Share

Dia?

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-10-26 20:56:05

"Semalam, rombongan yang membawa pasokan logistik, dihadang dan di begal oleh orang tidak dikenal."

"Apa!?"

Jayendra kembali duduk, menarik napas dalam dan mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja. Menjaga ketenangan di wajahnya. "Itu hanya kendala kecil! Aku sedang mengerahkan seluruh pengawalku untuk menyisir hutan dan merebut kembali barang-barang itu!"

"Kendala kecil?!" Jadipura tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang membuat suasana ruangan makin membeku. "Prajuritku sudah kelapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh! Kangmasku!   Kamu Iri?

    Kang Darna mengembuskan napas pelan. Jawaban Tin tidak jauh berbeda dari jawaban Mbok Suti. Banyu seperti apa yang mereka bicarakan, atau itu hanya kedok untuk menutupi sifat liciknya? Pertanyaan itu verputar di kepala Kang Darna. "Memagnya sipaa yang menurutmu mencurigakan?" Kang Darna menimpali ucapan Tin sebelumnya. Gadis itu tersenyum. "Kang Darna sendiri, kenapa tiba-tiba bertanya tentang Kang Banyu? Kakang tidak akan memfitnah Kang Banyu seperti apa yang dilakukan Marni tempo hari kan?" Pertanyaan Tin berhasil membuat air muka Kang Darna berubah seketika. Gadis lugu itu ternyata cukup lihai dalam membaca situasi. "Ti-tidak. Bukan begitu. Saya hanya asal bertanya saja," jawab Kang Darna dengan sedikit terbata. Ia kahirnya mengalihkan perhatian. "Baiklah. Kau boleh kembali bekerja." Tin mengangguk, lalu mengangkat keranjangnya dan beranjak pergi. Kang Darna berdiri diam beberapa saat. Ia sudah bertanya kepada dua orang pelayan, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang ia ingink

  • Aduh! Kangmasku!   Mencari Tahu

    Kang Darna melangkah menuju dapur. Beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan hidangan ketika ia masuk. Matanya menyapu ruangan, mencari seseorang yang bisa dimintai keterangan. Rasa penasaran akan pria itu membuat Kang Darna tidak hisa berpikir jernih. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalanya tanpa jeda.Pandangan Kang Darna berhenti pada Mbok Suti yang sedang memilah sayuran di dekat pintu belakang."Mbok Suti," panggilnya.Perempuan paruh baya itu menoleh karena namanya disebut. "Ada apa, Kang?"Kang Darna mendekat, lalu duduk di bangku kayu tak jauh darinya. "Aku mau tanya soal kusir juragan Si Banyu."Tangan Mbok Suti berhenti sejenak. Ia melirik Kang Darna sebelum kembali memilah sayuran. Terdengar aneh namun ia tidak mungkin menunjukan sikap itu pada orang lain."Memangnya ada apa dengan Banyu, Kang?" Mbok Suti berpura-pura tenang dengan mata yang fokus pada sayuran di tangannya."Kamu sudah lama bekerja di sini. Tentu kau tahu banyak hal tentang orang-orang di rumah ini." Ka

  • Aduh! Kangmasku!   Rencana yang Sukses

    "Saya juga sudah mengirim utusan pada Tuan Manguntur untuk pertemuan pribadi," sambung Jayendra. Dari luar, ia mungkin terlihat sangat tenang. Namun di dalam hatinya, setiap kata yang ia ucapkan membuat jantungnya berdebar semakin tak karuan."Kamu mau berpaling dari kami?" tanya Kanjeng Gusti dengan rahang yang mengeras. "Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Juragan? Tidak sembarang orang kami tawari kehormatan seperti ini. Dan yang kamu lakukan saat ini adalah menghina kesempatan yang kami berikan padamu!""Maaf, Kanjeng. Seperti yang kanjeng tahu, saya juga butuh waktu untuk mengumpulkan barang-barang yang Kanjeng butuhkan. Saya juga harus mengamankan rute perjalanan. Saya tidak mau kembali dirampok untuk kedua kalinya." Jayendra masih berusaha mempertahankan arogansinya di hadapan pejabat itu."Jayendra! Kamu sadar apa yang sedang kamu katakan?" Wajah Kanjeng Gusti merah padam dengan gigi yang saling bertaut."Nuwun sewu, Kanjeng. Saya ini pedagang yang selalu menghitung un

  • Aduh! Kangmasku!   Rencana Licik Banyu

    Banyu tersenyum lebar. Dimata Jayendra, ia menganggap senyuman itu karena bonus yang ia janjikan. Namun yang sebenarnya adalah, Banyu puas karena Jayendra berada dalam genggamannya. "Masalah ini pelik, Banyu. Kamu hanya tahu mengurusi kuda dan kambing. Jangan membuat Ndoro juragan berharap dengan kemampuanmu yang cetek itu," cibir Kang Darna. Ia tak senang melihat Jayendra tertarik dengan bocah ingusan yang baru bekerja beberapa bulan di kediaman. "Kang Darna belum dengar ideku, kok sudah bilang kalau saya tidak memiliki kemampuan," balas Banyu pada kusir senior di kediaman. Ia kemudian kembali pada Jayendra. "Begini, Ndoro..." Banyu mendekat, berbisik ke telinga Jayendra. Tak membiarkan telinga lain mendengar rencana yang ia usulkan oada sang juragan. Sikap itu tentunya membuat Kang Darna merasa terasing. Ia bahkan tidak diperbolehkan mendengar rencana Banyu. Jayendra terawa terbahak saat Banyu sudah selesai mengutarakan rencananya. Tawa itu menggelegar, tersirat ada rasa puas

  • Aduh! Kangmasku!   Idemu Menarik

    Jantung Jayendra berdegup kencang, seolah godam besi menghantam dadanya dengan ritme yang kian kalut. Tangannya yang gemetar mengacak-acak tumpukan kertas tua di dalam laci, membalik setiap map dan amplop cokelat dengan kasar. Kosong. Tak ada satu pun dokumen tanah di dalmnya. Jayendra tertegun sejenak, menyelami ingatannya yang terdalam. Setelah nama dokumen itu diubah menjadi namanya, ia tak pernah mengeluarkan lagi benda itu dari dalam laci. "Tidak ada, Darna! Surat tanah milik Wening yang sudah diubah menjadi namaku, tidak ada di laci!" Suara Jayendra tertahan. Bukan hanya Jayendra yang terkejut, Kang Darna yang awalnya hanya menatap Jayendra dari tempatnya berdiri, matanya ikut melotot mendengar penuturan tuannya. "Mungkin terselip di dokumen lain, Ndoro." "Tidak ada, Darna! Saya ingat betul kalau menyimpannya di sini." Tangan Jayendra kembali mengobrak-abrik laci itu. Berharap jika dokumen itu seperti yang dikatakan oleh Kang Darna. Namun, sekeras apapun Jayendra mencari, do

  • Aduh! Kangmasku!   Dimana Surat Itu?

    Jadipura memicingkan matanya. Dadanya berdesir aneh saat menatap sosok pria yang beradu pandang dengannya beberapa detik lalu. Ia tak sempat memperhatikan wajahnya lebih jelas, sosok itu bergerak sangat cepat dan halus. Jadipura menarik napas panjang, menggelengkan kepala pelan. Ia mengutuk kepekaan inderanya sendiri yang mungkin sedang kacau akibat kepanikan dan kemarahan yang membakar dadanya. "Anda kenapa, Tuan? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Jayendra penasaran. Ia ikut berdiri, menatap keluar ke arah pandang Jadipura. "Siapa pelayan itu?" tanya Jadipura pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Jayendra menaikan satu alisnya. Memutar pandangannya menatap pelataran yang menampakan Banyu sedang membawa sekarung padi. "Hanya abdi biasa yang baru kupekerjakan beberapa bulan lalu. Kenapa? Anda mengenalnya?" "Tidak mungkin kan? Tapi, mataku tidak mungkin salah," batin Jadipura bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin bocornya rencana kita bersumber darimu, Jurag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status