LOGINMalam semakin larut, namun kantuk tak kunjung hinggap di mata Andien.Bantal busa yang menopang kepalanya terasa kaku. Pendingin udara tak ada, hanya ada embusan angin dari kipas angin gantung tua yang berderit perlahan di langit-langit kamar. Di sampingnya, ibunya Ucup—yang biasa dipanggil Mak Eha—sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur.Andien merebahkan tubuhnya menghadap ke kanan, menatap dinding cat kapur yang sudah agak mengelupas. Beberapa detik kemudian, rasa tak nyaman membakar punggungnya. Ia berbalik ke kiri, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Namun, pikirannya tetap melayang-layang. Kasur busa tipis yang diletakkan langsung di atas lantai semen berubin dingin itu benar-benar asing baginya. Terbiasa dengan kasur empuk beranjang tinggi di rumahnya, tubuh Andien terasa serba salah.Srett.Andien membalikkan badannya lagi ke kanan. Ia helat napas panjang, berusaha memejamkan mata erat-erat. Namun tetap saja, matanya terbuka lebar.Akhirnya, dengan sangat perlaha
Andien tetap duduk tenang, meski jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ia memperhatikan dinamika di depannya dengan cermat. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya tatapan tajam dan penuh perhitungan khas seorang wanita karir yang biasa menghadapi perundingan sulit. "Hak apa lagi, Rina?" Ucup maju satu langkah, berdiri melindungi posisi Mama dan Andien di belakangnya. "Tiga tahun lalu kamu yang tinggalkan Syakila waktu dia masih kecil demi ikut laki-laki lain! Kamu yang bilang enggak mau repot ngurus anak karena hidupku susah. Selama ini aku yang banting tulang kirim uang tiap bulan buat Syakila dan Mama. Kamu pernah tanya kabar Syakila? Enggak pernah!" "Itu kan dulu!" sahut Rina tanpa rasa malu, suaranya meninggi. "Sekarang kamu kelihatan sudah sukses, ya wajar kalau aku minta bagian! Lagipula, Syakila itu anak kandungku. Kalau kamu punya uang banyak, harusnya biaya hidupku juga dibantu sebagai ibu dari anakmu!" Ucup mengurut pelipisnya, napasnya memburu menahan emosi yang mem
"E-oh... masuk, masuk! Ya Allah, sampai lupa disuruh masuk," seloroh Mamanya gagap karena canggung. "Ayo Nak, masuk...""Iya, Bu, terima kasih," jawab Andien ramah, melepas alas kakinya dengan sopan sebelum melangkah masuk ke dalam rumah kayu yang hangat itu.Di dalam ruang tamu yang beralaskan karpet sederhana, Mama Ucup bergegas ke dapur dan kembali membawa sepinggan keripik singkong renyah serta dua cangkir teh hangat yang masih berasap."Minum dulu, Nak... maaf ya, di kampung cuma ada teh rebus begini," ujar sang Mama canggung."Wah, justru ini yang paling enak, Bu. Aroma teh tubruknya harum banget," balas Andien tulus. Tanpa ragu, ia meraih cangkir seng itu dan menyesapnya pelan, lalu mengambil sepotong keripik singkong. "Gurih banget keripiknya, Ibu bikin sendiri?"Melihat Andien yang sama sekali tidak canggung atau bersikap selektif, ketegangan di wajah Mama Ucup perlahan mencair. Syakila pun mulai berani duduk di dekat Andien, sibuk membongkar kantong oleh-oleh permen dan main
Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menembus celah-celah tirai saat Ucup selesai merapikan tas pakaian kecil di sudut ruang tamu. Setelah dinamika pekerjaan yang menguras tenaga dan malam tenang yang mereka lalui bersama, ada satu hal penting yang ganjal di hatinya—sesuatu yang selama ini belum sempat ia perkenalkan sepenuhnya kepada Andien.Ia menghampiri Andien yang sedang menyesap teh manisnya di teras depan."Ndien... ayo kita ke kampungku," ajak Ucup tiba-tiba, menatap Andien dengan raut wajah penuh harap namun sedikit ragu.Andien menaruh cangkirnya perlahan, agak terkejut dengan ajakan mendadak itu. "Ke kampung Abang?" tanya Andien seraya memiringkan kepala. "Jauh enggak?""Ya... kira-kira empat jam perjalanan kalau lancar," jawab Ucup pelan. Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Nanti... aku kenalkan kamu sama anak saya. Namanya Syakila."Mendengar kata-kata itu, binar di mata Andien berbinar hangat. Tidak ada raut keberatan atau terkejut berlebihan di wajahnya.
Malam harinya, riuk pikuk kawasan bisnis dan ketegangan ruang rapat Vanguard Apparel berganti dengan kehangatan sebuah kedai makan sederhana di pinggir jalan—tempat favorit Ucup dan Andien sejak dulu. Di bawah pendar lampu kekuningan dan denting piring kaleng, aroma ketan bakar gurih dan dua cangkir teh jahe hangat menemani perayaan kecil mereka. Kontrak resmi bernilai fantastis itu kini tersimpan rapi di dalam tas Ucup, namun pria itu masih sering melirik tasnya seolah takut dokumen berharga tersebut mendadak lenyap. Andien yang duduk di hadapannya terkekeh pelan, menopang dagu dengan kedua tangan seraya memperhatikan tingkah Ucup. "Masih belum percaya juga, Bang? Kontraknya nyata, kok. Tanda tangan Bang Ucup dan stempel basah Vanguard Apparel di dalamnya juga asli." Ucup menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepala dengan senyum keheranan yang tak kunjung pudar dari wajahnya. "Jujur, Ndien... rasanya masih seperti mimpi. Tadi siang waktu memegang pulpen di depan Pak Hendra,
Gedung pencakar langit Vanguard Apparel berdiri megah di kawasan bisnis utama. Dinding kaca besarnya memantulkan cahaya matahari siang, memancarkan kesan elegan dan eksklusif.Ucup berdiri di depan pintu kaca otomatis gedung tersebut, merapikan kerah kemeja yang sudah disetrika rapi oleh Andien tadi pagi. Ia menghembuskan napas panjang untuk meredakan deburan di dadanya. Di sebelahnya, Andien tampil anggun dengan blazer kasual, menggenggam erat tangan Ucup untuk mengalirkan keberanian."Tenang, Bang. Ingat, mereka yang mengundang Bang Ucup ke sini karena mereka melihat potensi besar dalam diri Bang Ucup," bisik Andien lembut sambil tersenyum menyemangati.Ucup mengangguk pelan, menggenggam balik jemari Andien. "Terima kasih, Ndien. Bismillah..."Di dalam lobi utama, Dion sudah menunggu dengan senyum lebar. Setelah menyapa hangat, Dion memandu mereka bertiga menuju ruang rapat direksi di lantai tujuh belas. Langkah kaki Ucup terasa sedikit berat saat melewati lorong-lorong berkarpet te
Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter
Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. "Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. Suara itu begitu
Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. Han







