Share

Murkanya Marco

Author: Dita SY
last update publish date: 2025-10-12 10:00:05

HongKong dipilih oleh Prams untuk dijadikan tempat tinggal selamanya.

Setelah kekacauan yang ia lakukan di tanah kelahiran sendiri, ia memutuskan untuk tidak lagi menginjakkan kaki di negaranya.

Sampai detik ini Prams masih dihantui rasa bersalah pada Bibi dan kakaknya.

Di tengah ruangan sunyi. Hanya botol-botol minuman yang berjejer rapih di atas meja ... menjadi teman setia.

Prams sedang duduk termenung memikirkan sang Bibi yang sudah tiada. Ia baru saj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Karina dewi puspit
ehm ngak ada kbar anggun meninggal flasback jatuh mobil tahanannya juga ngak ada..cerita nya seru tapi pas anggun celaka barta ngak di flasback distu jdi ngk tau gimna alur nya main lompat ja
goodnovel comment avatar
Dita SY
Lanjut Kak...
goodnovel comment avatar
Mar Ani
bagus cerita nya, berlanjut apa ga sih cerita nya apa sampe di bab ini aja ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 628: Lari!

    "Kita pulang sekarang!" kata Adrian mulai cemas.Namun langkah Adrian dan Darko terhenti mendadak tepat di ujung lorong sebelum mereka sempat menginjakkan kaki ke dalam lumpur parit pembuangan.Dari balik rimbunnya semak belukar yang menutupi pintu keluar, terdengar suara gesekan ranting kering yang patah, disusul oleh suara derap langkah kaki sepatu bot militer yang berat.​Krak!Srak!​Adrian langsung menarik kerah jaket Darko, mengisyaratkannya untuk mundur ke balik bayangan pilar beton yang retak.Darko yang kelelahan menahan napasnya hingga dadanya terasa sesak.​"Dua orang. Jaraknya kurang dari sepuluh meter," bisik Adrian sangat pelan, tepat di dekat telinga Darko.Matanya menyipit, memantau dari celah dinding beton yang pecah.​Melalui celah itu, terlihat dua orang anggota paramiliter Vult

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 627: Keputusannya?

    Adrian menatap layar ponsel yang masih menampilkan wajah Dylan."Bagaimana Om?"Adrian menarik napas panjang sambil sesekali melihat ke arah Darko, yang sama-sama menunggu keputusan Adrian."Om .... "Bocah itu masih menunggu instruksi selanjutnya dengan mata yang memancarkan tekad kuat, siap melakukan apa saja untuk membantu.Namun, Adrian kembali menarik napas panjang dan menggelengkan kepala perlahan.Logika seorang Detektif akhirnya mengalahkan ambisinya.​"Tidak, Dylan," ucap Adrian dengan suara yang mendadak melunak namun penuh ketegasan.Darko menatap Adrian tanpa berkedip, memastikan apa yang dia dengar barusan."Gimana Om?" tanya Dylan."Tidak ... Om tidak akan membiarkanmu kemari. Tempat ini terlalu berbahaya untuk anak seusiamu. Kembalilah tidur, lupakan apa y

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 626: Tidak Ada Cara Lain

    "Dylan, Om Adrian mau bicara.""Hah? Om Adrian?" tanya Dylan dengan suara parau.Setelah menjelaskan semua, Dylan mengambil ponsel dari tangan ayahnya.Adrian memegang ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar saat wajah Dylan akhirnya muncul di layar dalam panggilan video.Bocah itu tampak mengucek matanya yang masih mengantuk, namun ketika melihat wajah Adrian yang tegang dan penuh peluh, sorot matanya langsung berubah tajam dan waspada.​"Dylan, dengarkan Om baik-baik," bisik Adrian cepat sambil mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arah panel digital dan lensa kamera mikro yang tersembunyi di pintu baja."Iya Om Adrian.""Om sedang berada di tempat yang kamu gambar kemarin. Om butuh bantuanmu sekarang. Kunci pintu ini adalah matamu. Om butuh kamu menatap lurus ke arah kamera Om, dan Om akan mendekatkannya ke sensor pintu ini."​Dylan langsung mengangguk paham tanpa banyak bertanya. Kecerdasan luar biasanya membuat ia

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 625: Tolong

    "Seharusnya bisa!" gumam Darko sambil merapatkan giginya.Adrian mengedarkan pandangan, mengawasi sekitar tempat mereka saat ini. Sepi, dan udara lembab semakin membuat suasana terasa mencekam."Ayo Darko, kamu pasti bisa!"Darko segera menekan tombol di keyboard-nya dengan gerakan panik. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya saat ia memotong kembali arus data satelit pemantau Vultures."Berhasil!" senyum Darko."Bagaimana?" tanya Adrian dengan wajah cemas."Aku sudah mengalihkan sensor mereka untuk sepuluh menit terakhir, Adrian! Setelah ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hubungi Dirga sekarang!""Baik!"​Adrian langsung merogoh saku jaket taktisnya, mengeluarkan ponsel satelit terenkripsi, dan menekan nomor Dirga. Jantungnya berdegup kencang seiring nada sambung yang terus berdering.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 624: Nyaris Frustasi!

    "Harusnya ini akan mudah!" kata Darko dengan percaya diri tingkat Dewa.Di sampingnya Adrian hanya melihat pergerakan tangan Darko yang cekatan dan profesional.Darko membongkar panel digital itu dengan tangan yang mulai stabil. Ia mencolokkan kabel dari perangkat dekripsi portabelnya langsung ke papan sirkuit pintu baja.Layar laptop kecil yang ia bawa seketika dipenuhi oleh barisan angka biner yang bergerak liar.Adrian terus mengawasi di sampingnya, memegang senter taktis dengan sorot yang semakin redup.​"Bagaimana, Dark? Bisa?" tanya Adrian penuh harap.​Darko tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar laptopnya. Keningnya berkerut dalam, dan keringat mulai membasahi pelipisnya lagi.Tiba-tiba, laptopnya mengeluarkan bunyi beep panjang yang melengking pelan, disusul dengan munculnya tanda silang merah besar di layar.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 623: Menyusul

    "Whus! Whus! Whus!" Suara napas Adrian yang memburu terdengar.Waktu terus berdetak tanpa ampun, memburu Adrian yang masih terpaku di depan pintu baja tebal itu.Di luar, semburat fajar mulai memecah kegelapan Danau Hitam, mengubah langit menjadi biru kelabu yang dingin.Adrian berkali-kali mencoba memasukkan kombinasi angka yang mungkin berkaitan dengan Marco, tanggal lahir, kode lencana, hingga nomor pelarian lamanya ... namun panel digital itu terus berkedip merah, membalas dengan bunyi 'TIT' pendek yang menolak aksesnya.​"Adrian, dengarkan aku dulu." Suara Darko memecah keheningan melalui earpiece, kali ini tidak lagi terdengar dari balik meja komputernya. Ada deru angin dan suara gesekan ranting di latar belakang suaranya."Ya, bagaimana?""Kau harus .... "Suara itu terputus-putus.​"Dark? Suaramu berubah. Kau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status