ANMELDEN"Saya juga pandai memijat kalau Tuan berkenan." Marni berbisik dengan suara yang dibuat mendesis. Sehingga terdengar seperti rayuan di telinga pria itu. Gusti tertawa makin lebar. "Kamu benar. Badanku memang terasa pegal semua. Kamu memang tahu apa yang aku mau. Kalau begitu, hayo antarkan saya." Marni memimpin jalan di depan Gusti. Tatapan pria itu tak luput dari goyangan panggul Marni yang bergerak gemulai seirama langkah kakinya. Melihatnya, pria bangsawan itu hampir meneteskan liurnya. Saat melintas di depan kamar Jadipura, Gusti menghentikan langkah dan memanggil nama pejabat itu. Namun, dari dalam peraduan sama sekali tak ada sahutan. "Mungkinkah Kangmas sudah tidur?" gumamnya heran. Gusti mendorong sedikit daun pintu. Dari celah yang sempit, ia mendapati tubuh Jadipura sudah terlentang kaku di atas peraduan. "Mungkin dia lelah," cetusnya acuh tak acuh. Ia berbalik menatap Marni kembali. "Ayo." Pria itu membuka pintu kamar yang ada di sebelah kamar Jadipura. Ia kemudian
Selesai jamuan makan malam, Wening masih berada di meja makan. Sedangkan yang lain sudah berpindah tempat. Jayendra memboyong tamunya ke ruang kerja pria itu. Pembahasan mereka berlanjut di sana. Wening masih duduk dan ditemani oleh Mbok Suti di meja makan. Ia tidak berani ke kamar setelah kejadian tadi sore. Takut jika ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Apalagi ia masih menempati kamar tamu yang tidak jauh dari kamar Jadipura dan Gusti. "Tapi, Ndoro Ayu tetap harus istirahat." Wajah tuanya menampilkan gurat rasa cemas dengan kesehatan majikannya itu. "Nanti saja, Mbok. Saya harus memastikan kalau semua sudah aman. Jadi saya bisa tidur dengan tenang." Mbok Suti merapatkan tubuhnya ke arah Wening. "Tapi, Ndoro ayu. Bagaimana Marni bisa masuk ke kamar utama Ndoro? Ia menekan suaranya agar tidak ada telinga lain yang menangkap pembicaraan mereka berdua. "Entahlah, Mbok saya juga tidak tahu." Wening menarik napasnya kasar. Kemudian beralih pada Mbok Suti yang ter
Pandangannya membelalak. Sisa-sisa rasa mabuk yang memenuhi kepalanya seolah menyublim mendadak, digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar cepat di sepanjang tulang belakangnya.Di tengah pendopo, di bawah temaram lampu gantung dan gelak tawa Jayendra serta Gusti muda, tampak Wening berdiri anggun. Sang nyai rumah tengah memimpin para pelayan, dengan tenang dan jemari yang gemulai menuangkan arak dari teko tembaga ke dalam cangkir para tamu. Kebayanya tertutup rapi tanpa cela, sanggulnya berdiri kokoh tanpa ada satu helai rambut pun yang terurai.Jadipura mematung, jantungnya berdegup kencang seperti dihantam gada. Jika Wening dari tadi berada di pendopo menyajikan arak... siapa wanita yang baru saja ia nikmati dan janjikan kedudukan di atas peraduan utama tadi?Keringat dingin mendadak membasahi tengkuk Jadipura. Dengung di kepalanya akibat sisa-sisa arak seketika sirna, berganti rasa panik yang menusuk hingga ke hulu hati. "Ada apa Kangmas? Kenapa wajahmu ketakutan seperti melih
"Kamu tahu kan Banyu? Orang yang serakah dan bejat pasti hanya akan mementingkan hawa nafsunya. Pria di dalam sana adalah contohnya," jawab Wening tanpa mengalihkan pandangannya dari celah kamar utama. Banyu ikut mengarahkan pandangannya ke balik celah pintu mahoni. Matanya yang tajam mengamati lekuk tubuh Marni yang sengaja memanjakan Jadipura, serta sang pejabat Kadipaten yang bergerak membabi buta dalam igauan mabuknya. Banyu tersenyum sinis melihat pria tua itu yang tidak bisa membedakan mana nyai besar, mana pelayan dapur. "Bagaiamana jadinya kalau Jadipura tahu yang bercinta dengannya adalah seorang pelayan. Tapi... Mungkin tidak akan jadi masalah karena setiap pelayan di rumahnya sudah menjadi budak napsunya!" raung Banyu di dalam hati. Wening mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Banyu. Di dalam remang lorong yang sepi, mata mereka saling mengunci. "Kalau Jayendra tahu pejabat yang diagung-agungkannya menikmati 'istrinya' di sini, menurutmu apa yang akan terjadi, Banyu?"
Tangan Jadipura yang menggebu-gebu mulai melonggarkan ikatan kemben tersebut. Sama sekali tidak ada perlawanan. Tubuh wanita di dalam dekapannya justru terlihat pasrah, membiarkan sentuhan kasar itu bergerak makin jauh tanpa penolakan sedikit pun. Membuat Jadipura tersenyum penuh kemenangan. Desah napas halus terlepas dari bibir wanita itu, sengaja memancing dan memberi ruang bagi Jadipura untuk bertindak lebih jauh. "Lakukan sesukamu, Tuan..." bisik suara yang meluncur lembut itu. Suara itu bukan nada dingin milik Wening, melainkan intonasi bermanja yang amat dihafal oleh siapapun yang sering melintasi dapur kediaman Jayendra. Jadipura yang berada di puncak gairah tak memedulikan perbedaan suara itu. Pengaruh alkohol yang pekat telah mengubur rapat akal sehatnya. Ia menyeringai makin lebar, merasa bujuk rayu dan martabat jabatannya berhasil menaklukkan sang nyai rumah. Jadipura menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas peraduan. Ia menelan salivanya saat melihat gundukan yang ber
Jadipura melangkah makin dalam ke dalam kamar, lalu menutup pintu mahoni di belakangnya hingga rapat. Senyum mesumnya kian lebar saat melihat wanita itu masih bergeming di depan meja rias. Wanita itu hanya memakai kain kemben yang punggungnya tertutup rambut panjangnya. "Jangan takut, Nyai," tutur Jadipura seraya menepuk-nepuk dada dengan congkak. "Kamu tahu sendiri siapa saya, bukan? Jabatan saya di Kadipaten ini bukan sembarang posisi. Sekali saya mendesis pada Kanjeng Bupati, urusan tanah, emas, bahkan nyawa seseorang bisa berubah dalam sekejap." Ia melangkah perlahan mengitari area kamar, memamerkan cincin-cincin bermata akik tebal yang menghiasi jemarinya. "Jayendra itu memang kaya, tapi kekayaannya tidak ada artinya tanpa jaminan dari pejabat seperti saya. Kalau kamu bersikap manis dan tahu cara menyenangkan orang yang tepat, hidupmu di rumah ini bisa jauh lebih dihormati, Nyai. Saya bisa memberikan apa pun yang tidak sanggup diberikan suamimu." Bualan itu melayang begitu s







