LOGIN"Saya juga sudah mengirim utusan pada Tuan Manguntur untuk pertemuan pribadi," sambung Jayendra. Dari luar, ia mungkin terlihat sangat tenang. Namun di dalam hatinya, setiap kata yang ia ucapkan membuat jantungnya berdebar semakin tak karuan."Kamu mau berpaling dari kami?" tanya Kanjeng Gusti dengan rahang yang mengeras. "Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Juragan? Tidak sembarang orang kami tawari kehormatan seperti ini. Dan yang kamu lakukan saat ini adalah menghina kesempatan yang kami berikan padamu!""Maaf, Kanjeng. Seperti yang kanjeng tahu, saya juga butuh waktu untuk mengumpulkan barang-barang yang Kanjeng butuhkan. Saya juga harus mengamankan rute perjalanan. Saya tidak mau kembali dirampok untuk kedua kalinya." Jayendra masih berusaha mempertahankan arogansinya di hadapan pejabat itu."Jayendra! Kamu sadar apa yang sedang kamu katakan?" Wajah Kanjeng Gusti merah padam dengan gigi yang saling bertaut."Nuwun sewu, Kanjeng. Saya ini pedagang yang selalu menghitung un
Banyu tersenyum lebar. Dimata Jayendra, ia menganggap senyuman itu karena bonus yang ia janjikan. Namun yang sebenarnya adalah, Banyu puas karena Jayendra berada dalam genggamannya. "Masalah ini pelik, Banyu. Kamu hanya tahu mengurusi kuda dan kambing. Jangan membuat Ndoro juragan berharap dengan kemampuanmu yang cetek itu," cibir Kang Darna. Ia tak senang melihat Jayendra tertarik dengan bocah ingusan yang baru bekerja beberapa bulan di kediaman. "Kang Darna belum dengar ideku, kok sudah bilang kalau saya tidak memiliki kemampuan," balas Banyu pada kusir senior di kediaman. Ia kemudian kembali pada Jayendra. "Begini, Ndoro..." Banyu mendekat, berbisik ke telinga Jayendra. Tak membiarkan telinga lain mendengar rencana yang ia usulkan oada sang juragan. Sikap itu tentunya membuat Kang Darna merasa terasing. Ia bahkan tidak diperbolehkan mendengar rencana Banyu. Jayendra terawa terbahak saat Banyu sudah selesai mengutarakan rencananya. Tawa itu menggelegar, tersirat ada rasa puas
Jantung Jayendra berdegup kencang, seolah godam besi menghantam dadanya dengan ritme yang kian kalut. Tangannya yang gemetar mengacak-acak tumpukan kertas tua di dalam laci, membalik setiap map dan amplop cokelat dengan kasar. Kosong. Tak ada satu pun dokumen tanah di dalmnya. Jayendra tertegun sejenak, menyelami ingatannya yang terdalam. Setelah nama dokumen itu diubah menjadi namanya, ia tak pernah mengeluarkan lagi benda itu dari dalam laci. "Tidak ada, Darna! Surat tanah milik Wening yang sudah diubah menjadi namaku, tidak ada di laci!" Suara Jayendra tertahan. Bukan hanya Jayendra yang terkejut, Kang Darna yang awalnya hanya menatap Jayendra dari tempatnya berdiri, matanya ikut melotot mendengar penuturan tuannya. "Mungkin terselip di dokumen lain, Ndoro." "Tidak ada, Darna! Saya ingat betul kalau menyimpannya di sini." Tangan Jayendra kembali mengobrak-abrik laci itu. Berharap jika dokumen itu seperti yang dikatakan oleh Kang Darna. Namun, sekeras apapun Jayendra mencari, do
Jadipura memicingkan matanya. Dadanya berdesir aneh saat menatap sosok pria yang beradu pandang dengannya beberapa detik lalu. Ia tak sempat memperhatikan wajahnya lebih jelas, sosok itu bergerak sangat cepat dan halus. Jadipura menarik napas panjang, menggelengkan kepala pelan. Ia mengutuk kepekaan inderanya sendiri yang mungkin sedang kacau akibat kepanikan dan kemarahan yang membakar dadanya. "Anda kenapa, Tuan? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Jayendra penasaran. Ia ikut berdiri, menatap keluar ke arah pandang Jadipura. "Siapa pelayan itu?" tanya Jadipura pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Jayendra menaikan satu alisnya. Memutar pandangannya menatap pelataran yang menampakan Banyu sedang membawa sekarung padi. "Hanya abdi biasa yang baru kupekerjakan beberapa bulan lalu. Kenapa? Anda mengenalnya?" "Tidak mungkin kan? Tapi, mataku tidak mungkin salah," batin Jadipura bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin bocornya rencana kita bersumber darimu, Jurag
"Semalam, rombongan yang membawa pasokan logistik, dihadang dan di begal oleh orang tidak dikenal." "Apa!?" Jayendra kembali duduk, menarik napas dalam dan mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja. Menjaga ketenangan di wajahnya. "Itu hanya kendala kecil! Aku sedang mengerahkan seluruh pengawalku untuk menyisir hutan dan merebut kembali barang-barang itu!" "Kendala kecil?!" Jadipura tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang membuat suasana ruangan makin membeku. "Prajuritku sudah kelaparan, dan kamu masih akan menyisir hutan itu?" Kepanikan itu kembali menyergap Jayendra kali ini ia tidak bisa menyembunyikannya. Bola matanya bergerak liar seraya mencari alasan untuk menenangkan amarah pejabat itu. Sedangkan Jadipura mendesah kasar. Kedua tangannya berada di pinggang menahan amarah. "Bagaimana bisa orang-orangmu kalah dari bajingan-bajingan itu!" "Itulah yang sedang saya pikirkan, Tuan. Saya juga tidak menyangka kalau saya bisa kecolongan seperti ini. Berikan saya waktu, Tua
Pria itu masih duduk diam di depan api tungku. Tangan Banyu terus menggerakkan kayu bakar tanpa canggung, seolah keributan besar yang melanda seluruh kediaman ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Percikan api menyala pelan, menyinari separuh wajahnya yang dipenuhi ketenangan mematikan yang baru saja berhasil mengguncang pondasi kekuasaan Jayendra tanpa meninggalkan jejak. Merasa diperhatikan, Banyu perlahan menghentikan gerak tangannya. Ia mendongak pelan, membiarkan tatapan matanya bertemu langsung dengan pandangan Wening di udara. Tatapannya datar, seolah tak ada emosi di dalamnya. Wening menahan napasnya sejenak, menguasai diri agar riak kepanikan tak menjalar ke wajahnya. Ia segera memalingkan pandangan kembali ke arah para pelayan yang masih tertunduk cemas. "Sudah, jangan menerka-nerka hal yang belum kalian pahami," tegas Wening dengan suara tenang yang teratur. Mengalihkan dari kepanikan karena tatapan Banyu. "Kembalilah bekerja. Jangan sampai Juragan menden





