Home / Fantasi / Aduh Tak Tahan, Prof! / 96 | Batas Yang Ditabrak

Share

96 | Batas Yang Ditabrak

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2025-10-29 22:45:47

Sementara itu, di sebuah trem jarak pendek menuju Distrik Utara,

Hanna duduk di dekat jendela, menatap kota yang perlahan menjauh.

Udara pagi masih dingin, tapi ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri lebih cepat dari biasanya.

Trem ini memiliki trayek yang menghubungkan distrik Utara dan Selatan, dengan satu titik temu—tempat kereta dari arah Timur dan Barat saling bersilangan.

Itulah tujuan Hanna: kereta penghubung di titik pertemuan itu.

Di pergelangan tangannya, jam pintar itu kini tampak seperti perangkat biasa.

Semua menu dan tampilan sudah kembali normal—hanya saja, di bawah layar, titik biru kecil masih berkedip perlahan.

Ia menyentuhnya sebentar, dan seolah menjawab, jam itu bergetar pelan.

Tak ada tulisan kali ini.

Hanya denyut cahaya lembut yang muncul sebentar di permukaan layar,

dan entah kenapa, Hanna tahu—itu tanda dari Liam.

Ia menatap keluar jendela lagi, bibirnya menekan, menahan sesuatu antara lega dan takut.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   Chapter 224 | Selamat Datang Leo

    Waktu di Oasis mengalir seperti sungai di lembah—tenang, namun tak terhentikan. Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Perut Hanna membesar sempurna, sebuah bulan purnama yang hidup yang membawanya berjalan pelan, dengan satu tangan selalu menempel di punggung bawah, satu lagi dengan lembut mengusap tonjolan di mana bayinya bergerak.Udara musim semi Oasis berubah menjadi musim panas yang hangat. Pohon Kehidupan bersinar lebih terang di malam hari, seakan ikut memancarkan antisipasi. Liam hampir tak pernah jauh dari sisi Hanna. Dia yang memijat kakinya yang bengkak, yang mengambilkan air minum dari mata air jernih, yang membacakan puisi atau catatan ilmiah ayahnya dengan suara rendah saat Hanna susah tidur."Hari ini dia sangat aktif," bisik Hanna suatu sore, berbaring di hamparan rumbut lembut di bawah pohon willow dekat sungai. Liam berbaring di sampingnya, kepala bertumpu pada satu tangan, telapak tangan satunya terbuka di atas perut Hanna.Benar saja. Di bawah telapak tangannya, keh

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   223 | Kamu Adalah Lab-ku!

    Pagi pertama di Oasis adalah sebuah simfoni. Bukan simfoni mesin atau pengumuman otomatis, melainkan simfoni kehidupan. Sesuatu yang jarang mereka dapatkan di Valthera.Kicau burung yang saling bersahutan, gemerisik dedaunan yang ditiup angin pagi, suara anak-anak tertawa di kejauhan, dan suara gemericik air sungai yang mengalir jernih. Bagi Hanna, setiap suara itu seperti cat air yang melukis keheningan hampa di dalam dirinya dengan warna-warna baru.Semua ini, seharusnya membuatnya merasa lebih tenang dan lebih baik.Dia berdiri di ambang pintu rumah kayu mereka, tangan menopangi punggung yang pegal, dan menghirup udara pagi yang berembun. Udara itu terasa hidup, penuh dengan aroma tanah basah, bunga liar, dan kayu bakar. Di dadanya, ada sebuah kelegaan yang begitu dalam, begitu tulus, hingga membuat matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilannya—bahkan mungkin sejak lama—dia tidak merasa seperti sedang diawasi. Tidak ada kamera yang mengintip, tidak ada

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   222 | Oasis

    Perjalanan dengan kereta tua itu terasa abadi. Dalam kegelapan mutlak di luar jendela, waktu kehilangan maknanya. Hanya getaran rel dan suara mesin yang sudah tua menjadi pengingat bahwa mereka masih bergerak. Liam duduk di sebelah Hanna, memeluknya erat, mencoba memberikan kehangatan di tengah udara bawah tanah yang lembap dan dingin.Hanna tertidur sebentar, kelelahan. Dalam tidurnya, mimpi-mimpi aneh menyergap. Dia melihat ladang luas dengan tanaman yang bersinar lembut dalam gelap, langit penuh bintang yang tidak pernah dia lihat di Valthera, dan sekelompok orang dengan mata yang memancarkan kearifan dan kesedihan yang dalam. Di tengah mereka, ada sebuah kolam air jernih, dan dari kolam itu, dia mendengar sebuah panggilan—lembut namun mendesak.Dia terbangun dengan napas tersengal. Kereta mulai melambat."Kita hampir sampai," kata Liam, menatap peta hologram dari datachip. "Ujung jalur. Dari sana, kita harus berjalan kaki menuju permukaan."Kereta berhenti dengan hentakan. Pintu t

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   221 | Mencari Tempat Yang Aman

    Terowongan di bawah stasiun penelitian tua itu lembap dan berbau tanah. Lampu-lampu darurat kuning tua yang jarang menyala memberikan penerangan suram, memperlihatkan akar-akar tanaman yang menyusup melalui retakan beton. Suasana di antara mereka tegang, namun sunyi. Kabar dari Vance masih menggema di kepala mereka, meninggalkan rasa pahit dan keraguan.Liam berjalan di depan, memegang senter kecil dari data chip yang diberikan Vance—ternyata perangkat itu juga berfungsi sebagai pemandu. Peta holografik kecil memancar dari ujungnya, menunjukkan jalur labirin di bawah tanah yang rumit.Hanna berjalan pelan, tangannya berpegangan pada dinding yang dingin untuk keseimbangan. Perutnya semakin berat, dan setiap langkah terasa seperti usaha. Tapi bukan fisiknya yang paling sakit. Pikiran tentang dirinya yang mungkin hanya "subjek" dalam eksperimen ayahnya sendiri, bahwa pertemuannya dengan Liam bukanlah kebetulan… itu seperti pisau yang memutar-mutar di dalam dadanya."Liam," ucapnya akhirn

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   220 | Twist Membingungkan

    Vance mengangguk pelan, mengakui. "Genesis adalah segalanya bagi Valthera. Dan anakmu... dia adalah lompatan evolusioner yang tidak terduga. Dewan tidak bisa mengabaikannya.""Jadi kau di sini untuk membawa kami kembali? Sendirian?" tantang Liam."Tidak," jawab Vance. Dia memandang ke arah kendaraan, seolah bisa menembus kaca gelap dan melihat Hanna. "Aku di sini untuk memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tidak tercatat dalam arsip resmi."Liam diam, waspada."Proyek Genesis memiliki banyak cabang, Liam. Salah satunya, yang dijalankan diam-diam oleh Alderic setelah dia mengambil alih, adalah 'Proyek Kaledoskop'. Mereka tidak hanya memilih gen terbaik. Mereka juga... menguji kompatibilitas. Mencocokkan profil genetik tertentu untuk menghasilkan kombinasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga terkendali."Liam merasa tengkuknya dingin. "Apa maksudmu?""Hanna bukanlah wanita sembarangan yang kau temui, Liam. Dia adalah salah satu dari sedikit subjek dalam program itu. Profil genetiknya dip

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   219 | Kejutan dan Kebohongan

    Kendaraan melaju dengan cepat meninggalkan pinggiran Valthera, menuju wilayah pertanian terkontrol di luar perimeter kota. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar desir mesin dan napas berat mereka.Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Hanna, bukan hanya karena kehamilannya tapi banyak hal lain yang menyusup dan memenuhi ruang pikirannya.Liam menatap lurus ke jalan yang gelap, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kenangan yang selama ini dia kubur bangkit dengan pahit."Dulu," ucap Liam tiba-tiba, suaranya berat memecah kesunyian, "Profesor Alderic, ayahmu Hanna, dan Profesor Julian O'Hara, ayahku, adalah sahabat sekaligus rival. Mereka adalah pionir Proyek Genesis."Hanna memalingkan wajahnya dari jendela, mendengarkan. Persahabatan antara Alderic dan Julian O’hara tetanus aja Hanna tahu."Genesis awalnya bukan tentang menciptakan manusia unggul. Itu adalah proyek medis raksasa untuk memberantas penyakit genetik dan kelaparan. Ayahku fokus pada rekayasa genetika tanaman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status