Share

Bab 6. Siasat Sang Ular

Author: Razi Maulidi
last update Last Updated: 2026-02-24 00:04:17

Bab 6: Siasat Sang Ular

Malam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.

Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.

Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-barang pribadinya, setidaknya beberapa lembar pakaian, dan dokumen penting. Ia tidak bisa pergi dengan tangan kosong.

Ia tiba di gerbang rumahnya yang megah. Gerbang itu tidak terkunci. Dengan langkah ragu, Alessia masuk. Halaman depan masih asri, bunga-bunga mawar masih mekar indah, namun aura rumah itu terasa berbeda. Dingin, asing.

Ia membuka pintu utama yang biasanya tidak pernah terkunci. Hening. Tidak ada suara asisten rumah tangga yang biasanya sibuk di pagi hari. Alessia melangkah masuk, merasakan setiap jejak kakinya di lantai marmer yang dulu ia pilih dengan cermat.

Ia menuju ke kamar utama, kamar tidurnya. Pintu kamar sedikit terbuka. Sebuah suara tawa kecil terdengar dari dalam. Jantung Alessia berdegup kencang. Ia mengenali suara itu. Suara Dania.

Alessia mendorong pintu perlahan. Pemandangan di depannya membuat darahnya mendidih. Dania sedang berdiri di depan lemari pakaian Alessia, mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang baru Alessia beli bulan lalu. Gaun itu sedikit kebesaran di tubuh mungil Dania, namun Dania tampak tidak peduli. Ia berputar di depan cermin, tersenyum puas.

"Kak... Alessia?" Dania terkesiap saat melihat Alessia di ambang pintu, senyumnya langsung memudar.

Alessia menatap Dania dengan tatapan membunuh. "Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku, Dania?"

Dania tersenyum canggung, mencoba menutupi kegugupannya. "Oh, Kakak. Kaget, ya? Adrian yang menyuruhku pindah ke sini. Katanya aku butuh perawatan ekstra selama kehamilan ini. Rumah ini kan lebih nyaman daripada apartemen Adrian yang sempit itu. Lagi pula, Kakak kan sudah pergi."

"Pergi?" Alessia tertawa hambar. "Aku tidak pernah pergi. Ini rumahku."

"Maksudku, Kakak kan semalam menginap di luar," Dania mengangkat bahu, seolah itu hal sepele. "Adrian bilang, karena Kakak sudah... ah, sudahlah. Intinya, aku sekarang tinggal di sini."

Alessia melihat koper-koper Dania yang sudah terbuka di lantai, pakaian-pakaian Dania yang berserakan, bercampur dengan barang-barang Adrian. Kamar yang dulu menjadi saksi bisu kebahagiaannya, kini telah dikotori oleh pengkhianatan.

"Kamu bahkan tidak menunggu aku mengambil barang-barangku?" Alessia bertanya, suaranya pelan namun penuh ancaman.

"Untuk apa? Kakak kan tidak akan kembali lagi ke sini," Dania menjawab, nada suaranya mulai angkuh. "Adrian bilang, Kakak sudah tidak ada hak atas rumah ini."

Kemarahan Alessia mencapai puncaknya. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Kamu... kamu benar-benar ular, Dania. Kamu merebut segalanya dariku."

"Aku tidak merebut, Kak," Dania membalas, senyum licik kembali terukir di bibirnya. "Adrian sendiri yang memberikannya padaku. Dia mencintaiku. Dan dia tidak mencintai Kakak lagi."

Alessia ingin menampar wajah Dania, namun ia menahan diri. Ia tidak akan memberikan kepuasan itu pada adiknya. Dengan napas memburu, Alessia berjalan ke lemari pakaiannya, mulai mengambil beberapa barang yang paling penting: beberapa set pakaian, tas tangan berisi dokumen pribadinya, dan kotak perhiasan kecil peninggalan ibunya.

"Jangan sentuh itu!" teriak Dania, melangkah maju. "Itu milikku sekarang! Adrian sudah memberikan semuanya padaku!"

Alessia terdiam, tangannya memegang kotak perhiasan. Ia menatap Dania. "Ini bukan milik Adrian. Ini peninggalan Ibu. Ini milikku."

"Tidak! Adrian sudah bilang semuanya milikku! Bahkan perusahaan Kakak pun sudah milik Adrian!" Dania berteriak histeris, mencoba merebut kotak itu.

Alessia menepis tangan Dania. "Perusahaan? Perusahaan apa?"

"Perusahaan keluarga kita, Kak! Adrian kan CEO-nya sekarang! Dia bilang, Kakak sudah tidak punya hak apa-apa lagi!" Dania tertawa sinis.

Jantung Alessia mencelos. Perusahaan keluarga? Adrian CEO? Ini terlalu cepat. Ini pasti ulah Dania.

Ia tidak meladeni Dania. Ia hanya mengambil barang-barang yang ia rasa paling penting, mencoba mengabaikan Dania yang terus mengoceh di belakangnya. Ia harus segera pergi dari rumah terkutuk ini.

Setelah mengemasi tas kecilnya, Alessia mencoba menghubungi bank. Ia butuh uang tunai untuk sementara. Ia mencoba mengakses rekening bersama dengan Adrian, namun ponselnya menampilkan pesan error. Ia mencoba lagi dengan kartu kreditnya yang lain. Gagal. Semua aksesnya ke rekening bank dan kartu kredit telah diblokir.

Panik mulai merayap. Ia mencoba menelepon manajer banknya, namun sambungan teleponnya tiba-tiba terputus. Ponselnya menunjukkan pesan "Layanan terputus". Nomornya telah diblokir.

Dania pasti yang melakukan ini. Ia pasti menggunakan Adrian untuk memblokir semua akses finansial Alessia. Rasa marah membakar setiap sel tubuh Alessia. Ia tidak hanya kehilangan suami dan adiknya, tapi juga seluruh hartanya. Ia tidak punya apa-apa lagi.

Tiba-tiba, suara bel pintu terdengar. Dania bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Alessia sendirian.

Alessia mendengar suara Adrian dari ruang tamu, diikuti oleh suara seorang pria yang tidak ia kenal. Ia mengintip dari balik pintu kamar. Adrian berdiri di ruang tamu, dengan seorang pria berjas rapi—seorang pengacara. Dania berdiri di samping Adrian, tersenyum kemenangan.

"Alessia! Kemari!" Adrian memanggil, nadanya dingin dan memerintah.

Alessia keluar, berdiri di ambang pintu kamar. Tatapannya tajam, menatap Adrian dan Dania secara bergantian.

"Ada apa?" tanyanya.

"Ini pengacaraku," Adrian memperkenalkan, tidak ada kehangatan sama sekali dalam suaranya. "Dia akan mengurus perceraian kita."

Alessia menertawakan Adrian, tawa yang penuh kepedihan. "Perceraian? Bukankah kamu sudah cukup menghancurkanku, Adrian? Sekarang kamu ingin mengambil semuanya?"

"Ini bukan keinginanku, Alessia," Adrian menjawab, menghindari tatapan mata Alessia. "Tapi ini yang terbaik untuk kita semua. Terutama untuk Dania dan bayi kami."

Alessia menatap Dania. Wajah Dania memancarkan kepuasan yang luar biasa. Ia tahu ini semua adalah ulah Dania.

Pengacara itu melangkah maju, memegang sebuah map tebal. "Nyonya Alessia, saya datang untuk menyampaikan surat gugatan cerai dari Tuan Adrian. Dan juga, terkait masalah pembagian harta gono-gini."

"Pembagian harta?" Alessia mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah semua harta kita adalah hasil kerja kerasku selama ini?"

"Maaf, Nyonya," sang pengacara berkata dengan suara datar. "Berdasarkan bukti-bukti yang kami miliki, Tuan Adrian adalah pemilik sah dari sebagian besar aset. Dan ada beberapa hal lain yang perlu kita diskusikan."

Pengacara itu membuka mapnya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen. "Kami menemukan bukti transfer dana yang signifikan dari rekening perusahaan ke rekening pribadi Anda, Nyonya Alessia, yang tidak memiliki dasar transaksi yang jelas."

Jantung Alessia berdebar kencang. Ia tahu ini adalah jebakan. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah melakukan itu!"

"Ada tanda tangan Anda di setiap dokumen persetujuan transfer ini, Nyonya," pengacara itu menunjukkan beberapa lembar dokumen dengan tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tangan Alessia. "Dan jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Ini bisa dikategorikan sebagai penggelapan dana perusahaan."

Alessia terkesiap. Ia menatap Adrian, lalu ke Dania. Dania tersenyum lebar, senyum yang begitu kejam.

"Ini semua palsu!" Alessia berteriak. "Aku tidak pernah menandatangani ini! Ini semua rekayasa!"

Adrian menatap Alessia dengan dingin. "Jangan mengelak, Alessia. Semua bukti ada di sini. Dania yang menemukan semua ini saat dia mulai membantu di perusahaan. Dia bilang kamu sering mengambil uang perusahaan diam-diam."

"Dania?!" Alessia menatap adiknya, tidak percaya. "Kamu yang melakukan ini?!"

Dania hanya mengangkat bahu. "Aku hanya membantu Adrian membersihkan keuangan perusahaan, Kak. Aku tidak tahu Kakak bisa sejahat itu."

Rasa marah Alessia kini bercampur dengan rasa jijik yang luar biasa. Adiknya sendiri, yang ia manjakan selama ini, kini menjebaknya dengan tuduhan penggelapan. Ia tahu Dania punya akses ke kantor Adrian, Dania pasti memalsukan tanda tangannya.

"Ini semua bohong! Aku tidak bersalah!" Alessia membela diri.

"Bukti berbicara, Nyonya," kata pengacara itu. "Jika Anda tidak mau menerima syarat perceraian ini, kami akan membawa masalah penggelapan dana ini ke jalur hukum. Dan Anda tahu, konsekuensinya bisa sangat berat."

Syarat perceraian itu sangat merugikan Alessia. Ia tidak akan mendapatkan sepeser pun dari harta gono-gini, bahkan rumah yang kini ia tinggali akan sepenuhnya menjadi milik Adrian. Semua aset yang ia kumpulkan selama pernikahan, semua investasi yang ia kelola, akan lenyap. Ia akan keluar dari pernikahan ini dengan tangan kosong, dan bahkan dituduh sebagai penjahat.

"Kamu... kamu benar-benar ingin menghancurkanku, Adrian?" Alessia menatap suaminya, air mata menggenang di matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh.

Adrian menghindari tatapannya. "Ini demi masa depan kami, Alessia. Dania dan anak kami butuh jaminan."

"Jaminan? Kamu menjamin masa depan pengkhianat dan anak haramnya dengan menghancurkan hidupku?" Alessia bertanya, suaranya dipenuhi amarah.

"Jaga bicaramu, Alessia!" Dania membentak, wajahnya memerah.

Pengacara itu menyodorkan dokumen perceraian. "Silakan dibaca, Nyonya. Jika Anda setuju, kita bisa menyelesaikan ini dengan damai. Jika tidak..." ia melirik Adrian.

Adrian melangkah maju, menatap Alessia dengan tatapan yang dulu tidak pernah ia tunjukkan. Tatapan dingin, penuh ancaman.

"Kalau kau tidak pergi dengan tenang, Alessia, kau akan berakhir di penjara karena penggelapan ini," ancam Adrian, suaranya rendah dan menusuk.

Kata-kata Adrian bagaikan belati yang menusuk jantung Alessia. Ia tidak hanya kehilangan segalanya, tapi juga diancam dengan penjara. Oleh suaminya sendiri, di bawah pengaruh adiknya.

Alessia menatap ketiga orang di depannya. Adrian yang pengecut, Dania yang licik, dan pengacara yang hanya peduli pada uang. Ia menyadari bahwa ia tidak punya pilihan. Ia tidak punya bukti untuk membantah tuduhan penggelapan itu. Dania pasti sudah merencanakan ini dengan sangat matang.

"Aku akan pergi," ucap Alessia, suaranya bergetar, namun penuh tekad. "Tapi ini belum berakhir."

Adrian dan Dania hanya tersenyum puas. Mereka pikir mereka telah menang. Mereka pikir Alessia telah menyerah.

Namun, di dalam diri Alessia, bara api kemarahan itu kini telah menjadi lautan api. Ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Ini bukan akhir. Ini baru permulaan dari balas dendamnya. Ia akan bangkit. Ia akan menjadi lebih kuat. Dan mereka akan membayar mahal atas semua yang telah mereka lakukan padanya. Ancaman penjara itu, justru menjadi pemicu bagi Alessia untuk berubah. Ia tidak akan pernah lagi menjadi Alessia yang lemah dan lugu. Ia akan menjadi seseorang yang jauh lebih berbahaya.

salam kenal semua.....mohon dukung terus cerita ini ya.... author butuh dukungan banyak2 dari kalian... terimakasih 🥰🥰

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 6. Siasat Sang Ular

    Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 5. Darah Lebih Dingin Dari Air

    Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 4. Belati di Balik Senyuman

    Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 3. Labirin kebohongan

    Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 2. Aroma Pengkhianatan

    Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 1. Kecurigaan yang kuat

    Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status