เข้าสู่ระบบ"kamu harus jaga kandungan Marni, Jayendra. Biarpun anak itu berasal dari seorang pelayan, anak itu tetap darah dagingmu, terap cucu ibu." Jayendra hanya mendengkus mendengar permintaan ibunya. Hubungannya dengan Marni, sejak awal hanya untuk meluapkan hasratnya saja. Tidak lebih, bahkan tidak pernah terbesit di pikirannya untuk menikahi ataupun menjadikannya selir. "Dan juga, mengenai lamaranmu pada Kanti, Ibu dan Kanti sepakat untuk menunda lamaran itu beberapa bulan lagi," imbuhnya kemudian. Banyu menarik napasnya panjang. "Kenapa Kanjeng Ibu harus repot-repot memikirkannya. Bukankah akan lebih mudah kalau Marni kita kirim ke desa lain dan berikan uang. Hubunganku dengan Wening yang dipertaruhkan, Bu. Kalau untuk masalah Kanti, saya belum bisa memutuskan, Bu." Kanjeng Ibu berdecak. "Dengar, Le. Kamu tidak tahu bagaimana perasaan ibumu ini yang sudah sangat menginginkan cucu? Untuk sementara, tidak masalah kalaupun anakmu berasal dari wanita rendahan. Setidaknya Ibu punya cu
"Banyu, hentikan! Malu kalau dilihat orang lain." Wening berusaha mengurai pelukan Banyu, mendorong dada pria itu pelan seraya melangkah sedikit mundur untuk memberi jarak di antara mereka. Banyu hanya terkekeh, sama sekali tak terlihat gentar. Pandangannya menyapu sekeliling. "Siapa yang akan melihat kita? Tidak ada." Wening memutar matanya, berusaha merapikan helai rambutnya yang berantakan. Ia berdiri tegak dan melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba mengembalikan sisa-sisa ketegasannya meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya sirna. "Hari sudah sore, Banyu. Saya butuh mandi. Lalu pulang. Saya tidak mau diberondong banyak pertanyaan saat tiba di rumah nanti," tegas Wening dengan nada yang tak ingin dibantah, membayangkan bagaimana amarah Jayendra, membuat tubuhnya meremang. Apalagi dengan kejadian pagi tadi yang membuatnya kabur dari kediaman. Banyu menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri dengan senyum tipis yang penuh arti. "Baiklah, kalau itu mau Ndoro
Wening mengangguk, ia menggigit bibir bawahnya, kepuasan pertamanya sudah ia dapatkan. Banyu kembali mencium Wening, turun ke ceruk lehernya membuat rangsangan-rangsangan agar istri juragannya kembali bergairah. Tangan Wening mulai bergerak ke atas. Melingkarkan kedua tangan di leher Banyu. Banyu beralih ke gundukan yang berukuran pas baginya. Ia mengecup, menjilat bahkan memainkan puncaknya. Membuat Wening menggeliat seperti cacing kepanasan. Wening baru pertama kali merasakan sensasi yang tidak dapat dijelaskan oleh akal sehatnya. "Ahh.... Banyu, hentikan..." Suara manja itu memohon Banyu untuk menghentikan aksinya. Namun tubuhnya berkhianat, menerima sentuhan itu, bahkan menuntut lebih. Karena rangsangan itu, otot-otot kewanitaannya menegang, menjepit erat batang Banyu yang membuat kusir itu melenguh. "Ah, Ndoro Ayu... Sungguh nikmat," teriak Banyu. Kepalanya mendongak, untuk pertama kali, Banyu benar-benar merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Bahkan saat
Ini rumah siapa, Banyu? Sangat indah dan rapi," tanya Wening saat memasuki sebuah kediaman yang penuh pepohonan di halaman depan. Seluruh halaman terlihat rapi dan bersih. "Ini tempat saya bekerja sebelumnya, Ndoro. Pemiliknya pindah ke desa sebelah, jadi rumah ini kosong. Tapi cukup terawat." Wening mengernyit heran mendengar jawaban Banyu. Langkahnya mendadak terhenti. Ia menahan lengan Banyu seraya berkata, "Apa tidak apa-apa kalau kita masuk ke sini?" Banyu tersenyum, kemudian maju selangkah, mengikis jarak diantara mereka. Menyentuh hidung Wening dengan jari telunjuknya. "Ndoro Ayu tenang saja. Saya sudah diizinkan oleh pemilik rumah. Katanya Ndoro Ayu ingin lebih leluasa," jawab Banyu dengan tatapan menggoda. Wening memukul bahu Banyu pelan. Pipinya merona karena malu. "Monggo, Ndoro Ayu. Ndoro Ayu mau makan apa? Biar saya suruh pengurus rumah untuk menyediakan," tawar Banyu. "Kamu yakin tidak apa-apa, Banyu?" Dari wajahnya, Wening masih terlihat ragu dengan keputusa
"Kamu ngapain? Kok keluar dari ruangan itu?" tanya Wening seraya menunjuk ruang kerja Jayendra dengan dagunya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya terlihat serius, tanpa ada sedikitpun keramah-tamahan. Tatapan matanya yang tajam seolah menuntut penjelasan seketika itu juga. "Ndoro Ayu. Juragan memanggil saya—" "Ada apa?" potong Wening tidak sabar dengan kening yang berkerut. "Tidak seperti biasanya." Wajah Wening masih menunjukkan ekspresi tidak bersahabat, yang membuat Banyu sedikit memicingkan sudut matanya. Ada keanehan yang menggelitik benaknya. Padahal, baru beberapa jam lalu sepulang dari ladang, istri juragannya itu masih bersikap manis seperti biasa. "Yah... Hanya bertanya tentang istrinya yang pergi tanpa pamit," jawab Banyu dengan nada santai dan tatapan menggoda. "Cih! Apa pedulinya," gumam Wening kemudian, mengibaskan rasa kesalnya seraya memalingkan muka sejenak. "Kamu jawab apa?" Banyu tersenyum tipis, menyimpan maksud tersembunyi. Dengan gerak
"Seharian Ndoro Ayu pergi ke mana, Banyu?! Bahkan tidak ada sepatah kata pun pamit padaku!" tanya Jayendra dengan nada yang sedikit tinggi. Pria itu menyergap Banyu yang baru saja melangkah masuk ke dalam area kandang kuda yang beraroma jerami basah. Jayendra menuntut jawaban pasti. Amarah dan kecemasan menumpuk di dadanya, terlebih setelah Wening terang-terangan menolak untuk menemui atau sekadar membukakan pintu kamar untuknya. "Nuwun sewu, Ndoro Juragan," jawab Banyu tenang, menurunkan pandangannya rapat-rapat ke tanah. "Ndoro Ayu pergi ke ladang. Beliau hanya mengawasi para buruh yang sedang memanen padi." "Hanya itu?" Kening Jayendra berkerut dalam, matanya menyipit penuh curiga. "Nggih, Ndoro Juragan. Hanya itu." Jayendra tak lagi membalas. Tanpa mengacuhkan Banyu, ia berbalik dan berlalu begitu saja membawa kegelisahan yang kian menggerogoti pikirannya. Sepeninggal juragannya, Banyu perlahan mendongakkan kepala. Sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan senyum miring yang







