Home / Fantasi / Aduh Tak Tahan, Prof! / 95 | Break the Signal

Share

95 | Break the Signal

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2025-10-28 22:44:59

Liam menatap terminal utamanya.

Layar memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang tegang, mata tajamnya menelusuri deretan kode dan protokol keamanan yang ia kenal luar kepala.

Kelly Domain bukan sistem sembarangan, domain itu terhubung langsung ke jaringan keluarga inti Valthera, dengan pengawasan berlapis dan sensor pelacak setiap kali ada upaya pembobolan.

Tapi Liam adalah seorang jenius yang mampu mengobrak-abrik sistem serumit apapun, dia paham jika dia melakukan ini, Ryan pasti langsung menoleh padanya, karena sejauh ini belum ada yang mampu menandingi kejeniusan Liam.

Ia tahu di mana “lubang” kecilnya.

Ia yang menulis sebagian dari algoritmanya, dulu, sebelum semuanya berubah.

Tangannya bergerak cepat di atas papan holografik.

Beberapa jendela sistem terbuka: Root directory, bypass log, decoy traffic routes.

Ia menanamkan serangkaian perintah kecil—tidak besar, tapi cukup untuk menutupi jejak sinyalnya seolah berasal dari server maintenance di distrik 8.

Semua langkah dilakukan de
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   Mencari Tempat Yang Aman

    Terowongan di bawah stasiun penelitian tua itu lembap dan berbau tanah. Lampu-lampu darurat kuning tua yang jarang menyala memberikan penerangan suram, memperlihatkan akar-akar tanaman yang menyusup melalui retakan beton. Suasana di antara mereka tegang, namun sunyi. Kabar dari Vance masih menggema di kepala mereka, meninggalkan rasa pahit dan keraguan.Liam berjalan di depan, memegang senter kecil dari data chip yang diberikan Vance—ternyata perangkat itu juga berfungsi sebagai pemandu. Peta holografik kecil memancar dari ujungnya, menunjukkan jalur labirin di bawah tanah yang rumit.Hanna berjalan pelan, tangannya berpegangan pada dinding yang dingin untuk keseimbangan. Perutnya semakin berat, dan setiap langkah terasa seperti usaha. Tapi bukan fisiknya yang paling sakit. Pikiran tentang dirinya yang mungkin hanya "subjek" dalam eksperimen ayahnya sendiri, bahwa pertemuannya dengan Liam bukanlah kebetulan… itu seperti pisau yang memutar-mutar di dalam dadanya."Liam," ucapnya akhir

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   220 | Twist Membingungkan

    Vance mengangguk pelan, mengakui. "Genesis adalah segalanya bagi Valthera. Dan anakmu... dia adalah lompatan evolusioner yang tidak terduga. Dewan tidak bisa mengabaikannya.""Jadi kau di sini untuk membawa kami kembali? Sendirian?" tantang Liam."Tidak," jawab Vance. Dia memandang ke arah kendaraan, seolah bisa menembus kaca gelap dan melihat Hanna. "Aku di sini untuk memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tidak tercatat dalam arsip resmi."Liam diam, waspada."Proyek Genesis memiliki banyak cabang, Liam. Salah satunya, yang dijalankan diam-diam oleh Alderic setelah dia mengambil alih, adalah 'Proyek Kaledoskop'. Mereka tidak hanya memilih gen terbaik. Mereka juga... menguji kompatibilitas. Mencocokkan profil genetik tertentu untuk menghasilkan kombinasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga terkendali."Liam merasa tengkuknya dingin. "Apa maksudmu?""Hanna bukanlah wanita sembarangan yang kau temui, Liam. Dia adalah salah satu dari sedikit subjek dalam program itu. Profil genetiknya dip

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   219 | Kejutan dan Kebohongan

    Kendaraan melaju dengan cepat meninggalkan pinggiran Valthera, menuju wilayah pertanian terkontrol di luar perimeter kota. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar desir mesin dan napas berat mereka.Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Hanna, bukan hanya karena kehamilannya tapi banyak hal lain yang menyusup dan memenuhi ruang pikirannya.Liam menatap lurus ke jalan yang gelap, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kenangan yang selama ini dia kubur bangkit dengan pahit."Dulu," ucap Liam tiba-tiba, suaranya berat memecah kesunyian, "Profesor Alderic, ayahmu Hanna, dan Profesor Julian O'Hara, ayahku, adalah sahabat sekaligus rival. Mereka adalah pionir Proyek Genesis."Hanna memalingkan wajahnya dari jendela, mendengarkan. Persahabatan antara Alderic dan Julian O’hara tetanus aja Hanna tahu."Genesis awalnya bukan tentang menciptakan manusia unggul. Itu adalah proyek medis raksasa untuk memberantas penyakit genetik dan kelaparan. Ayahku fokus pada rekayasa genetika tanaman

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   218 | Kekejaman Negara?

    "Bukan dia. Tapi kita bisa memanfaatkan koneksinya." Liam menoleh padanya. "Saat di rumah, dia mematikan listrik lokal. Di sini, dengan akses langsung ke inti server… kita bisa mengarahkan… dorongan neuralnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengacaukan semua sistem pelacakan di Valthera, setidaknya untuk sementara.""Liam, itu terlalu berisiko! Kita tidak tahu batas kemampuannya!" protes Hanna."Kita juga tidak tahu batas ancaman terhadapnya, Hanna!" balas Liam. "Mereka tidak akan berhenti. Sekarang mereka tahu apa yang bisa dia lakukan, mereka akan mengerahkan segala sumber daya untuk mendapatkan kalian berdua. Ini satu-satunya cara untuk memastikan kita punya waktu bernapas."Sebelum Hanna bisa membantah, suara metalik menggema di koridor. Pintu baja tempat mereka masuk tiba-tiba terbuka dengan paksa. Di sana, berdiri Inspektur Mara dengan beberapa orang pasukan khusus, senjata mereka terhunus."Berhenti, O'Hara!" teriak Mara. "Langkah menjauh dari konsol

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   217 | Dalam Pelarian

    Terowongan layanan itu seperti urat nadi yang terlupakan di bawah tubuh Valthera yang berkilau. Dindingnya terbuat dari beton polos, dipenuhi kabel-kabel dan pipa-pipa yang berdesis lembut. Cahaya dari lampu kecil kendaraan mereka menerobos kegelapan, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari dengan liar.Liam mengemudi dengan penuh konsentrasi, nalurinya sebagai seorang yang mengenal tiap inci kota ini membimbingnya. Namun, ketegangan mengeras di pundaknya. Mereka belum aman. Jauh dari itu."Liam," bisik Hanna, suaranya parau. "Dia... dia tenang sekarang. Seperti tertidur.""Kelelahan," gumam Liam. Mengeluarkan energi seperti itu pasti menguras si kecil. Rasa khawatir yang baru menyergapnya—apa konsekuensi dari ledakan kekuatan seperti itu bagi janin yang masih berkembang? Tapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.Tiba-tiba, lampu kecil di dasbor kendaraan berkedip lalu padam. Mesin listrik yang nyaris tanpa suara itu merintih pelan, lalu kehilangan daya. Kendar

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   216 | Perlawanan Liam

    Ruang yang "disiapkan" ternyata adalah sebuah ruang operasi portabel yang lengkap, dipasang dengan cepat di ruang tamu utama. Peralatan berteknologi tinggi berdetak dan berkedip dengan cahaya dingin, mengubah ruang keluarga yang hangat menjadi sebuah laboratorium dingin. Meja pemeriksaan dengan lampu sorot terang menunggu di tengah.Hanna dipandu—lebih tepatnya, diarahkan—untuk berbaring. Perutnya yang membesar terasa berat dan rentan di bawah sorotan. Dr. Aris mendekat, mengenakan sarung tangan steril, sementara seorang asistennya menyiapkan mesin ultrasound yang lebih canggih dari biasanya dan sebuah alat panjang dengan ujung yang sangat tipis dan tajam."Tenang saja, Nona Hanna," ujar Dr. Aris, suaranya datar seperti sedang membaca manual. "Ini hanya prosedur standar amniocentesis. Kami akan mengambil sedikit sampel cairan ketuban untuk analisis. Sangat aman.""Aman untuk siapa?" serak Hanna, tangannya refleks melindungi perutnya."Untuk Anda dan janin, tentu saja," jawabnya, tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status