Share

Bab 92 Kota Pemaaf

Penulis: J Shara
last update Tanggal publikasi: 2026-11-01 18:06:53
Hati Ucup bagai diiris sembilu melihat putrinya menangis. Namun, ia sadar jika ia terus membiarkan Rina di sini, ia akan kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Ucup berjongkok di hadapan Syakila, mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Syakila dengar Papa, ya..." suara Ucup bergetar hebat, menahan air mata. "Papa tetap ayahmu. Papa akan tetap membiayai sekolahmu, memenuhuin kebutuhanmu, dan datang menemuimu kapan pun kamu mau. Tapi... Papa tidak bisa b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 95 Awal Kehabagiaan—TAMAT

    Langkah Ucup terhenti sesaat sebelum ia mencapai ambang pintu keluar galeri. Di tengah riuhnya para tamu yang sibuk mengagumi karya seni, suara langkah kaki seseorang yang mendekat dengan cepat berhasil membuatnya menoleh. Itu Andien. Wanita itu berjalan cepat, menerobos kerumunan tamu undangan tanpa memedulikan tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya. Napas Andien sedikit tersengal ketika ia berdiri tepat di belakang Ucup yang masih mematung kebingungan. Sebelum Ucup sempat berkata apa-apa, Andien melangkah maju dan merengkuh tubuh pria itu erat-erat dari belakang. Kedua tangannya melingkar di pinggang Ucup, menenggelamkan wajahnya di punggung pria tersebut. Ucup terkejut bukan main. Tubuhnya menegang kaku, matanya membelalak tak percaya. Seketika, suasana di sekitar mereka mendadak hening. Para tamu undangan dan staf galeri yang tadinya bercengkerama langsung menghentikan percakapan mereka. Puluhan pasang mata menatap ke arah pasangan di sudut ruangan itu dengan rasa te

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 94 Permohonan

    Andien menatap punggung Ucup yang bergetar hebat di hadapannya. Hatinya bergemuruh, dan untuk sesaat, rasa iba sempat melintas di benaknya melihat pria yang dulu sangat dicintainya kini bersimpuh tak berdaya di lantai kayu galeri. Namun, luka yang ditorehkan malam itu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan derai air mata penyesalan sesaat.Perlahan, Andien melangkah mundur selangkah, melepaskan diri dari jangkauan Ucup. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan postur tubuhnya, dan menatap lurus ke dalam mata Ucup dengan tatapan yang dingin dan penuh ketegasan."Bangun, Bang," suara Andien terdengar tenang, namun begitu tajam menusuk hati. "Jangan merendahkan harga dirimu seperti ini di hadapanku."Ucup mendongak perlahan, matanya yang sembap menatap Andien dengan penuh harap. "Dien... kumohon...""Cukup, Bang Ucup," potong Andien tegas, mengangkat telapak tangannya memberi isyarat agar Ucup tidak melanjutkan kata-katanya. "Kamu pikir semudah itu melupakan malam di restoran itu?

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 93 Takdir Pertemuan

    Bulan berganti bulan, dan bayang-bayang penyesalan kian menghantui hari-hari Ucup di Jakarta. Hubungannya dengan Rina benar-benar telah ia putus secara hukum dan personal; Rina dan Syakila kini tinggal di kota lain dekat keluarga besar Rina, dengan segala kebutuhan finansial yang tetap dipenuhi oleh Ucup sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah, namun tanpa ada lagi ikatan suami istri. Ucup telah belajar dengan cara yang paling menyakitkan—bahwa menaikkan tanggung jawab finansial tidak akan pernah bisa menebus hilangnya ketulusan seseorang.Sore itu, di tengah kesibukannya mengurus proyek pemotretan sebuah jenama lokal di Jakarta, sebuah keajaiban kecil terjadi. Salah satu rekan kerja Ucup—seorang desainer busana pengantin tradisional—datang menghampirinya sambil membawa sebuah katalog majalah gaya hidup dan budaya nusantara edisi terbaru."Cup, kamu lihat liputan pameran ecoprint dan tata rias tradisional di Jogja edisi ini? Hasil karya perajin lokalnya bagus banget," kata rekan it

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 92 Kota Pemaaf

    Hati Ucup bagai diiris sembilu melihat putrinya menangis. Namun, ia sadar jika ia terus membiarkan Rina di sini, ia akan kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Ucup berjongkok di hadapan Syakila, mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang. "Syakila dengar Papa, ya..." suara Ucup bergetar hebat, menahan air mata. "Papa tetap ayahmu. Papa akan tetap membiayai sekolahmu, memenuhuin kebutuhanmu, dan datang menemuimu kapan pun kamu mau. Tapi... Papa tidak bisa bersama mamamu. Maafkan Papa, Nak." Ucup kemudian berdiri, menatap Rina tanpa ragu. "Aku sudah memesankan kamar hotel di dekat sini untuk kalian selama tiga hari ke depan, dan biayanya sudah kutanggung. Angkut barang kalian sekarang. Aku harus pergi." Tanpa memedulikan teriakan dan tangisan Rina yang terus memohon, Ucup menyambar kunci mobilnya di atas meja. Ia melangkah keluar rumah dengan langkah pasti, meninggalkan Rina dan Syakila di ruang tamu. Arief, yang menyaksikan seluruh kejadian it

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 91 Tanpa Sepatah Kata

    Suasana di teras samping rumah begitu senyap, hanya ditemani deru angin malam yang dingin dan rintik sisa hujan yang menetes dari daun-daun. Begitu pintu tertutup rapat dan mereka berada di luar jangkauan pendengaran Rina, Arief langsung berbalik. Sorot matanya menyala tajam penuh amarah yang sudah di ubun-ubun.Tanpa basa-basi, Arief mencengkeram kerah kemeja Ucup dengan kuat, mendorong tubuh sahabatnya itu hingga membentur dinding luar rumah."Apa yang sebenarnya ada di dalam kepalamu, Ucup?!" bentak Arief dengan suara tertahan namun sarat akan emosi yang meledak-ledak. "Kamu sudah gila, hah?!"Ucup tidak melawan. Ia membiarkan tubuhnya dicengkeram, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa bersalah dan malu yang teramat sangat. Ia tahu ia memang pantas mendapatkan kemarahan ini."Aku meminjamkan rumah ini agar kamu bisa hidup tenang bersama Andien!" lanjut Arief dengan napas memburu, nada suaranya bergetar karena geram. "Andien wanita hebat, Cup! Dia yang menemanimu saat kamu b

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 90 Dekapan Malam yang Dingin

    Suara tangisan Syakila yang semakin kencang meretekkan sisa pertahanan di dada Ucup. Gadis kecil itu memeluk pinggang ayahnya erat-erat, seolah takut pria itu akan kembali menghilang dari hidupnya seperti bertahun-tahun yang lalu. Di hadapannya, Rina terus terisak sambil menggenggam ujung jas Ucup, memohon dengan putus asa. Ucup menoleh ke arah pintu keluar restoran. Lorong tempat Andien berlari keluar tadi kini sudah kosong, menyisakan bayang-bayang kepedihan yang baru saja ia ciptakan sendiri. Hati Ucup menjerit, ingin sekali ia melepaskan tangan Rina, berlari menerobos malam, dan mengejar Andien untuk menjelaskan semuanya. Namun, ketika ia menunduk dan melihat mata bulat Syakila yang basah oleh air mata—mata yang sangat ia rindukan setiap malam—beban moral sebagai seorang ayah meremukkan seluruh tekadnya. Ucup sadar, di masa lalu, kehancuran rumah tangganya juga andil dari kesalahannya. Dan kini, darah dagingnya ada di hadapannya, memohon keutuhan keluarga yang selama ini diram

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 4 Siasat di Balik Kelambu

    ​Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 3 Antara Gairah dan Kegelapan

    ​Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. ​Han

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 6 Kebenaran di Balik Kelambu Sutra

    ​Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter

  • Kuli Bangunan, Jangan Ganggu Istriku!   Bab 5 Topeng yang Terkelupas

    ​Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. ​"Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. ​Suara itu begitu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status