Share

Bab 2. Aroma Pengkhianatan

Penulis: Razi Maulidi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 19:10:21

Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima.

Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual.

Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial.

Di meja makan, Adrian sudah duduk dengan secangkir kopi di tangan. Ia tampak santai, membaca koran pagi. Aroma pancakes dan bacon yang dibuat oleh asisten rumah tangga memenuhi ruangan. Suasana yang seharusnya harmonis, kini terasa seperti medan perang yang sunyi.

"Pagi, sayang," sapa Adrian, mencoba terdengar ceria, namun matanya tidak menatap Alessia.

"Pagi," jawab Alessia, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia duga. Ia duduk di seberang Adrian, mengambil sepotong pancake. "Tumben pagi-pagi sudah baca koran?"

Adrian menurunkan korannya sedikit. "Biasa, berita bisnis. Ada beberapa saham yang menarik perhatian." Ia menyesap kopi. "Kamu semalam tidur nyenyak?"

Alessia menahan napas. "Lumayan. Ada sedikit pikiran." Ia menatap Adrian lurus. "Soal pekerjaanmu yang mendadak itu. Kamu biasanya selalu memberitahuku detailnya."

Adrian terkesiap sedikit, namun segera menguasai diri. "Oh, itu... ya, memang mendadak sekali. Ada masalah di proyek baru, jadi harus segera diselesaikan. Untungnya Dania kemarin siang memberitahumu."

"Begitu," Alessia mengangguk pelan. "Dania juga bilang, dia bertemu kamu di kafe dekat kantornya. Apa kalian... lama di sana?" Alessia mencoba memancing.

Adrian meletakkan korannya sepenuhnya. Ada sedikit kerutan di dahinya. "Tidak juga. Hanya sebentar, aku mampir untuk mengambil berkas yang tertinggal di mobil. Dia kebetulan lewat." Adrian terdengar defensif.

"Berkas apa?" tanya Alessia, pura-pura tertarik.

"Berkas... yah, berkas penting. Kamu tidak perlu tahu detailnya. Ini urusan bisnis," jawab Adrian, nada suaranya mulai meninggi. "Kenapa sih kamu jadi banyak tanya begini? Kamu tidak percaya padaku?"

Alessia tersenyum tipis. "Tentu saja percaya. Hanya saja, kamu kan biasanya tidak seperti ini. Aku hanya khawatir." Ia mencoba meraih tangan Adrian di atas meja, namun Adrian menarik tangannya seolah tersengat listrik.

"Aku baik-baik saja, Alessia. Aku hanya lelah," Adrian bangkit dari kursi. "Aku harus segera ke kantor. Ada meeting penting."

"Oh, meeting lagi?" Alessia mengangkat sebelah alisnya. "Semoga kali ini ponselmu tidak mati lagi."

Adrian menoleh, tatapannya tajam. "Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Hanya mengingatkan." Alessia membalas tatapan Adrian dengan tenang, namun di dalam hatinya, badai mulai bergolak.

Adrian mendengus, mengambil tas kerjanya, dan berjalan keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal. Suara pintu utama menutup, menyisakan Alessia sendirian di meja makan yang dingin. Ia menatap piring pancake yang tak tersentuh. Nafsu makannya hilang bersamaan dengan sisa-sisa kepercayaannya.

Setelah Adrian pergi, Alessia segera beraksi. Ia tahu Adrian sangat teliti soal kebersihan mobilnya, jadi jarang ada barang yang tertinggal. Tapi nalurinya mengatakan ada sesuatu. Ia mengambil kunci mobil Adrian dari gantungan di dekat pintu dan berjalan ke garasi.

Mobil Adrian, sebuah SUV mewah berwarna hitam, terparkir rapi. Alessia membuka pintu penumpang depan, aroma parfum Dania masih samar tercium di dalam. Ia mulai memeriksa setiap sudut, setiap celah. Di bawah kursi penumpang, ia menemukan sesuatu yang berkilau.

Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar saat merogoh ke bawah kursi. Sebuah anting mutiara kecil, dengan pengait emas putih. Anting itu... ia sangat mengenalnya. Itu adalah hadiah ulang tahun dari Alessia sendiri untuk Dania tahun lalu. Dania sangat menyukai mutiara.

Anting itu terasa dingin di telapak tangan Alessia. Bukti yang tak terbantahkan. Bukan hanya noda lipstik, kini ada anting. Seolah Dania sengaja meninggalkan jejaknya, mengolok-olok Alessia. Air mata menggenang di mata Alessia, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kemarahan yang membara.

Ia menyimpan anting itu di saku jubahnya. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus tahu lebih banyak.

Alessia memutuskan untuk menelepon Sari, sahabatnya sejak kuliah. Sari adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya di lingkaran sosialnya.

"Sari? Apa kabar?" sapa Alessia, mencoba terdengar normal.

"Alessia! Astaga, tumben telepon. Baik-baik saja kok. Kamu gimana? Adrian gimana?" tanya Sari, suaranya ceria.

"Baik-baik saja. Aku cuma... ingin tahu, kamu ada dengar-dengar sesuatu nggak akhir-akhir ini?" Alessia mencoba memancing.

Sari terdiam sejenak. "Dengar apa, Sayang? Soal arisan? Atau gosip selebritis?"

"Bukan. Soal... Adrian. Atau Dania." Alessia akhirnya memberanikan diri.

Ada jeda lagi. "Hmm, kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?" Sari terdengar hati-hati. "Ada apa, Alessia?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya... firasat. Kamu tahu kan, aku ini terlalu peka." Alessia mencoba tertawa hambar.

"Alessia, dengar ya," suara Sari berubah serius. "Aku nggak mau kamu salah paham. Tapi... ada beberapa orang yang bilang... Adrian akhir-akhir ini sering terlihat dengan... yah, 'orang ketiga'. Tapi aku nggak percaya. Kamu kan tahu, Adrian itu sayang banget sama kamu."

Hati Alessia mencelos. Firasatnya benar. "Orang ketiga? Siapa?"

"Aku nggak tahu, Sayang. Gosip kan suka dilebih-lebihkan. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu cuma rekan bisnisnya. Tapi... hati-hati aja, ya. Dunia ini kejam." Sari terdengar tulus, namun ia tidak menyebut nama Dania. Mungkin ia juga belum tahu, atau tidak ingin menyakiti Alessia lebih jauh.

"Makasih, Sari. Aku akan hati-hati," Alessia menutup telepon dengan rasa hampa yang semakin dalam. Bahkan sahabatnya pun sudah mendengar desas-desus.

Setelah telepon itu, Alessia memutuskan untuk pergi ke butik tempat Dania bekerja. Ia tahu Dania sering mengambil shift di sana, meskipun ia lebih sering menghabiskan waktu berbelanja daripada bekerja.

Butik mewah itu terletak di salah satu pusat perbelanjaan elit. Alessia masuk, berpura-pura mencari gaun baru. Ia mengenali beberapa staf di sana.

"Selamat siang, Bu Alessia. Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu staf, seorang gadis muda bernama Tari.

"Siang. Saya sedang mencari gaun untuk acara minggu depan," jawab Alessia, matanya melirik ke arah meja kasir. Dania tidak ada di sana. "Dania tidak masuk hari ini?"

Tari tersenyum canggung. "Oh, Mbak Dania... sebenarnya, dia sudah tidak terlalu aktif di sini, Bu. Beliau sering minta izin, jadi kami sudah jarang melihatnya."

"Begitu? Padahal dia bilang dia sibuk sekali di sini," Alessia mencoba terdengar santai. "Oh, ya, saya ingat. Dia bilang dia ada acara penting semalam. Apa dia mengambil gaun dari sini?"

Tari tampak berpikir. "Semalam? Setahu saya tidak, Bu. Mbak Dania tidak ada jadwal semalam. Dan kami tidak melihat beliau datang."

Jantung Alessia berdegup kencang. Dania berbohong. Ia tidak ada di butik semalam. Lalu, di mana Dania?

"Oh, mungkin saya salah dengar," Alessia tersenyum palsu. "Saya jadi ingat, saya pernah melihat Adrian memesan perhiasan mewah di toko sebelah. Apa itu untuk Dania, ya?" Alessia mencoba memancing lagi.

Tari mengerutkan kening. "Perhiasan? Saya tidak tahu, Bu. Tapi saya pernah dengar Mbak Dania mengeluh ke teman-teman kalau dia ingin sekali punya perhiasan dari Adrian, tapi Adrian tidak pernah memberinya."

Alessia terdiam. Adrian memesan perhiasan mewah, tapi tidak pernah memberikannya pada Dania. Lalu, untuk siapa? Bukan untuknya juga, karena ia tidak pernah menerima perhiasan apapun dari Adrian belakangan ini. Pikiran Alessia berputar cepat. Ada satu lagi kebohongan yang terkuak.

Ia melanjutkan pencarian gaunnya, namun pikirannya sudah jauh melayang. Ia harus menemukan kebenaran. Semua bukti ini terlalu kuat untuk diabaikan.

Setelah meninggalkan butik, Alessia memutuskan untuk kembali ke mobil Adrian. Kali ini, ia akan mencari lebih teliti. Ia tidak bisa lagi mengandalkan Adrian. Ia harus menjadi detektifnya sendiri.

Ia memeriksa laci, kompartemen samping, bahkan di bawah alas kaki mobil. Tidak ada apa-apa. Ia hampir menyerah ketika tangannya menyentuh sesuatu yang tipis dan kaku di sela-sela konsol tengah dan kursi pengemudi.

Ia menariknya keluar. Sebuah struk pembayaran. Bukan struk belanja biasa. Ini adalah struk pembayaran sewa apartemen.

Alessia membalik struk itu. Matanya melebar. Alamatnya tertera jelas: "Apartemen The Grandia, Tower C, Lantai 15, Unit 1503." Sebuah apartemen di kawasan elit kota, yang sangat ia kenal. Dan nama penyewa yang tertera di sana...

"Adrian," bisiknya, suaranya tercekat. Nama Adrian tertera sebagai penyewa. Sebuah apartemen yang tidak pernah ia ketahui. Sebuah rahasia yang disimpan Adrian darinya.

Struk itu jatuh dari tangannya. Alessia bersandar di kursi mobil, napasnya memburu. Sangkar emas yang selama ini ia tinggali, kini terasa seperti penjara yang dikelilingi oleh duri-duri pengkhianatan. Ia harus pergi ke sana. Ia harus melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tidak ada lagi keraguan. Hanya ada tekad yang membara untuk mengungkap kebusukan ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 6. Siasat Sang Ular

    Bab 6: Siasat Sang UlarMalam yang dingin membekap kota, sama dinginnya dengan hati Alessia. Setelah meninggalkan rumah orang tuanya, ia menyetir tanpa tujuan. Setiap tikungan terasa seperti ujung jalan buntu, setiap lampu merah seperti penanda kegagalan. Ia menyadari bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada tempat untuk pulang. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah bara api mulai menyala di dalam dirinya—bara api kemarahan dan dendam.Ia menghabiskan sisa malam itu di sebuah motel murahan di pinggiran kota, tempat yang baunya pengap dan sprei kasurnya terasa kasar di kulit. Tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak setelah semua yang ia korbankan.Pagi harinya, dengan sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam, Alessia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang ia bangun bersama Adrian, rumah yang ia jaga dengan sepenuh hati selama lima tahun. Ia harus mengambil barang-

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 5. Darah Lebih Dingin Dari Air

    Bab 5: Darah Lebih Dingin dari AirMobil Alessia melaju pelan menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Setiap gedung tinggi, setiap toko mewah, setiap wajah yang berpapasan, seolah menertawakan kehancurannya. Ia menyetir tanpa tujuan yang jelas, pikirannya kalut, hatinya hancur. Rumahnya sendiri kini telah menjadi sarang pengkhianat. Rumah mertuanya... tak perlu ditanya. Hanya ada satu tempat yang ia pikir bisa memberinya sedikit perlindungan: rumah orang tuanya.Sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambutnya. Gerbang besi tempa tinggi dengan ukiran nama keluarga "Surya" tampak kokoh, namun bagi Alessia, kini terasa seperti gerbang penjara. Ia membunyikan klakson, dan satpam segera membukakan pintu. Wajah satpam itu menunjukkan keheranan melihat Alessia datang sendiri dengan mobil kecil yang jarang ia gunakan."Selamat sore, Bu Alessia. Tumben kemari, Bu? Pak Adrian tidak ikut?" sapa satpam dengan ramah, namun pertanyaannya menusuk ha

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 4. Belati di Balik Senyuman

    Bab 4: Belati di Balik Senyuman Pintu lift tertutup, namun Alessia tidak pergi. Ia hanya bisa bersandar di dinding dingin, napasnya memburu, air mata mengalir deras. Kata-kata Dania yang menusuk, "Adrian memang sudah lama menginginkanku," terus terngiang, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik, dihancurkan oleh kebenaran yang begitu kejam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Alessia memaksa kakinya untuk bergerak. Ia tidak bisa lari. Ia harus kembali. Ia tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja, meninggalkan harga dirinya di tangan pengkhianat itu. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Ada penjelasan yang harus ia tuntut, meski ia tahu itu hanya akan menambah luka. Ia kembali menekan tombol lift untuk lantai 15. Kali ini, setiap dentingan lift terasa seperti pukulan di gendang telinganya. Ketika pintu terbuka, ia melihat Adrian berdiri di koridor, wajahnya tampak panik. Dania tidak terlihat. "Alessia! Ka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 3. Labirin kebohongan

    Bab 3: Labirin Kebohongan Keesokan harinya, Alessia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah baru saja dihantam palu godam. Struk pembayaran apartemen itu masih tergeletak di nakas, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. Ia tidak bisa lagi lari. Keraguan dan ketakutan telah digantikan oleh tekad membara untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Di depan cermin, Alessia melihat pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan bibir yang sedikit bergetar. Ini bukan Alessia yang dulu. Alessia yang sempurna, yang selalu tersenyum, yang hidup dalam sangkar emasnya. Kini, ia adalah seorang wanita yang terluka, namun juga seorang wanita yang siap bertarung. Pagi itu, ia berpura-pura seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengenakan pakaian rapi, dan bahkan tersenyum tipis pada Adrian ketika Adrian pamit pergi ke kantor. Adrian tampak sedikit gel

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 2. Aroma Pengkhianatan

    Pagi menyapa dengan semburat jingga di ufuk timur, namun bagi Alessia, dunia terasa kelabu. Cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur mewah mereka tak mampu menghangatkan hatinya yang semalam membeku. Kemeja Adrian dengan noda lipstik Rose Petal Matte edisi terbatas milik Dania masih tergeletak di meja rias, bukti bisu dari pengkhianatan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Alessia sudah bangun sejak subuh, namun ia bersembunyi di balik selimut, berpura-pura masih tidur ketika Adrian keluar dari kamar mandi. Ia mendengar Adrian bersenandung pelan, seolah tidak ada yang terjadi. Seolah malam tadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Kepura-puraan Adrian membuat perut Alessia mual. Akhirnya, Alessia memberanikan diri. Ia bangkit, menyeka air mata yang tak sadar mengalir, dan mengenakan jubah mandi sutranya. Ia harus menghadapi Adrian. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kecerdasan yang selama ini ia gunakan untuk mengatur rumah tangga dan acara sosial. Di meja makan, A

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 1. Kecurigaan yang kuat

    Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan. "Sempurna," gumamnya, menghela napas. Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel. "Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru. "Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat. Alessia membalas p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status