Masuk
Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-
Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha
Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka
Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel
Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A
Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p





