مشاركة

106. Terror

last update آخر تحديث: 2025-12-09 17:15:06

Sekitar 25 orang anak dan orang tua, ada di sini. Di sebuah aula yang cukup untuk menampung mereka, Riven dan Elena duduk di depan mereka. Menatap nyalang, para orang tua yang hanya bisa mengandalkan anak-anak mereka bekerja sebagai pengemis.

Saat akan pulangi dan berniat mampir ke panti di ibu kota, Elena dan Riven dikejutkan oleh wanita paruh baya yang meneriaki anaknya.

Lebih mengejutkan lagi, ketika dihampiri, berdiri sebuah rumah yang hampir rubuh, diisi oleh anak-anak seumur 7-10 tahun, yang sangat kusam dengan pakaian robek.

Rumah tersebut terletak di jalan kecil samping, yang tidak Elena dan Riven sadari sejak awal ke sini. Bangunan berkedok panti asuhan ini, tidak diketahui oleh pemerintah.

Sebab banyaknya anak-anak di sini, adalah anak-anak buangan para orang tua tidak bertanggungjawab. Mendengar cerita ibu 'panti' yang mengatakan hal ini sudah berlangsung selama 3 tahun, Elena marah.

Anak-anak di sini seringkali dibawa ke kota, untuk mengemis atau mencuri. Bahkan, ada y
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   140. Disuapi Bunda ... lagi

    "Apa makanannya enak, Jay?" tanya Amerta. Jay mengangguk antusias, ia memakan masakan Elena dengan sangat lahap. Kepalanya sesekali bergoyang ke kanan dan kiri, ketika lidahnya menyecap rasa yang familiar. Setelah memakan masakan utama Elena, ia disajikan sebuah hidangan penutup yang baru saja Elena buat. Katanya, wanita itu mencoba resep baru, dan Jay bersyukur bisa menyicipinya pertama kali. Amerta melihatnya dengan perasaan senang, ia jadi semakin ingin memiliki anak bersama Alberto. Mungkin, kehidupannya nanti bisa jadi sangat baik ketika memiliki anak. Amerta sendiri awalnya tidak ingin memiliki anak, dan memilih hidup berdua dengan Alberto setelah menikah nanti. Pria itu juga tidak menekannya soal anak, namun Amerta seringkali melihat Alberto bahagia ketika bersama anak-anak di panti. Sepertinya, keputusan itu harus ia pikirkan lagi. "Jay, bisa ikut aku sebentar?" Ucapan Elena membuyarkan lamunan Amerta, ia bisa melihat Jay menegang. Bahkan, kunyahannya di mulut berhen

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   139. Rahasia Jay

    Setelah drama menangis di bawah salju pertama, Elena dan Jay kini pulang bersama ke kediaman Zalen. Wanita itu mengajak Jay untuk pergi ke rumah sang ibu, karena Jay bilang akan pergi main. Jay juga tidak. menolak, dan memilih membatalkan janji mainnya. "Kau sudah besar dan sangat tampan ya, Jay," puji Amerta. Jay tersipu malu, ia menunduk menutupi wajahnya yang bersemu. Sedangkan Zalen berdecih, ia yang kesal dengan Riven, terbawa saat melihat wajah Jay. Anak itu benar-benar semakin mirip Riven, bahkan hampir tidak ada garis wajah Diana di sana. Zalen jadi sangsi, ia bertanya-tanya apakah Jay segitu membenci Diana? Hingga wajahnya saja enggan memiliki garis dari Diana. "Elena! Setidaknya bawa dulu anakmu ini untuk. ganti pakaian, dia terlihat kedinginan," seru Zalen pada Elena. Jay sedikit tersentak, mendengar bagaimana Zalen memanggiknya 'anak Elena'. Ia menyunggingkan senyum tipis, keberadaannya setidaknya masih dianggap. Jay sudah paham, mengenai masalah yang menimpa ayah

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   138. Salju Pertama Bersama Jay?

    Kamar yang sebelumnya bernuansa terang dengan warna-warna merah muda, hijau muda, biru muda, dan putih ini, berganti menjadi lebih gelap. Cat ditutupi oleh wallpaper dinding, yang bercorak berwarna merah, hitam, dan sedikit emas sebagai garis hias. Lampu-lampu tidur dengan elemen langit, seperti awan dan bulan sabit. Ia juga menghias cermin dengan bunga-bunga palsu, bahkan mengganti karpet dengan yang berbulu. Seprai cokelat, yang sepasang dengan selimutnya, masih membalut tubuh Elena. Wanita itu masih tidur dengan nyaman, dan berniat bangun lebih siang hari ini. Matanya terasa sangat berat, setelah seharian menata ruangan. Isi lemarinya juga sudah berubah, didominasikan oleh pakaian berbulu, dan pakaian yang ukurannya besar. Aroma ruangan yang sebelumnya seperti mawar, berubah menjadi seperti tanah basah setelah hujan. Bahkan tirai penutup jendela dan balkon, juga diganti menjadi warna hitam. Tidak jauh berbeda dengan kamar Zalen, yang suasananya juga berubah drastis. Sebelu

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   137. Merubah Isi Rumah

    Kini, Elena berdiri di sebuah kursi untuk membantunya memaku dinding. "Mam! Ambilkan paku, di sana!" titah Elena dengan suara keras. Hal itu membuat Zalen memukul bokongnya, walau tetap menjalankan perintah sang anak. "Jaga nada bicaramu, Bocah!" tegurnya. Elena hanya tertawa pelan, lalu kembali fokus memasang paku di beberapa bagian tembok untuk tempat hiasan dinding. Keringat mengucur dari keningnya, meski pendingin ruangan sudah berada di suhu paling rendah. Amerta sendiri sibuk memilah barang-barang lama, yang sudah Zalen pisahkan. Rencananya, Amerta akan tinggal di sini selama musim dingin. Karena Zalen dan Amerta sudah bersahabat sangat lama, dan Amerta sedang memiliki masalah dengan keluarganya. Elena menghela napas pelan. "Kenapa tidak palai pengerat saja seperti biasa, Mam? Aku seperti hidup di pedesaan kalau harus seperti ini," gerutunya. Zalen yang sedang ikut memilah barang, langsung berdecak. "Percayalah, hal ini berguna untuk masa depanmu, Elena," sahutnya. Sang

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   136. Keperluan Musim Dingin

    "Mami, mau ikut? Apa kau masih punya banyak pekerjaan?" tanya Elena. Zalen menggeleng pelan. "Mami ikut, banyak yang harus kita beli nanti, dan Mami tidak yakin kau bisa memilihnya."Hampir saja Elena memekik tidak terima, namun Amerta lebih dulu turun dengan pakaian yang sudah berganti. Ketiganya berangkat dengan mobil terpisah, Elena satu mobil bersama Zalen. Karena kata Zalen, mereka akan belanja banyak dan tidak yakin hanya cukup satu mobil. Elena jadi membayangkan, apa saja yang akan dibeli sang ibu hingga akan memenuhi dua mobil? Kemarin, Zalen memang sempat memisahkan beberapa pakaiannya dan Elena yang sekiranya sudah tidak terpakai. Lemari mereka juga hampir kosong, bersisa beberapa dress dan piama satin saja. Kaus-kaus ketat pun dipisahkan, katanya untuk diberikan pada anak-anak buah Zalen di bar. Sekitar lima belas perjalanan, mereka sudah sampai di mall milik Alberto. Tentu saja, Amerta langsung disambut oleh prianya itu di pintu masuk. Seolah lupa dengan kehadiran Z

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   135. Pasar Tradisional

    Cukup melelahkan untuk Elena hari ini, yang tengah sibuk membawa barang belanjaan Amerta di sebuah pasar tradisional yang baru saja buka kemarin. Awalnya, Elena menolak keras karena enggan berdesakan. Ia juga ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar di rumah Zalen, dan bermalas-malasan sebelum nanti mengurus bisnis lagi. Namun, Zalen justru menitahnya dengan keras. Ia berkata, sekaligus belajar menjadi calon istri yang baik. "Apa-apaan calon istri yang baik?! Nanti jika aku menjadi istri siapa pun, aku tidak mau memasak! Aku mau memesan saja, aaaahh!" gerutu Elena. Bibirnya maju beberapa senti, alisnya menukik dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada pengunjung lainnya. Sesekali, Elena akan mencubit lengan Amerta untuk meminta pulang. Namun, wanita itu acuh. Amerta tetap fokus memilih bahan-bahan baku dan memborongnya. "Diamlah, Elena!" desisnya, saat cubitan Elena semakin kuat. Elena menghentakkan kaki, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan rasa panas, sesak, dan beris

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status