Share

Bab 211

last update publish date: 2026-04-09 09:32:43

Tepat di saat Bara sudah menyiapkan semuanya untuk ikut berangkat bersama papanya, Mbak Maya melihatnya.

"Hai Bara, kamu mau ke mana?" tanya Mbak Maya.

"Ini, Ma, aku mau ikut sama Papa menjemput anak-anak," jawab Bara.

"Tidak usah, kamu nggak usah ikut. Kalau kamu pergi siapa laki-laki di rumah ini? Kalau ada apa-apa gimana?" kata mamanya langsung melarangnya buat ikut.

"Tapi, Ma, kan cuma sebentar. Lagian kan Ali bakalan pulang," kata Bara.

"Bara, sudah berapa kali Mama harus nasehatin kamu, k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 219

    Singkat waktu setelah semuanya terasa selesai, Roni turun dari atas Mbak Maya lalu berbaring di sampingnya. Suara napasnya seperti orang yang habis lari seratus kali keliling lapangan, begitu juga dengan Mbak Maya yang juga dibuat kelelahan.“Sekarang otakku kembali bisa bekerja setelah mendapatkan penyemangat darimu. Sayang, makasih ya. Eh, kamu istirahat saja dulu, aku ingin lanjut bekerja sebentar,” kata Roni sambil bangkit dari atas tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya, segera keluar untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.Mbak Maya hanya bisa menatapnya keluar sembari mengusap keringat di wajahnya. Dia benar-benar letih sekarang, bukan hanya karena kejadian tadi, tapi memang dia sudah capek dari awal mengurus rumah beserta bayinya. Ya, walaupun di rumah mereka pembantu banyak, akan tetapi Mbak Maya tidak suka terlalu memakai jasa pembantu mereka. Baginya, selama dia masih bisa, dia tidak akan meminta bantuan siapa pun termasuk pembantunya.Mbak Maya pun m

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 218

    Roni kembali ke ruangannya untuk melanjutkan apa yang perlu dia kerjakan. Dia mulai membuka dokumen yang diberikan oleh Maria, lalu melihat bagian mana saja yang perlu dia tangani.“Maria benar-benar lumayan juga, banyak juga yang dia perbaiki dalam waktu singkat. Sepertinya aku butuh banyak bantuan darinya saat ini,” gumam Roni saat melihat hasil kerja keras Maria dalam waktu singkat menangani perusahaan yang sedang anjlok seperti sekarang.“Tapi sepertinya dia harus beristirahat dulu. Baiklah, aku akan memulai dari yang terendah dulu,” Roni menutup dokumen itu lalu mengambil yang lainnya lagi.Tapi tiba-tiba pandangannya terasa buram. Rasanya tubuhnya membutuhkan sesuatu.“Astaga, kok aku merasa aneh gini. Jangan-jangan karena semalam gak dapetin penyemangat. Bagaimana ini, kerjaanku masih banyak pula,” gumamnya.Ya, Roni merasa kurang bersemangat karena dia membutuhkan kelembutan istrinya. Ini pasti karena semalam dia harus menahan diri setelah sempat terpancing oleh Miya yang ujun

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 217

    Malam harinya terlihat Roni baru bangun dari tidurnya, dia menguap masih merasa ngantuk, hanya saja perutnya juga terasa lapar harus diisi.Sekalinya tidur, Roni bisa dari pagi hingga sore, itulah mengapa tenaganya selalu kuat, dimana sekali istirahat lama tapi dibalas juga dengan kesibukan yang tiada henti yang dilakukannya."Akhirnya kamu bangun juga, ayo kita makan malam bersama, sepertinya sudah ditungguin sama Mama juga," kata Mbak Maya yang baru keluar dari kamar mandi melihat Roni sudah bangun."Baik, aku juga lapar," jawab Roni sembari bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk membasuh muka, setelah itu menyusul Mbak Maya ke ruang makan.Di sana sudah banyak menunggunya, kecuali Miya dan juga Meli."Meli mana?," tanya Roni saat tidak melihat salah satu di antara mereka di meja makan."Dia menginap, katanya di tempat anak-anak," jawab Mbak Maya sambil menyiapkan nasi di atas piring Roni."Dia mungkin masih rindu sama mereka, baiklah biarin saja," respon Roni."Lah, kalau Miya?

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 216

    Sementara di tempat lain terlihat Bara mendekati Lola yang sedang menyusui anak mereka, terlihat dari raut wajahnya kalau dia sedang gelisah."Ada apa sayang, kenapa wajahmu terlihat gelisah sekali?," tanya Bara, yang awalnya ingin langsung memberitahu Lola soal Sera."Ini Leon dari tadi menangis terus, suhu tubuhnya agak turun dari tadi pagi, sepertinya dia gak enak badan deh," jawab Lola.Bara menjulurkan tangannya menyentuh pipi putra kecilnya, dan benar tubuh Leon terasa panas."Sepertinya dia demam deh, kamu udah beritahu Mama?," tanya Bara."Belum, Mama, aku lihat seperti banyak pikiran jadi aku gak enak kalau ganggu, gimana ini aku khawatir sekali," kata Lola, dan saat itu juga Leon kembali menangis."Sini, biar aku yang gendong, aku akan bawa ke Mama," kata Bara, iya bagaimana pun mamanya seorang mantan dokter, jadi dia pasti tahu kondisi Leon saat ini jika ia diberitahu.Saat digendong oleh Bara, tangis Leon semakin menjadi-jadi, sampai-sampai wajahnya memerah."Apa dia dari

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 215

    Singkat waktu setelah tiba di Jakarta, Roni dan Bara ditanyai langsung oleh Mbak Maya hasil pembicaraan mereka dengan Tuan Kim.“Gimana hasilnya, apa semua lancar?” tanya Mbak Maya.“Iya, begitulah. Bara beritahu mamamu, papa capek sekali, sepertinya papa butuh istirahat dulu,” kata Roni, meminta Bara untuk memberitahu mamanya hasilnya. Roni mengecup kening Mbak Maya lalu masuk ke dalam rumah.“Eh, ada Sera. Nenek gak tahu kalau kamu juga ikut pulang,” kata Mbak Maya saat melihat Sera juga turun dari mobil.“Iya nih, Nek, sera di ajak papa. Nenek apa kabar? Pengen ketemu paman kecil, paman kecil dimana?” balas Sera, dan yang dimaksud Sera ialah Arga.“Ada tuh di dalam, ayo masuk saja lagi sama Bibi Lia,” jawab Mbak Maya. Sera pun langsung masuk ke dalam untuk menemui Lia dan Arga, karena sudah biasa juga di rumah itu jadi dia gak malu-malu.“Bara, gimana hasilnya, apa ada keputusan?” Mbak Maya mulai bertanya serius ke putranya mengenai hasil pertemuannya dengan Tuan Kim. Bara pun menj

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 214

    “Saran kamu memang bagus, Roni,” ucap Tuan Kim, “tapi maaf, aku hanya ingin melihat cucuku menikah di saat-saat terakhirku. Kondisiku semakin hari semakin memburuk, aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Aku akan merasa jauh lebih tenang jika melihat dia sudah menikah sebelum aku pergi. Jadi seperti yang kubilang tadi, kalau Bara tak setuju menikahinya, maka aku terpaksa harus menikahkannya dengan rekan bisnisku,” lanjutnya, memberi pilihan kepada Roni dan Bara.“Apakah Anda meragukan saya?” tanya Roni.“Tidak,” jawab Tuan Kim pelan, “aku sama sekali tak pernah meragukanmu. Tapi keinginanku memang hanya itu saja.”Bara yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.“Baik, aku setuju menikahi Sera,” ujarnya.Ia sadar, tak ada pilihan lain. Dalam pikirannya, hanya itu jalan keluarnya. Setelah menikahi sera nanti Tuan Kim bisa merasa tenang di akhir hidup. Setelah itu, Bara bisa menceraikan Sera dan membiarkannya memilih pasangan hidupnya sendiri. Jadi bisa dibilang, Bara menikahi Sera

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 52. Iseng Ke Anak Sendiri

    Bara terus saja menatap ke arah Roni dengan tatapan tidak suka, tapi Roni justru menyukai tatapan itu. Tanpa sadar, Roni seperti melihat dirinya sendiri. Saat memperhatikan bibir dan hidung Bara, Roni merasa seperti melihat seseorang, tapi ia lupa siapa orang itu."Aku merasa dia persis seperti waj

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 51. Menemui Mbak Maya

    Keesokan harinya, Roni pun berangkat ke Surabaya dengan berbekal tekad demi bisa menemui Mbak Maya. Saat baru turun dari pesawat di Bandara Internasional Juanda, Roni mulai bingung ke mana ia harus pergi. Ia mencoba mencari nama-nama kampung di Google, tetapi jumlahnya sangat banyak. Tidak mungkin

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 47. Karena Kita Adalah Teman

    Di tempat lain, terlihat Mbak Maya sedang mengemasi semua barang-barangnya, termasuk perlengkapan dokternya. Sepertinya dia akan pergi dari rumah Rocky. Kebetulan saat itu, Rocky baru pulang dan langsung melihat Mbak Maya memasukkan pakaian ke dalam koper."Kamu hendak ke mana?" tanya Rocky kepada

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 43. Pernikahan Roni Dan Ayu

    Hari ini, cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan indah, langit tampak biru tanpa awan sedikit pun. Di sebuah gedung mewah yang megah, tampak banyak orang berkumpul dengan wajah penuh senyum dan pakaian rapi. Mereka semua datang untuk menyaksikan sebuah acara sakral yang begitu dinanti-nantika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status