajahnya memerah, seolah baru saja... Wajah Dania berubah dari terkejut menjadi panik, lalu menjadi senyum sinis yang menusuk. "Kak... Alessia?" Dania tergagap, namun senyum kemenangan itu tidak bisa ia sembunyikan. Di belakang Dania, dari balik bahunya, Adrian muncul. Ia hanya mengenakan celana tidur, rambutnya acak-acakan. Matanya melebar, wajahnya pucat pasi saat melihat Alessia berdiri di depan pintu. "Alessia! Apa yang kamu lakukan di sini?" Adrian berseru, suaranya penuh kepanikan. Alessia tidak menjawab. Matanya menatap Adrian, lalu beralih ke Dania, yang kini justru memeluk lengan Adrian dengan erat, seolah ingin menunjukkan kepemilikannya. Pemandangan itu menghancurkan seluruh dunianya seketika. Sebuah belati menancap tepat di jantungnya, lalu diputar perlahan, tanpa ampun. Ia merasakan darahnya mengering, napasnya tercekat di tenggorokan. Ini bukan mimpi buruk. Ini adalah kenyataan. Dua orang yang paling ia cintai, yang paling ia percaya, telah bersekongkol menghancurkannya. "Jadi... ini yang kalian sebut meeting penting?" Suara Alessia terdengar serak, hampir tidak bisa dikenali. Adrian mencoba mendekat, melepaskan pelukan Dania. "Alessia, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan" "Tidak seperti yang kupikirkan?" Alessia tertawa hambar, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku melihatnya, Adrian. Dengan mata kepalaku sendiri. Adikku. Di apartemen ini. Denganmu. Apa lagi yang harus kupikirkan?" Dania, yang awalnya tampak panik, kini justru menunjukkan seringai kemenangan. Ia tidak menangis, tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru menatap Alessia dengan pandangan menantang, seolah berkata, "Aku menang." "Kakak jangan munafik," Dania berkata dengan suara tenang, mengejutkan Alessia. "Adrian memang sudah lama bersamaku. Hanya Kakak saja yang terlalu buta untuk melihatnya." "Dania!" Adrian menegur, namun Dania tidak peduli. Dania justru semakin merapatkan diri pada Adrian, memeluk lengannya dengan erat, menatap Alessia dengan senyum yang kejam. "Adrian memang sudah lama menginginkanku, Kak. Sejak Kakak sibuk dengan semua kesempurnaan dan acara sosialmu itu. Dia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya." Kata-kata Dania bagaikan racun yang menyebar di setiap pembuluh darah Alessia. Bukan hanya pengkhianatan, tapi juga penghinaan. Ia dipermalukan oleh adiknya sendiri, di depan suaminya yang kini tampak seperti pengecut. Alessia mengangkat tangannya, seolah ingin menampar Dania, namun ia menahan diri. Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh serendah itu. Ia tidak akan memberikan kepuasan pada Dania dengan melihatnya hancur. "Aku... aku tidak percaya kalian bisa melakukan ini padaku," Alessia berbisik, suaranya bergetar menahan tangis. "Percaya atau tidak, ini kenyataannya, Kak," Dania membalas, senyumnya semakin lebar. Ia mengusap pipi Adrian, sebuah gestur yang membuat perut Alessia bergejolak. "Adrian sudah memilihku." Adrian hanya diam, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Alessia. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya, namun ia tidak melakukan apa-apa untuk membela Alessia. Alessia menatap Adrian sekali lagi, lalu beralih ke Dania. Ada rasa jijik yang luar biasa. Ia tidak lagi melihat adiknya yang manja dan lugu, melainkan seekor ular berbisa yang selama ini bersembunyi di balik senyum manisnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Kalian... menjijikkan," ucapnya dengan suara datar, penuh kebencian. Ia berbalik, tidak sanggup lagi melihat pemandangan di depannya. Setiap langkahnya terasa seperti ribuan pecahan kaca yang menusuk kakinya. Ia berjalan keluar dari apartemen itu, meninggalkan Adrian dan Dania di belakangnya. "Kakak mau ke mana?" teriak Dania dari belakang. Alessia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju lift, air mata mengalir deras di pipinya. Saat pintu lift hampir tertutup, ia mendengar suara Dania yang menusuk, penuh kemenangan. "Aku tidak akan meminta maaf, Kak. Karena Adrian memang sudah lama menginginkanku." Suara itu bergema di kepala Alessia, mengoyak sisa-sisa hatinya. Pintu lift tertutup, memisahkan Alessia dari labirin kebohongan yang baru saja menghancurkan seluruh hidupnya. Ia menekan tombol lantai dasar, ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini. Air mata mengalir tanpa henti, membasahi wajahnya. Dunia yang dulu sempurna, kini hanya tinggal puing-puing. Di dalam lift yang bergerak turun, Alessia bersandar pada dinding cermin, menangis tanpa suara. Ia merasa hancur, dikhianati oleh dua orang yang paling ia sayangi. Namun, di tengah kehancuran itu, ada percikan api yang mulai menyala. Api kemarahan, api dendam. Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Sebuah awal yang akan mengubah Alessia selamanya.Pagi itu, gedung A-Legacy berdiri lebih angkuh dari biasanya. Tidak ada lagi gosip miring di kantin karyawan, tidak ada lagi bisikan tentang pengkhianatan di ruang direksi. Nama Raka dan Dania telah terhapus dari sejarah perusahaan, terkubur di balik jeruji besi yang dingin. Alessia telah berhasil melakukan apa yang dianggap mustahil oleh banyak orang: ia membersihkan kerajaannya dari akar hingga ke pucuk.Di ruang kerjanya yang luas, Alessia berdiri di depan jendela kaca besar. Ia tidak lagi menatap ke bawah, ke arah jalanan yang sibuk, melainkan menatap jauh ke cakrawala. Di tangannya, ia memegang sebuah foto kecil yang sudah menguning—foto ayah angkatnya yang sedang tersenyum."Sudah selesai, Pa," bisiknya. "Semuanya sudah kembali ke tempatnya."---# Warisan yang DibersihkanLangkah kaki Rico yang mantap terdengar mendekat. "Nona, semua dokumen pelimpahan dana untuk yayasan panti asuhan sudah selesai ditandatangani. Sesuai permintaan Anda, sebagian besar laba dari penyitaan aset k
Pagi itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah-olah awan sedang menahan napas menyaksikan babak terakhir dari sebuah drama panjang. Ruang rapat utama di lantai 70 gedung A-Legacy telah diatur sedemikian rupa. Meja oval panjang dari kayu mahoni yang mengkilap menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemegang saham dan jajaran direksi.Raka duduk di ujung meja dengan posisi yang sangat santai, hampir terkesan meremehkan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu mahal, tangannya sibuk membolak-balikkan map proposal merger Singapura yang sempat ditolak Alessia. Di sampingnya, dua direktur senior tampak berbisik-bisik dengan wajah tegang. Mereka telah dijanjikan posisi yang lebih tinggi jika mosi tidak percaya terhadap Alessia berhasil hari ini."Mana Nona Alessia? Kita tidak punya waktu seharian untuk menunggu seorang pemimpin yang tidak disiplin," ujar Raka dengan suara keras, sengaja agar didengar oleh seluruh ruangan.Tepat saat kalimat itu selesai, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Alessia
Keheningan malam di kantor pusat A-Legacy biasanya terasa menenangkan bagi Alessia, namun malam ini, keheningan itu terasa seperti predator yang sedang mengintai. Setelah perjamuan yang melelahkan, ia tidak segera pulang. Ia duduk di kursi kerjanya, memutar-mutar sebuah pulpen perak, sementara pikirannya melayang pada laporan rahasia yang baru saja diberikan oleh Rico sebelum ia pergi.Laporan itu bukan tentang Adrian, melainkan tentang Raka.Selama beberapa bulan terakhir, Raka telah menjadi tangan kanan yang sangat efisien. Namun, ambisi pria itu mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Rico menemukan beberapa aliran dana kecil yang dialihkan ke perusahaan cangkang di luar negeri—metode yang sangat mirip dengan apa yang dulu dilakukan oleh keluarga Adrian. Sepertinya, kursi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan Dania mulai menggoda Raka untuk mengisi posisi "penguasa di balik layar"."Kau terlalu cepat merasa menang, Raka," gumam Alessia pada kegelapan ruangan.---# Per
Pagi hari di Jakarta tidak pernah peduli pada tragedi semalam. Matahari terbit dengan angkuh, menyinari gedung-gedung pencakar langit yang tetap berdiri tegak, termasuk menara A-Legacy yang kini menjadi simbol kekuasaan tunggal Alessia. Namun, di dalam dinding kaca yang dingin itu, suasana tidak sesegar udara pagi. Alessia duduk di meja kerjanya, bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan untuk menandatangani tumpukan dokumen penyitaan yang dikirimkan oleh tim hukumnya.Setiap lembar kertas yang ia tanda tangani adalah paku terakhir di peti mati finansial keluarga Adrian. Rumah utama di Menteng: disita. Koleksi mobil mewah: disita. Apartemen rahasia di Dharmawangsa yang sempat disebut-sebut Mami Widya: juga masuk dalam daftar sita berkat informasi dari mata-mata Rico. Alessia tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi mereka untuk bernapas dalam kemewahan."Nona, tim kurator akan bergerak jam sepuluh pagi ini," lapor Raka yang masuk dengan wajah cerah. Ia tampak sangat menikmati kehancu
Kepergian Dania yang diseret oleh pihak berwenang tidak serta-merta membawa kedamaian ke koridor lantai ICU itu. Sebaliknya, yang tersisa hanyalah keheningan yang menyesakkan, jenis keheningan yang biasa mengikuti ledakan besar—telinga berdenging, napas berat, dan aroma antiseptik yang bercampur dengan bau hujan yang terbawa masuk dari pakaian mereka yang basah. Alessia masih berdiri di depan jendela besar, menatap pantulan dirinya yang samar di kaca. Di belakangnya, Adrian mematung. Pria itu tampak seperti reruntuhan dari sosok yang dulu pernah memikat hatinya; bahunya merosot, wajahnya penuh lebam, dan matanya mencerminkan kehancuran yang tidak bisa diperbaiki oleh kata maaf mana pun.Di dalam ruangan, suara monitor jantung Prabowo kembali ke ritme yang stabil namun lemah. Mami Widya terdengar menggumamkan doa-doa yang terdengar hampa, sesekali memanggil nama suaminya dengan nada putus asa. Wanita yang dulunya memuja kemewahan itu kini hanya bisa memeluk tas kulit buayanya ya
Suasana di dalam ruang ICU berubah menjadi medan pertempuran emosional yang menghancurkan. Sementara di koridor luar Alessia dan Rico menahan pergerakan Dania, Adrian berlutut di samping tempat tidur ayahnya. Pemandangan di depannya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Wajah Prabowo tampak membiru, dan mesin ventilator mengeluarkan bunyi peringatan yang melengking, menandakan adanya gangguan pada suplai oksigen akibat sabotase kecil yang dilakukan Dania sebelumnya."Dokter! Suster! Kemari!" teriak Adrian dengan suara serak. Ia tidak memedulikan tangannya yang gemetar saat mencoba merapikan letak masker oksigen ayahnya. Di sudut ruangan, Mami Widya mulai tersadar dari pingsannya, namun ia hanya bisa merangkak mendekat dengan isak tangis yang memilukan. Keserakahannya selama ini telah menguap, digantikan oleh kengerian melihat suaminya sedang meregang nyawa di depan matanya sendiri.---# Konfrontasi Dua RatuDi luar, ketegangan antara Alessia dan Dania mencapai puncaknya. Dan
Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-sia
Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya
Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak.
Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergel







