Home / Romansa Pria / Aduh! Kangmasku! / Tuan, pelan-pelan...

Share

Tuan, pelan-pelan...

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-10-05 13:59:18

Tangan Jadipura yang menggebu-gebu mulai melonggarkan ikatan kemben tersebut. Sama sekali tidak ada perlawanan. Tubuh wanita di dalam dekapannya justru terlihat pasrah, membiarkan sentuhan kasar itu bergerak makin jauh tanpa penolakan sedikit pun. Membuat Jadipura tersenyum penuh kemenangan.

Desah napas halus terlepas dari bibir wanita itu, sengaja memancing dan memberi ruang bagi Jadipura untuk bertindak lebih jauh.

"Lakukan sesukamu, Tuan..." bisik suara yang meluncur lembut itu. Suara it
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh! Kangmasku!   Menyingkirkan Banyu

    Banyu terdiam lama. Mengamati mimik wajah dari kusir senior di kediaman. Ia melihat bagaiamana sudut mata pria itu menyipit, sama-sama menyelami manik hitam satu dama lain. "Kang Darna," katanya dengan suara yang sama pelannya, "memangnya apa yang menjadi alasan majikan saya mrminta saya untuk mengawasi juragan? Memangnya, Juragan Jayendra berbuat salah pada majikan saya?" Pertanyaan itu berhasil menampar Kang Darna. Wajahnya seketika berubah pias. Bola matanya bergerak liar dengan panik. Seolah ia menyadari sudah salah bicara pada Banyu. "Maksudku bukan seperti itu," bantah Kang Darna dengan terbata. "Saya hanya waspada. Siapa tahu kamu berniat buruk dengan juraganku. Juragan Jayendra tidak pernah berbuat salah pada siapapun." Banyu terkekeh mendengar jawaban Kang Darna. Sedetik kemudian, tawa itu lenyap dari wajah Banyu. "Berniat buruk?" ulangnya pelan. "Kalau tidak merasa bersalah, kenapa Kang Darna yang panik?" Ia menatap Kang Darna lekat-lekat. Kang Darna tidak kembali

  • Aduh! Kangmasku!   Kamu Disuruh Saudagar Itu?

    Kang Darna langsung menunduk, wajahnya menegang. "Ampun, Ndoro. Bukan begitu maksud saya," ucapnya cepat, suaranya semakin pelan. "Saya sudah mengabdi dua puluh tahun di kediaman ini. Mana mungkin saya iri pada bocah ingusan yang baru kemarin sore datang. Saya hanya... khawatir, Ndoro." Jayendra masih menatapnya datar. Tatapan yang justru membuat Kang Darna semakin salah tingkah. "Khawatir?" Jayendra mengulang kata itu pelan. "Atau kamu takut kedudukanmu sebagai orang kepercayaanku tergeser?" Kang Darna terdiam. Kepalan tangannya mengeras di samping tubuh. Ia tidak memungkiri jika ada perasaan itu yang hinggap di dalam hatinya. Takut jika ia tidak dibutuhkan lagi oleh Juragan yang sudah ia layani selama puluhan tahun. "Semalam saya melihatnya, Ndoro," lanjut Kang Darna, tetap bersikeras dengan bisikannya. "Di belakang kandang. Dia bicara sendiri. Tapi bukan seperti orang gila. Seperti... seperti sedang bicara dengan seseorang yang tidak terlihat." Kali ini Jayendra yang terdiam.

  • Aduh! Kangmasku!   Kamu Iri?

    Kang Darna mengembuskan napas pelan. Jawaban Tin tidak jauh berbeda dari jawaban Mbok Suti. Banyu seperti apa yang mereka bicarakan, atau itu hanya kedok untuk menutupi sifat liciknya? Pertanyaan itu verputar di kepala Kang Darna. "Memagnya sipaa yang menurutmu mencurigakan?" Kang Darna menimpali ucapan Tin sebelumnya. Gadis itu tersenyum. "Kang Darna sendiri, kenapa tiba-tiba bertanya tentang Kang Banyu? Kakang tidak akan memfitnah Kang Banyu seperti apa yang dilakukan Marni tempo hari kan?" Pertanyaan Tin berhasil membuat air muka Kang Darna berubah seketika. Gadis lugu itu ternyata cukup lihai dalam membaca situasi. "Ti-tidak. Bukan begitu. Saya hanya asal bertanya saja," jawab Kang Darna dengan sedikit terbata. Ia kahirnya mengalihkan perhatian. "Baiklah. Kau boleh kembali bekerja." Tin mengangguk, lalu mengangkat keranjangnya dan beranjak pergi. Kang Darna berdiri diam beberapa saat. Ia sudah bertanya kepada dua orang pelayan, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang ia ingink

  • Aduh! Kangmasku!   Mencari Tahu

    Kang Darna melangkah menuju dapur. Beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan hidangan ketika ia masuk. Matanya menyapu ruangan, mencari seseorang yang bisa dimintai keterangan. Rasa penasaran akan pria itu membuat Kang Darna tidak hisa berpikir jernih. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalanya tanpa jeda.Pandangan Kang Darna berhenti pada Mbok Suti yang sedang memilah sayuran di dekat pintu belakang."Mbok Suti," panggilnya.Perempuan paruh baya itu menoleh karena namanya disebut. "Ada apa, Kang?"Kang Darna mendekat, lalu duduk di bangku kayu tak jauh darinya. "Aku mau tanya soal kusir juragan Si Banyu."Tangan Mbok Suti berhenti sejenak. Ia melirik Kang Darna sebelum kembali memilah sayuran. Terdengar aneh namun ia tidak mungkin menunjukan sikap itu pada orang lain."Memangnya ada apa dengan Banyu, Kang?" Mbok Suti berpura-pura tenang dengan mata yang fokus pada sayuran di tangannya."Kamu sudah lama bekerja di sini. Tentu kau tahu banyak hal tentang orang-orang di rumah ini." Ka

  • Aduh! Kangmasku!   Rencana yang Sukses

    "Saya juga sudah mengirim utusan pada Tuan Manguntur untuk pertemuan pribadi," sambung Jayendra. Dari luar, ia mungkin terlihat sangat tenang. Namun di dalam hatinya, setiap kata yang ia ucapkan membuat jantungnya berdebar semakin tak karuan."Kamu mau berpaling dari kami?" tanya Kanjeng Gusti dengan rahang yang mengeras. "Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Juragan? Tidak sembarang orang kami tawari kehormatan seperti ini. Dan yang kamu lakukan saat ini adalah menghina kesempatan yang kami berikan padamu!""Maaf, Kanjeng. Seperti yang kanjeng tahu, saya juga butuh waktu untuk mengumpulkan barang-barang yang Kanjeng butuhkan. Saya juga harus mengamankan rute perjalanan. Saya tidak mau kembali dirampok untuk kedua kalinya." Jayendra masih berusaha mempertahankan arogansinya di hadapan pejabat itu."Jayendra! Kamu sadar apa yang sedang kamu katakan?" Wajah Kanjeng Gusti merah padam dengan gigi yang saling bertaut."Nuwun sewu, Kanjeng. Saya ini pedagang yang selalu menghitung un

  • Aduh! Kangmasku!   Rencana Licik Banyu

    Banyu tersenyum lebar. Dimata Jayendra, ia menganggap senyuman itu karena bonus yang ia janjikan. Namun yang sebenarnya adalah, Banyu puas karena Jayendra berada dalam genggamannya. "Masalah ini pelik, Banyu. Kamu hanya tahu mengurusi kuda dan kambing. Jangan membuat Ndoro juragan berharap dengan kemampuanmu yang cetek itu," cibir Kang Darna. Ia tak senang melihat Jayendra tertarik dengan bocah ingusan yang baru bekerja beberapa bulan di kediaman. "Kang Darna belum dengar ideku, kok sudah bilang kalau saya tidak memiliki kemampuan," balas Banyu pada kusir senior di kediaman. Ia kemudian kembali pada Jayendra. "Begini, Ndoro..." Banyu mendekat, berbisik ke telinga Jayendra. Tak membiarkan telinga lain mendengar rencana yang ia usulkan oada sang juragan. Sikap itu tentunya membuat Kang Darna merasa terasing. Ia bahkan tidak diperbolehkan mendengar rencana Banyu. Jayendra terawa terbahak saat Banyu sudah selesai mengutarakan rencananya. Tawa itu menggelegar, tersirat ada rasa puas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status