Share

Resiko Besar

Author: Dita SY
last update publish date: 2025-09-01 08:00:07

Bramanto terdiam mematung dengan pandangan kosong. Wajah memucat setelah menerima telepon dari Barta.

Ponsel yang berada di dalam genggaman terlihat masih menyala dan berdering. Telepon dari anaknya kembali masuk, namun diabaikan oleh pria paruh baya itu. Beberapa kali telepon itu berakhir dan kembali berdering lagi.

Ting! Ting! Ting!

Tiga pesan teks mengakhiri panggilan di ponsel Bramanto. Ia menggeser layar, membaca chat dari anaknya.

Barta (Pa, kenapa t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Siva Va
makin seru aja ,KK lanjut kan ya tapi jangan banyak iklan yg harus di unduh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 609: Curhat Bapak-Bapak

    Pada malam hari setelah selesai bekerja, Dirga duduk di ruang kerja yang beraroma kopi.Suasana terasa lebih berat dari biasanya, ia duduk bersandar di kursi kebesaran, menatap kosong ke arah jendela.Sementara di hadapannya, dua sahabat terdekat hadir ... Barta, dan Adrian. Setelah Adrian resmi menjadi suami Intan, hubungan Dirga dan Detektif itu semakin dekat, sudah seperti keluarga.Kedua laki-laki tampan itu sengaja datang ke istana Dirga setelah mendengar kabar tentang hilangnya Dylan, dan petualangan bocah pintar itu.​"Dia hampir mati. Kalau saja tim SAR telat sepuluh menit, mungkin ceritanya akan beda," gumam Dirga sambil memijat pelipisnya. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan polah anak laki-lakiku sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan petualangan seperti itu? Dulu, aku saja tidak berani untuk sekedar naik kendaraan umum seorang diri menuju sekolah. Dia masih SD, masih sangat kecil unt

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 608: Perjalanan Pulang

    Di dalam mobil yang melaju membelah sisa kabut pagi menuju Jakarta, suasana terasa begitu berat.Dylan duduk di kursi belakang, dibalut selimut tebal dan memegang botol air hangat yang diberikan petugas medis.Febby duduk di sampingnya, mendekap bahu putranya seolah tak mau kehilangan sedetik pun, sementara Dirga fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat.​Setelah keheningan yang cukup lama, Dylan akhirnya membuka suara.Suaranya kecil, serak, dan masih menyimpan sisa trauma.​"Daddy ... Mommy ... sebenarnya ada satu hal yang mau aku tanya," bisik Dylan. "Kalian harus jawab ya, Mommy, Daddy."​"Istirahat dulu, Dylan. Kamu baru saja melewati malam yang mengerikan, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, hmm," jawab Febby lembut, mencoba mengusap kotoran yang masih menempel di pipi anaknya.​"Tapi ini penting. Di sana ... tadi a

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 607: Pelukan yang Dirindukan

    Ketegangan di bawah rumah pohon itu mencapai puncak. Buaya muara tersebut, yang merasa terdesak oleh kepungan cahaya senter, mulai menunjukkan perilaku agresif.Ia menghantamkan moncong kerasnya ke batang pohon beringin tua itu berkali-kali. Setiap benturan membuat struktur rumah pohon di atasnya berderit ngeri.​"Komandan! Kayu penyangganya mulai retak!" teriak salah satu petugas SAR saat melihat papan lantai rumah pohon mulai miring."Rumah pohon itu sudah sangat usang dan berumur, pasti kayu-kayu di sana sudah sangat rapuh," ucap salah satu tim SAR merasa khawatir.​"Dylan, Giandra! Jangan bergerak ke pinggir!" perintah Dirga lantang, suaranya berusaha menutupi gemuruh jantungnya yang berpacu gila. "Tetap diam Sayang! Sebentar lagi kami akan ke sama menolong kalian berdua!""Kita harus secepatnya bergerak!"​Tim SAR segera mengeksekusi rencana darurat. Dua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 606: Aku di sini!

    "Dylan! Giandra! Jawab Mommy, Nak!"​Suara itu kini bukan lagi sekadar sayup-sayup yang dibawa angin.Teriakan Febby terdengar begitu dekat, membelah kesunyian hutan yang mencekam.Kali ini, Giandra tidak bisa lagi menganggap itu sebagai halusinasi. Ia mendongak, matanya yang basah oleh air mata seketika melebar.​"Lan ... itu beneran suara Mommy kamu!" bisik Giandra dengan bibir yang gemetar karena kombinasi rasa dingin dan harapan yang mendadak muncul.​Dylan mengangguk cepat, tetapi ia tetap waspada. Di bawah kaki mereka, predator raksasa itu masih ada.Buaya muara tersebut seolah terusik oleh suara-suara manusia yang mendekat.Ekornya yang besar menghantam semak-semak, menciptakan suara kresek yang berat dan mengerikan.​"Kita harus kasih tanda, Gian. Tapi kita nggak bisa turun." Dylan berpikir cepat. 

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 605: Predator

    Di atas rumah pohon yang reyot itu, Dylan terpaku.Di tengah deru angin dan gesekan dedaunan, telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang berbeda.Sebuah suara yang sangat ia kenal, meski terdengar samar dan terdistorsi oleh jarak serta lebatnya kabut.​"Mommy .... " bisik Dylan pelan. Matanya melebar, menatap ke arah kegelapan di balik rimbunnya hutan. "Gian! Aku dengar suara Mommy! Mereka di sana!"​Giandra, yang sedang berusaha mengatur napasnya yang sesak, menggelengkan kepala dengan cepat.Wajahnya yang kotor tampak sangat sangsi. "Nggak ada suara apa-apa, Lan. Cuma suara angin. Kamu cuma berhalusinasi karena kita terlalu capek."​"Nggak, Gian! Aku yakin itu Mommy!" Dylan bergerak menuju pinggiran lantai kayu yang sudah lapuk, hendak menggapai batang pohon untuk turun."Kamu mau ke mana Dylan?""Kita harus turun

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 604: Gantungan Kunci

    Cahaya senter dari tim SAR terus menyapu permukaan tanah yang dipenuhi daun kering dan lumpur hitam.Febby berjalan dengan napas yang mulai tersengal, namun setiap kali kakinya terasa lemas, bayangan wajah Dylan yang ketakutan memaksanya untuk terus melangkah.Dirga berada tepat di sampingnya, memegang lengan Febby dengan kuat agar istrinya itu tidak terperosok ke dalam akar beringin yang menjulur liar.​"Sabar, Sayang. Kita pasti temukan dia," bisik Dirga, meski matanya sendiri terus bergerak gelisah menyisir kegelapan.​Tiba-tiba, komandan tim SAR yang berada paling depan mengangkat tangan, memberi isyarat agar seluruh barisan berhenti."Semuanya, diam! Matikan suara radio!"​Hening seketika menyergap.Satu-satunya yang terdengar hanyalah desau angin yang menggesek dahan-dahan tua dan suara napas berat para pencari.Anjing pelaca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status