Share

Adikku Penghancur Rumah Tanggaku
Adikku Penghancur Rumah Tanggaku
Penulis: Razi Maulidi

Bab 1. Kecurigaan yang kuat

Penulis: Razi Maulidi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 18:52:24

Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan.

"Sempurna," gumamnya, menghela napas.

Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan.

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel.

"Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru.

"Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat.

Alessia membalas pelukan itu, meski ada sedikit rasa tidak nyaman. "Dania? Kok mendadak? Kenapa nggak telepon dulu?"

Dania melepaskan pelukan, matanya menelusuri interior rumah. "Ih, Kakak. Masa ke rumah sendiri harus izin? Aku kan kangen. Lagian, aku mau pinjam baju, nih. Ada acara mendadak malam ini."

"Baju? Acara apa?" Alessia mencoba tersenyum ramah.

"Ya gitu deh, acara teman-teman. Aku kan nggak punya baju sekeren Kakak. Koleksi Kakak kan limited edition semua." Dania melirik gaun yang tergantung di lemari kaca di ruang tamu. "Gaun itu bagus banget, Kak. Yang warna emerald green itu. Aku boleh pinjam, ya?"

Alessia menghela napas. Dania memang selalu begitu. Manja dan selalu ingin apa yang Alessia miliki. "Gaun itu baru kupakai minggu lalu, Dania. Lagian, itu ukuran Kakak. Kamu kan lebih mungil."

"Ah, Kakak pelit! Kan bisa dikecilin sedikit. Atau… aku pakai yang lain deh." Dania menerobos masuk, tanpa menunggu jawaban Alessia, langsung menuju ke kamar utama mereka.

"Dania! Jangan masuk kamar dulu, Kakak belum siap-siap!" Alessia mengejar, namun Dania sudah lebih dulu masuk.

Dania sudah membuka lemari pakaian Alessia, tangannya sibuk memilah-milah gaun sutra dan designer dress yang tergantung rapi.

"Wah, Kakak ini memang surganya fashion ya. Lihat ini, yang ini cantik. Yang itu juga. Adrian pasti senang punya istri secantik dan sesempurna Kakak." Suara Dania terdengar terlalu manis.

Alessia berdiri di ambang pintu, mengamati adiknya. Ada sesuatu yang aneh dari Dania hari ini. Gerak-geriknya, tatapannya saat melihat barang-barang Alessia, seperti ada obsesi yang tersembunyi.

"Kamu serius cuma mau pinjam baju, Dania?" tanya Alessia, nadanya sedikit berubah.

Dania menoleh, tersenyum lebar. "Ih, Kakak ini suudzon aja. Tentu saja! Lagian, aku juga mau ngasih tahu, tadi aku ketemu Adrian di kafe dekat kantorku. Dia bilang mau pulang agak telat, ada meeting penting katanya."

Alessia terdiam. Adrian tidak memberitahunya soal itu. Dan mengapa Dania yang tahu?

"Oh, ya? Dia nggak bilang ke Kakak." Alessia mencoba menyembunyikan kekesalannya.

"Mungkin lupa kali, Kak. Kan Adrian sibuk banget. Untung aku yang kasih tahu, jadi Kakak nggak nungguin dia kayak orang bego." Dania tertawa kecil, tapi Alessia merasa tertawa itu menusuk.

"Aku nggak bego, Dania. Aku cuma percaya sama suamiku," jawab Alessia datar.

Dania mengangkat bahu. "Ya, ya, terserah Kakak deh. Jadi, yang mana boleh aku pinjam?"

Setelah perdebatan singkat, Alessia akhirnya mengalah dan membiarkan Dania meminjam sebuah blouse sutra yang Alessia sendiri belum pernah pakai. Dania bergegas pergi, setelah sebelumnya berkeliling rumah lagi, mengamati setiap sudut dengan tatapan aneh.

"Hati-hati, ya," ucap Alessia, mencoba tersenyum.

"Pasti! Makasih, Kak!" Dania melambaikan tangan, senyumnya masih terlalu lebar.

Alessia menutup pintu, merasakan kelegaan sekaligus keganjilan yang semakin besar. Mengapa Adrian tidak memberitahunya soal meeting itu? Dan mengapa Dania tahu?

Malam tiba. Pukul delapan. Sembilan. Sepuluh. Adrian belum juga pulang. Mawar di meja makan mulai layu. Hidangan yang Alessia masak sudah dingin. Ia mencoba menelepon Adrian, namun hanya voicemail yang menjawab.

"Kemana sih kamu, Adrian?" bisiknya, menatap layar ponsel.

Pukul sebelas malam, deru mobil Adrian terdengar di garasi. Alessia segera bangkit, mencoba merapikan diri, memaksakan senyum di wajahnya. Adrian masuk, kemejanya sedikit berantakan, dasinya longgar. Ia tampak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda.

"Adrian, kamu dari mana? Aku khawatir." Alessia mendekat, ingin memeluknya.

Adrian mengangkat tangan, menahannya. "Aku capek banget, sayang. Meeting mendadak. Maaf ya, aku lupa kasih kabar."

"Dania sudah bilang tadi." Alessia menatap matanya. "Tapi kamu nggak balas teleponku."

"Oh, Dania? Ya, dia memang ketemu aku tadi siang. Ponselku mati, sayang. Nggak sempat nge-charge." Adrian menggaruk tengkuknya, menghindari tatapan Alessia.

Alessia mencium bau parfum. Bukan parfum Adrian. Bukan parfumnya sendiri. Aroma itu… sangat familiar. Ia sering menciumnya. Di butik, di pusat perbelanjaan. Itu aroma parfum limited edition yang baru ia beli untuk Dania sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu.

"Parfum siapa ini, Adrian?" tanya Alessia, suaranya pelan, namun tajam.

Adrian terkesiap. "Parfum? Parfumku sendiri, kan? Mungkin aku pakai kebanyakan."

"Bukan. Ini bukan parfummu." Alessia melangkah mundur, matanya menyipit.

Adrian tertawa hambar. "Kamu ini kenapa sih? Cuma karena aku telat pulang, jadi curigaan gini? Aku capek, Alessia. Aku mau tidur."

Adrian berjalan melewati Alessia, menuju kamar mandi. Alessia menatap punggungnya, hatinya berdenyut nyeri. Ia tahu Adrian berbohong.

Setelah Adrian masuk kamar mandi, Alessia mendekati kemeja yang dilepas Adrian dan tergeletak di sofa. Ia mengambilnya, mengangkatnya ke hidung. Aroma parfum itu semakin kuat.

Tangannya menyentuh kerah kemeja. Sebuah noda kecil, merah muda. Noda lipstik. Jantung Alessia berdegup kencang. Ia tahu persis warna itu. Rose Petal Matte, edisi terbatas. Lipstik yang ia hadiahkan pada Dania.

Dunia Alessia runtuh seketika. Bukan hanya Adrian yang berkhianat, tetapi juga adiknya sendiri.

Alessia berdiri di depan cermin besar di kamar tidur mereka, memegang erat kemeja Adrian, tatapannya kosong. Di luar kamar, di balkon yang terhubung dengan taman belakang, Adrian sedang berbicara di telepon. Suaranya berbisik, namun tawa kecil Adrian jelas terdengar di keheningan malam. Tawa yang dulu Alessia kira hanya miliknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 6. Siasat Sang Ular

    Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 5. Darah Lebih Dingin Dari Air

    Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 4. Belati di Balik Senyuman

    Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 3. Labirin kebohongan

    Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 2. Aroma Pengkhianatan

    Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 1. Kecurigaan yang kuat

    Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status