Masuk*4. Bersama Tuanku*
Malam ini, Diana kembali pergi untuk membuat konten di kota lain. Ia juga harus membayar kerugian kecil, yang diakibatkan oleh rumor anaknya. Elena sudah selesai dengan pekerjaannya. Makan malam sudah tertata rapih di atas meja makan, dan semua perabotan rumah sudah dibersihkan. Ia mendongak, menatap bulan yang sedikit tertutup oleh awan hitam. Ia menggerakkan kakinya yang berasa di dalam air. Kini, Elena sedang berada di kolam renang, tepat di belakang rumah Riven. Ia menenggelamkan kakinya hingga lutut, agar merasa sejuk dan tenang. Setelan piama satin yang ia pakai, tampak menerawang. Elena juga tidak memakai dalaman, karena sudah dekat waktu tidur. Outer piamanya dibiarkan terjatuh, membuat tubuh bagian atas Elena hanya dibalut kaus bertali satu. "Elena? Kau sedang apa malam-malam di sini?" Wajah Elena menoleh ke belakang. Terlihat sang majikan yang baru saja datang, dengan pakaian santainya. Tanpa ragu atau canggung, Riven mendudukkan diri di samping Elena. Ia juga menenggelamkan kakinya, dan menumpu tubuh dengan kedua tangan di belakang. "Tuan, maaf jika aku memakai ini," celetuk Elena. Ia menaikkan outernya perlahan, rasa canggung membuatnya tidak nyaman. Mata Riven menggulir ke samping. Dapat ia lihat, belahan dada Elena yang sangat bulat dan tampak kenyal. Riven terpaku di sana, matanya terus turun hingga sampai di kaki Elena yang sangat bersih dan terawat. "Kau merawat tubuhmu dengan baik, Elena," ujarnya. Elena tersipu malu, ia terkekeh pelan untuk meredakannya. Matanya terjerat oleh manik gelap Riven, yang kini menatapnya. Perlahan, tangan Riven terangkat untuk meraih paha Elena. Membuat pelayannya itu tersentak kaget, dan spontan mundur. Namun, Riven justru semakin maju. Menahan pinggang Elena dengan sekali gerakan. Ia tenggelam dalam tatapan Riven. Jemarinya pun mulai naik ke rahang sang majikan, lalu mengelusnya dengan lembut. "Tuan? Suaranya mengalun lembut, membuat 'adik' Riven mengeras tiba-tiba. Tak terasa, bibir keduanya sudah bertemu. Mereka terlena dalam cecapan yang semakin dalam, dan menciptakan suara basah. "Bahkan jika kau tidak memakai apapun, aku tidak akan tergoda." Mata Riven yang terpejam, seketika membelalak mengingat perkataannya sendiri. Ia melepaskan penyatuan bibir mereka, dan mendorong pelan tubuh Elena. "M-maaf, Elena." Riven langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Elena masih tersipu di pinggiran kolam. Namun ia juga mengingat, bagaimana Diana menudingnya, dan bagaimana Jay yang tertekan karena keributan mereka. Elena pun ikut bangkit untuk melangkah masuk. Ia harus mengecek kamar Jay. Langkahnya terhenti, kala mendengar suara lirih yang menyebut namanya. "Ahhh ... Elena ... sshh ...." Suara seperti kecipak air pun terdengar, semakin cepat dan intens. Elena menyentuh bagian bawahnya, mengusapnya perlahan sambil menyenderkan diri di daun pintu kamar Riven. Suara sang majikan terdengar semakin berat dan serak, Elena mulai terpancing. Bola matanya berotasi ke belakang, dengan bibir terbuka kecil. "Eennghh, Elena ... arrggh!" Elena pun mendesah pelan, pikirannya kosong seketika. Mendengar suara Riven yang menyebut namanya dengan sensual, membuat Elena semakin terjatuh dalam pesona Tuannya. Setelah napasnya kembali teratur, Elena kembali melangkah dengan kaki gemetar. Ia tetap melihat kondisi Jay, baru kembali ke kamarnya sendiri. Sampai di kamar, Elena meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Ia berbaring telentang, dengan pikiran yang masih berantakan. Ponselnya bergetar, menampilkan nama sang ibu. Ia segera menjawan panggilannya, sebelum ibunya mengomel nanti. "Elena, kau baik-baik saja, 'kan?" Suara ibunya terdengar beradu dengn suara musik, dentingan gelas, dan teriakan orang-orang. Sudah bisa Elena tebak, ibunya berada di klub malam. "Baik, Ibu. Ah! Ibu, Ibu! Aku mendengar Tuan Riven menyebut namaku saat dia sedang 'main', Bu," ujar Elena antusias. Ibunya tertawa di sana, kemudian suara ribut berangsur-angsur hening. Elena mengira, sang ibu berpindah ke tempat yang lebih sunyi. "Ingat selalu tujuanmu, Elena." Elena berdecak malas, saat sambungannya diputus sepihak oleh sang ibu. Selalu seperti itu, ibunya pasti kedatangan 'tamu' istimewa. Mata Elena menatap ke arah atap kamarnya. Bibirnya ia gigit pelan, saat ingatan itu kembali hinggap. Jemari Elena merambat naik ke arah dadanya sendiri, meremasnya perlahan hingga ia mendesah pelan. "Ahhh, Tuan ...." Salah satu tangannya turun, menyentuh bagian bawahnya yang kembali basah. Ia mengusapnya dengan lembut, memutar, naik-turun, lalu menekan titiknya sesekali. Mata Elena menjuling, pikirannya melayang pada kejadian di kolam renang. Bagaimana napas Riven berembus hangat, dan bibirnya yang dihisap oleh sang Tuan. Bibir Elena terbuka, lalu perlahan menganga. Bersamaan dengan jemari kakinya yang menekuk, dan tubuhnya mengejang. "Ahh!" Elena memekik pelan, napasnya tidak beraturan. Ia memejamkan mata karena kantuk yang datang, dan tertidur pulas dengan pikiran kotornya. Sedangkan Riven masih sibuk dengan gelombangnya, yang hampir sampai puncak. Urat yang menjalar di tangan majikan Elena itu, semakin terlihat jelas. Lehernya terangkat, menampilkan jakun yang naik turun. "Ahh! Elena! Eeergh!" Napasnya tidak beraturan, kemudian Riven membuka matanya perlahan. Ia mencuci tangan dan membersihkan tubuhnya, lalu berdiri dengan raut bingung di hadapan cermin. "Tidak. Aku hanya sedang kalut, aku masih mencintai Diana," gumamnya.Hari ini, Elena mengantarkan Jay untuk pulang ke kediaman Riven, mantan majikannya. Ia sudah menyiapkan banyak camilan untuk anak itu bawa pulang, dan bahkan persediaan bahan baku. "Kalau sudah bosan di rumah, jay bisa kapan pun berkunjung ke rumah Oma, ya," ujar Elena. Jay mengangguk dan memberikan senyuman manisnya, membuat Elena terpana dan spontan mengelus lembut pipi Jay. Ia tidak menyangka, akan tetap dipilih oleh anak itu, setelah semua yang terjadi. Jay juga berkata, akan lebih baik ia sendirian, daripada hidup bersama ibunya, Diana. Elena tidak menghasut, atau memaksa Jay. Hal itu yang membuatnya bangga, karena dipilih tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Setelah tujuh belas menit perjalanan, mereka sampai ke sebuah kantor. Ya, kantor milik Riven. Tempat di mana Elena pernah dicacimaki, dan pernah juga mendapat dukungan sekaligus. Mengingat hal itu, Elena sedikit tersipu karena malu. Ia agak menyesal, karena harus terlihat semurah itu di hadapan banyak orang.
"Apa makanannya enak, Jay?" tanya Amerta. Jay mengangguk antusias, ia memakan masakan Elena dengan sangat lahap. Kepalanya sesekali bergoyang ke kanan dan kiri, ketika lidahnya menyecap rasa yang familiar. Setelah memakan masakan utama Elena, ia disajikan sebuah hidangan penutup yang baru saja Elena buat. Katanya, wanita itu mencoba resep baru, dan Jay bersyukur bisa menyicipinya pertama kali. Amerta melihatnya dengan perasaan senang, ia jadi semakin ingin memiliki anak bersama Alberto. Mungkin, kehidupannya nanti bisa jadi sangat baik ketika memiliki anak. Amerta sendiri awalnya tidak ingin memiliki anak, dan memilih hidup berdua dengan Alberto setelah menikah nanti. Pria itu juga tidak menekannya soal anak, namun Amerta seringkali melihat Alberto bahagia ketika bersama anak-anak di panti. Sepertinya, keputusan itu harus ia pikirkan lagi. "Jay, bisa ikut aku sebentar?" Ucapan Elena membuyarkan lamunan Amerta, ia bisa melihat Jay menegang. Bahkan, kunyahannya di mulut berhen
Setelah drama menangis di bawah salju pertama, Elena dan Jay kini pulang bersama ke kediaman Zalen. Wanita itu mengajak Jay untuk pergi ke rumah sang ibu, karena Jay bilang akan pergi main. Jay juga tidak. menolak, dan memilih membatalkan janji mainnya. "Kau sudah besar dan sangat tampan ya, Jay," puji Amerta. Jay tersipu malu, ia menunduk menutupi wajahnya yang bersemu. Sedangkan Zalen berdecih, ia yang kesal dengan Riven, terbawa saat melihat wajah Jay. Anak itu benar-benar semakin mirip Riven, bahkan hampir tidak ada garis wajah Diana di sana. Zalen jadi sangsi, ia bertanya-tanya apakah Jay segitu membenci Diana? Hingga wajahnya saja enggan memiliki garis dari Diana. "Elena! Setidaknya bawa dulu anakmu ini untuk. ganti pakaian, dia terlihat kedinginan," seru Zalen pada Elena. Jay sedikit tersentak, mendengar bagaimana Zalen memanggiknya 'anak Elena'. Ia menyunggingkan senyum tipis, keberadaannya setidaknya masih dianggap. Jay sudah paham, mengenai masalah yang menimpa ayah
Kamar yang sebelumnya bernuansa terang dengan warna-warna merah muda, hijau muda, biru muda, dan putih ini, berganti menjadi lebih gelap. Cat ditutupi oleh wallpaper dinding, yang bercorak berwarna merah, hitam, dan sedikit emas sebagai garis hias. Lampu-lampu tidur dengan elemen langit, seperti awan dan bulan sabit. Ia juga menghias cermin dengan bunga-bunga palsu, bahkan mengganti karpet dengan yang berbulu. Seprai cokelat, yang sepasang dengan selimutnya, masih membalut tubuh Elena. Wanita itu masih tidur dengan nyaman, dan berniat bangun lebih siang hari ini. Matanya terasa sangat berat, setelah seharian menata ruangan. Isi lemarinya juga sudah berubah, didominasikan oleh pakaian berbulu, dan pakaian yang ukurannya besar. Aroma ruangan yang sebelumnya seperti mawar, berubah menjadi seperti tanah basah setelah hujan. Bahkan tirai penutup jendela dan balkon, juga diganti menjadi warna hitam. Tidak jauh berbeda dengan kamar Zalen, yang suasananya juga berubah drastis. Sebelu
Kini, Elena berdiri di sebuah kursi untuk membantunya memaku dinding. "Mam! Ambilkan paku, di sana!" titah Elena dengan suara keras. Hal itu membuat Zalen memukul bokongnya, walau tetap menjalankan perintah sang anak. "Jaga nada bicaramu, Bocah!" tegurnya. Elena hanya tertawa pelan, lalu kembali fokus memasang paku di beberapa bagian tembok untuk tempat hiasan dinding. Keringat mengucur dari keningnya, meski pendingin ruangan sudah berada di suhu paling rendah. Amerta sendiri sibuk memilah barang-barang lama, yang sudah Zalen pisahkan. Rencananya, Amerta akan tinggal di sini selama musim dingin. Karena Zalen dan Amerta sudah bersahabat sangat lama, dan Amerta sedang memiliki masalah dengan keluarganya. Elena menghela napas pelan. "Kenapa tidak palai pengerat saja seperti biasa, Mam? Aku seperti hidup di pedesaan kalau harus seperti ini," gerutunya. Zalen yang sedang ikut memilah barang, langsung berdecak. "Percayalah, hal ini berguna untuk masa depanmu, Elena," sahutnya. Sang
"Mami, mau ikut? Apa kau masih punya banyak pekerjaan?" tanya Elena. Zalen menggeleng pelan. "Mami ikut, banyak yang harus kita beli nanti, dan Mami tidak yakin kau bisa memilihnya."Hampir saja Elena memekik tidak terima, namun Amerta lebih dulu turun dengan pakaian yang sudah berganti. Ketiganya berangkat dengan mobil terpisah, Elena satu mobil bersama Zalen. Karena kata Zalen, mereka akan belanja banyak dan tidak yakin hanya cukup satu mobil. Elena jadi membayangkan, apa saja yang akan dibeli sang ibu hingga akan memenuhi dua mobil? Kemarin, Zalen memang sempat memisahkan beberapa pakaiannya dan Elena yang sekiranya sudah tidak terpakai. Lemari mereka juga hampir kosong, bersisa beberapa dress dan piama satin saja. Kaus-kaus ketat pun dipisahkan, katanya untuk diberikan pada anak-anak buah Zalen di bar. Sekitar lima belas perjalanan, mereka sudah sampai di mall milik Alberto. Tentu saja, Amerta langsung disambut oleh prianya itu di pintu masuk. Seolah lupa dengan kehadiran Z







