MasukAldean tidak langsung menjawab ucapan Kayra. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pandangannya kosong menembus dinding ruang rapat, seolah jarak, waktu, dan segala sesuatu di hadapannya sudah kehilangan makna. “Pa?” suara Kayra kembali terdengar dari seberang, kali ini dengan nada tidak sabar yang tertahan. “Papa masih di situ?” Aldean menarik napas dalam. “Iya, Sayang,” jawabnya akhirnya, suaranya tetap tenang seperti biasa. “Papa masih di sini.” Ada jeda singkat sebelum Aldean menambahkan, “Nanti Papa telepon lagi, ya.” Klik. Tanpa menunggu jawaban Kayra, Aldean langsung menutup panggilan. Sunyi menyelimuti ruangan. Udara seolah membeku, menekan paru-paru setiap orang di dalamnya. Beberapa detik lalu, wajah Aldean masih menyimpan sisa kelembutan—bayangan cincin, tentang sore yang ia kira akan menjadi awal baru, tentang hidup yang akhirnya berani ia pilih bersama Celine. Kini, semuanya lenyap. Rahangnya mengeras. Otot di lehernya menegang. Tatapan matanya turu
Mobil Aldean berhenti tepat di depan pintu utama sebuah bangunan abu-abu dengan arsitektur tua namun tegas, tempat di mana keputusan besar selalu diambil tanpa keraguan.Begitu ia turun, Evan sudah menunggu. Setelan hitamnya rapi, ekspresinya profesional seperti biasa.“Pagi, Tuan.”Aldean mengangguk singkat. “Pagi.”Mereka melangkah masuk berdampingan. Lorong panjang membentang di depan, langkah kaki mereka menggema pelan di lantai marmer.Tanpa menoleh, Aldean membuka suara.“Evan. Perintahku semalam,” katanya lugas. “Sudah kau urus?”“Sudah, Tuan,” jawab Evan mantap, selangkah di belakangnya. “Semuanya beres. Sore nanti Anda bisa datang bersama Nona Celine.”Langkah Aldean tidak terhenti, tapi bahunya sedikit mengendur.“Bagus,” ucapnya pelan. “Kamu selalu bisa diandalkan.”“Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Tuan,” jawab Evan tenang.Mereka tiba di depan ruang rapat. Pintu dibuka.Beberapa orang sudah menunggu di dalam. Duduk rapi, layar presentasi menyala, berkas terbuka. Sem
Beberapa detik berlalu tanpa suara.Dada Celine naik turun cepat, seolah udara di kamar itu mendadak menipis. Matanya berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar.“Om…” suaranya nyaris pecah. Ia menelan ludah, berusaha merangkai kata-kata yang terasa berantakan di kepalanya.Aldean tak menyela. Ia hanya menunggu dengan tenang dan sabar, seperti tahu bahwa jawaban itu harus keluar tanpa paksaan.“Aku…” Celine menarik napas panjang, tapi tangisnya lebih dulu jatuh. Air mata mengalir pelan di pelipisnya.“Aku bahagia,” bisiknya jujur. “Bahagia banget sampai aku takut.”Tenggorokannya bergetar.“Aku nggak pernah kebayang Om bakal ngomong sejauh ini ke aku,” lanjutnya lirih. “Dan sekarang… aku malah gemetar.”Aldean mengusap pipi Celine perlahan, menyeka air mata yang mengalir dengan ibu jarinya. Ia tak tergesa-gesa, juga tak berusaha menghentikannya.“Aku mau,” kata Celine akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. Matanya menatap Aldean dengan keberanian yang rapuh.“Aku mau, Om.”Napas Aldean ter
“Om Dean...” gumam Celine lirih.Pintu unit apartemen tertutup pelan di belakang Aldean.Jas di pundaknya bahkan belum sempat ia lepaskan ketika pandangannya langsung tertambat pada Celine yang berdiri di dekat sofa. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kegelisahan yang tidak lagi berusaha ia sembunyikan.Aldean tahu persis apa yang membuat Celine seperti itu.Ia melangkah mendekat tanpa berkata apa-apa. Baru beberapa langkah, Celine sudah lebih dulu menghampirinya.Aldean membuka kedua lengannya.Celine langsung masuk ke dalam pelukan itu seolah seluruh tenaga di tubuhnya habis tepat di saat yang sama. Aldean menunduk, mengecup puncak kepala Celine lama. Bukan sekadar ciuman singkat, melainkan jeda penuh makna, seperti sedang menenangkan dua hati sekaligus.“Maaf aku lama,” ucap Aldean rendah. “Aku tahu kamu nunggu.”Celine menggeleng kecil di dada Aldean.“Om nggak perlu minta maaf…” suaranya bergetar.Lalu, dengan napas yang tertahan, ia bertanya, “Kayra… gimana?”Aldean tidak langsun
Surya menatap Reymon dengan tatapan gelap penuh perhitungan. “Panggil tim,” lanjutnya. “Yang paling bersih. Paling cepat. Sekarang juga.” Reymon langsung memahami maksud itu. Ia mengangguk sekali, lalu mengaktifkan alat komunikasinya. Tak lama, dua pria berseragam hitam masuk ke ruangan. Postur mereka tegap, ekspresi datar. Tipe orang yang tidak bertanya terlalu banyak. Surya melangkah mendekat. “Kalian ke kota sekarang juga,” perintahnya. “Cari Celine. Pastikan keberadaannya.” “Dan setelah itu, Tuan?” tanya salah satu dari mereka singkat. Surya menatapnya tanpa ragu. “Bawa dia ke sini.” Reymon menoleh cepat. “Tuan, Apakah ini tidak terlalu berbahaya? Ini bisa—” “Tidak ada cara lain,” potong Surya dingin. “Celine tidak akan mau datang dengan sukarela. Dan aku tidak punya waktu untuk negosiasi.” Ia mendekat satu langkah lagi, suaranya menurun tapi tekanannya meningkat. “Lakukan dengan cepat. Tanpa suara. Tanpa jejak.” Kedua anak buah itu langsung mengangguk. “Sia
Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.“Aku… pernah dengar,” katanya pelan. “Bukan dari dia langsung. Tapi waktu itu Surya ngobrol sama orang kepercayaannya.”Evan tidak menyela. Tatapannya tenang, tapi menekan.“Dia nggak nyebut nama tempat,” lanjut Maya. “Cuma… sebuah pulau.”Alis Evan mengerut. “Pulau?”Maya mengangguk cepat. “Pulau yang katanya aman. Sepi. Jauh dari jalur kapal.”Ia menarik napas, berusaha mengingat. “Tempat yang nggak semua orang bisa datang.”“Di mana?” tanya Evan singat dan tajam.Maya menggeleng. “Aku nggak tahu tepatnya. Sungguh.”Ia mengepalkan tangan, suaranya mulai bergetar.“Tapi aku ingat satu kalimatnya,” katanya cepat, seolah takut pikirannya keburu kabur. “Surya bilang… dia butuh tempat yang nggak bisa dijangkau siapa pun kecuali orang-orang yang dia percaya.”Evan terdiam.“Dan satu hal lagi,” tambah Maya lirih. “Dia bilang… pulau itu bukan cuma tempat sembunyi.”Tatapan Evan mengeras. “Lalu?”Maya mengangkat wajahnya, tatapannya lurus. “I







