LOGINDi keesokan paginya, Ali terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pening, apalagi saat dia membuka mata, rasa nyilu terasa di matanya. Tepat saat dia mengeliat, dia langsung merasakan sebuah tangan melingkar memeluknya, membuatnya langsung menoleh ke samping, di mana dia langsung melihat Liona ternyata tidur di sampingnya sambil memeluknya.Ali bingung, dia tidak tahu apa yang terjadi semalam. Dia benar-benar tak ingat semuanya. Perlahan tapi pasti, dia mencoba melepaskan tangan Liona dari badannya agar Liona tak terbangun. Setelah itu, Ali keluar dari selimut sambil turun dari atas tempat tidur.Tepat setelah itu, Ali seketika dikagetkan dengan kondisi dirinya yang tak memakai pakaian sehelaipun.“Apa-apa yang terjadi semalam? Apa aku? Tidak… ini tidak mungkin…,” gumamnya. Kejadian semalam benar-benar tidak ada sedikit pun diingat oleh Ali. Jawaban dari pertanyaan Ali pun akhirnya terjawab ketika dia tak sengaja melihat bercak merah di atas seprai, membuat matanya langs
Malam harinya, terlihat Ali, Liona, dan papanya bersiap untuk menikmati makan malam bertiga di rumah yang ditempati Liona.“Sebentar, kok bisa makanan seenak ini? Siapa yang buat? Pasti kamu kan, Ali?” tanya papanya Liona, kaget melihat makanan yang dihidangkan terlihat enak-enak sekali, bisa tercium dari wanginya.“Eee… iya, Om. Liona juga yang membantu,” jawab Ali.“Serius? Liona, kamu emang sudah bisa masak nih?” tanya papanya langsung ke Liona, sebab setahunya Liona tak bisa masak. Jangankan memasak, ke dapur saja membantu mamanya waktu di Rusia Liona gak pernah.“Ehehe… iya, Pa. Aku… aku belajar memasak, dan Ali yang mengajariku,” jelas Liona jujur. Ia terlihat sangat senang sekali karena sekarang sudah bisa memasak.“Sebentar, Papa cicipin dulu. Yang mana buatan kamu?” kata papanya, dan Liona pun menunjuk ke arah sup dan pangsit yang ada di atas meja.Papanya langsung mencicipi. “Hmm… serius ini kamu yang buat? Enak sekali loh,” kata papanya memuji hasil masakan putrinya karena
Siang harinya, Tuan Folio akhirnya tiba di kampung itu setelah melewati perjalanan panjang dari Rusia.Melihat papanya tiba, Liona menyambutnya dengan pelukan. Di sana juga ada Roni dan kedua putranya yang menyambut kedatangan Tuan Folio."Hai sayang, bagaimana kabarmu?" tanya papanya sambil memeluk Liona."Baik, seperti yang papa lihat," jawab Liona sambil memeluk erat sang papa."Wah Roni, kau di sini juga? Astaga, aku kira tadi pekerja di ladangmu. Tak kusangka ternyata kamu," kata Tuan Folio saat menoleh ke samping di mana Roni dan kedua putranya berdiri."Dasar, bisanya kau melupakan wajah tampan ini. Bagaimana perjalananmu? Lancarkan?" balas Roni sambil membalas candaan Tuan Folio."Ya, lancar-lancar saja. Kamu sendiri gimana, sehat? Astaga, sudah lama sekali kita tidak bertemu, tak kusangka wajahmu terlihat selalu muda.""Haha... terima kasih. Oya, kenalin ini kedua putraku. Yang ini namanya Ali, dia yang membantuku mengurus bisnis di sini, dan ini adiknya, Xyro.""Halo om, sen
Setelah berbicara sebentar berdua, Ali dan Xyro kembali menemui papa mereka dan Liona."Pa, maaf aku sebelumnya gak memberitahu papa kalau aku tinggal sendirian di sini dan keluar dari rumah kakek sama nenek," ucap Ali."Ah iya gak apa-apa, papa mengerti kok. Pokoknya kamu jangan ambil hati sikap kakek dan nenek kamu, sebab walau bagaimanapun dia kakek dan nenek kamu. Sifat mereka memang begitu, jadi jangan membenci mereka ya," pesan Roni.Iya, Roni mengetahui semuanya sebab tadi dia mampir di rumah mertuanya itu untuk membawakan oleh-oleh buat mereka. Walaupun Roni tidak menyukai sikap mereka, Roni tetap melakukan tugasnya sebagai seorang menantu. Setiap dia datang, dia selalu membawakan sesuatu untuk mereka dan menyapa mereka dengan baik. Mereka juga tadi bercerita alasan Ali keluar dari rumah mereka, di mana mereka secara terus terang berkata kalau Ali terlalu manja, membuat mereka menegurnya. Dan kata mereka karena teguran itu Ali memutuskan buat ninggalin rumah dan memilih tingga
Kembali ke AliAli melihat Liona tiba-tiba senyum sendirian setelah menerima panggilan dari papanya."Bahagia banget, ada apa?" tanya Ali langsung."Ah, itu papa tadi beritahu aku kalau dia besok datang menyusul ke sini dan kembali ke Rusia bersamanya nanti," jawab Liona."Wah, jadi papa kamu serius nih bakal beli lahan ini sebagian?""Iya, begitu sih katanya tadi, biar kalau datang ke sini ada tujuan gitu katanya," jelas Liona."Oh begitu ya, bagus dong. Ee, aku titip Elina ya sebentar, aku mau pergi beli susu buatnya. Tadi waktu ke warung sudah habis, jadi perlu pergi ke supermarket," kata Ali."Jauh ya supermarket di sini?""Gak sih, cuma tiga puluh menitan kalau pakai kendaraan. Memangnya kenapa?""Ee, aku mau nitip pembalut kalau boleh. Tapi kamu gak malu kan belinya? Persediaanku habis," ucap Liona, dia mau pesan pembalut."Oh ya, baiklah. Gak kok, aku gak malu. Udah biasa dulu aku juga sering beliin mendiang istriku," ujar Ali sama sekali tidak keberatan atau malu disuruh beli
Setelah menenangkan diri sebentar, Liona melangkah menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah itu, setelah berpakaian rapi, dia sudah siap berangkat melihat-lihat ladang. Liona terlebih dahulu menuju rumah Ali, dia tidak tahu bahwa Ali sudah berangkat duluan tadi.“Ali, aku dah siap nih, kamu udah siap belum?” panggilnya dari luar, mengira Ali masih di dalam rumah. Setelah memanggil beberapa kali tapi tak ada jawaban, Liona akhirnya masuk, tapi tak menemukan Ali di dalam.“Apa dia berangkat duluan ya? Padahal aku dah berpesan berangkat bareng tadi, hemm gak apa-apa deh,” Liona mau gak mau pergi sendirian.Karena jarak rumah tak jauh dari gudang, Liona pun tiba dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Saat tiba di sana, dia melihat Elina sedang digendong oleh satpam di sana. Dari sana dia tahu bahwa Ali memang sudah di sini.“Halo,” sapa Liona ramah ke satpam itu.“Halo juga, Nona. Oya, tumben gak berangkat bareng Tuan Ali, biasanya bareng loh?” tanya satpam itu.“Gak tahu tuh, Ali malah ni
“Saran kamu memang bagus, Roni,” ucap Tuan Kim, “tapi maaf, aku hanya ingin melihat cucuku menikah di saat-saat terakhirku. Kondisiku semakin hari semakin memburuk, aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Aku akan merasa jauh lebih tenang jika melihat dia sudah menikah sebelum aku pergi. Jadi se
Setelah membicarakan soal masalah itu, Roni sebelum berangkat ke Surabaya memutuskan untuk pulang dulu dengan diikuti oleh Mbak Maya, sementara Meli masih tinggal untuk melepas rindu kepada anak-anak itu. Roni dan Mbak Maya memberikannya waktu untuk itu.Sesampainya di rumah, Ali yang sudah menungg
Bara, ikut mama, mama mau ngomong sebentar denganmu," tiba-tiba Mbak Maya keluar dan menemui Bara yang sedang menggendong bayinya di halaman rumah."Baik, Ma," Bara pun mengikuti mamanya masuk."Ada apa, Ma? Sepertinya serius sekali?" tanya Bara, sebab ini adalah kali pertama mamanya ingin berbicar
Roni mulai menyentuh dada Miya yang membuat Miya menutup matanya. Saat Roni menyadari bahwa dada Miya besar, dia semakin tidak bisa menahannya. Roni membantu Miya melepaskan bajunya dan mencium lehernya, sementara tangan Miya diarahkan ke sosis hangat Roni, sementara tangan Roni bermain di dada Miy







