Home / Romansa Dewasa / Adikku Penghancur Rumah Tanggaku / Bab 4. Belati di Balik Senyuman

Share

Bab 4. Belati di Balik Senyuman

Author: Razi Maulidi
last update Last Updated: 2026-02-14 19:28:11

Bab 4: Belati di Balik Senyuman

Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka.

Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat.

"Alessia! Kamu kembali?" Adrian mendekat, mencoba meraih tangannya, namun Alessia menepisnya.

"Jangan sentuh aku," ucap Alessia dingin, matanya memerah karena tangis, namun tatapannya kini memancarkan amarah yang membara. "Aku belum selesai."

Adrian menghela napas, gesturnya menunjukkan rasa bersalah yang kentara, namun juga keputusasaan. "Alessia, tolong, dengarkan aku. Ini tidak sesederhana yang kamu kira."

"Tidak sesederhana? Apa lagi yang bisa lebih rumit dari melihat suamiku sendiri berpelukan dengan adik kandungku di apartemen rahasia kalian, Adrian?" Alessia menekan setiap kata, suaranya bergetar.

Dania muncul dari balik pintu apartemen, kini sudah mengenakan jubah mandi sutra, rambutnya disisir rapi. Senyum sinis kembali terukir di bibirnya. "Sudah kubilang, Kak. Adrian memang sudah lama menginginkanku. Kakak saja yang terlalu buta."

"Dania, diam!" Adrian membentak, namun Dania hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.

Alessia menatap Adrian. "Jelaskan, Adrian. Katakan padaku, mengapa? Mengapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku?"

Adrian menundukkan kepala. "Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana, Alessia. Aku hanya... aku merasa kesepian. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan sosialmu, dengan semua acara dan kesempurnaan yang kamu kejar. Kamu terlalu sempurna, Alessia. Aku merasa tidak dibutuhkan."

Kata-kata Adrian bagaikan tamparan keras di wajah Alessia. "Aku terlalu sempurna? Aku melakukan semua itu demi kita, Adrian! Demi menjaga nama baikmu, demi menjaga reputasi keluarga kita! Dan kamu... kamu membalasnya dengan berselingkuh dengan adikku sendiri?!"

"Tapi kamu tidak pernah ada di sisiku, Alessia!" Adrian mengangkat suaranya, rasa frustrasi bercampur rasa bersalah. "Kamu tidak pernah menanyakan bagaimana hari-hariku. Kamu tidak pernah memelukku tanpa alasan. Kamu selalu sibuk. Dan Dania... Dania ada di sana. Dia mendengarkan. Dia membuatku merasa... dihargai."

Alessia menertawakan Adrian, tawa yang hambar dan penuh kepedihan. "Dihargai? Atau dimanipulasi, Adrian? Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana Dania? Dia selalu haus perhatian, haus harta. Kamu pikir dia benar-benar mencintaimu?"

"Dia mencintaiku, Kak!" Dania menyela, suaranya meninggi. "Dan dia akan segera punya anak dariku!"

Jantung Alessia seolah berhenti berdetak. Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam. Ia menatap Dania, lalu beralih ke Adrian. Wajah Adrian memucat, matanya tidak berani menatap Alessia.

"Apa... apa yang dia katakan?" Alessia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

Dania tersenyum lebar, senyum kemenangan yang kejam. "Aku hamil, Kak. Aku mengandung anak Adrian. Jadi, sudah jelas siapa yang akan Adrian pilih, kan?"

Dunia Alessia runtuh untuk kedua kalinya. Ini bukan hanya pengkhianatan cinta, ini adalah pengkhianatan masa depan. Lima tahun pernikahan, ia belum juga dikaruniai anak. Ia selalu berusaha, pergi ke dokter, menjalani berbagai program, namun takdir belum berpihak padanya. Dan kini, adiknya sendiri, dengan pria yang seharusnya menjadi suaminya, akan memiliki anak.

Rasa sakit itu begitu nyata, begitu menusuk. Bukan hanya rasa dikhianati, tapi juga rasa gagal sebagai seorang wanita. Selama ini ia menyalahkan dirinya sendiri, merasa tidak cukup baik, merasa tidak bisa memberikan apa yang Adrian inginkan. Dan kini Dania, dengan santainya, menjatuhkan bom informasi itu di depannya.

"Tidak... ini tidak mungkin," Alessia menggelengkan kepala, air mata kembali mengalir. "Kamu berbohong, Dania. Kamu hanya ingin menghancurkanku."

"Untuk apa aku berbohong, Kak?" Dania mendekat, tangannya mengusap perutnya yang masih rata. "Ini kenyataannya. Adrian akan menjadi ayah. Dan aku, akan menjadi ibu dari anaknya. Jadi, tidak ada lagi tempat untuk Kakak di sini."

Adrian hanya diam, menundukkan kepalanya, tampak terjebak di antara rasa bersalah dan tanggung jawab yang tiba-tiba melilitnya. Ia melirik Alessia, lalu ke Dania, seolah tidak tahu harus berpihak kepada siapa.

"Adrian, katakan padaku ini tidak benar!" Alessia memohon, menatap suaminya dengan tatapan putus asa.

Adrian mendesah. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa, Alessia. Ini... ini terjadi begitu saja."

"Begitu saja?!" Alessia berteriak, amarahnya meledak. "Perselingkuhan ini bukan 'begitu saja', Adrian! Ini adalah pilihan! Pilihan untuk menghancurkan hidupku! Dan kamu, Dania, kamu adalah adikku! Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan ini?!"

Dania tidak menunjukkan penyesalan. Justru sebaliknya, ia semakin merasa di atas angin. "Kakak terlalu naif, Alessia. Selama ini Kakak hanya sibuk dengan dunia Kakak sendiri. Adrian butuh perhatian, butuh kehangatan. Dan aku memberikannya."

"Dan kehamilan ini... apakah ini juga 'begitu saja'?" Alessia menatap Dania dengan penuh kebencian.

Dania tersenyum tipis. "Yah, bisa dibilang begitu. Tapi ini adalah bukti cintaku pada Adrian. Bukti bahwa aku bisa memberikan apa yang Kakak tidak bisa berikan."

Kata-kata itu bagaikan belati yang menusuk lebih dalam. Alessia merasa seluruh tubuhnya gemetar. Rasa sakit, amarah, dan penghinaan bercampur menjadi satu.

"Adrian, kamu tahu dia bagaimana kan? Kamu tahu dia selalu iri padaku! Kamu tahu dia licik!" Alessia mencoba menyadarkan Adrian.

"Cukup, Alessia!" Adrian tiba-tiba mengangkat suaranya. "Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Tapi Dania sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa meninggalkannya."

"Jadi kamu memilih dia? Memilih adikku? Setelah semua yang kita lalui selama lima tahun ini?" Suara Alessia pecah.

Adrian menghela napas panjang, tampak lelah dan putus asa. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi aku harus bertanggung jawab."

"Bertanggung jawab?" Alessia tertawa sinis. "Kamu bahkan tidak tahu bagaimana ini semua terjadi, kan? Kamu hanya boneka, Adrian! Boneka yang dimainkan oleh adikku sendiri!"

Dania melangkah maju, tatapannya dingin. "Kakak jangan menghina Adrian. Dia adalah pria yang hebat. Dan dia sudah lama tidak bahagia dengan Kakak."

"Tidak bahagia?" Alessia menatap Dania dengan mata menyipit. "Sejak kapan, Dania? Sejak kapan kalian bermain sandiwara ini di belakangku?"

Dania mengernyitkan dahi, seolah berpikir, lalu seringainya kembali. "Sejak... tahun kedua pernikahan Kakak, kurasa. Adrian sudah mulai bosan dengan Kakak yang terlalu kaku dan terlalu sempurna. Dia sering curhat padaku. Dan aku... hanya menghiburnya."

Twist itu menghantam Alessia dengan kekuatan penuh. Tahun kedua? Bukan hanya baru-baru ini, tapi sudah bertahun-tahun. Selama tiga tahun terakhir, saat ia masih berusaha menjadi istri yang sempurna, saat ia masih bermimpi tentang masa depan bersama Adrian, mereka sudah mengkhianatinya. Selama ini, ia hidup dalam kebohongan. Selama ini, Adrian dan Dania telah mengolok-oloknya di belakang punggungnya.

Rasa jijik yang luar biasa meliputi Alessia. Bukan hanya pada Adrian, tapi juga pada Dania, adik kandungnya sendiri. Ia tidak bisa lagi menahan diri.

"Kalian... kalian menjijikkan," ucap Alessia, suaranya penuh kebencian. "Kalian berdua pantas masuk neraka."

Ia tidak menunggu jawaban. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Alessia berbalik dan melangkah pergi. Ia menekan tombol lift, dan kali ini, ia tidak menoleh lagi. Pintu lift terbuka, dan ia masuk, meninggalkan dua pengkhianat itu di belakangnya.

Air mata membanjiri wajahnya saat lift bergerak turun. Ia tidak peduli jika ada orang lain yang melihatnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa hancur, dikhianati, dan dipermalukan. Rasa sakit yang luar biasa membakar seluruh tubuhnya.

Ketika tiba di lantai dasar, Alessia bergegas keluar dari apartemen itu, mencari mobilnya. Ia menyalakan mesin, namun tangannya gemetar hebat di kemudi. Pandangannya kabur karena air mata.

Ia menyetir keluar dari kawasan apartemen, pikirannya kosong, hanya dipenuhi oleh gambaran Dania yang tersenyum kemenangan dan Adrian yang pengecut. Ia tidak melihat jalan, tidak melihat lampu merah. Semua terasa buram.

Tiba-tiba, sebuah klakson panjang membuyarkan lamunannya. Sebuah truk besar melaju kencang dari arah berlawanan, lampu depannya menyilaukan. Alessia terkesiap, menginjak rem dengan panik. Ban mobilnya berdecit keras di aspal, asap mengepul. Ia hampir menabrak truk itu. Hanya sepersekian detik.

Jantungnya berdebar kencang, ia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia menepi, memarkir mobilnya di bahu jalan. Tubuhnya gemetar hebat, air mata kembali mengalir tak terbendung. Ia hampir mati. Ia hampir mengakhiri semuanya.

V Ia bersandar di kemudi, menangis tersedu-sedu. Semua impiannya, semua kepercayaannya, semua kebahagiaannya, telah direnggut darinya oleh dua orang yang paling ia cintai. Ia tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada rumah, tidak ada suami, dan kini, ia bahkan tidak punya keluarga.

Setelah beberapa saat, tangisnya mereda, namun rasa sakitnya tidak. Ia mengangkat kepalanya, menatap pantulan dirinya di kaca spion. Wajahnya yang dulu cerah, kini tampak hancur dan kosong. Namun, di balik kehancuran itu, ada sesuatu yang mulai terbentuk. Sebuah tekad. Sebuah janji.

Ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Alessia menyalakan mesin mobilnya lagi. Ia tidak bisa kembali ke rumahnya yang kini terasa asing. Ia tidak bisa sendirian. Ia butuh seseorang. Ia butuh perlindungan.

Satu-satunya tempat yang terlintas di benaknya adalah rumah orang tuanya. Mungkin di sana, ia bisa menemukan sedikit kedamaian. Mungkin di sana, ia bisa mendapatkan dukungan moral yang ia butuhkan untuk menghadapi badai yang baru saja menerjang hidupnya.

Ia menyetir perlahan, menuju rumah orang tuanya, dengan harapan yang tipis, namun itu adalah satu-satunya harapan yang ia miliki. Hatinya diliputi rasa sakit, namun di tengah rasa sakit itu, api dendam mulai menyala, membakar sisa-sisa kepolosan Alessia. Ia tidak akan pernah sama lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 6. Siasat Sang Ular

    Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 5. Darah Lebih Dingin Dari Air

    Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 4. Belati di Balik Senyuman

    Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 3. Labirin kebohongan

    Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 2. Aroma Pengkhianatan

    Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 1. Kecurigaan yang kuat

    Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status