เข้าสู่ระบบ“Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut
Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.Di sudut ruangan, seorang
Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Amira masih meraung dan terisak-isak sendirian. Wanita berrompi oranye itu sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya gagal total. Ia yang awalnya begitu percaya diri ingin bertemu Kayra demi meracuni kembali pikiran sang anak—memanfaatkannya agar membelanya di persidangan—kini hanya bisa menelan kepahitan.Alih-alih mendapatkan simpati, kebohongan dan rahasia berdarah yang ia sembunyikan justru terkuliti habis oleh anaknya sendiri. Pertemuan yang ia kira bakal jadi kartu as-nya justru mendorong Amira makin dalam ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam.Sementara itu, di luar ruangan, atmosfer terasa jauh lebih lega. Udara dingin koridor pengadilan seolah menyapu bersih hawa beracun yang baru saja mereka tinggalkan di dalam.Celine mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Sepasang matanya masih berkaca-kaca, namun ada kelegaan luar biasa yang terpancar di paras cantiknya.Aldean memiringkan tubuhnya, pertama-tama
Kayra menyunggingkan senyuman paling dingin yang pernah ia miliki, puas menyaksikan kehancuran mental wanita di hadapannya.“Kenapa? Kaget aku tahu rahasia busukmu itu?” bisik Kayra pelan namun penuh intimidasi. “Dan soal Celine... dia bukan perempuan jahat. Dia justru jauh lebih pantas disebut mama buat aku daripada wanita sepertimu.”Amira menggeleng frustrasi, tangannya yang terborgol gemetar hebat menahan gelombang ketakutan yang merayapi seluruh tubuhnya.“Enggak... Kay, enggak! Itu... itu nggak benar, Nak! Kamu sudah dibohongi sama Papamu dan Cel—”“Papa maupun Celine nggak ada yang bohongin aku. Justru kamulah yang pembohong, Nyonya Amira,” sela Kayra tajam, memotong rintihan Amira tanpa ampun. “Mulai detik ini, detik di mana kamu melangkah ke ruang sidang untuk mempertanggungjawabkan nyawa yang sudah kamu hilangkan... aku nggak mau punya hubungan apa pun lagi sama wanita seperti kamu.”Mendengar ucapan dingin sang anak, Amira terbelalak, shock bukan main. Ia terisak pelan, l
Melihat Amira yang histeris dengan wajah sok nelangsa dari atas kursi roda, Kayra melangkah perlahan mendekati ibu kandungnya. Celine dan Aldean tidak menahannya justru mereka memberikan kepercayaan penuh pada Kayra.Begitu Kayra berdiri tepat di hadapannya, Amira cepat-cepat meraih tangan kiri Kayra dengan jemarinya yang terborgol. Wajahnya yang kusam sengaja dipasang selayaknya seorang ibu yang teramat menderita.Namun, saat pandangan Amira jatuh pada lengan kanan Kayra yang tergantung lemas dan terbungkus rapat di balik arm sling, matanya seketika membelalak.“Ya Tuhan... Kay! Tanganmu... kenapa tanganmu bisa seperti ini, Nak?!” tanya Amira dengan nada suara yang sengaja dibikin bergetar panik, memegang arm sling itu dengan wajah sok terkejut.Kayra menarik pelan tangan kirinya dari genggaman Amira. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun raut kesedihan atau kerapuhan di sana.“Cuma luka kecil pas kecelakaan kemarin,” jawab Kayra santai, begitu ringan seolah bukan masalah
Suasana di ruang makan mendadak menjadi hening. Celine memandang Kayra dengan tatapan cemas. Perlahan, tangan kirinya mengusap lembut punggung sahabat yang kini menjadi putri sambungnya itu—menyalurkan kekuatan sekaligus ketenangan yang utuh.Kayra menundukkan pandangannya, menatap sisa roti di piringnya. Memori tentang Amira—ibu kandung yang tega memanfaatkannya, memutarbalikkan fakta, menghasutnya untuk membenci Celine, hingga menyebabkan tangan kanannya kini lumpuh—berputar keras di benak gadis itu.“Nak,” panggil Aldean lagi. Suaranya teramat lembut dan penuh pertimbangan, menyiratkan kasih sayang seorang ayah yang tak ingin menyakiti anak semata wayangnya lagi. “Papa nggak akan memaksa. Kalau kamu belum siap, atau kamu nggak mau melihat wanita itu lagi, Papa yang akan urus semuanya. Kamu nggak perlu ikut.”Kayra mengepalkan tangan kirinya erat-erat di atas pangkuan. Ia menarik napas panjang, meresapi kehangatan ruang makan ini—kehangatan dan rasa aman yang baru ia dapatkan da







