Home / Zaman Kuno / Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu / Bab 75. Hasrat Untuk Membunuh

Share

Bab 75. Hasrat Untuk Membunuh

last update publish date: 2026-09-17 02:30:33
‘Jadi semua ini hanya demi Wang Yi?’

Wang Yue mengingat kehidupan sebelumnya yang penuh derita.

Dulu, kakek juga melakukan segala hal hanya demi Wang Yi. Bahkan jika Wang Yi berbuat salah, Kakek tidak pernah menghukumnya. Dia selalu meminta Wang Yue menanggung beban dan hukumannya.

Demi mendapatkan pengakuan kakek dan nenek, Wang Yue rela berkorban apapun. Akhirnya, dia terus menerus diliputi penyesalan yang perlahan mengikis ketenangan dan keteguhan hatinya.

Nie Yunran tidak senang melih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 113. Pasar Ibu Kota

    Mo Tianyu menatap Wang Yue dalam-dalam. Mo Tianyu berujar, “Selain pasukan elite Serigala Utara, tidak ada yang tahu kalau 3 tahun lalu kamu disebut-sebut sebagai Jenderal Kecil.”Tiga tahun lalu, Kerajaan Beiyuan menyerang Perbatasan Utara secara brutal. Demi mempertahankan kemah lapangan, Wang Yue maju dengan berani memerangi pasukan Kerajaan Beiyuan. Karena terdesak keadaan, dia bahkan tidak sempat memakai topeng wajah Wang Hao. Karena identitasnya seorang wanita, pasukan menjuluki Wang Yue sebagai Jenderal Kecil. Mo Tianyu mengusap kepala Wang Yue dengan penuh perhatian. Fang Jue ikut berujar, “Adik, mungkinkah Pangeran itu adalah lelaki yang kamu tolong 3 tahun lalu?”Hati Wang Yue mulai terkikis rasa penasaran. “Aku… juga berpikir begitu,” balas Wang Yue. Mo Tianyu berujar lagi, “Adik, hal yang bisa kamu lakukan sekarang adalah mengikuti alur permainan Pangeran itu. Mungkin saja akan ada petunjuk.”“Kamu tenang saja. Aku dan Kak Tianyu akan mengawasimu dari kejauhan,” tam

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 112. Seorang Nona Bangsawan

    Hari ini, Wang Yue tidak keluar dari kediamannya. Dia belajar tata krama bersama Bibi Kedua dan Bibi Keempat seharian. Selain itu, Wang Yue juga mempelajari aturan keluarga Wang. Dia membaca hukum keluarga, aturan mengenai perempuan serta berbagai hal yang harus diperhatikan seorang Nona Besar dari keluarga bangsawan.Ketika sedang menulis kaligrafi, Wang Yue teringat pesan Ibu Guru Jiang Suyin. “Ibu Guru pernah bilang. Suatu saat nanti, kelak aku akan menjadi seorang Nona Bangsawan.”Wang Yue menghela napas panjang. Dia mengeluh, “Ternyata menjadi Nona Bangsawan sangat melelahkan.”Jika Mo Cangyuan mengajarkan ilmu bela diri dan ilmu medis, berbeda dengan Jiang Suyin. Ibu Gurunya mengajari tata krama, etika, ilmu sosial dan Kesenian dan keterampilan wanita bangsawan yang harus dimiliki oleh seorang Nona Bangsawan. Ibu Guru berkata, semua pelajaran itu akan membentuk karakter Wang Yue sebagai Nona Besar Wang yang berilmu dan berkarakter kuat. “Yue'er, kamu bicara apa barusan? Aku

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 111. Menegakkan Keadilan

    “Rumah Melati?”Su Yan dan anaknya terkejut bukan main. Mereka berdua saling bertukar pandang, memikirkan segala kemungkinan yang telah terjadi. “Bu, Paman Peng Fu…”Demi rahasia yang tidak terbongkar, Wang Yi menggantung kata-katanya. “Tidak mungkin,” bantah Su Yan.Sebelum Peng Fu meletakkan kembali setumpuk catatan di atas meja, Su Yan segera merampasnya.Tangan Su Yan bergetar ketika membaca kertas catatan yang pertama. Wang Yi segera merapat dan ikut membacanya.Nama Peng Shouzhi tercatat dengan jelas. Dia adalah putra sulung Peng Fu, dan namanya muncul berkali-kali dalam catatan Rumah Melati.“Ini…”Wang Yi menelan ludah. Matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya.Di dalam catatan itu tertulis bahwa Peng Shouzhi beberapa kali datang ke Rumah Melati bersama Wang Hao. Hutang judi yang terus bertambah membuat namanya semakin sering tercatat sebagai orang yang belum melunasi pembayaran.“Tidak mungkin,” bisik Wang Yi.Su Yan segera merebut kertas berikutnya. Wajah

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 110. Lelaki Simpanan

    Kepergian Wang Jie, tentu saja memberikan kesempatan Su Yan untuk bertindak sesuka hati. Dia memanggil pelayan.“Pelayan!”Datang 4 pelayan laki-laki dari luar. Mereka adalah para pelayan paviliun Selir. Salah satu pelayan bertanya, “Ya, Nyonya? Ada perintah apa?” Sambil menatap Wang Yue, Su Yan memberikan perintah, “Geledah tempat ini. Temukan seseorang yang mencurigakan!” “Baik.”Wang Yi yang melihatnya terkikik puas. “Yue'er, memangnya kenapa kalau kamu Nona Besar? Sebentar lagi, kamu tidak akan bisa sombong lagi.”Dayang Meng Caici berdiri di belakang Wang Yi. Dia masih menyimpan dendam karena Wang Yue menghukumnya. Dia berbisik, “Nona, sebentar lagi, Nyonya akan mengurungnya. Dengan begitu, dia tidak akan bisa keluar menghadiri jamuan di Istana”Wang Yi tersenyum lebar mendengar ucapan dayangnya. Karena dia tidak perlu turun tangan sendiri untuk membalaskan dendamnya pada Wang Yue. Sebab Su Yan akan selalu berpihak padanya. Ketika para pelayan hendak melangkah, Nie Yunran be

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 109. Ayahku Sangat Pengecut

    Sambil menghirup kantong wangi yang dia racik sendiri, Wang Yue bertanya, “Jadi, kamu tidak berhasil menangkap mereka?” Fang Jue telah kembali ke kamar Wang Yue, melaporkan semua kejadian tadi. Dia menggeleng kesal. Tatapan Wang Yue yang dingin seperti es membuat Fang Jue merasa tidak nyaman. “Aku hampir saja menangkap mereka. Tiba-tiba saja, gerakan pengawalnya sangat cepat dan aku kehilangan jejak mereka. Tapi, mereka berdua sudah cukup terluka,” balas Fang Jue. “Apa kamu menemukan sedikit petunjuk dari mereka?” tanya Fang Jue. “Ya. Pangeran itu menyebut-nyebut istana. Apa mungkin dia… Pangeran Ketiga?”Wang Yue dan Pangeran Ketiga belum pernah bertemu. Dia hanya pernah melihat lukisan wajahnya sekali di tenda kakeknya. Jadi, bagaimana mungkin mereka berdua saling kenal?Fang Jue menyipitkan mata. “Kamu yakin?” Wang Yue menggeleng. Dia merasakan kepalanya berdenyut karena kurang tidur. Jadi, dia tidak ingin bertanya lagi.“Hari hampir pagi. Paman Peng Fu sudah mengurus semuan

  • Aduh, Jenderal! Kaisar Merindukanmu   Bab 108. Tidur yang Gelisah

    Malam harinya.Wang Yue tidur dengan gelisah. Dia tidak tahu, lelaki bertopeng membuka telah jendela kamarnya. Dengan gerakan cepat, dia masuk tanpa membuat Wang Yue terbangun. Lelaki itu berdiri di sisi ranjang, menatap wajah Wang Yue yang cantik jelita.“Mmpphh, saat tidur pun… kamu masih terlihat sangat cantik, Jenderal Wang Yue.”Jenderal Wang Yue?Lelaki misterius itu memanggil Wang Yue dengan sebutan Jenderal?Dia bergumam, “Kamu mungkin lupa denganku. Tapi, aku selalu mengingat kejadian 3 tahun lalu. Dan aku…” Pelan-pelan, dia mengusap pipi kiri Wang Yue dengan punggung tangannya. “Dan aku… selalu menunggumu kembali ke Ibu Kota,” sambungnya. Detik berikutnya, lelaki tersebut mendengar gerakan dari luar jendela. Telinganya berdiri tegak. Dia segera bersembunyi. Tidak lama, jendela kembali terbuka. Fang Jue datang untuk memeriksa kamar Adik seperguruannya. “Siapa di sana?” tanya Fang Jue.Fang Jue mengucek matanya. Dia sadar telah lalai menjaga Wang Yue. “Hemm…”Fang Jue

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status