LOGIN"Luka di lututnya cukup dalam karena serpihan kaca, tapi sudah saya bersihkan dan jahit sedikit agar tidak infeksi," jelas Dokter Hans sambil membereskan peralatannya.
Pria paruh baya itu menatap prihatin ke arah ranjang berukuran king size berselimut sutra abu-abu gelap, tempat Mira terbaring lemah dengan wajah yang pucat."Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah memar panjang di punggungnya, Pak Brata," lanjut sang dokter, menoleh pada Brata yang berdiri kaku dengan raha"Luka di lututnya cukup dalam karena serpihan kaca, tapi sudah saya bersihkan dan jahit sedikit agar tidak infeksi," jelas Dokter Hans sambil membereskan peralatannya.Pria paruh baya itu menatap prihatin ke arah ranjang berukuran king size berselimut sutra abu-abu gelap, tempat Mira terbaring lemah dengan wajah yang pucat."Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah memar panjang di punggungnya, Pak Brata," lanjut sang dokter, menoleh pada Brata yang berdiri kaku dengan rahang mengeras di sisi ranjang. "Ditambah tekanan darahnya yang sangat rendah. Anak ini mengalami kelelahan fisik dan syok mental yang berat. Dia butuh istirahat total, nutrisi yang baik, dan lingkungan yang tenang."Mendengar kata 'syok mental' dan 'memar di punggung', napas Brata mendesis tajam. Bayangan Ratna yang mengayunkan tongkat penyangga dengan beringas kembali berputar di kepalanya."Terima kasih, Dok. Bi Sumi akan mengantar Dokter ke depan," ucap Brata dingin.Sepeninggal dokter dan Bi Sumi, keheningan y
"Luka di lututnya cukup dalam karena serpihan kaca, tapi sudah saya bersihkan dan jahit sedikit agar tidak infeksi," jelas Dokter Hans sambil membereskan peralatannya.Pria paruh baya itu menatap prihatin ke arah ranjang berukuran king size berselimut sutra abu-abu gelap, tempat Mira terbaring lemah dengan wajah yang pucat."Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah memar panjang di punggungnya, Pak Brata," lanjut sang dokter, menoleh pada Brata yang berdiri kaku dengan rahang mengeras di sisi ranjang. "Ditambah tekanan darahnya yang sangat rendah. Anak ini mengalami kelelahan fisik dan syok mental yang berat. Dia butuh istirahat total, nutrisi yang baik, dan lingkungan yang tenang."Mendengar kata 'syok mental' dan 'memar di punggung', napas Brata mendesis tajam. Bayangan Ratna yang mengayunkan tongkat penyangga dengan beringas kembali berputar di kepalanya."Terima kasih, Dok. Bi Sumi akan mengantar Dokter ke depan," ucap Brata dingin.
Suara bariton yang menggelegar itu membuat ruangan seketika membeku. Brata berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, rahangnya mengeras hingga otot pelipisnya menonjol. Matanya menyapu pemandangan di depannya, istrinya yang memegang tongkat dengan beringas, dan Mira yang merangkak menangis di tengah pecahan kaca.Ingatan Brata langsung kembali pada ucapan Mira beberapa menit lalu di ruang kerjanya: ‘'Setiap kali tangan Ndoro menyentuh saya... bayangan Nyonya Ratna yang menyiksa saya dan mengancam membunuh saya langsung muncul.”Darah Brata mendidih. Keputusasaannya untuk menyentuh Mira yang gagal, kini meledak menjadi kemurkaan yang tak terbendung terhadap istrinya.Ia melangkah lebar, merebut tongkat itu dari tangan Ratna dengan kasar dan melemparnya ke sudut ruangan."Mas! Apa-apaan kamu?!" Ratna berteriak kaget."Kamu yang apa-apaan!" raung Brata, membungkuk dan menarik lengan Mira dengan cepat, menjauhkan gadis itu dari
“Mbak Mira,” bisik Siti, pelayan muda yang sedang menggerus bumbu– mencondongkan tubuhnya hingga bahu mereka bersentuhan. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah pintu belakang untuk memastikan Bi Sumi tidak ada di sekitar mereka, matanya membulat penuh rahasia. “Mbak nggak takut dipindahin tidur di sebelah kamar Nyonya persis? Aku sih mending minta pulang ke kampung aja.”Deretan ketegangan yang nyaris mencekiknya semalaman suntuk berhasil ia tutupi rapat-rapat di balik wajah pucat dan mata sayunya hari ini. Mira menunduk, menghela napas panjang dengan raut wajah yang dipoles kepasrahan paripurna.“Mau bagaimana lagi, Ti? Aku butuh uang untuk keluarga. Dijalani saja,” jawab Mira sambil kembali menunduk, melanjutkan gerakan pisaunya mengupas kentang dengan ritme yang lambat.Siti bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang.“Hati-hati lho, Mbak. Nyonya Ratna itu kejamnya bukan main. Mbak belum tahu, kan, kejadian beberapa tahun lalu sebelum aku masuk k
"Jangan, Ratna!" cegah Brata cepat, reflek mencengkram pergelangan tangan istrinya agar tidak menyentuh knop pintu. "Kenapa kamu melarangku, Mas?!" Ratna mendelik tajam, matanya berkaca-kaca penuh amarah dan kecurigaan yang membara. "Kalau kamu tidak menyembunyikan apa-apa di dalam, buka pintunya sekarang!" "Aku bilang tidak perlu!" bentak Brata, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai suami untuk menekan Ratna. "Ini sudah malam. Biarkan dia jera di dalam. Jangan membuat keributan yang bisa didengar oleh para tetangga atau penjaga!" "Aku tidak peduli!" jerit Ratna, meronta hebat melepaskan tangannya dari cengkeraman Brata. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ratna memutar paksa roda kursi penopangnya, lalu mengulurkan tangan untuk menekan gagang pintu. Klek. Gagang pintu itu berputar ke bawah dengan mudah tanpa ada hambatan. Pintu kamar sempit itu terbuka lebar begitu saja. Wajah Brata memucat seketika; darahnya seolah tersedot turun ke kaki. Ia baru sadar, kebohongannya y
"Mas Brata!" Suara parau Ratna menggema, bergetar oleh amarah dan keputusasaan yang saling bertubrukan. "Mas! Keluar kamu! Bi Sumi! Di mana suamiku?!"Brata menahan napas. Rahangnya mengeras hingga otot pelipisnya berkedut hebat. Realita yang menamparnya terasa begitu menyakitkan. Di satu sisi, ia sangat mendambakan pelepasan dari gadis yang kini terkurung di lengannya. Di sisi lain, harga diri dan reputasinya sedang dipertaruhkan jika istrinya yang setengah gila itu menemukannya terkunci berdua di kamar pelayan.Mira menangkap keraguan di mata majikannya. Dengan insting manipulasi yang tajam, ia memutuskan untuk mendorong pria itu ke tepi jurang rasa bersalah.Gadis itu memundurkan tubuhnya, melepaskan diri dari kungkungan lengan Brata. Ia merapatkan seragam basahnya ke dada, lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat, seolah seluruh tubuhnya dikuasai ketakutan yang begitu dalam."N-Ndoro..." bisik Mira dengan







