Home / Male Adult / Aduh, Pak Yono tak Tahan! / 7. Kode Keras dari si Janda

Share

7. Kode Keras dari si Janda

Author: Sintiia01
last update publish date: 2026-06-24 03:21:52

Rumor tentang insiden di gudang kemarin sore berembus cepat di antara deru mesin pabrik, menyebar dari satu mulut buruh ke mulut buruh lainnya. Yono tahu namanya dan Ratih sedang jadi bahan gunjingan ringan di kantin.

Namun, pria itu hanya menanggapinya dengan senyuman tipis nan kalem yang menjadi ciri khasnya. Sikap cuek dan tenangnya itu justru membuat para buruh wanita di bagian pelintingan makin gemas dan penasaran dengan sosok sopir kontainer berdarah dingin ini.

Siang ini, matahari Jakarta bersinar sangat terik, membakar aspal area parkir hingga memancarkan gelombang panas yang kasatmata. Yono memilih menepi, mencari tempat teduh di bawah pohon kamboja besar yang tumbuh di dekat pembatas pagar luar pabrik. Suasana di sini relatif sepi dari hilir mudik orang.

Pria itu menyandarkan punggung bidangnya di bangku semen panjang, meluruskan kakinya yang pegal setelah seharian mengecek tekanan ban truk. Kaus hitamnya sengaja digulung hingga ke bahu, memamerkan otot lengannya yang liat dan mengilat oleh keringat tipis.

"Sendirian aja, Yon? Nggak ikut taruhan domino di kantin?"

Suara feminin yang matang itu membuat Yono menoleh. Ratih berdiri di sana, menjinjing sebuah kantong plastik transparan berisi satu kantong es teh manis dan kotak bekal plastik berwarna hijau. Rambut jandanya yang biasa diikat rapi kini dibiarkan tergerai sebahu, bergoyang pelan ditiup angin siang yang kering.

Yono membetulkan posisi duduknya, menyisakan ruang di bangku semen yang sebenarnya tidak terlalu panjang itu. "Panas, Mbak. Di sini lebih adem. Mau duduk?"

Ratih tersenyum, lalu menjatuhkan tubuh sintalnya tepat di sebelah Yono. Jarak mereka langsung terkikis habis karena bangku semen itu memang sempit. Paha Ratih yang berbalut celana kain kerja bergesekan langsung dengan jins usang Yono, menyalurkan kehangatan yang instan di tengah hawa siang yang menyengat.

"Ini, buat kamu. Anggap aja ucapan terima kasih karena kemarin udah selamatin aku dari lantai licin," ujar Ratih, mengulurkan es teh manis dan kotak bekal itu ke pangkuan Yono.

Yono menerima es teh yang berembun dingin itu, menempelkannya sejenak ke lehernya yang panas sebelum meminumnya seteguk. "Makasih, Mbak. Padahal nggak usah repot-repot, kemarin itu kan refleks aja."

"Bagi kamu mungkin refleks, tapi bagi janda kayak aku, ditolong pria segede kamu itu beda rasanya," sahut Ratih dengan blak-blakan, dengan matanya menatap lekat profil samping wajah Yono yang tegas di bawah bayang-bayang pohon kamboja.

Yono terkekeh rendah, suara beratnya terdengar begitu maskulin di telinga Ratih. "Bisa aja kamu, Mbak. Hidup di pabrik ini udah keras, kalau nggak saling tolong, bisa patah kita."

"Memang keras, Yon. Apalagi kalau pulang ke rumah nggak ada siapa-siapa yang nanya kamu capek atau nggak," gumam Ratih dengan suara yang mendadak jadi lembut, menyiratkan kesepian mendalam yang selama ini ia kunci rapat-rapat sejak ditinggal suaminya.

Yono terdiam, menatap butiran air yang menetes dari kantong es di tangannya. Ia tahu Ratih sedang membuka diri, menunjukkan sisi rapuhnya yang jarang diperlihatkan pada orang lain. Ketegangan dewasa yang sunyi mulai merayap di antara mereka, mengaburkan suara bising klakson truk dari kejauhan.

Ratih tiba-tiba merogoh saku apronnya, mengeluarkan selembar tisu. "Keringatmu banyak banget, Yon. Sini, aku bersihkan."

Sebelum Yono sempat menolak, jemari Ratih yang halus sudah bergerak, menepuk-nepuk pelan tisu itu di dahi dan pelipis Yono.

Kulit tangan Ratih yang dingin karena sempat memegang es teh terasa sangat kontras saat menyentuh kulit wajah Yono yang hangat. Bau parfum melati dari tubuh Ratih kembali menyeruak, bercampur dengan aroma tubuh jantan Yono.

Yono tidak menghindar atau memundurkan kepalanya. Ia tetap bergeming, justru memutar pandangannya hingga sepasang mata gelapnya mengunci langsung manik mata Ratih.

Tatapan mata Yono begitu dalam, meneduhkan namun di saat yang sama memancarkan intensitas gairah pria dewasa yang sangat pekat.

Ditatap sedekat itu dengan mata yang seolah menelanjangi isi hatinya, tangan Ratih mulai sedikit gemetar. Usapan tisunya di pelipis Yono melambat, menjadi sebuah sentuhan emosional yang sarat akan damba.

Melihat getaran di jemari wanita itu, Yono perlahan menggerakkan tangan besarnya yang kasar.

Grep.

Yono menggenggam lembut pergelangan tangan Ratih, menghentikan gerakan tisu tersebut tepat di atas pipinya. Telapak tangan Yono yang luas membungkus tangan Ratih yang mungil, menyalurkan kehangatan yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

Mereka saling mengunci pandangan dalam jarak yang hanya berkisar belasan sentimeter. Napas mereka seolah berbaur dengan angin siang yang berembun.

"Udah, Mbak. Nanti tisunya malah hancur karena keringatku," bisik Yono, suaranya rendah dan dalam, penuh pesona yang mematikan.

Ratih menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia tidak menarik tangannya dari genggaman Yono, justru membiarkan jemarinya melemas di dalam cengkeraman pria itu. Wanita itu memajukan tubuhnya beberapa senti lagi, bersandar samar pada dada bidang Yono yang keras.

"Yon..." bisik Ratih, suaranya nyaris seperti desahan pelan yang tertahan di tenggorokan.

"Ya?"

Ratih melirik ke sekeliling mereka yang sepi, memastikan tidak ada buruh lain yang mengintai dari balik deretan truk kontainer.

Setelah merasa aman, ia kembali menatap Yono dengan pandangan penuh harap, sebuah binar mata yang menunjukkan bahwa ia sudah menyerah sepenuhnya pada pesona sang sopir.

Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yono, berbisik dengan nada sarat provokasi yang membuat darah Yono berdesir hebat.

"Malam ini... aku dapat shift lembur sendirian di bagian penyusunan stok gudang belakang. Di sana sepi, Yon, nggak ada orang yang lewat jam sembilan malam nanti."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 120

    Sore hari sekitar pukul lima, garis pantai alternatif yang terisolasi di sudut selatan perumahan tampak sepi tanpa ada pengunjung lain.Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang segar menyapu pasir putih yang hangat.Yono melangkah santai menyusuri bibir pantai hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack-nya yang berkilat disiram cahaya matahari terbenam.Di belakangnya, Citra, Sinta, Ratih, dan Sarah berjalan menyusul.Keempat wanita itu tampil sangat menggoda menggunakan pakaian pantai yang minim; Citra dan Sinta mengenakan bikini dua bagian yang menonjolkan gundukan buah dada serta pinggul tebal mereka, sementara Ratih dan Sarah mengenakan kain pantai tipis yang nyaris transparan.Perebutan perhatian seketika pecah di antara mereka saat berjalan mendekati karang besar yang tersembunyi dari pandangan luar."Mas Yono, jalan dekat aku aja sih! Tangan kamu biar aku pegang," celetuk Citra manja sembari menarik l

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 119

    Malam itu, suasana di ruang tengah rumah baru Yono terasa hangat namun diselimuti ketegangan yang pekat.Di atas sofa kulit yang luas, empat wanita tercantik dan paling memikat di lingkungan kehidupan Yono duduk berjejer rapat.Citra, Sinta, Ratih serta Sarah.Keempat wanita itu tampil amat menggoda, memamerkan kecantikan, keindahan, dan kepadatan bentuk tubuh mereka yang telah berulang kali ditundukkan oleh Yono.Yono berdiri tegap di hadapan mereka, melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap sepasang mata mereka satu per satu dengan pandangan bariton yang dingin dan sarat aura dominasi jantan.Yono menghela napas panjang, lalu memulai pembicaraan dengan nada suara tegas tanpa keraguan."Aku mengumpulkan kalian berempat di sini malam ini bukan untuk bikin janji manis," kata Yono membuka suara, suaranya yang berat bergema pekat di dalam ruangan."Aku mau jujur dan pertegas status kita dari sekarang. Aku tidak ada niat untuk menikahi kalian berempat. Tidak Citra, Sinta, Rati

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 118

    Tidak puas hanya bermain oral di ruang tamu, Yono memboyong tubuh polos Ratih kembali ke area dapur kontrakan untuk mengeksekusi hasrat mereka secara penuh.Pria itu memapah pinggul tebal sang janda muda dengan santai, sementara Ratih berjalan limbung dengan napas terengah-engah, membiarkan tubuh padatnya terekspos telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.Begitu sampai di dapur sederhana bernuansa semen, Yono memposisikan Ratih menungging melengkung di atas meja dapur kayu yang berdampingan langsung dengan kompor gas dan deretan bumbu dapur.Posisi ini membuat dada dan perut Ratih menempel rapat pada permukaan meja kayu, sementara bokong tebal dan padat milik janda muda itu terangkat tinggi ke udara.Celah kewanitaannya yang sudah sangat banjir oleh lelehan air gairah terpampang lebar dan basah kuyup di bawah remang lampu dapur.Yono berdiri tegap tepat di belakangnya.Tangan besarnya meraup dan meremas kuat kedua belah bokong padat Ratih, lalu mencengkeram pinggul tebalnya dengan ceng

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 117

    Adu ciuman panas di dekat meja makan bergerak makin liar menuju ruang tamu rumah kontrakan Ratih yang beralaskan karpet busa tipis.Hasrat terpendam Ratih yang sudah bertahun-tahun meniti status janda tanpa sentuhan pria sejati seketika meledak tak terkendali saat berhadapan langsung dengan aura maskulin Yono yang begitu pekat.Begitu sampai di tengah ruang tamu yang sepi, Ratih memutar badannya.Kedua tangan mulusnya dengan cepat menyingkap dan melucuti daster tipis merah batanya sendiri ke atas, melempar kain itu begitu saja ke sudut ruangan.Ratih kini tampil telanjang bulat tanpa sehelai kain pun di hadapan Yono.Ia memamerkan lekuk tubuh bahagianya yang padat berisi, sepasang buah dada kenyal berputing tegang, serta pinggul tebal yang ranum dan mulus di bawah pendar remang lampu ruang tamu."Lihat, Mas Yono... Tubuh Ratih masih padat kan? Masih kencang semua buat kamu," bisik Ratih binal dengan napas yang memburu parau.Yono mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu ruang tam

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 116

    Senin malam sekitar pukul tujuh, suasana perumahan kontrakan terasa tenang dan sedikit lengang. Yono melangkah santai menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan sederhana milik Ratih.Pria itu tampil tegap mengenakan kaus polos ketat berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk otot dada bidang dan tangannya yang berurat tebal.Yono mengetuk pintu kayu kontrakan beberapa kali. "Ratih, ini aku."Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ratih yang berdiri menanti. Janda muda itu tampil amat anggun dan menggoda; ia mengenakan daster tipis tanpa lengan berwarna merah bata yang membentuk jelas lekuk tubuh padatnya.Ratih sengaja tak mengenakan bra di balik daster tipisnya, membuat gundukan buah dadanya tercetak menonjol setiap kali ia bernapas.Ratih seketika salah tingkah, matanya berbinar menatap postur tegap Yono. "Eh, Mas Yono. Masuk, Mas. Mau makan malam sekarang kan?"Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi, melangkah masuk ke dalam rumah yang harum oleh

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 115

    Hari Minggu siang menjelang sore, udara di dalam apartemen terasa hangat dan sarat akan hawa gairah yang belum surut.Yono berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap Citra yang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Ini adalah hari terakhir libur akhir pekan sebelum mereka harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan di pabrik pada hari Senin.Yono berniat menghabiskan seluruh tenaga sang supervisor cantik, menguji batas ketahanan fisik Citra sampai benar-benar loyo dan tidak berdaya di bawah keperkasaannya."Cit, berdiri. Hari ini belum selesai," kata Yono dengan nada suara bariton yang dingin dan penuh dominasi mutlak.Citra mendongak dengan mata sayu, napasnya masih menyisa kepenuhan dari sesi sebelumnya. "Mas Yono... Badan aku sudah pegal-pegal semua dari semalam. Masih mau main lagi?""Jangan banyak komplain. Kamu kan sudah janji bakal penuhi semua keinginan aku," gertak Yono tegas."Iya, Mas Yono... Aku nurut," bisik Citra pasrah, mencoba merangkak mendekati Yono.Tanpa menunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status