MasukBab 5: Darah Lebih Dingin dari Air
Mobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya. Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan. "Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk hati Alessia. "Tidak, Pak. Saya ada urusan pribadi," jawab Alessia singkat, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. Ia memarkir mobilnya di halaman yang luas, di antara deretan mobil mewah milik keluarganya. Melangkah masuk ke dalam rumah, aroma bunga lili yang selalu menghiasi vas di ruang tamu menyambutnya, namun tak mampu menenangkan gejolak di dadanya. "Alessia? Nak, ada apa?" Ibu Alessia muncul dari ruang keluarga, wajahnya tampak cemas. "Tumben sekali kamu datang sore-sore begini. Dan sendirian?" Ibu Alessia adalah wanita paruh baya yang selalu terlihat anggun, namun sorot matanya seringkali menunjukkan kepasrahan. Ia adalah istri yang patuh, ibu yang penyayang, namun selalu tunduk pada kehendak suaminya, Pak Surya. Alessia tidak bisa menahan diri lagi. Melihat wajah ibunya yang khawatir, bendungan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia berlari memeluk ibunya, terisak-isak di bahu wanita itu. "Ibu... Ibu..." isaknya, kata-kata tercekat di tenggorokan. "Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis?" Ibu Alessia mengelus rambut putrinya dengan lembut, namun ekspresinya semakin panik. "Apa Adrian menyakitimu? Atau ada masalah dengan Dania?" Pertanyaan tentang Dania semakin memperparah tangis Alessia. Ia tidak bisa menjawab. Hanya isakan yang keluar dari bibirnya. Tak lama kemudian, Pak Surya muncul. Ayah Alessia adalah seorang pengusaha sukses, sosok patriarki yang tegas, selalu menempatkan reputasi dan kelangsungan bisnis keluarga di atas segalanya. Melihat putrinya menangis histeris di pelukan istrinya, dahinya berkerut. "Ada apa ini? Kenapa Alessia menangis seperti anak kecil?" tanya Pak Surya, suaranya berat dan penuh wibawa. Ibu Alessia melepaskan pelukannya, menatap suaminya dengan tatapan memohon. "Pak, Alessia kenapa? Dia tidak mau bicara." Alessia mencoba menarik napas, mengatur emosinya. Ia harus bicara. Ia harus menceritakan semuanya. Ia butuh dukungan. Ia butuh keadilan. "Ayah... Ibu..." Alessia memulai, suaranya masih bergetar. "Adrian... Adrian berselingkuh." Pak Surya dan Ibu Alessia terdiam. Wajah Ibu Alessia memucat, sementara Pak Surya mengerutkan kening, ekspresinya sulit ditebak. "Bercanda kamu, Alessia? Adrian tidak mungkin melakukan itu. Dia sangat mencintaimu," kata Pak Surya, nada suaranya terdengar tidak percaya, namun ada sedikit kegelisahan di matanya. "Tidak, Ayah! Ini bukan canda!" Alessia mengangkat suaranya, rasa sakitnya bercampur amarah. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Di apartemen rahasia Adrian!" "Apartemen rahasia? Apa maksudmu?" Ibu Alessia bertanya, tangannya menutup mulutnya karena terkejut. "Dia menyewa apartemen tanpa sepengetahuanku. Dan dia... dia berselingkuh dengan... Dania," Alessia akhirnya mengucapkan nama itu, dan rasanya seperti menelan pecahan kaca. Keheningan menyelimuti ruang tamu. Ibu Alessia terkesiap, lalu pandangannya beralih ke suaminya, seolah mencari jawaban. Pak Surya, yang biasanya selalu tenang, kini terlihat sedikit terguncang. Namun, itu hanya sesaat. Wajahnya kembali mengeras. "Dania? Adikmu sendiri?" Pak Surya bertanya, suaranya datar, namun ada nada bahaya di dalamnya. Alessia mengangguk, air mata kembali mengalir. "Bahkan... bahkan Dania bilang dia hamil anak Adrian. Dan mereka sudah berselingkuh sejak tahun kedua pernikahanku!" Kata-kata itu membuat Ibu Alessia menjerit kecil, tangannya gemetar. "Astaga, Dania... bagaimana mungkin?" Namun, reaksi Pak Surya jauh lebih dingin. Ia tidak menunjukkan kemarahan pada Adrian atau Dania. Justru, ia menatap Alessia dengan tatapan menuduh. "Kamu yakin? Kamu tidak salah paham?" Pak Surya bertanya, nada suaranya mengimplikasikan bahwa Alessia mungkin terlalu berlebihan. "Ayah! Aku melihatnya, aku mendengarnya sendiri! Dania sendiri yang mengatakannya! Dia bahkan tidak menyesal!" Alessia merasa semakin terisolasi. Pak Surya menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk di sofa tunggal. Ia tampak lebih memikirkan sesuatu yang lain daripada penderitaan putrinya. "Ini masalah besar," gumam Pak Surya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kehamilan... ini bisa jadi skandal besar." "Skandal? Ayah hanya memikirkan skandal?" Alessia tidak percaya. "Putrimu sendiri dikhianati oleh suami dan adiknya! Dan Ayah hanya memikirkan reputasi?" "Tentu saja aku memikirkan reputasi!" Pak Surya membentak, suaranya menggema di ruangan. "Nama keluarga kita dipertaruhkan, Alessia! Perusahaan kita! Adrian adalah menantu yang penting. Dan Dania... dia adalah adikmu. Sekarang dia hamil. Bayangkan apa kata orang jika berita ini tersebar!" Ibu Alessia memberanikan diri. "Tapi, Pak, Alessia juga... dia sangat terluka. Kita harus mendukungnya." "Mendukung? Bagaimana caranya? Dengan menghancurkan masa depan Dania dan bayi yang tidak bersalah itu?" Pak Surya menatap istrinya dengan tajam, membuat Ibu Alessia segera menunduk. "Alessia, kamu harus mengalah." Kata-kata itu menghantam Alessia seperti pukulan telak. "Mengalah? Ayah memintaku mengalah? Setelah semua yang mereka lakukan padaku?" "Bayi itu tidak bersalah, Alessia," Pak Surya melanjutkan, nadanya kini lebih tenang, namun penuh tekanan. "Dania sudah mengandung. Kita tidak bisa membiarkan bayi itu lahir tanpa ayah. Itu akan menjadi aib bagi keluarga kita. Kamu harus memaafkan Adrian. Dan kamu harus menerima Dania. Ini demi kebaikan bersama." Alessia menatap ayahnya dengan tatapan kosong. Ia tidak percaya apa yang didengarnya. Orang tuanya, yang seharusnya menjadi pelindungnya, kini memintanya untuk mengorbankan dirinya sendiri demi menjaga nama baik keluarga dan demi kebahagiaan pengkhianat. "Jadi, Ayah ingin aku tetap bersama Adrian? Bersama pria yang berselingkuh dengan adikku sendiri? Dan menerima adikku yang hamil anak suamiku?" Alessia bertanya, suaranya dipenuhi rasa jijik. "Formalitas, Alessia," jawab Pak Surya tegas. "Kita bisa mencari solusi lain nanti. Tapi untuk sekarang, kamu harus tetap menjadi istri Adrian. Dan Dania... dia akan kita nikahkan dengan Adrian setelah kamu bercerai. Tapi ini harus dilakukan secara diam-diam. Jangan sampai ada yang tahu." "Bercerai? Kapan? Setelah aku melahirkan anak Adrian?" Alessia merasakan air matanya mengering, digantikan oleh amarah yang membara. "Aku tidak akan! Aku tidak akan pernah mengalah!" "Kamu harus!" Pak Surya membentak lagi. "Kamu harus memikirkan posisi kita! Saham perusahaan kita, Alessia! Adrian adalah bagian penting dari jaringan bisnis kita. Jika ini terbongkar, perusahaan kita bisa anjlok! Kita tidak bisa kehilangan Adrian sebagai menantu!" Alessia hanya bisa menatap ayahnya, tak percaya. Selama ini, ia selalu mencoba menjadi putri yang sempurna, istri yang sempurna, demi membanggakan keluarganya. Ia mengorbankan impian pribadinya demi kebahagiaan Adrian dan demi reputasi keluarga. Dan kini, ketika ia hancur berkeping-keping, keluarganya justru memintanya untuk mengorbankan dirinya lebih jauh lagi. "Ayah... Ibu..." Alessia memohon, menatap ibunya yang hanya diam menunduk, tidak berani menatapnya. "Kalian tidak akan membelaku?" Ibu Alessia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Nak... Ibu tidak tahu harus berbuat apa. Ayahmu benar. Ini demi keluarga kita." "Demi keluarga?" Alessia tertawa sinis. "Keluarga mana yang mengorbankan anaknya sendiri demi nama baik dan uang?!" Pak Surya bangkit berdiri, menatap Alessia dengan tatapan yang dingin. "Dengar, Alessia. Ini adalah keputusan final. Kamu tidak boleh membocorkan ini ke publik. Kamu harus merahasiakan ini. Jika kamu berani membocorkan, kamu akan melihat akibatnya." "Akibat apa, Ayah?" Alessia menantang, air matanya kini telah kering, digantikan oleh tatapan tajam yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Pak Surya menghela napas. "Baiklah. Karena kamu memaksa. Sebenarnya, aku sudah tahu tentang Adrian dan Dania." Jantung Alessia seolah berhenti berdetak. "Apa?" "Ya," Pak Surya melanjutkan, suaranya tenang, seolah sedang membahas laporan keuangan. "Aku sudah tahu tentang perselingkuhan mereka sebulan yang lalu. Dania sendiri yang memberitahuku bahwa dia hamil. Aku sudah mencoba bicara dengan Adrian, tapi dia bilang dia tidak bisa meninggalkan Dania. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikan ini tanpa menimbulkan keributan besar." Informasi itu bagaikan pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa harapan Alessia. Ayahnya. Ayah kandungnya sendiri. Mengetahui semuanya. Dan memilih diam. Memilih untuk melindungi pengkhianat dan menghancurkan putrinya sendiri. Bukan hanya Adrian dan Dania, tapi juga orang tuanya. Seluruh dunianya. "Ayah... Ayah sudah tahu?" Alessia berbisik, suaranya kosong. Rasa dikhianati itu kini semakin dalam, semakin menusuk. Darah yang seharusnya lebih kental dari air, kini terasa lebih dingin dari es. "Aku melakukan ini demi keluarga, Alessia," Pak Surya mengulang, seolah itu adalah pembenaran yang mutlak. "Demi bisnis kita. Adrian adalah aset. Dania adalah anakku. Kamu... kamu harus mengerti." Alessia menatap Ayahnya, lalu ke Ibunya yang kini menangis dalam diam. Ia tidak lagi melihat orang tua yang mencintainya. Ia hanya melihat dua orang asing yang egois, yang lebih mementingkan harta dan reputasi daripada kebahagiaan putrinya sendiri. "Aku mengerti," ucap Alessia, suaranya datar, tanpa emosi. "Aku sangat mengerti sekarang." Ia bangkit berdiri. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi isakan. Hanya ada kekosongan yang membekukan di dalam dirinya. "Aku akan pergi," katanya, berbalik tanpa menoleh lagi. "Alessia, kamu mau ke mana?" Ibu Alessia mencoba menghentikannya. "Aku akan pergi ke tempat di mana aku tidak perlu mengalah. Ke tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura," jawab Alessia, suaranya kini penuh tekad. "Jangan bertindak bodoh, Alessia! Kamu tidak punya apa-apa lagi!" Pak Surya memperingatkan. Alessia tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju pintu utama, meninggalkan orang tuanya yang mematung di ruang tamu. Ia membuka pintu, melangkah keluar ke malam yang dingin. Ia menyadari bahwa ia sendirian. Sepenuhnya sendirian. Tidak ada lagi rumah untuk pulang. Tidak ada lagi bahu untuk bersandar. Keluarga yang selama ini ia banggakan, kini telah membuangnya. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah tekad baru muncul. Tekad untuk bangkit. Tekad untuk membalas. Mereka telah merenggut segalanya darinya. Tapi ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Darah memang lebih dingin dari air. Dan ia akan membuktikan, bahwa mawar yang telah dipatahkan, bisa tumbuh kembali dengan duri yang lebih tajam. Alessia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan pernah kembali ke kehidupan lamanya. Babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Babak yang penuh dengan dendam dan perjuangan.Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-
Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha
Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka
Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel
Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A
Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p