Partager

Bab 26 Deal

Auteur: J Shara
last update Date de publication: 2026-04-21 18:11:37

"Akrab sekali... Pasti kamu godain dia kan?!" tuduh Hana langsung, suaranya ketus saat ia menghempaskan tubuhnya ke kursi.

Ucup tergagap, wajahnya memerah padam. "Tidak kok, Hana! Sumpah! Dia yang datang sendiri dan ajak aku ngobrol. Kebetulan dia bisa sedikit bahasa Indonesia, tapi ya itu... ngomongnya seperti orang cadel, lucu sekali."

Hana tidak menjawab. Ia mengerucutkan bibirnya kesal, matanya menatap tajam ke arah saku celana Ucup. "Pokoknya kamu jangan macam-macam sama bule itu. Ingat,
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
iema Rezmi
mna lanjut nye
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 35 Kartu Nama Sang Nyonya

    Mereka sampai di sebuah rumah sakit swasta yang sangat mewah. Ucup langsung mendapatkan penanganan VIP. Ternyata, wanita itu bukan sekadar orang kaya; dia adalah pemilik jaringan rumah sakit tersebut. Setelah lengannya dijahit dan diperban dengan rapi, Ucup duduk di ruang tunggu pribadi yang sangat nyaman. Wanita itu masuk kembali ke ruangan setelah mengganti pakaiannya yang sedikit terkena noda darah. Ia duduk di depan Ucup, menatap pria itu dengan penuh minat. "Siapa namamu?" tanyanya sambil menyodorkan segelas air putih. "Yusuf," jawab Ucup singkat. "Tapi orang-orang biasanya memanggilku Ucup." "Oh... Ucup..." Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan anggun. "Perkenalkan... namaku Hana." Ucup nyaris tersedak air yang baru saja diminumnya. Ia menatap wanita di depannya dengan tatapan tidak percaya, matanya membelalak seolah melihat hantu. "Hana?" gumam Ucup lirih. Jantungnya berdetak kencang bukan karena gairah, melainkan karena kebingun

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 34 Pertemuan di Balik Luka

    Hana menunduk, ia menarik tangannya dari genggaman Ucup. Ia melihat ke arah sutradara dengan tatapan memohon. "E... ini... aku juga nggak kenal, Kak. Mungkin orang lewat yang salah paham," kata Hana dengan suara lirih. Bagai disambar petir di siang bolong, Ucup mundur selangkah. "Hana? Apa maksudmu nggak kenal aku? Aku ini Bang Ucup! Kita baru saja sarapan bareng pagi tadi! Kenapa kamu bohong? Dan kenapa orang itu memanggilmu Andien?" Seorang kru syuting mendekat dan menatap Ucup dengan jijik. "Oh... itu kuli yang kerja di proyek bangunan seberang jalan itu, Pak Sutradara. Lihat saja bajunya, penuh semen begitu." "Ngapain kuli ada di lokasi syuting kelas atas begini? Ada-ada saja! Penjaga mana?! Kenapa orang asing bisa masuk?!" bentak Pak Sutradara lagi. "Kuli?" gumam Hana pelan. Ia menatap Ucup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada kilatan rasa heran dan tidak percaya di matanya. Pria yang semalam memeluknya dengan begitu jantan di kamar hotel mewah, ternyata benar-benar s

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 33 Benturan Dua Dunia

    Ucup menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa nasi goreng yang tadi terasa nikmat mendadak jadi hambar. Ia memandang piringnya, otaknya berputar cepat mencari kebohongan yang masuk akal. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya adalah seorang kuli bangunan yang seharian memanggul semen dan mengaduk pasir. Ia takut Hana akan merasa ilfeel atau memandangnya rendah. "Itu... aku bagian pengawasan lapangan, Hana," jawab Ucup akhirnya, suaranya sedikit rendah. "Aku lebih banyak di lokasi proyek untuk mengecek ketersediaan material. Jadi bajunya ya... baju lapangan biasa. Kalau pakai kemeja formal pilihanmu, nanti malah cepat kotor kena debu semen dan panas matahari." Hana tampak manggut-manggut, meski matanya masih menyiratkan sedikit keraguan. "Oh, orang lapangan ya? Pantas saja badan Abang bisa sekekar itu. Tapi tetap saja, kan bisa pakai kemeja yang agak rapi sedikit." "Nggak usah, Hana. Biar aku pakai yang biasa saja. Aku sudah terbiasa begitu," potong Ucup cepat, ia segera meng

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 32 Rahasia yang Tersedak

    Tanpa aba-aba, Ucup langsung menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hana, seakan-akan jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, Hana akan berubah menjadi bayangan dan menghilang seperti dalam mimpinya tadi. "Bang... sesak, Bang," gumam Hana kecil, namun ia tidak berontak. Ia justru melingkarkan tangannya di punggung Ucup, mengusapnya perlahan untuk memberikan ketenangan. "Cuma mimpi, Bang. Aku di sini." "Jangan pergi, Hana... Tolong, jangan pernah pergi karena siapa aku sebenarnya," bisik Ucup pelan, suaranya bergetar menahan tangis. Hana terdiam sejenak. Kalimat Ucup barusan menghantam nuraninya yang paling dalam. Ia tahu bahwa ia pun sedang bersandiwara, bahwa ia pun sedang menyimpan rahasia besar tentang siapa dirinya sebenarnya. Rasa bersalah kembali merayap di hati Hana, membuatnya semakin erat membalas pelukan Ucup. "Aku nggak ke mana-mana, Bang. Aku di sini, sama kamu," sahut Hana liri

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 31 Mimpi dan Janji di Balik Pelukan

    Arif yang sedang menelan minumannya langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah, sementara wanita di sampingnya sibuk menepuk-nepuk punggungnya. "Apa?! Kau suka sama tante-tante itu? Kok bisa, Cup?" tanya Arif tak percaya setelah napasnya kembali normal. Ia menatap Ucup seolah Ucup baru saja mengatakan ingin menikahi sebuah pohon. "Bagaimana aku tidak suka dengan cewek seperti dia?" jawab Ucup tulus, suaranya mantap tanpa keraguan. "Dia cantik, seksi, elegan, dan hatinya sangat baik. Dia punya sisi lembut yang mungkin tidak kamu tahu, Rif." Bukannya bersimpati, Arif malah meledak dalam tawa yang menggelegar. Suaranya begitu keras hingga beberapa pengunjung kafe lain berbalik menatap mereka dengan heran. "Apa kau bilang? Cantik? Seksi? Tante-tante seperti itu kamu bilang seksi? Wah, seleramu benar-benar ajaib, Cup!" Arif menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Tapi... tidak apa-apa sih. Bagus malah. Setelah kuceraikan wanita itu

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 30 Rahasia di Balik Secangkir Kopi

    [Kanjeng Bos]: "Kamu sudah di Jakarta? Aku sudah mentransfer 70 juta ke rekeningmu. Cek sekarang. Ingat, jangan sampai bocor. Kamu harus terus berakting sempurna di depan pria itu sampai instruksi selanjutnya." Hana hanya membaca pesan itu dengan tatapan datar. Ia tidak membalas. Baginya, uang itu adalah jaminan hidup, tapi melihat Ucup di depannya membuat hatinya sedikit terasa berat saat membaca kata "akting". Tak lama, chat lain masuk dari kontaknya yang bernama 'Rian'. Rian: "Hai, sudah di Jakarta kan? Ada sutradara yang sedang cari pemain baru. Peran kecil saja sih, jadi pelayan di film drama, tapi lumayan bayarannya." Hana: "Berapa?" Rian: "2,5 juta sehari. Cuma butuh 3 hari saja. Kamu berminat?" Hana: "Iya. Aku bersedia. Kirim lokasinya." Wajah Hana seketika berseri-seri. Uang 70 juta dari orang misterius ditambah bayaran syuting, masa depannya tampak cerah. Ia mematikan ponselnya dan menoleh ke arah Ucup yang sedang meletakkan koper. "Bang Ucup, besok Abang mau

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 6 Kebenaran di Balik Kelambu Sutra

    ​Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 3 Antara Gairah dan Kegelapan

    ​Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. ​Han

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 2 Di Balik Pintu 918

    ​Udara di lobi hotel bintang lima itu terasa dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Ucup jauh lebih dingin dari embusan AC central. Di hadapannya, Arif, sahabat karibnya sejak zaman bermain kelereng, menyodorkan sebuah benda kecil pipih yang diletakkan di telapak tangan. ​"Arif, a

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 1 Permintaan

    "Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status