LOGIN“Nona, kamu sudah berlutut selama dua jam. Kakimu pasti pegal. Bagaimana jika pulang dulu dan besok kembali lagi ke sini?”Dayang Nie Yunran sudah berkali-kali membujuk majikannya. Akan tetapi, Wang Yue tetap keras kepala. Terlebih lagi, tatapan orang-orang yang lewat tertuju pada Wang Yue. Majikannya ini, apakah tidak memikirkan reputasinya?Wang Yue balik bertanya, “Kalau aku tidak berlutut, bagaimana Kakek dan Nenek tahu ketulusanku?” Wang Yue menundukkan pandangan. Adegan-adegan yang memilukan hati muncul di dalam benaknya. “Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Aku mengabaikan perasaan Kakek dan Nenek keluarga Lin hanya karena hasutan Ayah…”Saat Lin Qing wafat, Kakek dan Nenek keluarga Lin menjemput Wang Yue. Mereka ingin Wang Yue tinggal di kediaman Lin. Namun, Wang Yue menolak mentah-mentah niat baik mereka. Wang Yue bahkan melontarkan beberapa kalimat yang menyakiti hati Nenek Xia Jinyu. Akibatnya, setelah pulang dari kediaman keluarga Wang, Nenek Xia Jinyu m
Mata Wang Yue berkilat tajam.“Bukannya membantu Paman Song An, Ayah malah menghinanya. Bahkan, Kakek Lin Guocheng ingin memberikan 10 peti emas dan 10 peti perhiasan demi mendapatkan Ginseng Salju Seribu Tahun.”Song An adalah suami dari Bibi Lin Lan yang berasal dari keluarga sarjana sederhana di desa. Karena Lin Lan adalah anak bungsu keluarga Lin, dia sangat disayang oleh semua anggota keluarga. Tubuhnya lemah sejak gadis.Atas saran Kakek Lin Guocheng, mereka tinggal di rumah keluarga Lin agar bisa merawat kesehatan Lin Lan. Meskipun begitu, pasangan Song An dan Lin Lan sudah memiliki satu orang anak laki-laki bernama Song Kai. Wang Yue bergumam pelan lagi. “Ayah berkata, jika meminta Ginseng Salju Seribu Tahun pada Pangeran Zhou Chen, itu akan mempermalukan Wang Yi. Karena Pangeran akan merasa dimanfaatkan oleh keluarga Wang…”Belakangan, Wang Yue baru tahu. Nenek Sun Mei — istri Wang Shixiong, menggunakan Ginseng Salju Seribu Tahun pemberian Pangeran Zhou Chen untuk mengo
Bukannya marah ataupun kecewa, Kaisar Zhou Hong malah terkekeh melihat kepedulian Panglima Wang Hao kepada adiknya. Rasa kagum Kaisar Hong semakin bertambah pada kesetiaan keluarga Wang.“Keinginanmu sangat mulia, Panglima Wang,” ujar Kaisar dengan dermawan. “Aku mengabulkan permohonanmu untuk melindungi adikmu.”Kaisar memberi isyarat kepada Kasim Agung Gao Dehai. “Aku tetap memberimu Plakat Emas Komando dan menambahkan satu Plakat Pengampunan Maut khusus untuk adikmu.”Wang Yue kembali menyentuhkan dahinya ke lantai. “Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati Yang Mulia Kaisar!”Kini, Plakat Pengampunan Maut sudah berada di tangan Wang Yue. Dia tersenyum tertahan dengan sorot mata tajam penuh dendam yang berkobar-kobar. Wang Yue mengepalkan tangan. ‘Dengan Plakat Pengampunan Maut ini, aku akan mengubah takdirku. Wang Yue yang dulu sudah mati. Jika dulu aku bodoh, buta mata dan hati, kini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.’….Usai menghadap Kaisar, W
Istana Langit Agung. Setelah melalui perjalanan selama beberapa hari, akhirnya Wang Yue dan rombongan Ibu Suri sampai di Istana. “Lapor, Yang Mulia Kaisar. Panglima Wang Hao memohon untuk menghadap.” Kasim Agung Gao Dehai melaporkan informasi dari pengawal yang berjaga di depan aula. Sebelumnya, Ibu Suri dan Pangeran Zhou Chen sudah masuk lebih dulu ke Aula Harmoni Agung untuk menemui Kaisar. Kaisar Zhou Hong dan Ibu Suri masih bercakap-cakap dengan gembira. Sementara di samping Ibu Suri, Pangeran Zhou Chen sibuk bermain dengan gendang kecilnya. “Suruh masuk,” perintah Kaisar. Kasim Agung Gao Dehai langsung berteriak dari dalam aula. “Panglima Wang Hao, dipersilakan masuk menghadap Kaisar.” Kaisar Zhou Hong kembali duduk di Singgasana Sembilan Naga. Sementara Ibu Suri dan Pangeran Zhou Chen tetap berdiri di hadapan Kaisar. Tidak lama kemudian, pintu jati Aula Harmoni Agung terbuka perlahan. Muncul sosok tegas berpakaian zirah lengkap. Wang Yue melangkah masuk dengan te
“Pangeran!”Bai Shuo memanggil Pangeran Zhou Chen dari atas kuda. Sehari setelah festival lampion, Ibu Suri dan Pangeran Zhou Chen kembali ke Ibu Kota. Kuda Wang Yue dan Yan Linfeng berada di barisan paling depan, memimpin rombongan. Sementara Han Lie dan Fang Jue berada di barisan belakang. Pangeran Zhou Chen membuka tirai kereta. “Ada apa?”“Lapor, Pangeran. Menurut informasi yang kuterima, Nona Besar Wang sudah kembali ke Ibu Kota bersama dayangnya.”Mendengar laporan pengawalnya, Zhou Chen tersenyum tipis. Zhou Chen menebak-nebak. “Ini suatu kebetulan atau memang sudah direncanakan?” “Apa aku perlu mengirim orang untuk mengawasinya?” tanya Bai Shuo. Zhou Chen mengangguk. “Aku selalu merasa, tatapan dan gerak-gerik Panglima Wang Hao persis seperti Nona Besar Wang.”“Padahal mereka bukanlah anak kembar identik,” kata Bai Shuo. “Bahkan anak kembar sekalipun punya perbedaan,” celetuk Zhou Chen. “Chen’er!” panggil Ibu Suri. Usai mengangguk pada Bai Shuo, Zhou Chen kembali menu
Beberapa hari kemudian, di Kuil Fuyin Kota Yunhe. Gabungan Pasukan Zhou Chen dan pasukan Serigala Utara telah selesai menumpas kasus orang hilang. Mo Cangyuan kembali ke Perbatasan Utara bersama Lu Beichen dan pasukan Serigala Utara. Sementara Wang Yue mengikuti perintah Tuan Gu Wuling melakukan perjalanan ke Kota Yunhe. “Panglima, kita sudah sampai di Kuil Fuyin. Ibu Suri ada di dalam,” kata Yan Linfeng, pengawal kepercayaan Ibu Suri. Wang Yue mengangguk sedikit. Dia menginjakkan kakinya di halaman belakang yang merupakan tempat tinggal sementara Ibu Suri. Lentera-lentera kuning bergantung di sepanjang koridor kayu. Dua orang pengawal berdiri di depan pintu kamar Ibu Suri. “Katakan pada Ibu Suri, Tuan Gu Wuling menghadap,” kata Yan Linfeng pada pengawal. “Baik.” Seorang pengawal pergi melapor ke dalam. Wang Yue dan Zhou Chen menunggu di luar. Wang Yue memperhatikan sekelilingnya. Bangunan utama Kuil Fuyin memiliki atap genting berwarna kelabu gelap dengan ukiran tera







